<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635</id><updated>2011-07-28T11:23:34.232-07:00</updated><title type='text'>NARAPATI</title><subtitle type='html'>MANUSIA PERTAMA YANG BERJALAN DI ATAS BUMI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-4883278485827756466</id><published>2008-02-21T01:29:00.000-08:00</published><updated>2010-06-10T08:40:32.372-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;NARAPATI BARU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hai pembaca Narapati. Narapati mengalami perubahan alur cerita pada chapter awal. Hal ini karena saya ingin mendapatkan gagasan baru mengenai memperkenalkan pembaca pada kisah awal dunia Narapati. Silahkan lihat di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.narapati.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;www.aryanarapati.blogspot.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-4883278485827756466?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/4883278485827756466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=4883278485827756466&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4883278485827756466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4883278485827756466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2008/02/narapati-baru-hai-pembaca-narapati.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-4448202006116228199</id><published>2008-01-28T21:39:00.001-08:00</published><updated>2008-03-12T00:27:15.927-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;PERTEMPURAN LEMBAH BADAI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah tiba dari perjalanan di Angkor Wat, Dimas, Raji dan Pafi menghadiri rapat besar di balairung keraton Narapati. Suasana di balairung keraton kerajaan Narapati telah penuh dengan para pejabat dan ahli perang. Pertemuan khusus dilakukan setelah Arghapati memberikan hasil laporan pertempurannya di Angkor Wat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang Angkor Wat sudah dikuasai, tetapi seluruh penduduk telah selamat dipindahkan ke Ayuthaya. Telik sandi melaporkan Pagan, Palembang dan Kutai telah jatuh ke tangan Amukhsara. Mereka sekarang sedang bergerak menuju Jawa.” Panglima Arghapati melaporkan perjalanannya kepada seluruh yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan misi menyelidiki kekuatan naga Jalatunda dan Pavaratha milik Amukhsara.” Patih Narmada bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengenai kekuatan naga Jalatunda, hamba serahkan penjelasannya kepada Dimas, Pafi dan Raji.” Panglima Arghapati mempersilahkan tiga serangkai itu untuk berbicara. Walaupun suasana itu sudah biasa bagi Dimas, tetapi memberikan laporan tetap saja menjadi hal yang membuatnya gugup, terlebih harus dilakukan di hadapan para pejabat dan Naradyaksa. Akan lebih mudah bagi Dimas untuk langsung berbicara kepada Prabu Narayala. Dimas memandang Prabu Narayala seolah meminta ijin. Prabu Narayala memberikan anggukan setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum menuju pertempuran di utara Khitai, kami bertiga sempat singgah di tempat tinggal para peri di Hoa-binh. Semuanya berkat bantuan Jagawana. Dia pengasuh hutan di sana yang secara kebetulan memiliki batu bintang satuasra. Berkat batu bintang tersebut kami bisa melunturkan semua sihir-sihir pemagar wilayah para peri dan berhasil masuk ke sana. Disana kami bertemu dengan peri Agung dan mendapatkan petunjuk mengenai Naga Jalatunda. Peri Agung mengatakan air ketuban akan membersihkan semua sihir yang melekat ditubuhnya.” Dimas menceritakan semua kejadian di tempat tinggal para peri Hoa-Binh. Semua yang hadir mengernyit heran dan kagum dengan cerita Dimas. Mereka merasa hampir tidak percaya anak sekecil Dimas bisa memasuki wilayah para peri yang terkenal sangat penyendiri dan tidak mau berhubungan dengan dunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tidak menyebutkan dua petunjuk lain yang diberikan oleh Peri Agung. Raji dan Pafi tahu betul bahwa petunjuk itu memang terlalu pribadi dan tidak bisa disampaikan di dalam rapat itu. Semua yang hadir termenung mendengar kalimat yang disampaikan Dimas. Seakan semuanya sedang mencoba menerka apa yang dimaksud petunjuk itu membuat suasana balairung menjadi hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gusti