Thursday, December 21, 2006

ARYA NARAPATI

Di ruang belajar asrama, Dimas, Raji dan Pafi sedang mengerjakan PR mereka yang mulai bertambah banyak menjelang ujian akhir. Raji mulai pusing dengan semua tugas yang sedang dikerjakannya.

“Waduh… pusing aku mengerjakan semua PR gila ini, sejak pulang sekolah tadi nggak selesai-selesai. Apalagi ini sejarah Londo ini, heran aku, kok bangsa ini mau aja dijadikan Negara boneka Belanda. Kalo Pak Tardjo nggak minta-minta, mungkin kita sudah jadi Negara yang berdiri sendiri”

Raji terus menggerutu tentang PR sejarah nasional Negara Hindia Belanda yang sedang dikerjakannya. Saat itu tahun 1939, saat dimana akhirnya muncul Petisi Sutardjo mengenai Negara Hindia Belanda yang dikabulkan oleh Ratu Kerajaan Belanda setelah diajukan tiga tahun yang lalu. Sedangkan Dimas tampaknya tetap asyik dengan tangannya yang terus menuliskan PR nya.

“Kau tidak bisa diam apa…..berisik, memangnya kalau kita memiliki negara yang berdaulat sendiri akan ada perubahan yang lebih baik?”

Pafi menimpali gerutuan Raji sambil memandangnya menantang menunggu jawaban apa yang akan diberikan Raji kepadanya. Raji tak menyahut dan terlihat tidak peduli.

“Malas aku kerjakan PR bangsa londo ini, mendingan aku kerjakan sastra Jawa saja, karya bangsaku sendiri”

Raji menutup halaman buku sejarah belanda yang sedang digunakannya untuk membuat PR. Tangannya kemudian membuka buku lain tentang sastra jawa.

“Sudah kerjakan PR sastra Jawa belum, Mas” Raji melongokan kepalanya ke arah buku catatan yang sedang ditulis Dimas.

“Belum, aku masih kerjakan sekarang” Jawab Dimas singkat.

“Kamu merasa ada yang aneh gak, Mas, selama ini masyarakat kita begitu percaya dengan ramalan-ramalan prabu Jayabaya. Lihat saja beberapa terbukti kan. Nih lihat teksnya aku bacakan ya….”

“Jika Pulau Jawa tinggal selebar daun kelor, kelak akan datang jago kate wiring kuning dedege cebol kepalang yang menguasai pulau jawa hanya seumur jagung….”

“Kau benar-benar seperti tokek ya….gak bisa diam, aku kembali saja ke kamar, mendingan kerjakan di kamar”

Pafi mendelik dengan wajah galak menatap Raji yang masih cengar-cengir.

Dimas hanya tersenyum kecil diujung bibirnya dan kemudian berkonsentrasi kembali kepada pekerjaannya. Dia tahu kalau sudah begitu Raji bukanlah orang yang bisa dinasehati. Dia akan makin tidak peduli dengan omongan orang lain. Wajah malas mulai merambat di seluruh permukaan wajah Raji, tangannya mulai ogah-ogahan menulis dan ketika semuanya mencapai puncak ubun-ubun .

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, Dimas, Pafi dan Raji tak tampak akan segera mengakhiri belajarnya. Walaupun guratan kelelahan sudah tampak di wajah mereka, mereka tetap menulis seakan sedang dalam dunianya sendiri. Saking asyiknya menulis, ketiganya tidak lagi berbicara satu sama lain. Mereka tak sadar kalau tiba-tiba saja di seberang meja tempatnya menulis muncul 2 sosok manusia dewasa entah dari mana datangnya. Ketika keasyikannya terganggu oleh bayangan yang menutupi kertas bukunya sontak Dimas dan Pafi bangkit dari duduknya dan berjengit kaget, sementara Raji langsung terjengkang dari kursinya. Matanya melotot dengan dada yang berdegup begitu kencang, tangan gemetaran menahan rasa takut yang mulai menjalar ke ubun-ubunnya.

Hantu, adalah kata yang pertama keluar dari pikirannya, kakinya bergerak mundur dengan gemetar mendorong kursi yang berada di belakangnya. Bunyi derak kursi yang tergeser membuat suasana yang dirasakan Dimas makin mencekam. Dalam ketakutan yang sangat, dua wajah yang muncul di depannya menarik ingatan akan kejadian aneh yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Dimas kini sadar bahwa dua orang yang sekarang berada di hadapannya adalah orang yang sama yang tempo hari dilihatnya saat pulang dari sekolah dan saat sedang duduk makan ikan bakar di depan api unggun bersama Raji dan Pafi dan juga yang sering mengunjungi Nyai Janis, sekarang mereka ada di hadapan mata. Seketika degup jantungnya makin keras saja, suaranya tercekat, Pafi tanpa sadar tangannya sempat mengayun pelan dan tiba-tiba saja kursi yang berada di sebelahnya melayang mengarah deras ke arah dua orang misterius itu. Salah seorang misterius yang berwajah sudah agak tua tersenyum sambil mengibaskan tangannya. Kursi yang melayang ke arahnya seketika berhenti dan turun dengan lembut di sampingnya. Dimas makin kaget dengan apa yang barusan saja terjadi, tangannya tanpa sadar bergerak tidak karuan yang seketika itu pula diikuti dengan melayangnya benda-benda yang berada di dalam ruangan belajar itu meluncur deras ke arah dua orang misterius tersebut. Namun seketika itu juga benda-benda itu seperti tertahan di udara dan berhenti mendadak kemudian turun perlahan di atas lantai. Tidak ada satupun yang jatuh menyebabkan bunyi keras di lantai.

“Ganhanban Onhdhae Songakhi Dhnalathir Naraphathi Dhasi Khathanh Sedhan Enthedh Sonmadhithi ……” seorang yang lebih tua mengucapkan bahasa asing yang terdengar akrab di telinga Dimas

“Janganlah kalian takut Narapati, kami datang bukan bermaksud menyakiti” seorang yang lebih muda menerjemahkannya.

Orang tua yang berjubah putih dengan sorban di kepalanya menjulurkan tangannya untuk menenangkan Dimas, Pafi dan Raji yang sudah bangkit berdiri. Dimas merasa seperti ada yang menggenggamnya begitu kuat yang memaksanya duduk di kursi yang berada di belakangnya. Sekuat tenaga dia melawan, tetapi tidak ada daya yang mampu melepaskannya.

“Akh…akh….Na..ra..pppati ? aku bukan Narapati…..apa yang kalian lakukan kepada kami ?” Dimas berteriak

“Ya…aku tahu. Sekarang mari kita duduk, ada yang akan aku beritahukan kepadamu, namaku Prabu Narayala dan ini temanku Kerthapati”

Orang tersebut memperkenalkan dirinya dan temannya yang langsung menghaturkan sembah dengan dua telapak tangan disatukan.

“Kalian pasti ingin sekali tahu dari mana asal-usul kalian, bagaimana kalian bisa mendapatkan kemampuan-kemampuan gaib yang tidak dimiliki orang lain, dan juga ingin tahu mengenai arti mimpi-mimpimu selama ini”

Prabu Narayala berkata sambil menarik kursi di depannya yang diikuti Kerthapati. Dimas yang mendengar ucapan Prabu Narayala terdorong rasa ingin tahunya menjadi lebih tenang, Pafi dan Raji mengikuti gerakan Dimas yang mulai lebih santai. Mereka bertiga tahu bahwa kedua orang itu sering mengunjungi Nyai Janis di kantornya yang selalu ditandai dengan kabut tebal pada pagi hari. Beberapa kali mereka mencoba untuk mencuri dengar apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis bersama teman-temannya, tapi selalu saja tidak ada yang dapat didengarnya kecuali saat yang pertama kali.

“Apakah anda tahu mengenai asal usul saya ? Bagaimana anda bisa tahu mengenai mimpi-mimpi saya ?”

Hati Dimas begitu campur aduk antara bingung dan gembira juga curiga bagaimana mungkin kedua orang itu tahu semua mimpinya.

“Aku mengenalmu anak muda, aku tahu dari mana asal-usulmu. Kau pasti tahu dari siapa aku tahu mengenai mimpi-mimpimu…… ya…. Nyai Janis…”

Prabu Narayala menjelaskan. Dimas terkejut karena Prabu Narayala bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Lelaki yang sudah berambut putih itu tetap tersenyum, wajahnya yang bersih dan cerah memancarkan pesona kewibawaan yang begitu dalam. Tatapan matanya yang tajam tak sanggup dipandang terlalu lama oleh Dimas yang kemudian menunduk diam. Prabu Narayala kembali melanjutkan, dengan suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang dia meminta Dimas meletakan tangannya di atas telapak tangannya.

“Dimas, letakan di atas kedua telapak tanganku” Prabu Narayala menjulurkan tangannya.

Seperti sebuah magnet yang sangat kuat, Dimas menyorongkan tangannya tanpa sadar, kedua telapak tangannya disatukan dengan kedua telapak tangan Prabu Narayala. Prabu Narayala segera menggenggam telapak tangan kecil Dimas dan memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Rasa hangat menjalar melalui tangan Dimas menembus tulang-tulang tangannya terus meresap sampai ke leher dan menyebar diseluruh kepala. Begitu nyamanya, sampai Dimas memejamkan matanya merasakan sensasi yang dirasakannya seperti ada bagian-bagian di dalam kepalanya yang tersumbat kini terbuka mengalir dengan lancar. Namun belum lama kenyamanan dirasakannya kilasan-kilasan bayangan dari mimpi-mimpinya terus berkelebat seperti sebuah film yang sedang diputar. Mimpi-mimpinya yang terputus kini menemukan bagian-bagiannya yang hilang. Dalam pejamnya mata Dimas bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, wajahnya begitu pucat berkeringat dan tiba-tiba matanya terbuka

“aaaa…arrrgghhh”

bangkit dari kursinya dengan napas yang tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari jauh. Prabu Narayala dan Kerthapati menatap Dimas. Pafi dan Raji tampak cemas dengan yang terjadi pada Dimas.

“Dimas…dimas, kau tidak apa-apa…..” Pafi memegang kedua bahu Dimas.

“Apa yang kau lakukan pada Dimas”

Raji seketika maju ke hadapan Prabu Narayala, tubuhnya tanpa disadarinya membentuk sebuah lingkaran gaib dan ketika mengibaskan tangannya sebuah bola kristal terlontar dari telapak tangannya kea rah Prabu Narayala. Prabu Narayala hanya tersenyum dengan menepiskan tangannya menangkap bola kristal itu. Ajaib bola kristal itu seperti terserap masuk kedalam telapak tangannya.

“Tenangkan dirimu Raji”

Prabu Narayala tersenyum dengan tatapan mata yang tajam kea rah Raji. Raji yang terkejut sendiri dengan apa yang telah dilakukannya merasakan kepalanya dingin dan begitu tenang. Kemudian Prabu Narayala kembali menatap Dimas yang sudah duduk di atas bangku.

“Sekarang apa yang kau rasakan hilang selama ini, telah kembali. Kau adalah seorang Narapati, itulah sebabnya aku memanggil kalian Narapati”

Air mata Dimas mengalir, ingatannya yang kembali telah membawanya kepada kenyataan yang masih tidak dia pahami.

“Aku tidak mengerti, apa maksud dari semua yang aku lihat tadi” katanya sambil duduk.

“Kau akan mengerti pada waktunya nanti, sekarang sudah saatnya kau harus tahu siapa sebenarnya dirimu Dimas”

Prabu Narayala bangkit dan memegang tangan Dimas.

“Mari nak, kita akan jalan-jalan sebentar, banyak yang harus kau lihat, sudah saatnya kau tahu mengenai duniamu yang sebenarnya”

Prabu Narayala membalikan badannya berjalan ke lukisan dinding gunung bromo dan gunung semeru. Sebuah pintu muncul menggantikan lukisan itu. Kerthapati membuka pintu. Sebuah cahaya temaram menyeruak dari balik pintu.

“Pintu itu” Pafi berbisik pelan. Dimas dan Raji melihat pintu yang selama ini mereka selidiki.

Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pintu itu. Tanpa banyak Tanya ketiganya mengikuti masuk pintu. Di balik pintu mereka menemui sebuah ruangan berdinding batu hitam yang dihiasi obor-obor di kiri kanannya.

“Mari kita keluar”.

Prabu Narayala memegang pundak Dimas dan membimbingnya menuju sebuah sebuah relung seperti gerbang yang tertutup.

“Sedha…………..”

Prabu Narayala mengibaskan tangannya ke arah tembok berelung di depan mereka, tembok di depan mereka tergeser dan sinar bulan yang indah di langit yang bening masuk memenuhi ruangan. Mereka bergerak menuju pintu, tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya di luar Dimas, Pafi dan Raji berdecak kagum. Mereka berada di puncak sebuah bangunan batu berbentuk segi enam setinggi bukit dengan ribuan anak tangga menurun ke bawahnya. Terdapat 6 pilar persegi yang tersusun dari potongan-potongan batu hitam dengan relief-relief menjulang tinggi di setiap sudut di dasar bangunan. Begitu megah dan menakjubkan.

“Kita berada dimana sekarang ?”.

Dimas masih ternganga keheranan, sementara Raji bergerak ke sana kemari ke pinggir balkon. Prabu Narayala tersenyum melihat ekspresi wajah Raji yang takjub.

“Kita sekarang berada di dunia Narapati, di atas puncak kuil agung Caturbhasa Mandala di gunung Mahameru, dan kita sedang menghadap gunung bromo di depan sana”.

Prabu Narayala menujukan jarinya ke depan.

“Dunia Narapati ? apakah dunia Narapati berbeda dengan dunia manusia ?”

Dimas mengawali pertanyaannya dari ribuan pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan kepada Prabu Narayala yang sudah siap pula dengan ribuan jawaban.

“Narapati adalah sebuah bangsa yang menempati dunia yang berbeda dengan manusia, juga berbeda dengan mahluk gaib”

Prabu Narayala menjawab dengan penuh wibawa, dia tahu kerut di wajah Dimas menunjukan ketidakmengertiannya mengenai pembagian dunia ini.

“Narapati bukan mahluk halus, mereka nyata seperti manusia, hanya saja Narapati mengisi ruang yang berbeda dengan manusia. Narapati dapat mati, makan, minum, berkeluarga seperti manusia. Dulunya Narapati bangsa yang menempati dunia yang sekarang ditinggali oleh manusia. Dunia yang masih menjadi satu sebelum banjir besar merendam semua dataran lembah dan menghancurkan seluruh kebudayaan bangsa Narapati. Untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk dan kebudayaan yang dimiliki, Bangsa Narapati kemudian pindah ke dunia baru dengan membuka gerbang dimensi dunia yang lain. Bangsa Narapati terus mengawasi dunia manusia dan perkembangan kemajuan dan keruntuhan peradaban mereka. Beberapa kali Narapati membantu penyelamatan manusia dari kemusnahan akibat bencana alam terutama akibat letusan gunung berapi.”