Prabu, kiranya bisa memberikan petunjuk mengenai apa yang dimaksud dengan air ketuban itu.” Kata Patih Narmada kepada Prabu Narayala memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air ketuban adalah air yang menyertai kelahiran. Hanya ada satu tempat dimana air ketuban jalatunda masih bisa ditemukan. Sumur Jalatunda. Letaknya di gunung Dieng.” Kata Prabu Narayala. Semua seperti terkaget mendengar kata Dieng, seolah Dieng merupakan tempat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mengambil air sumur Jalatunda sangat berbahaya, karena sumur itu dijaga oleh para naga. Tugas ini membutuhkan pengendali air, penunggang cepat Garuda, dan pembuka gerbang.” Prabu Narayala memandang lekat pada Dimas, Raji dan Pafi seolah sedang melihat orang yang dimaksud. Tatapan Prabu Narayala terlihat begitu yakin bahwa tiga serangkai itu memang siap untuk tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Raji dan Pafi yang akan menjalankan tugas ini di dampingi Vairivaravira Vimardana.” Prabu Narayala berkata setelah bangkit dari kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku, apakah bijak menugaskan anak-anak ke tempat yang sangat berbahaya seperti itu, sekali lagi maafkan kelancangan hamba tuanku.” Kata seorang Naradyaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjalanan Angkor Wat sudah membuktikan kesiapan mereka, tak ada lagi keraguan di hatiku kalau Dimas, Raji dan Pafi mampu seperti halnya panglima Arghapati dalam menghadapi bahaya. Mereka akan didampingi oleh para Vairivaravira Vimardana dalam perjalanan ini.” Prabu Narayala menjawab keraguan Naradyaksa. Semua pejabat bangkit memberikan sembah setuju kepada keputusan raja mereka. Tak ada seorang pun yang tahu dan mengerti apa yang menjadi perhatian utama Prabu Narayala. Prabu Narayala melihat perang ini bukan diakhiri dengan menghentikan semua pasukan Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang bagaimana dengan persiapan kita untuk menghadapi pergerakan sekutu-sekutu Amukhsara dari utara dan barat.” Tanya Panglima Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sambut mereka di lembah badai, gunakan Bawean sebagai pusat perbekalan. Panglima Arghapati, bawa seperempat kekuatan Narapati ke lembah badai. Hadang mereka dengan pavaratha rudra. Kirim pula seperempat kekuatan ke Merapi Amangkubhumi untuk bergabung dengan pasukan dari Kerajaan Selatan. Kita akan menyambut Amukhsara di Merapi. Kita harus tetap menyiagakan setengah kekuatan kita di Medanggana Raya. Para Janggan Wimana dari Tambora bisa jadi kekuatan yang mengejutkan kalau kita lengah.” Prabu Narayala memberikan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Arghapati memberikan sembah hormat, kemudian pamit dari balairung. Semua yang hadir pun bergerak meninggalkan ruangan saat Prabu Narayala meninggalkan kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala sengaja mengirim seperempat dari kekuatan Narapati karena sudah menduga pergerakan Raja Sanaisbin di Barat. Mengirim Dimas, Raji dan Pafi ke Dieng bersama para Vairivaravira Vimardana akan menguntungkan, karena Sanaisbin tidak akan menduga bahwa musuh utamanya justru bergerak menyongsongnya. Perhitungan Prabu Narayala Pasukan Amukhsara akan menyapu semua penjagaan di Karang dan Sunda kemudian bergerak ke selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saat yang bersamaan pasukan Narapati sedang bersiap berangkat ke lembah badai, Dimas, Raji dan Pafi sedang menunggu bersama para Vairivaravira Vimardana di kediaman Prabu Narayala untuk perjalanan mereka ke Dieng. Tak lama mereka menunggu, Wirapati muncul dari ruang keluar dari ruang utama. Seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, para Vairivaravira Vimardana itu telah menggunakan berbagai macam pakaian rakyat biasa yang sangat lusuh termasuk Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, sebelum berangkat Prabu Narayala ingin berbicara sendirian denganmu.” Kata Wirapati singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas bangkit dari tempat duduknya mengikuti Wirapati menuju ruang utama dimana Prabu Narayala menunggu. Raja Narapati itu terlihat duduk dengan santai, tetapi tampak tidak setegap biasanya. Ada rasa lelah yang tergaris di keningnya yang dipertegas dengan warna kulitnya yang mulai agak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kemarilah anakku. Ada yang harus aku sampaikan kepadamu sebelum berangkat ke Dieng.” Prabu Narayala melambaikan tangannya ke arah Dimas memintanya untuk duduk di sebelahnya. Dimas menurut dan duduk di sebelah Prabu Narayala. Dimas diam tak bertanya apa yang hendak disampaikan oleh Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Singgahlah di Gunung Lawu, di puncaknya ada sebuah padepokan kecil. Sampaikanlah selendang kecil ini kepada pemimpin padepokan. Dia akan mengerti maksudnya.” Prabu Narayala menyerahkan sehelai selendang sutra pendek berwarna keemasan. Dimas menerimanya dengan tanpa banyak bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampaikan salamku dan permintaan maafku kepada pemilik selendang ini karena telah membuatnya terlalu lama menunggu.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Bapak Narayala.” Dimas menggangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah sekarang berangkatlah.” Prabu Narayala mengantar Dimas keluar ruangan utama dan kemudian bergabung dengan para Vairivaravira Vimardana. Setelah memberikan hormat semuanya pergi meninggalkan kediaman Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ribuan pavaratha rudra dan pavaratha pushpaka tampak sudah mengudara di atas Gunung Mahameru. Sebagian bergerak ke utara melintasi udara Medanggana Raya menuju Lembah badai yang sengaja dipilih sebagai tempat penghadangan karena lembah ini akan memberikan banyak kesulitan dalam bermanuver. Sementara sebagian yang lain bergerak ke barat menuju Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas panggung di halaman kraton Medanggana Raya yang luas Prabu Narayala berdiri di hadapan ribuan pasukan Narapati telah berbaris rapi. Langit pagi tampak tua kemerahan di utara dan barat, seolah matahari telah tenggelam di siang bolong. Prabu Narayala memandangi langit yang semakin jingga tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai para Narapati, hari ini kita akan kembali berhadap-hadapan dengan Amukhsara, menyelesaikan apa yang belum tuntas di lembah Krakatau. Berangkatlah dengan gagah berani, jadikan lembah badai lautan kemenangan kita. Semoga Sang Isvarah melindungi kita semua.” Prabu Narayala memberikan pidato singkatnya di hadapan seluruh pasukan yang akan berangkat ke lembah badai. Panglima Arghapati memerintahkan semua pasukan mulai bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan Wahana terbang tengah melayang beriring-iringan memenuhi angkasa Bromo hingga membuat seluruh kota Medanggana Raya segelap mendung hitam. Kesiapan Narapati dalam menghadapi perang ini begitu tinggi hingga mampu menggerakan ribuan pavaratha dalam waktu singkat. Satu per satu wahana terbang itu mendarat mengambil pasukan yang telah dikelompokan dalam jumlah kecil. Kemudian mengangkasa kembali dengan kecepatan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbang dalam kecepatan rendah ini adalah terbang kehormatan dan pelepasan pasukan. Seluruh warga Medanggana Raya menghentikan semua kegiatannya memandang ke langit memberikan penghormatan kepada pasukan yang akan bertempur di lembah badai yang di dunia manusia berupa perairan yang disebut laut Jawa. Prabu Narayala berdiri di atas panggung tinggi melepaskan pasukannya. Dalam hatinya sangat sedih karena sebenarnya dia tahu bahwa pertempuran di lembah badai nanti adalah sebuah misi tanpa akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pasukan sekutu Amukhsara telah membakar habis Kutai. Naga-naga Jalatunda melontarkan bola-bola api dari mulutnya, membakar semua yang berdiri di atas tanah. Hutan-hutan sepanjang sungai Mahakam hingga muara Barito hangus terbakar meninggalkan bara api dan tonggak-tonggak pohon yang menghitam. Kebakaran hebat melanda seluruh hutan di pesisir timur hingga ke barat. Sebagian besar penduduk Kutai telah berlayar ke Toraja, sementara yang tetap tinggal tak satu pun yang selamat. Ribuan pavaratha Rudra mengudara meninggalkan jejak asap menghitam di daratan yang memenuhi angkasa bergabung dengan asap hitam yang membakar sepanjang Pagan hingga Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Arghapati yakin sekutu Amukhsara telah mencapai muara Barito. Perjalanan pasukan Narapati telah sampai di Madura. Penyebrangan