Dimas terbengong-bengong mendengar penuturan dari Prabu Narayala yang selalu tersenyum setiap kali menyelesaikan setiap kalimat dalam ceritanya.

“Tapi, nama-nama gunungnya sama” Kali ini Pafi bertanya dengan suara yang mulai bergairah. Ketakutan yang tadi mereka rasakan serta merta hilang digantikan rasa takjub dunia lain yang mereka lihat.

“Memang Dunia Narapati memiliki wilayah yang sama dengan nama yang sama, yang membedakan hanyalah ruang. Dalam dunia Narapati, Laut Jawa tetaplah sebuah daratan luas dengan lembah-lembah sungainya. Swarnadwipa, Jawadwipa dan Kanchana adalah satu daratan yang satu. Bangsa Narapati pindah ke dunia baru tepat sebelum banjir besar datang, dimana ketiga pulau besar yang sekarang didunia manusia bernama Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih satu daratan. Tapi sayang waktu itu banyak rakyat Narapati yang terlambat pindah, akhirnya musnah bersama seluruh kota-kota di lembah SUNDA atau sekarang dikenal dengan selat karimata. Dunia Narapati memiliki sejarahnya sendiri, walaupun antara dunia Manusia dan Narapati ada kesamaan wilayah, tapi setiap sejarah yang dituliskannya memiliki jalan yang berbeda”.

Ketiga remaja itu mendengarkan dengan masih tidak mengerti.

“Apakah perbedaan dunia Narapati dengan alam Gaib ?” Raji yang sejak tadi sudah begitu bersemangat mengajukan pertanyaan.

Prabu Narayala membelai kepala Raji dengan lembut.

“Tidak anakku, Narapati tidak sama dengan alam gaib, Narapati berada di antara alam gaib dan dunia manusia. Sebelum adanya sebuah perjanjian, kami sempat mengajarkan beberapa kepandaian kepada manusia pada jaman itu. Kami mengajarkan mereka untuk membentuk kebudayaan dan masyarakat. Sampai terjadi undang-undang baru yang melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak diundang oleh manusia, kecuali atas perintah kerajaan, setiap gerbang menuju dunia manusia akan dijaga oleh Nandiswara. Jika hendak melintasi gerbang harus menunjukan ijin kerajaan, karena jika tidak maka para Nandiswara akan bertindak.”

Ketiga remaja itu mulai tampak mengerti sekaligus bingung, Prabu Narayala tampak mengerti dengan kebingungan mereka dan dia kembali menjelaskan. Lalu Prabu Narayala mengeluarkan siulan yang khas dari mulutnya, entah bagimana dia membuat siulannya begitu kencang menggema, Dimas terkagum-kagum dengan apa yang dilakukannya.

“Bagaimana Bapak Narayala bisa mengeluarkan suara yang begitu keras dan menggema ?” kata Dimas

Prabu Narayala tersenyum lalu dia menunjuk ke bawah.

“Kamu nanti juga akan bisa melakukannya, lihat dibawah itu”.

Prabu Narayala menunjuk seekor harimau putih seukuran kuda jantan dengan pelana dipundaknya. Dimas terbelalak kaget dan merapatkan tubuhnya ke Prabu Narayala. Dari angkasa turun sepasang Garuda Kencana dan dua seorang penunggangnya.

“Dimas, ini adalah dengan harimau putih Davanthi Sighram, dan yang ini adalah Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya, namanya Pavakah dan Vihangah”.

Kelimanya menunduk dan memberikan salam, Dimas tidak mengerti kalau sujud tunduk hormat itu untuk dirinya.

“Bangkitlah semuanya !”.

Prabu Narayala meminta ketiganya bangkit.

“Baiklah ! sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, Dimas naiklah ke punggung Sighram bersamaku! Raji kau naiklah bersama Arghapati, Pafi naiklah bersama Wirapati. Arghapati kau awasi jalan yang akan aku lalui dari udara, pastikan tidak ada yang mencurigakan, Kerthapati bawalah pesanku ini untuk penguasa pantai selatan jangan kembali sampai kau diperintahkan pergi”

Prabu Narayala menaiki punggung Sighram dan kemudian menarik Dimas duduk di depannya. Arghapati dan Raji segera terbang bersama Pavakah, Wirapati dan Pafi juga terbang bersama Vihangah, sementara Kerthapati langsung saja menghilang seperti ditelan bumi.

Duduk di atas Sighram harimau putih yang sangat besar adalah hal yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Dimas. Dimas mencoba menyentuh bulu lembut di pundak Sighram, seakan Sighram mengerti elusan lembut yang dilakukan Dimas, Sighram mengaum menggema ke seluruh penjuru hutan Mahameru. Sighram terus berlari ke arah barat, jauh di depan sepasang Garuda Kencananya terus mengangkasa mengawasi setiap kemungkinan mencurigakan.

Di kejauhan telah tampak bangunan-bangunan batu menjulang tinggi mengelilingi sebuah piramida berbentuk segi enam. Piramida bangunan paling tinggi di antara bangunan batu lainnya. Benteng setinggi 100 meter mengelilingi kota megah itu.

“Lihat di depan sana, itu kotapraja Narapati “Medanggana Raya”.

Pilar-pilar obor dari bangunan batu mengelilingi setiap sudut kota. Medanggana Raya memang sebuah kota yang sangat besar, terlihat dari tingginya bangunan-bangunan dan luas benteng yang mengelilinginya. Relief-relief dan relung-relung berukir di setiap gerbang rumah-rumah dengan atap berbentuk limas segi empat dan kerucut-kerucut mengelilinginya. Di tengah kota terdapat Nadhisara, sebuah saluran air buatan yang besar yang membagi-bagi kota menjadi sektor-sektor. Jembatan-jembatan lengkung menghubungan setiap sisi nadisara. Patung-patung Garuda kencana berseling dengan Narasimha bertengger di setiap pilar-pilar penjaga jembatan. Pohon-pohon tumbuh teratur di setiap halaman rumah-rumah penduduk menambah keindahan pagi yang mulai menjalar di ufuk timur.

Sighram berhenti di depan gerbang batu dengan relung besar dan terukir relief-relief huruf-huruf kuno. Prabu Narayala mengibaskan tangannya sambil mengeluarkan suara yang agak berat dan lambat

“Sedhaa…..”

Gerbang batu itu bergeser ke kiri dan ke kanan membuka perlahan. Sighram bergerak memasuki pintu gerbang yang terbuka, sementara Pafi dan Raji sudah menunggu bersama Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya di balik gerbang. Mereka segera bergerak menuju kuil piramida segi enam di pusat kota. Samar-samar di kejauhan terdengar suara Azan subuh berkumandang.

“Kita sholat subuh dulu, ya”.

Prabu Narayala turun dari punggung Sighram dan mengangkat Dimas turun dari punggung Sighram.

“Sighram, kau boleh kembali ke tempat peristirahatanmu”.

Sighram menggeram kecil kemudian berbalik meninggalkan tempat. Arghapati dan Wirapati mengelus-elus kepala kedua Garuda Kencana mereka. Kedua Garuda Kencana itu juga segera mengangkasa meninggalkan mereka.

Pagi sudah benar-benar sempurna menunjukan wajahnya walaupun matahari masih setengah hati membagi kehangatannya pada rumput-rumput yang sejak malam menggigil kedinginan. Sambutan pagi itu begitu meriah, daun-daun dengan sesaji embun dinginnya menyembul di ujung-ujungnya yang runcing, burung-burung dengan kicaunya begitu bergairah mengepakan sayap untuk pemanasan setelah semalaman meringkuk di hangatnya sarang yang bergantung di dahan yang yang daunnya sudah luruh karena meranggas. Disapu angin lembut yang membawa hangatnya mentari dedaunan kering meranggas di musim yang mulai kemarau. Kemegahan kota Medanggana Raya makin terlihat jelas, batang-batang pohon jati yang meranggas di seluruh kota membuat suasana kota begitu telihat penuh akan sejarah kejayaan.

Mereka kini berada di sebuah ruangan yang merupakan bagian dari kuil utama di tengah kota. Kuil tersebut merupakan pusat segala kegiatan intelektual masyarakat Narapati di Medanggana Raya. Gerbang berbentuk segi enam setinggi duapuluh meter berbentuk pilar yang berelung ukiran di kaki kuil menembus masuk ke dasar bangunan. Memasuki ruangan pertama persegi enam yang sangat besar dengan tinggi melebihi 2 kali pohon kelapa dengan enam pilar besar menyangga langit-langitnya. Pada tiga dinding di depan, kiri dan kanan terdapat tiga ruang berarsitektur sarang lebah. Untuk mencapainya harus melalui tangga naik yang sangat lebar yang langsung dapat terlihat saat melalui gerbang utama. Sepertinya tangga itu adalah tangga utama yang menuju ruang-ruang lain pada bagian inti dan belakang kuil. Dua tangga lain berada di bagian dinding kiri dan kanan mengarah pada ruangan-ruangan pada bagian sisi kiri dan kanan kuil.

Ruangan itu terlihat sepi, hanya kursi-kursi batu yang teratur rapi mengelilingi setiap pilar. Melihat lantai dan kursi yang begitu bersih mengkilat, jelas Dimas bisa menduga bahwa sebenarnya ruangan ini sangatlah ramai pada siang hari.

“Kuil ini disebut yang artinya pembuat kemakmuran. Dahulu kuil ini kami gunakan untuk kegiatan persembahan bagi Isvarah, Dia sang pencipta. Kemudian kami mengubahnya menjadi pusat kebudayaan dan belajar”.

“Banyak sekali istilah-istilah yang digunakan dalam bahasa sansekerta dan jawa kuno, apakah Narapati tidak mempunyai bahasa sendiri ?” tanya Dimas

“Ya…memang, kebudayaan Narapati adalah kebudayaan pertama. Sansekerta adalah bahasa turunan dari bahasa Narapati yang berkembang pesat di India. Narapati sempat bersentuhan dengan kebudayaan Hindu saat pemerintahan prabu Ajisaka di Jawa. Pada saat itu manusia Jawa baru memulai peradaban yang dibawa dari India, dibuatlah Undang-undang Ajisaka yang mengatur lalu lintas bangsa Narapati ke dunia manusia. Karena hal itulah akhirnya terjadi pertukaran budaya. Sampai akhirnya Undang-undang Ajisaka diganti dengan Undang-undang baru, seperti yang aku sebutkan tadi, melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak mendapatkan ijin dari kerajaan. Untuk mencegah penyebrangan yang tidak sah kemudian ditempatkan penjaga khusus di 9 pintu gerbang yang disebut para Nandiswara.”

Prabu Narayala tersenyum, sebelum pertanyaan kembali keluar dari mulut Dimas, Prabu Narayala kembali melanjutkan.

“Tentu saja kami melintas ke dunia manusia dengan ijin terlebih dahulu. Siapapun yang pernah melintas ke dunia manusia akan dapat terlihat jelas bekas-bekas di tubuhnya. Siapapun yang melintas tanpa ijin akan mendapatkan hukuman yang sangat berat”

Jari telunjuk Prabu Narayala mengacung ke atas memberikan penekanan yang kuat pada kalimat terakhirnya. Tak terasa langkah mereka terus berjalan menapaki anak tangga menuju ruang pada lapisan kedua. Sesampainya pada depan ruangan, terhampar lorong persegi enam dengan kekosongan mutlak oleh kegelapan. Seakan tak dapat ditebak sampai mana ujungnya. Jari-jari Prabu Narayala menjentik membunyikan bunyi “klik” sambil mengucapkan kata “Aphi”. Dalam hitungan yang singkat seluruh lorong terang benderang oleh nyala obor di kiri dan kanan lorong. Jelas sekali sekarang semuanya terlihat. Di kiri dan kanan lorong terdapat pintu-pintu masuk persegi enam. Di setiap 2 pintu masuk diselingi oleh lorong persegi enam yang menghubungkan dengan lorong-lorong di bagian yang lain. Pada bagian ujung lorong terlihat sebuah ruangan yang sangat terang dan luas. Dimas, Pafi, Raji dan Prabu Narayala terus berjalan menuju ruangan paling ujung. Sesampainya di sana, ketiga remaja itu lagi-lagi berdecak kagum, kemegahan ruangannya yang dihiasi pancaran cahaya kuning dari obor-obor di sekelilingnya membuat ruangan ini tampak sangat indah. Enam Pilar menyangga sampai ke langit-langit ruangan. Di bagian tengah terdapat pilar bening seperti kaca yang menjulang setinggi pilar yang lain menembus langit-langit berdiameter 2 meter. Prabu Narayala membimbing Dimas mendekati pilar kaca itu. Tangannya bergerak menyentuh pilar dan mengucapkan mantra.

“Tanha Ekhara Sedha….”

Sepertiga bagian dinding kaca pilar yang berbentuk lingaran itu terbuka. Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pilar dan berdiri di atas sebuah lapisan batu berbentuk lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran pilar. Alas batu yang mengkilat hitam penuh dengan ukiran tampak jelas sudah sangat sering di pakai. Prabu Narayala mengembangkan tangannya dengan telapak berada di atas, lalu dia menggumamkan mantra sambil mengangkat sedikit tangannya.

“Sorhoradh Naidh Dhoathan…”

Lingkaran batu bergerak naik ke atas sampai akhirnya menghilang dibalik langit-langit ruangan. Entah berapa tinggi telah dicapai, yang pasti merasakan sensasi yang tidak nyaman di perutnya ketika dirinya terangkat dengan cepat ke atas. Tak lama kemudian mereka berhenti dan tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Pintu pilar kaca segera terbuka setelah Prabu Narayala mengibaskan tanggannya. Kemudian mereka berjalan menuju relung yang tertutup. Seperti yang sebelumnya dilihat, Prabu Narayala mengibaskan tangannya dan mengucapkan mantra yang diikuti dengan terbukanya dinding relung. Mereka berdua bergerak menuju pintu yang telah terbuka. Di depan tampak seperti sebuah balkon dengan dinding batu setinggi pinggang orang dewasa.
Matahari begitu hangat menyambut kedatangan mereka yang sekarang berada di puncak kuil Cakravartin. Kuil yang berada berada sebelah-sebelahan dengan kawah gunung Bromo. Medanggana Raya adalah kota yang berada di dalam kaldera Bromo purba. Bentangan bangunan kota dengan lansekap berundak-undak mengikuti bentuk lereng mengelilingi kawah dan Cakravartin. Setiap teras diisi oleh bangunan-bangunan rumah penduduk yang terbuat dari batu dengan atap-atap ukiran mengerucut. Pemandangan megah kota Medanggana Raya yang dikelilingi benteng setinggi seratus meter melingkar mengelilingi kota sampai ke tebing gunung Bromo. Dari tempat itu mereka dapat melihat puncak Mahameru yang menjulang tinggi. Dua kuil yang saling berhadap-hadapan Caturbhasa Mandala di lereng utara Mahameru dan Cakravartin di dalam kawah Bromo purba. Diantara keduanya membentang hamparan pertanian.

“Mengapa kami berada di dunia manusia Bapak Narayala, bukannya tinggal di kota ini ?” Raji bertanya

Dimas menghentikan kekagumannya akan pemandangan kota Medanggana Raya dengan pertanyaan yang memang sangat penting baginya. Alasan-alasan yang ingin diketahuinya sehingga dirinya harus tinggal di dunia manusia, sebuah asrama panti asuhan, bukannya di megahnya kota Medanggana Raya.

Prabu Narayala diam sesaat, seakan belum mendapatkan jawabannya. Sekelebat terlihat dia menghela nafas. Sepertinya dia sadar sudah waktunya pula Dimas mengetahui alasan sebenarnya dia berada di dunia Manusia.

“Anakku, keberadaanmu di dunia manusia adalah untuk keselamatanmu. Waktu itu engkau dalam bahaya besar. Bahaya yang pernah mengancam dan akhirnya merenggut nyawa kedua orang tuamu. Waktu itu kau berusia 2 tahun, kau aku titipkan kepada Nyai Janis untuk merawatmu. Nyai Janis juga termasuk yang berasal dari dunia tengah, asalnya dari Minoan. Sampai sekarang bahaya itu terus mengancammu sehingga kami harus melindungimu setiap saat.”

“Apa yang mereka inginkan dariku, mengapa aku sepertinya sedang diburu ?”

Dimas kembali bertanya. Prabu Narayala kembali menarik nafas panjang, sepertinya cerita ini sama melelahkannya dengan berlari mengelilingi kota.

“Mereka menginginkan sesuatu yang bersemayam di dalam tubuhmu” Jawab Prabu Narayala singkat.

Dimas tersentak kaget “Apa yang bersemayam di dalam tubuhku ?” sambil memegang dada dan perutnya. Pafi dan Raji memandang Dimas.

“Kau masih ingat dengan mimpi-mimpi yang aneh yang tidak kau kenal.” Prabu Narayala terlihat begitu hati-hati berusaha menjelaskan.

Dimas menganggukan pertanyaan Prabu Narayala.

“Yang kau lihat dalam mimpi-mimpimu adalah masa depan, masa yang telah dituliskan dalam BUKU KEHIDUPAN. Buku itu lah yang sekarang berada di dalam tubuhmu dan memberimu mimpi-mimpi mengenai masa depan”

Kemudian Prabu Narayala menjelaskan semua cerita mengenai BUKU KEHIDUPAN dan perang yang berkecamuk antara bangsa Narapati dengan bangsa Amukhsara.

“Demi menyelamatkan dirimu, kami harus melakukan sesuatu untuk membingungkan musuh. Selain menempatkanmu di tempat yang tidak dikenal oleh bangsa Amukhsara. Kami juga membawa serta dua anak yang lain yang memiliki jam dan tanggal kelahiran yang sama denganmu. Seorang anak laki-laki keturunan bangsa Babilon dan seorang anak perempuan keturunan bangsa Minoan. Mereka adalah kedua sahabatmu Raji dan Pafi. Kami tempatkan mereka tinggal bersama denganmu agar kau tidak merasa kesepian anakku” kata Prabu Narayala menyudahi ceritanya.

Dimas, Pafi dan Raji tertegun mengenai kenyataan terakhir yang didengarnya. Dimas menemui kenyataan dirinya adalah buruan yang sedang dicari-cari oleh bangsa Amukhsara bukanlah hal yang menakutkan dirinya. Kenyataan bahwa kedua sahabatnya adalah umpan yang setiap saat bisa dikorbankan demi menyelamatkan dirinya adalah fakta yang menyakitkan hatinya. Ada rasa kesal dan benci dengan semua yang terjadi, tapi juga ada rasa sedih yang begitu dalam. Dimas terdiam dan menunduk tak menanggapi ataupun bertanya lagi. Prabu Narayala paham apa yang dirasakan Dimas, dia menepuk bahu Dimas.

“Kalian bertiga akan selalu aman, aku dan penjaga-penjaga yang lain akan selalu menjaga kalian”

Prabu Narayala berkata pelan dan menggiring Dimas dan kedua sahabatnya kembali ke dalam ruangan. Dimas mengikuti gerakan Prabu Narayala memasuki ruangan dan dia tidak melihat beberapa orang sudah duduk menunggu di dalam ruangan itu.

Prabu Narayala mempersilahkan Dimas, Raji dan Pafi duduk di antara mereka yang semuanya serentak berdiri dan menghaturkan sembah dengan telapak tangan saling menyatu di depan dada. Sembah yang sempat dia lihat dilakukan oleh Arghapati, Wirapati dan Kerthapati kepadanya.

“Duduklah semuanya”

Prabu Narayala meminta semuanya kembali duduk di tempatnya. Dimas menatap satu persatu orang-orang yang hadir, ada enam orang termasuk dirinya. Seorang lelaki muda berpakaian hijau-hijau yang diingatnya sewaktu berada di pantai parang tritis. Seorang perempuan sangat cantik tampak duduk bersebelahan dengannya pakaian sangat indah berwarna biru laut. Dua laki-laki yang lain telah dikenal Dimas sebelumnya di kuil Caturbhasa Mandala, Kerthapati dan Arghapati.

“Aku perkenalkan, ini adalah utusan penguasa kerajaan Selatan” Prabu Narayala mulai mengenalkan lelaki berpakaian hijau-hijau yang sudah pernah dilihat Dimas sebelumnya.

“Perkenalkan hamba gusti, nama hamba NIEPETHIN SONAR, hamba biasa dipanggil NIEPETHIN”

Lelaki itu memperkenalkan diri dengan tangan kanan menyilang di dada sebelah kiri sambil membungkuk rendah. Kemudian disusul wanita cantik di sebelahnya.

“Perkenalkan hamba gusti, nama hamba HERITHA RADHNANA, hamba biasa dipanggil HERITHA”

Setelah melakukan gerakan hormat yang sama dengan Niepethin, Heritha kembali duduk.

“Kami semua adalah PAHOM NARENDRA – BATHARA SAPTHA PRABHU atau disebut tujuh penjaga BUKU KEHIDUPAN”

Prabu Narayala menatap Dimas yang masih kurang mengerti maksudnya.

“Tujuh ? lalu yang dua lagi siapa ?” kata Dimas dalam hati.

“Dua yang lain adalah Pafi dan Raji, kedua sahabatmu Dimas”

Prabu Narayala menjawab pertanyaan Dimas yang hanya diucapkannya dalam hati. Setelah melihat semua kemegahan kota Medanggana Raya, masih ada satu yang tetap mengganjal di hati Dimas. Pertanyaan yang sangat penting mengenai asal usulnya, mengenai kedua orang tuanya. Rasa sesak tiba-tiba meledak dalam dadanya, kesedihan luar biasa mengingat kembali ingatan-ingatan masa kecilnya yang telah dibuka oleh Prabu Narayala.

“Kau sudah terlalu lelah hari ini nak, lebih baik kau istirahat, kita akan bertemu lagi besok di tempat yang sama”

Dimas tidak puas dengan jawaban itu, ada pertanyaan lain yang harus segera mendapatkan jawabannya sekarang, tetapi sebelum kata-katanya keluar dari mulut Prabu Narayala sudah terlebih dulu bergerak.

“Khasaiban Gilaronan…..”

Prabu Narayala mengucapkan mantra sambil mengusap kepala Dimas, Pafi dan Raji bergantian. Seketika ketiganya merasakan kedamaian yang luar biasa menghapus semua rasa sesak di dadanya. Beban yang terasa memuncak terasa ringan terangkat keluar dari kepalanya. Matanya melihat sekeliling ruangan yang terasa makin sempit, lama kelamaan wajah-wajah para Pahom Narendra lenyap dan akhirnya gelap gulita.

“Ugh…arrrgggghhhhh…..”

Dimas menguap lebar, terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih terduduk di depan meja di ruang belajar bersama Raji dan Pafi.

“Ji…ji…bangun” Dimas mengguncang-guncang bahu Raji. Sementara Pafi yang mendengar suara Dimas terbangun.

“Eh…..aku tertidur di sini, bukankan semalam kita ……….” Pafi kebingunan. Raji juga akhirnya terbangun dari tidurnya.

“Wah….asyik sekali petualangan kita semalam” Raji berkata tanpa sadar kebingungan yang dirasakan oleh Pafi dan Dimas.

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi semalam, bukankah kita berada di Cakravartin, tapi mengapa tiba-tiba kita berada kembali di ruang belajar ini, apakah yang semalam hanyalah mimpi” Pafi tambah bingung. Raji baru menyadari keberadaannya juga ikut bingung dengan gaya khasnya yang menggaruk-garuk kepalanya.

“Entahlah, tapi mana mungkin kita mengalami mimpi yang sama secara bersamaan, yang semalam itu benar-benar nyata” Dimas menjawab.

Belum sempat semuanya terjawab, tiba-tiba Nyai Janis muncul dari arah pintu. Wajahnya tersenyum ramah sekali kepada ketiganya.

“Goede Morgen Dimas, Raji, Pafi, kalian rupanya ketiduran disini” Nyai Janis menyapa ketiganya dengan ramah.

“Ayo, kalian segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Waktu kalian tidak banyak untuk bersiap-siap” Nyai Janis menarik mereka bertiga yang bengong dengan perubahan yang begitu drastis.

*****

Berangkat sekolah dengan perasaan yang begitu segar adalah hal yang aneh dirasakannya pagi ini. Dimas sangat yakin bahwa semalaman dia tidak tidur tetapi berpetualang sampai pagi ke dunia Narapati. Dunia yang sekarang diketahuinya sebagai dunia tempatnya berasal. Walaupun belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai asal-usul dirinya tapi petulangan semalam memberinya perasaan yang cukup lega mengenai siapa dirinya. Tapi keraguan muncul dalam bentuk pertanyaan dalam benaknya, “mengapa dia sama sekali tidak merasakan kantuk yang luar biasa pagi ini, padahal dia tidak tidur semalaman, apakah semalam itu nyata ataukah hanya mimpi seperti mimpi-mimpinya yang lain”. Sesaat kemudian ditepisnya semua keraguan itu dengan sikap masa bodoh dan memutuskan untuk membahasnya semuanya nanti bersama dua sahabatnya Raji dan Pafi.

“Semalaman kita tidak tidur, tapi kenapa kita tidak merasakan kantuk sama sekali pagi ini”

kata Dimas singkat dengan keyakinan bahwa kata-katanya itu akan memancing banyak pertanyaan kedua sahabatnya.

“Aku sendiri tidak yakin apakah semalam itu Cuma mimpi atau kenyataan, karena kenyataannya kita tertidur di ruang belajar” Kata Pafi.

Dimas terus berjalan, Pafi yang juga penasaran terus mengikuti Dimas disampingnya tergesa-gesa dengan kepala yang terus menerus memandang Dimas. Raji tak kalah penasaran, setelah tadi pagi dia dibangunkan Dimas dari tidurnya, rasanya dirinya akan mati penasaran kalau tidak mendapatkan jawaban yang bisa mematahkan semua penglihatannya. Dimas diam sejenak, berpikir keras dari mana harus memulainya. Raji dan Pafi makin tidak sabar menunggunya berbicara.

“Kalian ingat dua orang asing yang pernah kita lihat di jalan ini, juga sewaktu kita duduk berapi unggun dekat kali code dan juga yang mendatangi kantor Nyai Janis sewaktu kabut menutupi seluruh asrama. Bukankah mereka yang mendatangi kita semalam. Bukankah mereka betul-betul nyata, senyata kita” Dimas berkata dengan ragu.

“ Bapak Narayala, Kerthapati, Arghapati, Wirapati, Niepethin Sonar, Herita Redhana” Pafi menyebut nama-nama yang diingatnya.

“Iya..iya itu nama-nama orang aku ingat” Raji memperkuat Pafi.

“Benarkah kita bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari dunia Narapati” Dimas bertanya kepada kedua sahabatnya.

“Aku tidak tahu, tapi hatiku berkata bahwa apa yang terjadi semalam adalah benar dan nyata. Semuanya menjadi jelas sekarang mengapa kita bertiga berbeda dari anak-anak yang lain” kata Pafi.

“Aku setuju, kelebihan yang kita miliki yang tidak dimiliki anak-anak lain, keganjilan Nyai Janis, Pintu gaib yang hanya kita melihatnya, semuanya menjelaskan bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi” kata Raji memperkuat pendapat Pafi.

“Jika benar berarti masih ada kemungkinan kita masih mempunyai keluarga lain di dunia Narapati” Dimas berkata dengan penuh harapan.

Kalimat sederhana yang begitu saja keluar dari mulut Dimas dengan polos yang menyadarkan Pafi dan Raji akan kemungkinan itu.

“Mudah-mudahan begitu, lebih baik kita tanyakan pada kesempatan kepada Bapak Narayala” kata Pafi

“Atau Nyai Janis, aku yakin dia juga pasti tahu mengenai keluarga kita, karena semalam Bapak Narayala mengatakan bahwa Nyai Janis juga adalah bangsa Narapati” kata Raji memberikan alternative.

“Betul sekali kau Raji, hal itu cukup menjelaskan mengapa dia juga memiliki kemampuan membaca pikiran, karena dia adalah bangsa Narapati” kata Pafi

Tetapi Dimas juga malah terdiam, wajahnya tampak dalam kekecewaan Pafi dan Raji sangat mengerti arti kekecewaan itu, kesedihan yang sama mereka rasakan, hidup dan dibesarkan tanpa orang tua.

Mereka akhirnya sampai di depan halaman sekolah yang sudah siap dengan upacara bendera. Hari senin, semua siswa harus memberikan penghormatan kepada bendera negara Hindia Belanda – Merah Putih Biru dengan tujuh bintang berwarna keemasan di tengah dasar putihnya. Acara yang paling dibenci oleh Raji. Berjemur matahari pagi sambil melantunkan lagu kebangsaan kerajaan Belanda kemudian memberikan penghormatan kepada bendera yang sedang dinaikan.