menuju Bawean akan menjadi membahayakan bagi seluruh pasukan. Tetapi Panglima Arghapati tahu maksud Prabu Narayala memintanya untuk memusatkan semuanya di Bawean. Bawean berada tepat di tengah lembah badai yang memisahkan Jawa dengan Kalimantan. Jalan menuju ke sana melalui Madura akan menjadi tempat latihan bermanuver saat nanti berperang dengan sekutu Amukhsara. Bertempur di lembah badai sangat penting menguasai manuver. Pilar-pilar badai segera terbentuk membuat halangan dan berusaha menggulung semua pavaratha yang melintas. Badai-badai ciptaan dari sihir-sihir Kerajaan Selatan sengaja dibuat untuk menjaga lembah kematian tetap menjadi tempat yang suci. Ribuan pavaratha itu bergerak menghindari pilar-pilar badai yang makin lama makin banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama pavaratha-pavaratha Narapati mengarungi angkasa lembah badai. Iring-iringan panjang meliuk-liuk menghindari pilar-pilar badai seolah tak putus sambung menyambung bagaikan liukan ular naga. Angkasa di bawah awan lembah badai sangat mendung, seolah matahari tak sedikit pun menembus gumpalan-gumpalan awan hitam yang mengambang di atasnya. Daratan yang tampak hanyalah lekuk lembah yang turun naik sertan garis-garis panjang aliran sungai yang sama sekali tak tampak mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sebuah daratan hijau yang cukup luas tampak. Sinar matahari bersinar sangat yang mulai berangkat senja. Seluruh pavaratha mengarahkan kemudinya mendarat satu per satu di atas hamparan tanah lapang berumput yang di atasnya terdapat bongkah-bongkah batu yang rata seperti sebuah landasan. Bawean dalam waktu singkat dipenuhi oleh pavaratha. Pulau itu sepertinya memang sudah disiapkan menjadi pangkalan labuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkemahan dalam waktu singkat memenuhi semua lahan yang tersisa di antara pavaratha-pavaratha yang tertambat di atas landasannya. Tak ada satu api unggun pun menyala. Panglima Arghapati melarang semua prajurit menyalakan api. Dalam kemahnya yang berdiri persis di tengah kemah-kemah yang lain, Panglima Arghapati mengadakan pertemuan tertutup. Di ruangan kemah itu hanya ada lima orang termasuk Panglima Arghapati. Wirapati sang ajudan Prabu Narayala, dua Naradyaksa dan Rogokeling seorang Narasandhi yang memimpin pasukan khusus telik sandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita memerlukan pengetahuan mengenai sejauh mana pasukan sekutu Amukhsara sudah bergerak.” Panglima Arghapati membuka pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita istirahatkan pasukan malam ini, kirimkan telik sandi ke arah selatan Kalimantan. Perhitunganku musuh akan menggunakan aliran Barito sebagai penunjuk arah.” Wirapati memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sependapat dengan Wirapati. Aliran Barito cukup besar dan merupakan saluran utama yang bermuara di Aliran Sunda Utama hingga ke utara Bali. Aliran itu adalah yang paling aman dilalui terutama untuk pasukan yang belum pernah mengenal medan di lembah badai.” Kata Naradyaksa Perwira. Naradyaksa Madya di sebelahnya hanya manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Rogokeling siapkan telik sandi dengan Garuda terbaik untuk menyelidiki gerakan musuh.” Panglima Arghapati memberikan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik akan saya siapkan sekarang juga Panglima, saya mohon pamit.” Rogokeling pamit dari tempat pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita harus mengatur serangan, apakah kalian punya pendapat ?.” Panglima Arghapati melemparkan pertanyaan kepada semua yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutku, walaupun kita mungkin kalah dalam kekuatan tetapi lembah badai memberikan kita banyak keuntungan. Kita harus menggunakan kelebihan lembah ini untuk mengurangi kekuatan musuh sebanyak-banyaknya.” Wirapati mulai membeberkan satu per satu taktik perangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musuh kita unggul memang dalam kekuatan, tapi mereka tidak memiliki pengalaman di lembah ini. Kita akan membawa musuh berhadapan langsung dengan kekuatan-kekuatan yang ada di lembah ini. Kita bisa menghancurkan pavaratha-pavaratha musuh satu per satu dengan memancing mereka berbenturan dengan pilar-pilar badai. Karena itu kita membutuhkan juru mudi pavaratha yang memiliki kemampuan mengendalikan pavaratha dengan cepat.” Wirapati menghentikan penjelasannya. Panglima Arghapati menunggu tanggapan para Naradyaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan para Naga Jalatunda, kita sudah tahu Garuda sekarang tak mampu mengalahkannya.” Kata Naradyaksa Madya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naga Jalatunda memang merupakan hal yang harus kita waspadai, Karena itu kita harus menyiapkan penunggang Garuda-Garuda cepat dengan pengendali api.” Kata Wirapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa harus pengendali api ?” Panglima Arghapati agak heran, karena menurut logika untuk pertempuran udara akan lebih membutuhkan pengendali udara dari pada pengendali api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat, kita berada di lembah keramat. Kekuatan pengendalian udara telah di ambil seluruhnya oleh lembah ini. Pengendali udara tidak akan sanggup menggerakan angin yang sudah mempunyai kemauannya sendiri. Selain itu Naga-naga Jalatunda akan sangat mengganggu pavaratha-pavaratha kita yang sedang berusaha menggiring pavaratha musuh ke dalam pilar badai dengan semburan-semburan apinya. Pengendali Api harus menyerap semua api yang disemburkan oleh naga-naga itu. Garuda-garuda cepat harus melakukan gerakan-gerakan menghalau para Naga yang akan mengganggu pavaratha kita. Kita harus mengurangi kontak fisik antara Garuda dengan Naga Jalatunda, karena kita sudah tahu siapa yang akan menang kalau mereka sudah bertumbukan di udara.” Wirapati menjelaskan dengan cerdas. Semuanya mulai mengerti dengan strategi yang dijelaskan oleh Wirapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saran Wirapati sangat masuk akal, dengan pemilihan yang tepat kita akan bisa mengurangi korban yang lebih besar di pihak kita. Bahkan mungkin kita bisa mengalahkan mereka.” Kata Naradyaksa Madya dengan sangat yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan paman Naradyaksa Perwira ?” tanya Panglima Arghapati. Naradyaksa tua itu tepekur cukup lama, matanya agak terpejam sesaat sebelum akhirnya memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya melihat rencana yang diajukan Wirapati sangat sempurna, rencana ini tidak boleh diketahui secara menyeluruh oleh seluruh pasukan. Setiap pasukan harus mempunyai tugas khusus yang sangat jelas apabila kita menginginkan rencana ini berhasil. Aku sependapat dengan Naradyaksa Muda, kalau semuanya berjalan sesuai rencana, sangat mungkin bagi kita memenangkan pertempuran ini.” Kata Naraydyaksa Perwira dengan sangat hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita akan siapkan pasukan Garuda cepat dan para pengendali api. Tetapi sampai saat ini kita belum tahu bagaimana mengalahkan pavaratha siluman milik Amukhsara. Kita harus memikirkan cara kedua jika cara pertama gagal. Penyerangan akan dilakukan saat musuh berada pada jarak terdekat dari tempat ini. Pada saat itu musuh dalam kondisi tak siap karena sudah kelelahan menghadapi badai sepanjang perjalananan mereka. Kita akan bisa mencerai-beraikan mereka.” Kata Panglima Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, kita tidak bisa mengandalkan rencana ini saja. Karena nasib Medanggana Raya akan sangat bergantung pada keberhasilan kita menghabisi sebanyak mungkin musuh agar pasukan Amukhsara di barat tidak bisa menggabungkan pasukannya di Medanggana Raya. Untuk mengetahui kelemahan pavaratha musuh, kita harus mencoba menyerangnya dengan berbagai senjata.” Kata Wirapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari yang kita tahu mengenai sumber kekuatan pavaratha Amukhsara adalah darah Garuda yang membuat kulit pavaratha itu sangat sulit untuk dirusak oleh hanya sebuah serangan. Semua kerusakan akan pulih dengan cepat. Pavaratha Amukhsara seperti mahluk hidup, kita harus menyelidiki kelemahannya.” Wirapati menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana menurut pendapat paman Naradyaksa ?” Panglima Arghapati mengalihkan perhatiannya kepada dua Naradyaksa yang dengan seksama mendengarkan keterangan Wirapati. Naradyaksa Perwira terdiam, sedangkan Naradyaksa Madya seakan hanya menunggu Naradyaksa Perwira memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutku kita sebaiknya menyiapkan