Hari ini sekolah rasanya berbeda dari hari-hari biasanya, ada kesedihan yang menyelimuti wajah Dimas. Hal itu dirasakan oleh kedua sahabat Dimas. Pafi yang paling merasakannya. Dia tak tahan kalau melihat Dimas mulai terlihat sedih.

“Ada apa Mas, kenapa kau kelihatan sedih hari ini “

Pafi memulai pembicaraan dalam perjalanan mereka pulang dari sekolah menuju asrama. Dimas berusaha menyembunyikan ekspresinya.

“Eh…he..he.. siapa bilang aku sedang sedih, aku hanya sedang berpikir”

Raji sebenarnya juga melihat kesedihan yang sedang dirasakan oleh Dimas, tetapi dia sangat tahu Dimas yang tidak akan membiarkan dirinya tampak sedih dan dikasihani.

“Baiklah kalau kau tidak ingin kami SAHABATMU mengetahuinya”

kata Pafi sambil memberi tekanan pada sebuah kata. Dimas merasa tidak enak dan bersalah kepada kedua sahabatnya. Beruntung Raji segera mengalihkan suasana dengan ceritanya. Mereka bertiga akhirnya sampai di asrama tanpa ada pertengkaran terjadi.

Sejak pengetatan kegiatan malam di asrama, Dimas, Raji dan Pafi lebih sering duduk di ruang belajar sampai pukul sembilan malam. Dalam kesibukan belajar mereka yang padat, dari arah pintu ruangan Pak Narso datang menghampiri mereka.

“Anak-anak, kalian dipanggil untuk segera ke kantor Nyai Janis sekarang”

Pak Narso memandang dan menunggu Dimas, Raji dan Pafi yang saling pandang kemudian menganggukan kepala kepada Pak Narso. Kemudian Dimas, Raji dan Pafi segera menuju kantor Nyai Janis. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk Ketiga remaja itu memasuki ruangan Nyai Janis yang sedang sendirian duduk di kursinya.

“Duduklah anak-anak” Nyai Janis tersenyum ramah.

“Saya ingin perkenalkan dua tamu yang sering mengunjungi tempat ini”

Nyai Janis menunjukan tangannya ke sebelah kanannya. Tiba-tiba muncul dua sosok laki-laki yang sudah Dimas kenal semalam.

“kalian sudah bertemu mereka semalam”

Kata-kata Nyai Janis meyakinkan ketiganya bahwa apa yang terjadi semalam memang benar-benar nyata. Dimas dan Pafi tersenyum-senyum gembira. Lain halnya dengan Raji yang masih kaget terbengong-bengong menyaksikan kemunculan kedua orang yang diperkenalkan Nyai Janis kepada mereka. Walaupun dia juga semalam ikut dalam petualangan itu, tetapi kekagetan mereka tetap tampak dalam sebuah ketidak percayaan dengan apa yang dilihatnya.

“Bagaimana kabarmu nak” Prabu Narayala menyapa Dimas

“Aku baik Bapak Narayala, paman Arghapati ?” Jawab Dimas singkat dengan penuh senyum sambil menggangukan kepalanya.

“Ah… Raji dan Pafi, Bagaimana kabar kalian berdua” Sapa Prabu Narayala kepada Raji dan Pafi.

“Sa..sa…saya baik-baik saja” Jawab Raji agak terbata-bata.

“Saya juga” Pafi menyusul dengan singkat. Prabu Narayala tersenyum.

“Kedatangan kami kemari karena urusan yang sangat penting dengan kalian bertiga”

Prabu Narayala mulai membuka maksud dari pertemuan itu. Dimas, Raji dan Pafi berkerut heran.

“Kami berdua sekarang datang untuk menjemput kalian bertiga pindah tinggal di dunia Narapati”.

Dimas, Raji dan Pafi seperti tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Prabu Narayala.

“Apa…. Kami akan tinggal di dunia Narapati……” Dimas begitu bersemangat dengan suara yang bercampur getar tawa, kemudian memandang Raji dan Pafi yang juga tampak begitu gembira dalam suara getar mereka yang menahan lonjakan-lonjakan kegembiraan di jantung mereka. Tetapi sesaat kemudian Pafi berubah datar,

“Pindah ? lalu bagaimana dengan sekolah kami ?”

Pafi lumayan kritis mengenai masa depannya mempertanyakan hal-hal logis yang harus terjelaskan jika mereka bertiga tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Semua sudah di atur dengan baik, kalian tidak akan membutuhkan apapun untuk dibawa, semua sudah disediakan di sana, semuanya akan dijelaskan nanti setelah kalian tiba di Cakravartin. Kita sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi”

Nyai Janis menambahkan. Dimas, Raji dan Pafi hanya saling memandang tersenyum dan saling mengangguk-angguk yang begitu jelas menggambarkan khayalan mereka tentang keajaiban petualangan yang akan mereka hadapi nanti di Dunia Narapati.

“Mendekatlah” Prabu Narayala meminta ketiga remaja itu mendekatinya.

Tiba-tiba dari dinding ruang Nyai Janis muncul sebuah pintu yang persis sama yang berada di dalam ruang belajar. Kemudian mereka memasuki pintu tersebut dan mereka tiba di sebuah ruangan yang pernah dilihat sebelumnya. Ruangan puncak Caturbhasa Mandala di lereng gunung Mahameru.

Di depan pintu yang sudah terbuka telah menunggu seekor Narasimha dan dua ekor Garuda kencana bersama Arghapati. Mata Pafi dan Raji menatap tidak percaya menyaksikan seluruhnya dengan mata sendiri apa yang diceritakan Dimas mengenai Dunia Narapati dan mahluk-mahluk gaibnya.

“Raji, ikutlah Arghapati bersama Garuda kencananya, Pafi ikutlah naik Garuda bersama Kerthapati, dan kau anakku ikutlah bersamaku” Prabu Narayala menempatkan masing-masing menjadi dua orang dalam setiap kendaraan hewannya.

Raji dengan bersemangat menaiki Garuda kencana bersama Arghapati yang menyambutnya dengan senyum. Pafi yang agak ragu-ragu duduk di atas punggung Garuda yang memekik rendah ketika dirinya duduk di atas punggungnya. Kerthapati tersenyum melihat Pafi yang tersentak mendengar pekikan sang Garuda.

“Dia bilang senang bertemu kembali denganmu nona” Kerthapati menjelaskan arti pekikan sang Garuda. Pafi tersenyum kecut tidak mengerti maksud dari Kerthapati.

Setelah semuanya naik, Garuda kencana yang ditunggangi Raji dan Pafi segera mengepakan sayapnya mengangkasa, sedangkan para Narasimha berlari menuruni tangga kuil yang sangat panjang kemudian bergerak ke utara ke arah lereng gunung bromo dimana kemegahan Medanggana Raya berdiri tegak. Petualangan baru saja dimulai, kini Dimas, Pafi dan Raji harus menghadapi dunia baru yang sama sekali belum mereka kenal. Dunia yang memberikan mereka tempat dan kedudukan yang tinggi tetapi juga berbahaya.

Sunday, March 26, 2006

NYAI JANIS

Beberapa purnama berlalu, latihan-latihan yang diterima Dimas, Raji dan Pafi telah semakin membuat matang kemampuan mereka. Setiap waktu petualangan dan pengalaman yang menakutkan dijalani Dimas, Raji dan Pafi. Tetapi dari semua petualangan yang mereka alami bagi Dimas harus kembali berhadapan dengan Nyai Janis dengan semua pertanyaannya adalah yang paling melelahkan. Pagi-pagi setelah sarapan nasi goreng buatan mbok Sinten, Nyai Janis kembali memanggil Dimas ke ruangannya. Dengan langkah gontai dan berat seperti dibebani ribuan ton besi kakinya melangkah menuju ruangan Nyai Janis. Dalam kemalasannya menemui Nyai Janis sebenarnya ada rasa penasaran yang mencuat dipikirannya.

Ketidakmengertian Dimas akan keanehanan Nyai Janis yang belum lama diperlihatkannya membuatnya berpikir penasaran. Selama ini Nyai Janis terlihat wajar dan tidak menunjukan keganjilan apapun dalam sikapnya. Tetapi semenjak mimpi-mimpinya makin sering mengunjunginya sejak sebulan terakhir, Dimas merasa ada perubahan yang sangat jelas dari sikap Nyai Janis. Bukan sikap menyebalkan yang membuatnya merasa aneh, tetapi sikap Nyai Janis yang makin ingin tahu mengenai mimpi-mimpinya. Selain itu sepertinya dia seperti bisa membaca pikiran orang-orang sebelum diungkapkan dalam kata-kata sekalipun. Sejak pemanggilan dirinya yang pertama kali sebulan yang lalu, sudah 9 kali Nyai Janis memanggil dirinya secara pribadi dan menanyakan mimpi-mimpi apa yang dilihatnya dan nyaris setengah memaksa dia meminta Dimas menceritakan semuanya dengan detil.

Hari ini adalah yang ke sepuluh Dimas dipanggil oleh Nyai Janis ke kantornya. Pertanyaannya tetap sama, dan jawaban yang diberikan juga tetap sama. Sejauh ini mimpi-mimpi yang dialami Dimas masih sama, walaupun ada yang lain, Dimas merasa tidak ingin menceritakannya karena hal itu akan membuatnya makin sering menemui orang yang sekarang paling malas ditemuinya. Lega rasanya lepas dari ruangan Nyai Janis. Lepas dari semua pertanyaan nyai Janis sekarang bagi Dimas mulai menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa yang setara dengan rasa lapar yang terpuaskan oleh makanan yang sangat lezat. Rasa bebas dari segala pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk dijawabnya membuat Dimas menarik napas panjang begitu memasuki pintu bangsal. Kakinya bergegas ke ruang belajar dimana tiga sahabatnya seperti biasa telah menunggu di ujung pojok ruangan.

Raji dan Pafi mengerti apa yang dirasakan Dimas, karena itu tidak ada satu orang pun yang memulai pertanyaan mengenai apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis. Mereka membiarkan Dimas memulai pembicaraan dan tampaknya Dimas pun tidak tega melihat rasa penasaran kedua ahabatnya begitu memuncak di ujung kepala mereka.

“Pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama” Keluh Dimas.

“Kau tidak menceritakan mimpi aneh yang lain yang baru saja kau alami” Raji bertanya dengan suara agak mendesis.

Dimas menggelengkan kepala,

“Tidak, aku tidak ingin menceritakannya, lagi pula tidak ada gunanya bukan”. “Selama ini Nyai Janis selalu berkilah mengenai tujuannya membantu mengurangi beban di kepalaku, tapi nyatanya perbuatannya malah justru membuat kepalaku tambah pusing”

Keluh Dimas terdengar nelangsa.

“Sudahlah, Dimas jangan ditanyai lagi, lebih baik kita kembali ke tempat tidur masing-masing. Sudah terlalu banyak kelelahan hari ini”.

Kata Pafi yang terdengar dewasa dan justru aneh di mata teman-temannya yang lain. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk bertanya-tanya tanpa peduli apakah orang yang ditanya bersedia menjawab atau tidak. Tapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat tidurnya.

Pagi sebelum fajar mengufuk di timur, hal aneh terjadi dengan tiba-tiba. Kabut yang begitu tebal menyelimuti seluruh kota Jogjakarta dengan cepat, tak jauh berbeda dengan yang terjadi di asrama. Dingin udara yang tidak biasanya terasa menusuk tulang, mengkerutkan kulit yang memaksa setiap orang untuk menambahkan kulit keduanya semakin tebal demi mendapatkan kehangatan. Untungnya hari itu hari minggu, sehingga semua penghuni asrama merasa bisa bermalas-malasan. Tapi tidak demikian yang dirasakan Dimas yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ada perasaan aneh mengalir dalam hatinya yang membawanya bangkit dari tempat tidur dan melawan rasa kantuk dan dingin yang menusuk-nusuk. Dimas bergerak ke tempat tidur Raji yang masih melingkar seperti seekor kucing yang keletihan bermain.

“Ji….Ji… bangun…..”

Dimas menggoyang-goyang bahu Raji yang susah sekali membuka matanya yang seakan sudah terjahit rapat dengan kelopaknya. Raji dengan malas dan memelas mencoba membuka matanya.

“Ada….apa…” Kata Raji terdengar agak berat.
“Aku merasakan ada yang aneh, ayo kita lihat keluar” Dimas menarik selimut yang menutup kaki Raji. Kontan Raji menggigil dan berusaha menarik kembali selimutnya.

“Ayo… kau akan kehilangan hal yang menarik kalau tidak ikut” Dimas mendesiskan suaranya agar tidak terdengar yang lain yang juga sedang meringkuk melawan dingin.

Dimas berusaha memotivasi Raji agar ikut dengannya. Raji serta merta bangkit dan mengikuti Dimas tanpa peduli lagi rasa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Rasa ingin tahu dan tak ingin kehilangan hal yang menarik mendorongnya untuk melawan semua kantuknya. Mereka berdua kemudian berjalan ke bangsal perempuan dimana Pafi sudah berdiri di depan pintu.

“Dimas, kabut ini aneh sekali seperti tidak wajar, apakah kau juga merasakan ada yang aneh ?”

Pafi berbicara agak mendesis. Kepala menengok kesana kemari menyapu seluruh koridor kalau-kalau ada orang.

“Ya…aku kira akan terjadi sesuatu, ayo kita keluar” Dimas menganggukan kepalanya.

Dimas dan Raji bergerak ke arah pintu keluar dekat musholla diikuti Pafi dari belakang. Ketiga remaja itu berjalan menyusuri lorong nyaris tidak terlihat lagi karena tebalnya kabut yang rupanya sudah memasuki seluruh ruangan asrama. Jejak langkah mereka terhenti di pintu asrama yang menghadap kantor Nyai Janis seberang luar asrama.

Kesunyian begitu pekat menyelimuti seluruh asrama, semua penghuninya seperti tersirap pulas. Pandangan nyaris tak sanggup menjangkau lebih dari sepuluh meter. Dimas tetap berdiri di balik pintu kaca dan terus memandang ke arah pintu masuk kantor Nyai Janis. Tangannya memberi isyarat tangan kepada Raji dan Pafi agar berhenti. Seakan sedang menunggu sesuatu yang akan datang. Hatinya berdesir kemudian berdegup kencang ketika tiba-tiba keluar dari tebalnya kabut dua orang laki-laki tinggi, satu orang masih terlihat muda dan yang lainnya sudah terlihat berumur tua. Rambutnya yang putih tertutup sorban warna gading dengan jubah seperti pakaian dari wilayah timur tengah. Dimas terus mengikuti gerak-gerak tamu misterius yang kemudian berdiri di depan pintu kantor Nyai Janis. Tak ada gerakan ketukan atau suara ucapan salam, tapi seperti sudah ditunggu kedatangannya, pintu kantor Nyai Janis terbuka lebar diikuti masuknya kedua orang misterius tadi.