satu kelompok pasukan khusus untuk menjatuhkan satu Pavaratha musuh. Kelompok khusus ini hanya bertugas untuk membongkar seluruh isi pavaratha musuh. Jika kita sudah tahu isinya, akan mudah bagi kita untuk mengetahui cara mendapatkan kelemahannya. Untuk tugas kelompok khusus ini, aku rasa Wirapati adalah orang yang paling tepat.” Kata Naradyaksa Perwira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku setuju dengan usulan paman Naradyaksa Perwira. Wirapati siapkanlah semua yang kau butuhkan untuk kelompok khusus ini. Jika kau sudah menemukan kelemahannya. Kalau sampai kita kalah dalam pertempuran ini kau harus pimpin kelompok ini kembali ke Medanggana Raya dan menyampaikannya kepada Prabu Narayala.” Panglima Arghapati memberikan perintah. Wirapati agak terkejut mendengar perintah terakhir yang diterimanya. Tetapi mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi, pikirannya menyetujui perintah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Panglima, kalau begitu saya akan bersiap-siap.” Wirapati melangkah keluar dari kemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-4448202006116228199?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/4448202006116228199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=4448202006116228199&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4448202006116228199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4448202006116228199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2008/01/pertempuran-lembah-badai-sehari-setelah.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-8252858468574032240</id><published>2008-01-28T21:37:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:27:40.679-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ANAK KRAKATAU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari kota Yogyakarta yang dingin dan damai di tempat peperangan besar pernah terjadi sangat hebat. Peperangan yang pernah mempertaruhkan nasib semua dunia. Dekat Banten kota lama dengan sejarah kejayaan pusat perdagangan rempah dunia. Di sepanjang desa pantai barat yang menghadap langsung ke kepulan asap misterius yang muncul dari dasar laut. Muncul dari tempat dimana dulu krakatau besar memberikan dunia hujan abu berhari-hari. Getaran-getaran dari dalam tanah membuat permukaan laut beriak-riak kecil dan menjadi datar tak bergelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada nelayan yang berani melaut atau melewati selat, terlalu banyak hal-hal mengerikan yang pernah didengar dan diceritakan dari nelayan-nelayan atau para pelaut dari kapal-kapal asing yang melewatinya. Desa-desa di pesisir selat sunda belakangan digelisahkan oleh munculnya kejadian-kejadian aneh setelah asap misterius itu mulai membumbung dari dalam laut. Kejadian aneh yang disertai hilangnya gadis-gadis di desa itu secara misterius membuat desa segera saja gelap gulita ketika matahari mulai tenggelam di ujung krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan itu sudah semakin tidak terbendung, para lurah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Banyak penduduk yang akhirnya mengungsi ke wilayah cilegon bahkan mereka ada yang berduyun-duyun ke Batavia. Pengungsian besar-besaran dengan semua cerita aneh yang dibawanya akhirnya sampai juga kepada pemerintah Hindia Belanda. Penyelidikan intensif dilakukan di desa-desa yang telah dikosongkan oleh penduduknya, tetapi tak satu pun bukti ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di balik keresahan itu, di bekas-bekas kedahsyatan perang masih begitu terlihat jelas. Di sebuah bangunan batu di lembah krakatau yang hitam legam yang hanya berdiri pohon-pohon meranggas gosong. Panasnya lembah membuat udara tidak memiliki cukup kesegaran untuk kehidupan bisa bernafas dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok berjubah hitam terbuat dari rami tebal yang terlihat compang camping penuh sobekan dan tambalan, berdiri tegak di puncak bangunan batu berbentuk piramida segi empat. Seorang berpakaian prajurit dengan perawakan berotot kekar, berkulit hitam dan bulu di seluruh tubuhnya. Mengenakan baju besi menyilang di depan dan belakang dada. Membawa golok raksasa bergerigi dengan untaian cincin menempel di bagian tumpulnya. Berjalan menaiki tangga piramida setinggi 5 kali pohon