“Siapa orang itu ?” Raji menoleh kepada Dimas.
“Aku tidak tahu, tapi rasanya aku mengenal mereka dari apa yang mereka kenakan” Dimas menjawab Raji dengan tetap menatap tajam ke arah pintu kantor Nyai Janis.

“Kau pernah melihat mereka ?” Pafi menyelak di antara Dimas dan Raji. Raji yang terdorong ke samping karuan saja merasa tidak suka dan menunjukan wajah cemberutnya kepada Pafi.

“Ya, mereka seperti orang yang pernah kita lihat sewaktu pulang sekolah dan yang menyapa kita dipinggir sungai, sewaktu kita sedang makan ikan bakar”

“Ya aku ingat, mereka adalah orang yang sama dengan orang yang tadi masuk ke kantor Nyai Janis” tambah Pafi sambil tetap memperhatikan semua yang terjadi di depan kantor Nyai Janis.

“Lebih baik kita mendekati kantor Nyai Janis, untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan” Pafi memberikan usul.

Sekelebat pikiran Dimas setuju seketika dan mengajaknya bergeraknya untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis. Tetapi keraguan menderanya, sebentar keraguan itu ditepisnya dan rasa ingin tahunya mengemuka di seluruh kepalanya yang diikuti gerakan tangan membuka pintu dan bergerak mengendap keluar asrama diikuti yang lainnya yang kelihatannya setuju dengan gerakan yang dilakukan Dimas. Beruntung kabut masih tebal sehingga ketiga remaja itu dapat bergerak dengan leluasa. Mereka bergerak ke belakang kantor Nyai Janis yang memiliki jendela menghadap kebun jagung pak Narso. Jendela yang sering dipandang Dimas setiap kali Nyai Janis memanggilnya. Dimas mengendap-endap seperti setengah merangkak kemudian berjongkok persis di bawah jendela. Diikuti yang lainnya yang bersusah payah setengah merangkak karena Pafi tampaknya kesulitan dengan rambutnya yang panjang yang terus menerus disibakannya menghindari tanah, tetapi perbuatannya justru membuat rambutnya menumpuk di wajah Raji yang kelabakan mengibaskannya sambil merengut. Hampir saja Raji mengeluarkan makian yang terhenti oleh telapak tangan Pafi yang menutup mulutnya. Tangan Pafi yang bekas menyentuh tanah, karuan saja membuat mulut Raji penuh dengan remah-remah tanah humus. Raji menepis tangan Pafi sambil melotot dan membersihkan mulutnya. Dimas yang melihat ulah ketiga sahabatnya hanya dapat mengulum senyum.

“Ah…jendelanya tidak terbuka” kata Dimas dalam hati

Bagaikan perjalanan terpanjang selama hidupnya, akhirnya Raji menarik nafas lega sambil menutup mulutnya bersender disebelah Dimas, diikuti Pafi. Dimas terlihat mengkerutkan dahinya, kekhawatirannya sedari tadi muncul karena dilihatnya jendela yang tertutup sehingga mereka mungkin tidak bisa mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Ketiga remaja itu saling berhimpitan dibawah jendela. Untungnya masih ada ventilasi udara di atas jendela yang bisa menjadi jalan keluar suara-suara di dalam ruangan cukup terdengar. Tapi aneh, tidak ada satu suara pun di dalam yang berbunyi, walaupun keempat remaja itu sudah berusaha seksama mendengarkan dengan menempelkan telinga mereka ke tembok, tetap saja tidak ada suara yang mereka dengar. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Dimas merasa ada sesuatu dalam kepalanya sedang bercakap-cakap, tersamar oleh banyaknya hal yang dipikirkan olehnya. Sadar akan sesuatu yang terjadi dikepalanya, Dimas menghentikan upayanya untuk mendengarkan dengan telinganya, dia mencoba memejamkan matanya dan berkonsentrasi dengan suara-suara yang sedang bercakap-cakap di kepalanya. Melihat keadaan itu Raji dan Pafi memandang heran dengan apa yang dilakukan Dimas, Pafi menarik alisnya mencoba mendapatkan jawaban dari Raji, tapi kemudian mereka tersadar dan segera tahu apa yang telah terjadi. Dimas telah mendengar semuanya melalui pikirannya. Seperti yang selama ini yang diceritakannya.

“Baiklah Nyai, saya rasa cukup sekian dulu, kami mohon pamit” Suara seorang lelaki yang terdengar begitu berat dan mantap.

“Baiklah tuan, selamat jalan” Dibalas suara seorang perempuan yang sudah dikenal dengan baik, Nyai Janis.

Sekejap kemudian semua suara lenyap dan tak ada apapun yang terdengar di dalam kepala Dimas. Bersamaan dengan itu Dimas membuka matanya dan melihat ke kiri dan kanan dimana Raji dan Pafi sedang menatapnya penuh tanya dan menunggu jawabannya. Tetapi Dimas malah bergerak kembali dengan setengah merangkak dan memberi isyarat mengajak kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu sambil tetap mengendap-endap. Seperti mengerti isyarat Dimas, Raji dan Pafi mengikutinya dari belakang. Raji berusaha menjaga jarak dengan Pafi yang masih saja tetap sibuk dengan rambutnya. Sesampainya di dalam ruangan bangsal, semua sudah tampak tidak sabar ingin mendengar apa yang diketahui Dimas tadi.

“Apa yang kau dengar tadi, ayo ceritakan pada kami” Pafi bertanya lebih dahulu dengan agak mendesak.

Dimas agak menghela nafas, “Aku hanya mendengar bagian akhir ketika mereka mengucapkan kata perpisahan”

“Jadi mereka saling kenal ?” Pafi mencoba menyimpulkan.

“Ya, kelihatannya begitu” Dimas menjawab pendek.

“Apakah kau tidak sempat mendengar yang lain?” Raji mencoba mengajak Dimas mengingat-ingat yang lain.

“Tidak, pembicaraan sebelumnya terlalu kabur dengan isi pikiranku sendiri. Jadi aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya ruangan Nyai Janis telah ditutupi oleh sesuatu sehingga mengaburkan apapun yang ada di dalam.”

Dimas menjawabnya dengan tetap berusaha mencoba mengingat kata-kata yang sempat didengarnya diantara banyak pikiran yang berseliweran di kepalanya saat itu. Lelah, Dimas menyenderkan badannya ke tembok dan duduk jongkok di lantai.

“Kau kenapa Dimas ?” Raji ikut berjongkok dan mencoba mendapatkan jawaban.

“Kau sakit, ayo lebih baik kita kembali ke kamar” Pafi segera membantu memapah Dimas dari sebelah kanan dan dibantu pula oleh Raji dari sebelah kiri.

Upaya Dimas berkonsentrasi mendengarkan suara melalui kemampuan pikirannya telah membuatnya terlalu lelah. Mereka bertiga akhirnya kembali ke kamarnya masing-masing. Kelelahan yang dialami Dimas memang berbeda dengan yang terjadi pada kedua sahabatnya. Apa yang dilakukannya untuk mendengarkan tadi menyita energinya. Mencoba kembali tidur, tetapi ragu karena sebentar lagi waktu subuh akan datang. Walaupun lelah, matanya tak bisa diajak untuk tidur, sementara Raji sudah kembali melingkar di kasurnya, akhirnya Dimas memutuskan untuk duduk dekat jendela memandang halaman depan yang berkabut dan sedikit demi sedikit lenyap.

Suara Azan subuh terdengar berkumandang dari Musholla. Udara tidak sedingin sebelumnya, kabut pun sudah lenyap. Di bangsal anak laki-laki dimana Dimas tidur, Nyai Janis masuk dan membangunkan seluruh isi bangsal.

“Kom…kom…wekken…. Het is zonnig, goede morgen Raji…….. hoe gaat het ?”

Nyai Janis yang biasa membangunkan berkata ramah kepada Raji. Raji nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya

“goede morgen nyai Janis, heel goed, dank u”

Raji yang masih sangat mengantuk karena semalam keluar bersama Dimas dan Pafi, terlihat begitu malas untuk segera bergegas membereskan tempat tidurnya. Di sebelahnya Dimas pun membereskan tempat tidurnya dengan mata yang kelihatan masih mengantuk.

“Kau tidak tidur lagi tadi ?”

Dimas diam sejenak tak menjawab pertanyaan Raji dan kemudian menjawabnya dengan gelengan kepala. Pikirannya masih agak kacau mengenai kenyataan yang dilihatnya sebelum subuh tadi. Dahinya berkerut berusaha mengingat dan menyakinkan diri tentang apa yang sudah didengarnya.

“Eh…mmm aku tidak tidur lagi, karena aku pikir waktu subuh sudah dekat”

Dimas terdiam dan tanpa melanjutkan kata-katanya dia segera menyambar handuk yang ada di sampingnya meninggalkan Raji yang dalam kebingungan. Raji bergegas menyambar juga handuknya dan mengejar Dimas.

“Eiiiii…. Tapi apa ? kok belum selesai gitu sudah ditinggal”

Wajah Raji agak merengut menunjukan cemberut kesal penasaran.

“Nanti saja ceritanya, hari ini kita akan jalan-jalan kemana ?” Dimas mengalihkan pembicaraan.

“Hari ini Nyai Janis akan mengajak kita semua main ke parang tritis, katanya hari ini ada larung di sana.” Kata Raji.

Dimas hanya menggangguk dan berjalan terus menuju kamar mandi.

Hari ini adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak yang tinggal di asrama. Mereka begitu tidak sabar mengunjungi tempat-tempat lain selain asrama dan sekolah. Nyai Janis akan membawa semua anak-anak asrama untuk berjalan-jalan. Dimas dan Raji sudah siap dengan semua bekalnya.
“Kau bawa uang berapa ?”

kata Raji sambil menghitung-hitung uang di tangannya.

“Sepuluh goelden”

Jawab Dimas sambil membetulkan tas punggungnya yang telah penuh dengan beberapa peralatan untuk perjalanan mereka.

“Wah…. Kau masih punya banyak, aku Cuma 80 sen, itu pun setelah ditambah 50 sen pemberian Nyai Janis. Aku tidak pandai menabung seperti kau” Raji agak nyengir kuda.

“Makanya, jangan jajan melulu, Tabungkan uangmu di celengan, bukannya diperut”

Pafi mengomeli Raji yang hanya tersenyum getir mendengarnya.

“Ayo kita harus berangkat cepat, atau kalian ingin menunggu Nyai Janis teriak dulu !”

Seru Pafi melotot dengan wajah galak sambil menggendong bekalnya.

Sebuah angkutan sudah siap di halaman asrama, sudah banyak anak-anak menaiki kendaraan seperti sebuah truk pengangkut tentara itu. Perjalanan dimulai dengan melalui jalan-jalan di dalam kota yogyakarta yang menuju arah kota Bantul di selatan. Perlu waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke pantai yang sering digunakan masyarakat jawa untuk kegiatan ritual.

Sepanjang perjalanan di atas truk, Dimas cenderung lebih diam dari biasanya. Pemandangan sawah disepanjang perjalanan mereka makin membantunya untuk menerawangkan lamunannya. Semua mimpi-mimpinya yang aneh dan tidak dia mengerti, bahasa yang tidak dia pahami.

Sementara Raji begitu asyik duduk di samping seorang gadis kecil. Wajahnya mesam-mesem mengumbar senyum kepada gadis kecil itu. Melihat tingkah Raji, Pafi merengut keras. Pandangannya dialihkan kepada Dimas yang sedang melamun memandang persawahan yang sudah matang.

“Gophanh Nekhan Sonmoran Dhitha Nekhan Sosan”

Tiba-tiba Dimas berbisik pelan, Pafi yang sedang asyik memandangi hamparan permadani keemasan sawah-sawah yang siap panen sempat mendengar bisikan Dimas.

“Kalimat apa yang barusan kau ucapkan, Dimas?”

Pafi mengalihkan tatapannya ke arah Dimas yang matanya terlihat kosong dan menerawang, seakan Pafi tidak tampak di hadapannya. Pafi mendorong bahunya ke belakang, Dimas tampak kaget dan memandang Pafi bingung.

“eh…ya… ada apa” Dimas terlihat sadar dan terpecah dari lamunannya.

“Aku bertanya padamu, kalimat apa yang baru saja kau ucapkan tadi” Pafi mengulang kembali pertanyaannya.

“eh… apa ya….” Dimas kelihatan bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Aku sendiri tidak tahu artinya, aku mendengarnya dari mimpi yang paling sering diucapkan, jadinya aku hafal” Dimas masih menggaruk-garuk kepalanya, rasanya seperti ribuan kutu rambut telah bersarang di ubun-ubunnya.

“Apakah kau ceritakan hal ini kepada nyai Janis?” Pafi kembali bertanya

“Tidak…tidak, aku tidak menceritakannya, aku pikir dia juga tidak akan mengerti artinya” Jawab Dimas yang alasan sebenarnya karena dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi oleh Nyai Janis.

“Aku sudah coba mencari referensi mengenai bahasa itu, tapi tidak pernah aku temukan. Kedengarannya seperti bahasa India atau sansekerta” Sambung Dimas, Pafi kelihatan makin tertarik dengan yang diceritakan Dimas.

“Kau sudah menanyakannya kepada pak Kusumo?” Pafi memberikan saran.

“Sudah, aku malah sudah meminta pak Kusumo untuk mendengarkan, tapi beliau bilang dia tidak mengerti maksudnya. Tapi katanya lafalnya mirip dengan sansekerta, karena banyak penggunaan konsonan H di banyak kata”

Dimas kemudian menjelaskan panjang lebar perihal diskusinya dengan pak Kusumo membahas bahasa asing itu. Dia tidak menceritakan sumber bahasa itu kepada pak Kusumo untuk menghindari timbulnya pertanyaan lain yang akan membuatnya gerah seperti yang selalu di alaminya di kantor nyai Janis.

Sepanjang perjalanan dinikmati dengan mengobrol dan tingkah polah Raji yang lucu yang kadang-kadang disahuti garang oleh Pafi. Tak terasa akhirnya mereka sampai di parang tritis saat kerumunan besar sedang mengarak sesuatu ke arah pantai. Rupanya hari itu ada upacara larung persembahan untuk laut selatan. Semua anak-anak turun dari angkutan diiringi teriakan-teriakan Nyai Janis memberikan perintah kepada seluruh anak-anak. Dimas, Raji dan Pafi segera berlari menuju pantai yang masih lumayan jauh tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Nyai Janis. Rasa khawatir ketinggalan acara larung lebih mendorong untuk ikut-ikutan berkerumun dengan penduduk yang sedang melakukan upacara itu.

“Upacara apa ini pak namanya”

Pafi bertanya kepada seorang lelaki tua di sebelahnya yang sedang mengamati seluruh prosesi upacara. Dimas dan Raji menengok ke arah lelaki tua itu menunggu jawaban dari pertanyaan Pafi yang juga menyentil rasa ingin tahu mereka.

“Ini namanya upacara larung persembahan buat Nyai Roro Kidul” Lelaki tua itu menjawab singkat.

Semuanya manggut-manggut tetapi bagi Dimas setelah lelaki tua itu menyebut nama Nyai Roro Kidul, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dalam pandangannya yang jauh ke arah sesajen yang sedang dilarung, terlihat pemuda-pemuda berbadan tegap dengan pakaian prajurit mataram berwarna hijau seperti mengawal para pelarung.

“Yang memakai pakaian hijau-hijau itu siapa pak?”

Dimas menunjuk ke arah kerumunan pelarung. Lelaki tua itu mencoba mengikuti arah telunjuk Dimas yang menuju ke arah kerumunan pelarung. Matanya menyipit mencoba meyakinkan pandangannya dan menyamakan dengan pertanyaan yang diajukan Dimas. Tapi kemudian dahinya mengkerut bingung, karena tak ada orang yang dimaksud Dimas. Tidak ada yang berbaju hijau-hijau. Hatinya sejak awal sudah menyangkal akan ada pelarung yang berani berpakaian hijau, karena warna tersebut sangat keramat dan tidak ada yang berani memakainya. Apalagi saat larung persembahan untuk Nyai Roro Kidul yang identik dengan warna hijau.

“Siapa yang anak mas maksud ? tidak mungkin di saat seperti ini ada yang berani berpakaian dengan warna hijau” Lelaki tua itu kembali menatap Dimas setelah yakin dengan jawabannya.

Raji dan Pafi juga merasakan keheranan yang dirasakan oleh lelaki tua itu, tetapi mereka berdua segera mengerti dan maklum dengan apa yang sedang dilihat oleh Dimas. Mereka sangat biasa melihat kemampuan Dimas dalam melihat yang gaib. Raji segera mencoba mengalihkan perhatian lelaki tua itu agar tidak bertambah keheranan.

“Ah….kamu selalu salah menyebutkan warna, itu warna biru bukan hijau. He..he… maafkan teman saya ini pak, kadang-kadang sering salah membedakan antara biru dan hijau”.

Raji berusaha tertawa dan matanya dikedipkan ketika menatap Dimas, diikuti Pafi yang ikut-ikutan tertawa bingung. Dimas paham dengan apa yang dimaksud Raji. Daripada diperpanjang akan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, habislah liburan mereka hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Iya pak… saya salah lihat” Dimas nyengir masam yang diikuti dengan gerakan menarik tangan Raji.

“Terima kasih pak atas penjelasannya, kami permisi dulu”

Pafi yang menyadari keadaan segera melenggang menyusul Dimas dan Raji. Ketiga remaja itu segera saja saling berbisik-bisik membahas apa yang barusan dilihat Dimas.

“Benar, aku melihat mereka berpakaian hijau-hijau dengan celana pendek selutut ditutupi kain, persis seperti seorang senopati lengkap dengan blangkonnya” Dimas menjelaskan kembali apa yang sampai sekarang masih dilihatnya.

“Seperti apa mereka ?”

Pafi bersemangat sekali mendapatkan detil penjelasan. Belum sempat Dimas menjawab pertanyaan Pafi, tiba-tiba beberapa lelaki berbaju hijau-hijau yang dilihat Dimas menoleh dan menatapnya. Kesemuanya bergerak ke arah Dimas dan teman-temannya meninggalkan kerumunan para pelarung. Hati Dimas langsung saja menclos. Raji dan Pafi melihat ekspresi Dimas yang tiba-tiba tegang menjadi cemas.

“Dimas kenapa, apa yang mereka lakukan ?”

Raji yang sedari tadi mencoba berpikir apa yang tadi dibicarakan Dimas menggoyang-goyang pundak Dimas. Raji dan Pafi sangat cemas, mereka tahu bahwa ada yang sedang dilihat Dimas dan membuatnya ketakutan. Lelaki-lelaki yang berpakaian hijau-hijau itu serempak berhenti hanya dua meter dari hadapan Dimas. Mereka semua menghaturkan sembah dengan menyatukan telapak tangan mereka di depan dada dan menundukkan kepala dengan bahu dibungkukan.

“Saavdhan Dhasi Dharona Thikhadh Sonhonabi Phakhedha” Kata seorang dari mereka.

Dimas yang mendapatkan haturan sembah seperti itu menjadi bingung, ketakutan yang tadi dirasakannya berubah menjadi rasa heran.

“Bahasa apa yang tadi dikatakannya ?”Pengucapannya mirip dengan orang-orang dalam mimpi-mimpiku”

dalam hati Dimas bertanya-tanya. Belum sempat menjawab haturan sembah tersebut Dimas melihat mata lelaki tersebut melihat ke arah belakangnya dan tersenyum lalu bergerak mundur. Tanpa berkata-kata lagi kesemua lelaki berpakaian hijau-hijau itu menjauh dari Dimas yang mencoba menoleh ke belakangnya mencari tahu siapa yang baru saja dilihat lelaki tersebut.

“Kenapa kau menoleh ke belakang, ada apa ?” Raji ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang coba dilihat Dimas.

“Dimas…Dimas….apakah orang yang berbaju hijau itu masih ada ?”

Pafi mengguncang-guncang bahu Dimas yang seperti sedang mengumpulkan semua nyawanya yang tercerai berai di ubun-ubunnya.

“Ah….eh.. tidak…tidak…. Mereka sudah pergi, entah kenapa mereka pergi. Aku tadi sempat melihat dari sudut matanya memandang ke arah belakangku. Itulah mengapa aku menoleh ke belakang, karena aku pikir pasti ada sesuatu yang dia lihat dan membuatnya pergi.” Dimas menunjuk-nujuk bagian belakang sembari menjelaskan kepada ketiga temannya.

“Tapi aku lihat dari tadi, tidak ada apapun di belakang kita” Pafi menolehkan kepalanya ke belakang

“Lelaki yang berpakai hijau-hijau tadi menyapaku, mereka mengucapkan kalimat yang terdengar sama dengan yang aku dengan dalam mimpi-mimpiku” Dimas menjelaskan sambil memegang punduknya.

“Benarkah ! Berarti orang-orang yang ada dalam mimpimu itu adalah mahluk halus” Raji menarik kesimpulan dengan wajah ketakutan.

“Tapi kau bilang dalam mimpimu anak kecil itu bernama sama denganmu, yang berarti itu adalah kau, dan ….” Pafi menghentikan kalimatnya dengan telunjuk yang mengarah malas ke Dimas.

“Tapi anak kecil itu mengucapkan bahasa yang sama dengan lelaki yang berpakaian hijau tadi, berarti anak kecil itu juga mahluk halus. Jadi tidak mungkin anak kecil itu adalah kau Dimas”

Raji mencoba menghilangkan rasa merindingnya dengan ikut memberikan kesimpulan untuk menutup rasa takutnya yang lain akan kenyataan bahwa mungkin Dimas sahabatnya juga seorang mahluk halus.

“Tumben kau sekarang memakai otakmu” Pafi mengejek Raji dengan wajah cemberut.

“Lebih baik kita mengikuti rombongan larung itu lagi, kita bahas hal ini di asrama saja”

Dimas mengalihkan perhatian kedua sahabatnya untuk segera bersenang-senang. Pembahasan mereka akan yang baru saja terjadi akan menghabiskan waktu liburan mereka yang sudah sangat sempit karena habis waktu di jalan. Pukul tiga sore memutuskan meminta semua anak-anak untuk kembali, setelah berleha-leha di warung pinggir pantai yang menyediakan jajanan dan minuman. Sebelum magrib akhirnya mereka tiba kembali di asrama.

Bulan tidak tampak malam ini, Dimas sedang asyik duduk di beranda asrama memandang halaman yang lumayan terang oleh jejeran lampu minyak yang sengaja ditempatkan di tengah halaman yang disanggah oleh sebatang bambu. Pikiran terus melayang berputar-putar menarik-narik kejadian demi kejadian yang dialaminya belakangan ini. Pertemuannya dengan orang-orang misterius dan keanehan yang ditunjukan oleh Nyai Janis membuat hatinya penasaran. Dari arah pintu Raji datang menghampiri sambil membawa dua gelas wedang jahe dan pisang rebus dari kebun pak Narso.

“Ini, aku bawakan makanan, tadi aku ke dapur merayu mbok Sinem mengeluarkan harta karunnya, dan yang aku dapat ya ini….pisang rebus”

Raji menyodorkan sepiring pisang rebus dan meletakannya di atas meja bersamaan dengan dua wedang jahenya. Raji mengambil gelasnya dan menyeruput air jahe yang sudah hangat-hangat kuku. Nikmat rasa wedang itu tergambar jelas dari ekspresi Raji yang matanya terpejam merasakan aliran air jahe hangat melalui kerongkongannya. Seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya mendorong udara dingin yang sedari tadi berusaha mendesak masuk ke pori-porinya.

Melihat ekspresi kenikmatan Raji yang seperti setengah terbang, Dimas juga segera menyambar gelasnya dan meminum wedangnya. Dia mengerti kenapa Raji sampai seperti itu, karena wedang buatan Mbok Sinem memang luar biasa enak. Aroma serai, kayu manis dan sedikit cengkeh membuat wedang itu betul-betul minuman ajaib pengusir dingin. Selesai dengan wedangnya Raji menatap Dimas, tatapannya seperti kosong sedang menerawang ke arah yang lain. Tiba-tiba…

“Aku pikir, Nyai Janis….menyimpan suatu rahasia yang sangat besar”

Dimas dengan mata masih menerawang ke langit berbicara kepada Raji yang sudah kembali asyik dengan pisang rebusnya yang kedua.

“mmm….mmm… fyaa… memang kelihatannya demikian” Raji menimpali dengan mulut penuh mengunyah pisang rebus.

“Dan aku yakin itu ada hubungannya dengan mimpi-mimpiku, karena dia begitu ingin tahu apa saja yang terjadi di dalam mimpi-mimpiku itu”

Suara Dimas mulai terdengar bersemangat, matanya tidak lagi kosong menerawang ke langit. Bersamaan dengan itu dari arah dalam pintu sesosok bayangan muncul dengan kain menutupi kepalanya. Raji yang melihat arah kedatangannya tercekat dan memuncratkan semua pisang rebus yang dikunyahnya dan melongo ketakutan. Dimas yang belum sempat menyadari kehadiran bayangan itu segera mendengar suara yang sudah dikenalnya.

“Aku sudah menduga, pasti kalian belum tidur dan berada di sini. Sedari tadi aku gelisah sekali tidak bisa tidur” Pafi muncul dari belakang dan membuka kain yang menutupi kepalanya.

“Raji kau kenapa ?” Dimas keheranan melihat mulut Raji yang berantakan penuh dengan kunyahan pisang rebusnya.

“Tidak, tidak apa-apa… aku hanya tersedak tadi” Jawab Raji menutupi kekagetannya tadi.

“Kau pikir aku hantu ya…. He..he.. makanya jangan selalu berpikir hantu” Kata Pafi meledek.

Raji cemberut marah menatap Pafi yang masih tersenyum sinis menatapnya dari ujung matanya.

“Aku sedang berpikir mengenai kejadian-kejadian aneh yang selama ini kita alami”

Dimas segera melerai kedua sahabatnya dengan apa yang sedang dipikirkannya. Belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, dengan tiba-tiba kabut menebal ke seluruh halaman sampai masuk ke dalam bangunan asrama. Suhu udara turun dengan sangat drastis hingga ketiganya segera saja menggigil menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Wedang yang mereka minum tak terasa lagi pengaruhnya. Dimas, Raji dan Pafi saling pandang. Mereka teringat fenomena yang sama pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tanpa banyak berkata-kata mereka tampak sudah saling mengerti untuk bergerak menuju kantor Nyai Janis.

“Ssssst… janga berisik….jalan pelan-pelan” kata Dimas setengah berbisik kepada Raji dan Pafi.

Mereka bertiga mengendap-endap dipinggir bangsal kemudian berhenti tepat di dekat pintu bangsal yang bisa memandang langsung ke arah pintu kantor Nyai Janis. Dimas bergerak merayap menuju bawah jendela diikuti Pafi dan Raji. Ketiganya menyender di dinding persis di bawah jendela yang terbuka. Kali ini mereka bertiga dapat mendengar suara dari dalam. Dimas menutupkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai isyarat untuk tidak bersuara kepada kedua temannya. Raji dan Pafi mengangguk mengerti. Mereka memandang ke arah kebun jagung Pak Narso sambil terus berkonsentrasi mendengarkan suara-suara dari dalam kantor nyai Janis.

Tiba-tiba Raji melotot dengan mulut menganga dan suara yang tertahan di leher sambil menunjuk ke arah kebun jagung pak Narso. Pafi dan Dimas mengikuti arah yang ditunjuk Raji. Keduanya berteriak histeris, dua sosok tinggi hitam dengan bulu di seluruh tubuhnya, rambut panjang acak-acakan dengan sorot mata merah menyala di hiasi 4 taring yang keluar dari sisi bibirnya. Kedua mahluk itu bergerak ke arah ketiga remaja itu. Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang diiringi kilat merah menerjang kedua mahluk itu.

“VADHARNAHA”

Kedua mahluk itu terjengkang beberapa meter ke belakang sehingga merusak kebun jagung pak Narso. Keduanya bangkit dan bergerak kembali ke arah Dimas, Raji dan Pafi yang sudah saling berangkulan ketakutan.

“PHOBOSERRAHA”

Sebuah suara kembali terdengar dari dalam kantor Nyai Janis diikut dengan 2 larik sinar kuning terang menghantam kedua mahluk itu dan kali ini keduanya tidak terjengkang tetapi langsung terbakar. Kedua mahluk itu menjerit-jerit kesakitan dan kemudian hilang.

Dimas, Raji dan Pafi langsung melarikan diri dari tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.

“Kau lihat tadi mahluk yang menyerang kita, hah…hah…hah.” Kata Pafi

“Mataku tak berhenti melihatnya, hiiyyyy…….” Kata Raji yang masih terlihat terkejut.

“Aku tidak terlalu memperhatikan dua larik sinar merah dan kuning yang menerjang mahluk itu.” Kata Dimas

“Kenapa kau tadi tidak menyerang saja mahluk itu.” Kata Raji.

“Memang kau pikir tadi kau bisa apa saat melihat mahluk itu.” Pafi menggerutu dengan mata melotot.