kelapa. Sungguh mahluk yang kecil dibandingkan ukuran piramida batu yang sedang ditapakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di ujung puncak piramida, sembahnya dihaturkan dengan berlutut dan bersujud 4 kali kepada sosok berjubah hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nassa Senopathi Honkhorolu Phordhana Sonhnatherdhan Nossan Phakhedha” sang prajurit tetap bersujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandhith……” sosok berjubah hitam itu memberi perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pasukan dari utara” tanya Raja Sanaisbin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang pasukan sekutu kita di utara telah mulai melumpuhkan satu demi satu kota-kota perbatasan Narapati. Angkor Wat, Pagan, Sriwijaya, Kutai sekarang sudah dalam kekuasaan.” Kata Senopati Honkhorolu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan tindakan Narapati.” Tanya Raja Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati hanya mengirimkan sedikit pasukannya ke Angkor Wat. Hanya terjadi pertempuran kecil di utara Khitai.” Kata Senopati Honkhorolu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…Narayala cerdik, dia sudah menduga akan kekuatan baru kita. Angkor Wat hanyalah perang kecil untuk mengukur kekuatan. Narayala membiarkan semua kota-kota perbatasan dikuasai, karena dia tidak menginginkan Medanggana Raya lemah penjagaan.” Kata Raja Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan kepadaku Honkhorolu, bagaimana perkembangan bala tentaraku” sosok berjubah hitam itu bergerak mendekati Senopati Honkhorolu Phordhana yang masih berdiri diatas lutut kirinya dengan tangan kanan masih mendekap rapat pada dadanya. Sosok senopati yang raksasa walaupun berlutut, tetap saja tingginya masih sama dengan sang sosok berjubah hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuanku Sanaisbin raja segala bangsa dunia tengah yang perkasa, semua pasukan sudah hampir siap.” senopati Honkhorolu memberikan laporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin melihatnya langsung” Raja Sanaisbin bergerak menuruni tangga piramida. Gerakannya tidak lagi terlihat dengan jejak-jejak kaki, tetapi langsung melayang. Senopati Honkhorolu mengikuti gerakan tuannya dari belakang. Mereka bergerak turun sampai ke dasar piramida yang didepannya terbentang pohon-pohon raksasa yang nyaris setinggi piramida. Di seluruh batangnya menggaantung benda lonjong putih seperti kepompong seukuran dua kali kerbau. Pohon raksasa itu tidak tampak lagi sebagai pohon karena tidak ada daun satupun tersisa. Yang ada hanyalah ratusan kepompong putih yang menggantung diseluruh batangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Dwarapala telah menyatakan dukungannya kepada kita dan akan menyiapkan 15.000 raksasa untuk memperkuat pasukan kita.” Kata Senopati Honkorolu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sanaisbin tampak puas dengan yang dilihatnya, senyum senang melihat keganasan naga Jalatunda yang baru saja mencabik-cabik seorang raksasa. Tak terlihat wajah welas asih tetapi hanya senyum kebengisan yang dalam. Mereka kemudian bergerak menuruni lembah yang lumayan dalam dan berhenti di pinggir jurang dibawahnya mengalir sungai lahar pijar yang sangat dalam dan panjang. Aliran lahar pijar yang panas membara pada dasar jurang mengepulkan asap-asap belerang yang menyapu seluruh dinding jurang. Pada dinding-dinding jurang terdapat benda-benda berwarna kuning bening keemasan menempel diseluruh dinding jurang di kiri dan kanan sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di hadapan kita adalah duaratus ribu Kepompong-kepompong para Amukhsara yang siap menetas untuk dikerahkan, kita berhasil mempercepat pertumbuhan para prajurit. Panas aliran lahar pijar telah mempercepat penetasan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senopati menunjukan dinding-dinding jurang yang penuh dengan kepompong para Amukhsara yang pada beberapa bagian mulai retak-retak dan seorang Amukhsara keluar dari kepompong langsung melompat ke punggung para naga-naga terbang Jalatunda para prajurit Amukhsara yang melayang di sebelahnya. Kadang-kadang ada yang yang tidak tepat sehingga terjatuh melayang ke sungai, tetapi dengan cekatan para naga menukik mengejar dan mencengkram