“Sudah, kita memang belum siap menghadapi mahluk seperti itu karena kita memang tidak dipersiapkan untuk menghadapi yang sejenis itu.” Kata Dimas menenangkan kedua sahabatnya.

“Yang sekarang harus kita pikirkan adalah bagaimana menghadapi besok, karena pasti Nyai Janis akan memanggil kita besok.” Kata-kata Dimas membuat Raji dan Pafi langsung terdiam. Dimas kemudian mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke bangsal tidur dan tanpa banyak kata-kata mereka semua kembali ke bangsal asrama.

Makan pagi sebelum berangkat sekolah, seperti biasa Pafi sudah berada di ruang makan duduk sendirian sebelum akhirnya Dimas dan Raji menyusul beberapa saat kemudian. Setelah mengambil sarapan pagi yang sudah disiapkan secara perasmanan oleh para pembantu asrama. Dimas dan Raji segera melangkah bergabung dengan Pafi yang sedang asyik menikmati sarapannya. Tak biasanya pagi ini mereka bertiga tidak saling bicara, dalam menikmati sarapan mereka sesekali saling melirik seperti menunggu ada yang memulai bicara lebih dulu.

“aaku…” “kemarin…..” “kenapa…” Pafi, Dimas, Raji secara bersamaan mencoba memulai pembicaraan, sesaat ketiganya diam.

“Kau dulu” kata Pafi
“Tidak kau duluan saja” Kata Raji
“Aku duluan, nanti tidak ada yang mulai” Kata Dimas
“Tidak, aku duluan” kata Pafi menyela
“Baiklah…kau duluan” kata Dimas dan Raji bersamaan.

“Aaku ….. “ Pafi agak ragu meneruskannya
“Aku bingung”

Pafi meneruskan tetapi pada kata terakhir suaranya seperti ban yang sedang kempis, mengecil dan mengilang. Dimas dan Raji mengkerutkan alisnya tak mendengar kata terakhir yang diucapkan Pafi.

“Kau kenapa…tadi” Raji meminta Pafi mengulanginya lagi. Pafi langsung cemberut dengan mulut terkatup.

“Aku bingung dengan kejadian semalam” kata Pafi agak ketus.
“Aku juga tidak mengerti, bagaimana kita sudah tidur di tempat tidur kita masing-masing” Kata Raji.

Pafi mendenguskan hidung dalam kebingungannya. Tetapi belum sempat mereka bertiga membahasnya tiba-tiba datang seorang lelaki tua menghampiri.

“Kalian ditunggu Nyai Janis setelah sarapan selesai”

kata lelaki tua tersebut dan kembali pergi meninggalkan Dimas, Raji dan Pafi dalam keadaan saling melongo dan memandang dengan penuh tanda tanya.

“Sepertinya kita akan kena hukuman kali ini”

Kata Pafi pelan sambil menengok ke sekeliling ruangan makan yang telah memandangi mereka bertiga.

Selesai sarapan pagi Dimas, Raji dan Pafi segera beranjak menghadap ke ruangan Nyai Janis dengan membawa serta tas sekolah mereka. Sesampainya di dalam ruangan kantor, Nyai Janis telah menunggu duduk manis di belakang mejanya.

“Duduklah kalian”

Nyai Janis mempersilahkan ketiganya yang sebelumnya saling memandang akhirnya duduk di depan meja.

“Well, langsung kepada pokok masalah. Semalam bukanlah tindakan yang bertanggung jawab. Andaikan tamu-tamu nyai tidak bertindak cepat, kalian pasti sudah jadi santapan mahluk-mahluk itu”

Nyai Janis berdiri dari kursinya dan menyilangkan tangannya di depan dada. Dimas, Raji dan Pafi hanya tertunduk diam. “Siapakah tamu-tamu nyai Janis” kata Dimas dalam hati tapi urung ditanyakan karena khawatir nyai Janis bertambah marah.

“Sebagai hukumannya, sejak hari ini kalian tidak lagi saya ijinkan keluar asrama pada hari libur kecuali pada hari sekolah, harus sudah kembali pulang dari sekolah sebelum jam 4 sore dan seluruh asrama tidak boleh keluar dari bangunan asrama jika jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, mengerti”

Nyai Janis menatap ketiganya. Dimas, Raji dan Pafi terperanjat kaget mendengar keputusan itu, tetapi urung menyampaikan protesnya dan menarik nafas lesu dan tertunduk.

“Nyai harap kalian berjanji tidak menceritakan kejadian semalam kepada siapapun. Baiklah, saya kira kalian cukup mengerti hal ini untuk keselamatan kalian juga. Nah sekarang berangkatlah ke sekolah”
Dimas, Raji dan Pafi dengan langkah lesu meninggalkan kantor Nyai Janis. Beban tas mereka hari ini rasanya seperti sekarung beras yang sangat berat.
Saat mereka keluar dari halaman asrama, terlihat pak Narso dan para pembantu asrama sedang menaburkan sesuatu ke sekeliling pagar asrama. Bubuk berwarna putih dan hitam.

“Apa yang sedang mereka taburkan ?” Raji bertanya kepada kedua sahabatnya.

“Sepertinya garam dan merica” Kata Pafi pelan. Suaranya masih terdengar melas setelah mendengar hukuman yang mereka terima.

“Dari mana kau bisa menduga itu garam dan merica”

Raji kembali bertanya, sedangkan Dimas tetap diam mengamati. Hatinya sedang malas untuk berbicara memikirkan hukuman yang bakal memangkas semua kesenangannya bertualang.

“Mbok Sinem pernah bilang kepadaku, kalau kedua bumbu dapur ini berguna untuk menjadi pagar gaib dari serangan mahluk halus, seperti yang kita lihat tadi malam. Dan sepertinya hal ini akibat yang terjadi semalam” Sambung Pafi.

Ketiganya akhirnya keluar dari pagar asrama dan berangkat menuju sekolah dan sepakat untuk menyimpan semua kejadian semalam menjadi rahasia mereka bertiga. Walaupun rasa penasaran tentang tamu-tamu Nyai Janis tetap menggunung di dada mereka dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai siapa sebenarnya Nyai Janis.

Monday, March 20, 2006

ORANG MISTERIUS

Suasana ruang belajar cukup sibuk dengan banyak anak-anak asrama yang sedang serius mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dimas termasuk salah satu di antaranya. Dari arah pintu ruang belajar yang selalu tertutup datang orang yang tidak asing bagi Dimas yang langsung menghampiri.

“Mas, kamu dipanggil Nyai Janis, disuruh menghadap ke kantornya”

Raji yang baru saja masuk ke ruang belajar menghampiri Dimas yang sedang duduk mengerjakan tugas-tugasnya.

Dimas mengkerutkan dahinya, tidak pernah ada anak-anak asrama yang dipanggil secara khusus ke kantor nyai Janis, kecuali akan dihukum. Pikirannya terus berusaha mengingat kesalahan apa yang dibuatnya.

“Ada apa dia memanggilku ? aku salah apa ya….” Dimas bertanya kepada Raji.

“Entahlah, tadi dia hanya berpesan seperti itu” Raji hanya mengangkat bahunya.

“Apakah dia mengetahui kalau kita keluar malam” Dimas setengah berbisik kepada Raji.

“Rasanya tidak, kalau dia tahu tentu aku sudah dipanggil juga saat ini bersamamu” tegas Raji. Dimas menganggukan kepala setuju.

Dimas masih terus bingung saat dia berjalan meninggalkan Raji di ruang belajar dan terus pergi menyusuri lorong bangsal menuju kantor asrama yang letaknya di ujung dekat musholla. Dimas melihat sebuah pintu kayu jati yang tertutup, sejenak dia agak ragu untuk mengetuk pintu itu. Tapi keberaniannya segera dikumpulkan dan mengetuk pintu tiga kali. Dari dalam ruangan terdengar suara lembut menyuruhnya masuk.

“Masuklah…”.

Dimas mendorong pintu itu dan dilihatnya Nyai Janis sedang duduk dengan kacamatanya yang bundar kecil agak menggantung di hidungnya yang mancung. Di tangannya sebuah buku yang terbuka setengah, nampaknya sedang dibacanya ketika Dimas mengetuk pintu.

“Goede Morgen, Nyai” Dimas memberi salam agak ragu.

“Kemari nak, duduklah” Nyai Janis melambaikan tangannya kepada Dimas.

Kemudian menunjuk bangku yang berada di depan mejanya. Dimas duduk dengan wajah yang agak tertunduk.

“Apakah saya melakukan kesalahan Nyai ?”

Dimas mulai membuka kebingungannya dengan pertanyaan yang paling mungkin untuk mendapatkan kejelasan mengenai alasan pemanggilannya. Mendengar pertanyaan Dimas yang memang menurutnya paling logis, Nyai Janis tersenyum.

“Tidak nak, jangan khawatir, kau tidak melakukan kesalahan apapun”

Nyai Janis berdiri dari duduknya berjalan menghampiri meja lain di sebelah kanan mejanya, merapat ke jendela yang langsung mengarah ke kebun jagung pak Narso. Tangan meraih kendi air dari tanah liat berwarna coklat gelap yang sudah kelihatan agak lembab. Air putih di dalamnya kemudian dituangkan ke dalam cangkir kaleng yang terletak di samping kendi. Setelah tiga perempat cangkir kaleng itu terisi, dia membawanya kembali ke mejanya semua dan menyorongkan cangkirnya ke hadapan Dimas yang kepalanya mengikuti setiap gerakan Nyai Janis.

“Minumlah dulu agar rasa khawatirmu hilang”.

Dimas menunduk dan meraih cangkir yang disodorkan Nyai Janis kepadanya lalu meminumnya. Segar rasanya air itu masuk membasahi kerongkongannya. Dimas heran dengan kesegaran air yang diminumnya, padahal setiap hari dia juga meminum air dari wadah yang serupa, kendi, tapi air yang sekarang diminumnya sungguh berbeda, membuat matanya seketika seperti berbinar cerah, badannya terasa ringan dan …….segar!

“Aku ingin mengetahui sesuatu darimu”

Nyai Janis mulai menampakan raut muka agak serius, tapi kemudian disamarkan dengan senyumannya. Dimas tertegun dan mencoba mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh Nyai Janis.

“Apakah kau masih sering bermimpi mengenai kedua orang tuamu ?”

Nyai Janis menatap tajam. Dimas sontak menaikan kepalanya yang agak menunduk, dan ketika matanya beradu pandang dengan Nyai Janis, segera ditundukan kembali kepalanya lebih dalam dari sebelumnya.

“Hah… dari mana dia tahu mengenai hal itu, apakah Raji yang menceritakannya. Aduuuuh… kenapa dia tanya mengenai hal itu” katanya dalam hati.

Hatinya tergetar marah bingung kepada siapa dia akan menuduh diantara kedua sahabatnya yang membocorkan cerita mengenai mimpi-mimpinya, dia yakin kalau salah satu atau kedua sahabatnya telah menceritakan semuanya kepada Nyai Janis.

“Hmm…. Kamu tak usah marah kepada Raji atau Pafi, dia tidak menceritakan apapun mengenai mimpi-mimpimu.” Nyai Janis tetap tersenyum.

Nyai Janis seperti tahu apa yang bergejolak di kepala Dimas dan berusaha menenangkannya. Kontan Dimas agak terkejut sekaligus heran, rasa marah yang tadi menggumpal di dadanya berubah menjadi keheranan, bagaimana Nyai Janis bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dalam keraguan antara ingin berterus terang, tak ingin orang lain kasihan kepadanya dan rasa malas harus menceritakan kembali apa yang selama ini selalu muncul dalam mimpi-mimpinya, Dimas mulai bicara agak terbata-bata.

“Eh… ya, itu…. Mimpi…. Emmm….semakin sering sejak sebulan terakhir ini” Dimas menjawab agak gagap.

“Baiklah, kelihatannya kamu belum siap untuk bercerita, tapi yakinlah saya hanya berniat membantu mengurangi beban pikiranmu”

Nyai Janis berkata dengan lembut walaupun ada getar kecewa terasa.

“Sekarang kamu boleh kembali melanjutkan aktivitas kamu”

Nyai Janis memberikan isyarat kepada Dimas untuk meninggalkan ruangan, segera saja Dimas bangkit.

“Terima kasih Nyai”

Dimas segera bergegas meninggalkan kantor Nyai Janis dan kembali ke ruang belajar melanjutkan PR sekolahnya. Di ruang belajar Dimas bertemu Raji dan Pafi yang sudah bersama Raji juga sedang mengerjakan PR nya. Raji yang melihat Dimas masuk ke ruangan mengerutkan dahi dan memberikan isyarat anggukan pertanyaan. Setelah duduk berhadapan Dimas memberitahukan apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis dengan berbisik-bisik.

“Kalian tidak memberitahu apapun mengenai mimpi-mimpiku kepada Nyai Janis kan ?”.

Raji mendengar pertanyaan itu berjengit kaget seraya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Bagaimana dia bisa tahu ? aku tidak pernah memberitahukan mengenai mimpi-mimpimu kepada siapapun. Aku berani bersumpah” Raji menegaskan kembali jawabannya.

“Aku juga, berani bersumpah” Pafi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.

“Aku juga tidak tahu, tapi seperti dia bisa membaca pikiran orang lain, seperti yang sering terjadi kepadaku. Kau masih ingat ketika aku tiba-tiba bisa mendengar semua isi pikiran orang yang sedang mereka gumamkan di hatinya”

Raji mengangguk, “Mungkinkah dia memiliki kemampuan yang sama” pertanyaan yang juga terlintas di benak Dimas.

“Mungkin” Dimas mendesis hampir tak terdengar.

“ah… itu mungkin alasan mengapa dia selalu menatapku setiap aku mencelanya dalam hati, aduh….. gawat” Pafi meremas wajahnya yang ditundukan dengan telapak tangan kanannya.

Tak lama mereka berdua berusaha memahami apa yang sedang mereka hadapi, sesaat kemudian sudah terlarut dengan setumpuk PR yang belum sempat dikerjakannya kemarin-kemarin.

------ ***** ------

Hari minggu yang cerah, menyenangkan sekali hari ini setelah selesai semua PR kemarin kini saatnya untuk bersantai. Dimas dan Raji sudah bersiap dengan segala rencananya hari ini. Dengan semangat mereka berjalan keluar bangsal menuju kebun belakang pak Narso. Sesampai di huma di tengah kebun jagung, sudah tampak Pafi menunggu di bawah huma.

“Pafi, kamu sudah lama menunggu ?” Raji menyapa gadis tersebut yang terlihat cemberut menatap mereka.

“Pernah kah kau datang tepat waktu ?” Sergah Pafi kepada Dimas dan Raji. Raji yang sudah sering mendengar sergahan seperti itu hanya cengengesan.

“Maafkan kami, kami agak terlambat karena aku tadi harus ke ruangan Nyai Janis”

Dimas berusaha menjelaskan. Wajah berkerut dan agak heran membentuk di wajah Pafi.

“Apakah kau melakukan suatu kesalahan, sampai harus dipanggil segala”

Tanya Pafi sambil mengambil posisi duduk. Tampaknya Pafi sudah mengira akan ada cerita panjang yang akan didengarnya dari Dimas. Wajah galak Pafi segera saja berubah menjadi rasa ingin tahu dan berusaha mengambil posisi nyaman untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan Dimas.

“Ehm…. Ya… dia bilang aku tidak boleh lagi belajar terlalu malam, Dia menghawatirkan kesehatanku” Kata Dimas berbohong.

Mendapat jawaban yang tidak menarik itu, air muka Pafi segera berubah kembali galak, harapan mendengarkan berita yang fantastik lebur begitu saja dengan jawaban singkat Dimas. Mereka bertiga memang bersahabat, tapi untuk urusan yang satu ini, terkadang Dimas hanya bisa bercerita kepada Raji saja. Raji diam saja mendengar kebohongan yang diutarakan Dimas. Dia mengerti mengapa Dimas tidak mau menceritakan masalah itu kepada sahabatnya yang satu itu. Ini masalah anak laki-laki, katanya dalam hati

“Ayo kita berangkat”

Pafi segera beranjak dari tempatnya sambil menggendong bekalnya. Ketiga sahabat itu akhirnya tidak lagi melanjutkan pembicaraan mengenai pemanggilan Dimas oleh Nyai Janis. Mereka mulai sibuk dengan pembicaraan mengenai hal-hal yang akan mereka lakukan di hari libur ini. Minggu ini rencana mereka akan bermain ke sungai code.

Segar sekali wajah-wajah Dimas, Raji, dan Pafi setelah beberapa waktu bermain air di sungai. Tangan Raji menenteng beberapa ekor ikan hasil pancingan mereka di sungai. Dimas sedang menyiapkan api unggun untuk membakar ikan hasil pancingan mereka. Dimas berusaha membuat api dari tumpukan kayu kering seperti yang pernah dipelajarinya pada kegiatan kepanduan di bangku sekolah dasar.

“Ini ikannya”

Raji menyorongkan seikat ikan yang sudah dibersihkannya di sungai. Dimas meraihnya dan kemudian menggantungnya di tiang kayu setinggi empatpuluh senti yang sudah ditancapkan di sisi api unggun. Kemudian mengambil satu persatu ikan-ikan itu dipasangkan pada sebuah tusuk satai dari bambu yang diletakan menggantung melintang di atas perapian. Seketika bunyi meretas dari arang yang tersiram tetesan air diikuti asap putih yang mengepul dari tengah-tengah tumpukan perapian. Kulit ikan yang melepuh dan mengkerut menebarkan aroma daging bakar membuat ketiga remaja itu begitu tak sabar ingin menyantapnya. Begitu matang segera saja ketiganya segera menyantap dengan lahap sambil meniup-niup mengurangi panas. Sungguh lezat sampai-sampai mereka tak saling bicara karena keasyikan menikmatinya. Dalam keasyikan yang luar biasa itu tak sadar bila ada dua orang dari kejauhan berjalan tepat ke arah mereka.

“Permisi nak, boleh kami sedikit bertanya ?” Seorang yang sudah tua mengajukan pertanyaan.

Ketiga remaja yang sedari tadi tidak sadar akan kehadiran kedua orang itu, serentak kaget dan menoleh. Orang tua yang bertanya itu hanya tersenyum.

“Kalau kami mau ke Desa Code, kami harus melalui jalan yang mana ya ?” Orang tua tadi melanjutkan pertanyaannya.

Dalam kaget itu Dimas menjawab seadanya “Oh…ke arah selatan pak, susuri saja sungai ini ke selatan, Desa pertama itu namanya Desa Code”

“Oh…terima kasih, kalau begitu kami permisi” Kedua orang itu kemudian pergi meninggalkan tempat ke arah selatan.

Ketiga remaja itu saling pandang dan tiba-tiba saja bulu kuduk mereka merinding berdiri. Seperti sudah saling tahu apa yang harus dilakukan, semuanya segera membereskan semua barang bawaan mereka dan menghempaskan sisa ikan bakar yang belum habis mereka makan dan berlari sekencangnya.

“Dimas…tunggu!”

suara Pafi yang sedikit tertinggal di belakang oleh gerak langkah Dimas dan Raji yang bergerak makin cepat meninggalkan api unggun.

Setelah sampai pada sebuah jalan beraspal, ketiganya berhenti mencoba mengatur nafas mereka yang terburu-buru tak beraturan.

“Ah..hah..hah…kenapa kalian tiba-tiba larih ….hah…hah….” suara Pafi yang terengah-engah.

“Hufffhhhh…hah…hah… kamu kenapa juga ikut berlari hah…hah….” Raji balik bertanya.

“Ya….ahhh akhu….mengikuti kalian berlarih…..hah…hah….memangnya aku harus ngapain!”

Pafi menyergah dengan wajah galak yang merah padam dengan penuh keringat.

“Sudah…sudah…hah…hah…kalian ada yang lihat dari manah…hah…hah… datangnya kedua orang tadih…hah…hah..”

Dimas mencoba melerai di tengah kelelahannya juga. Tapi semua menggeleng memastikan tidak ada yang tahu dari mana kedua orang tadi datang.

“Apakah hah…kalian pernah melihat orang-orang itu sebelumnyah…hah….”

Dimas mencoba memastikan kembali. Semua terdiam tak ada yang sanggup mengingatnya dengan kepala yang berdenyut karena degup kerja jantung yang terpompa adrenalin ketakutan.

“Kalau tidak salah, orang itu pernah kita lihat sewaktu kita pulang sekolah minggu lalu, kita berpapasan dengan mereka di jalan menuju asrama”

Yang lain mencoba menarik ingatan seminggu lalu dari kepala mereka.

“Ya, betul! Kita juga sempat kaget karena tiba-tiba saja mereka muncul” seru Pafi sambil memandang yang lain.

“Tapi siapa mereka ?” Raji mulai garuk-garuk kepala kebingungan.

“Apakah mereka orang yang sama dengan yang kau lihat di pintu gerbang sekolah dulu” Tanya Pafi kepada Dimas.

“Tidak, mereka orang yang berbeda. Yang aku lihat di gerbang sekolah keduanya masih tampak muda dengan pakaian jawa, sedangkan yang kita lihat tadi itu berpakaian dengan jubah” Tegas Dimas.

“Lebih baik kita kembali ke asrama” Dimas mengajak kedua sahabatnya untuk meninggalkan tempat yang diiringi anggukan Raji dan Pafi yang juga mengikuti.

Dengan tenaga yang tersisa ketiganya melangkah gontai di jalanan beraspal yang sudah mulai teduh oleh bayangan pohon-pohon. Matahari sudah begitu jingga dan akhirnya lenyap di balik awan kelabu yang menjamur di wilayah barat. Akhirnya mereka pun tiba di depan halaman asrama yang sudah terang oleh lampu-lampu teplok.

Suasana sore telah berubah menjadi malam, gelap yang menyelimuti asrama terasa begitu kental dengan bunyi serangga malam yang berterbangan tertarik cahaya-cahaya lampu dari dalam asrama. Ruang makan telah penuh dengan anak-anak asrama yang sedang bergiliran mengambil makanan perasmanan yang dijaga oleh pembantu-pembantu asrama. Dimas, Pafi dan Raji sedang dalam antrian dengan piring dan gelas mereka. Belum sempat sendokan nasi dari Mbok Sinem masuk ke piring Raji, tiba-tiba saja dari arah belakang Aryo dan kedua temannya datang menyerobot dan mendorong Raji ke samping, yang menyebabkan antrian di sebelah Raji ikut terdorong. Pafi tampak geram melihat yang dilakukan oleh Aryo dengan kedua temannya. Pafi dengan gerakan refleks menebaskan tangannya ke udara kosong, tetapi pada saat yang bersamaan Anip yang berada dibelakang Aryo terdorong ke depan yang tanpa sengaja mendorong tangan Aryo yang sedang memegang piring yang penuh dengan nasi sehingga jatuh ke lantai, sementara tangan Mbok Sinten yang telah siap menuangkan satu sendok kuah sayur panas tak ayal lagi tumpah di dada Aryo. Seketika aryo menjerit kepanasan dengan sayur yang penuh berantakan di atas dadanya dan sepiring nasi yang tumpah berantakan di atas kakinya.

“Aduh….aduh…..” Aryo berteriak kesakitan. Aryo dan ketiga temannya menjadi pusat perhatian di seluruh ruangan. Sementara Dimas, Raji dan Pafi tersenyum tipis.

“Kurang ajar kau Anip, aku hajar kau, aduh…panas…panas” Aryo memaki maki Anip sambil memegang dadanya yang basah dengan kuah sayur.

“Maafkan aku Yo, aku tidak sengaja. Tiba-tiba saja seperti ada yang mendorongku dari belakang” Anip memegang tangan aryo yang sudah menarik kerah bajunya.

“Kau melakukannya lagi Pafi” Dimas berbisik kepada Pafi.

“Rasain dia, biar tahu rasa” Raji tampak senang melihatnya.

“Iya, aku tidak sengaja melakukannya lagi” kata Pafi juga berbisik.

Dari kejauhan Nyai Janis bergegas menghampiri Aryo dan kedua temannya. Wajahnya tampak marah melihat lantai yang berantakan. Aryo masih saja mengeluh mengelus-elus dadanya yang masih terasa panas.

“Ada apa ini” mata Nyai Janis menatap Aryo yang sudah tertunduk dan melepaskan cengkramannya pada kerah Anip, lalu bergantian menatap Anip dan Amik yang sudah sejak tadi menunduk ketakutan. Namun tak lama kemudian Nyai Janis menatap Dimas, kemudian berganti ke pada Raji dan terakhir kepada Pafi. Cukup lama Nyai Janis menatap Pafi, sehingga membuat Pafi kikuk dan tidak nyaman. Seolah Nyai Janis tahu penyebab kejadian itu.

“Mbok Sirah, tolong dibersihkan” ayo lanjutkan makan kalian. Tanpa banyak menunggu lagi semua kembali pada makanan masing-masing. Dimas, Pafi dan Raji juga secara bergilir mengambil makanan ke dalam piring masing-masing.

“Tadi Nyai Janis menatapku lama sekali, seakan dia tahu” Pafi berbisik kepada Dimas sambil berjalan membawa piringnya ke meja.

“Sepertinya dia tadi mencoba memasuki pikiranku, tapi aku berhasil menahannya” kata Dimas dengan pelan.

“Apa yang kita rasakan kalau pikiran kita sedang dimasuki oleh pikiran orang lain ?” Raji bertanya.

“Kau akan merasakan rasa dingin di dalam kepalamu menjalar keseluruh bagian kepala, lalu kau akan merasa beku dan ketika sudah menjalar ke leher dan punggungmu, maka kau sudah dalam keadaan beku tidak lagi tahu apa yang sedang terjadi” Dimas menjelaskan.

“Darimana kau tahu semua itu ?” Tanya Raji penasaran

“Kami pernah mencobanya berdua” Pafi menjawab pertanyaan Raji.

“Kalian pernah mencobanya tapi aku tidak diajak, keterlaluan” Raji menggerutu marah.

“Kau sudah aku ajak, tapi kau malah memilih tidur” Dimas menjelaskan.

“Makanya kalau tidur jangan seperti bangkai, sudah merem tidak pernah bisa bangun lagi” Pafi mencela Raji.

“Lalu apakah kau tadi merasakan Nyai Janis membaca pikiranmu” Tanya Raji mencoba berusaha menerima.

“Iya, tadi aku merasakan rasa dingin persis dengan yang aku rasakan sewaktu latihan bersama Dimas, tapi hanya sebentar, aku bisa cepat menguasai diri. Aku tidak tahu kenapa” Pafi menjelaskan

“Itu karena aku masuk juga ke dalam pikiranmu menyelubungi pikiranmu sehingga tidak bisa ditembus Nyai Janis. Itu mengapa Nyai Janis menatapmu agak lama, karena dia berusaha terus masuk ke dalam pikiranmu tapi tidak juga bisa masuk” Dimas menjelaskan apa yang telah dilakukannya.

“Kau bisa melakukan itu ? sejak kapan kau bisa melakukannya” Tanya Raji bersemangat sambil memakan makan malamnya.

“Sejak setelah aku dipanggil oleh Nyai Janis tempo hari. Dia berusaha memasuki pikiranku dan aku menolaknya dengan menutup pikiranku. Untungnya aku banyak berlatih dengan sering mencoba memasuki banyak pikiran anak-anak asrama, aku makin banyak tahu apa yang bisa aku lakukan dengan pikiran mereka dan pikiranku sendiri” Dimas membisikan kedua temannya ketika ada seorang anak melintasi meja mereka.

“Oh..aku mengerti sekarang, itu sebabnya aku sering melihat tiba-tiba ada anak berjalan seperti melamun atau tiba-tiba terdiam saat sedang melakukan PR di ruang belajar. Jadi mereka itu sedang kau baca pikirannya” Pafi menaikan alisnya.

“Iya, tapi aku tidak membaca semua pikiran dan mengubah apapun dari mereka, aku hanya bermain-main untuk mencoba-coba apa saja yang bisa aku lakukan dengan pikiran orang lain. Aku itu tidak baik, tapi aku tidak akan tahu sampai dimana kemampuanku ini tanpa mencobanya, makanya aku tidak bilang-bilang ke kalian.” Dimas menjelaskan untuk mencegah kedua sahabatnya salah paham atas apa yang telah dilakukannya.

“Apakah kau bisa membuat orang lain melakukan apa yang kau inginkan ?” Raji tambah bersemangat sehingga suaranya agak keras. Pafi langsung memberi isyarat dan melotot kepada Raji.

“Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita di tempat lain yang lebih aman, bagaimana ?” Pafi mengusulkan idenya.

“Hmmmmm aku setuju” Raji mengangguk setuju dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Baiklah, kita harus saling menceritakan apa yang telah kita lakukan dengan kemampuan yang kita miliki. Sekarang kita segera selesaikan makan malam ini” Dimas menyetujui dan segera menyantap makanannya tanpa banyak bicara lagi.

Sementara dari kejauhan tampak Nyai Janis terus memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. Mata Nyai Janis tampak menyipit memandang sesuatu dengan penuh rasa ingin tahu. Sayang dia tidak bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Dimas dan kedua sahabatnya. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka seperti tidak mengeluarkan suara sama sekali.