amuksara yang jatuh dengan kaki-kakinya. Pada sisi lain terjadi tubrukan antara amuksara yang melompat dengan penunggang naga sehingga sang penunggang terjatuh ke dalam jurang. Tetapi naga-naga yang selalu berseliweran bolak balik keluar masuk jurang selalu berhasil menangkap siapapun yang terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Raja Sanaisbin tampak puas, tak lama kemudian datang dua ekor naga mendarat di hadapan mereka menunduk rendah. Raja Sanaisbin dan Senopati Honkhorolu menaiki naga-naga Jalatunda tersebut kemudian terbang menyebrangi jurang lahar pijar kemudian mendarat pada lereng yang cukup tinggi dimana terdapat sebuah goa besar pada bagian dindingnya. Pada bagian puncak tampak kaldera bekas letusan yang dipenuhi air membentuk danau berwarna hijau keputihan yang ditengahnya menyembul sebentuk kerucut dengan puncak yang terus-menerus menyeburkan lahar pijar panas. Mereka berdua masuk ke dalam gua yang sangat besar yang menembus dasar kaldera. Suara-suara lolongan panjang srigala keluar dari mulut goa begitu nyaring bergema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita juga telah berhasil membuat persilangan Cakracakra dengan Mahisasura, sehingga kita sekarang mempunyai pasukan srigala yang bertubuh sebesar kerbau yang akan mampu menandingi para pasukan harimau putih Narapati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka bergerak menuju ruangan goa yang lebih besar dengan stalaktit dan stalagmit yang menyembul berwarna-warni. Mereka keluar pada ujung lorong yang memiliki ketinggian sehingga dapat melihat seluruh isi ruangan dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuanku Raja Sanaisbin, di bawah sana adalah tempat latihan semua prajurit. Kami menculik cukup Narapati, Garuda dan Narasimha untuk latihan ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sanaisbin dan Senopati Honkhorolu berjalan balik kembali keluar dari lorong yang pertama mereka masuki. Kemudian memasuki lorong yang lain yang diujungnya terdapat ruangan lain berbentuk sel penjara dengan sejumlah perempuan manusia dewasa yang sedang duduk-duduk dengan kepayahan. Semua perut mereka buncit seperti sedang mengandung. Ada yang sedangan menangis ketakutan, ada yang duduk dengan tatapan mata yang kosong tak bicara sepatahpun. Ada yang sudah mulai tertawa-tawa sendirian dan ada yang hanya menunduk dengan seluruh rambut menutupi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruangan ini adalah ruangan penetasan Amukhsara sebelum disimpan di kepompong kawah api. Kami menggunakan perempuan-perempuan manusia sebagai induk pembiakan. Kami tidak mengambil perempuan Narapati, karena akan menimbulkan kecurigaan jika terjadi penculikan dalam jumlah besar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap induk kami tanam tiga janin Amukhsara dalam tubuhnya, dengan cara ini kita bisa menghasilkan tentara dengan cepat” Senopati Honkhorolu kembali menjelaskan semuanya. Ruangan demi ruangan penuh dengan kengerian dan mimpi buruk panjang tak berkesudahan. Jerit kesakitan dan lengkingan kematian terus menerus bergema diikuti dengan sorak-sorai Amukhsara, pekik girang naga-naga Jalatunda dan raungan kemenangan para Cakracakra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ruangan-ruangan itu terhubung dengan lorong yang berujung pada ruangan terbesar seperti sebuah cerobong asap dengan atap terbuka menghadap langit. Di bawahnya bergolak danau lahar pijar yang sangat panas. Ruangan besar itu telah menjadi anjungan bagi sandarnya ratusan wahana Pavaratha. Di setiap anjungan terdapat goa yang menjadi jalur keluar dan masuk bagi persediaan dan tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruangan ini adalah tempat dibangunnya wahana Pavaratha yang telah diperkuat dengan darah para Garuda dan sihir para Janggan Wimana seperti perintah tuanku” kata Senopati Honkhorolu kepada Raja Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sapu bersih semua penjagaan Narapati di Gunung Karang. Gabungkan kekuatan sekutu dari Sriwijaya. Hancurkan Merapi Amangkubhumi. Gerakan sekutu kita di Kutai ke Madura.” Raja Sanaisbin memberikan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perintah hamba laksanakan tuanku.” Senopati Honkhorolu pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sanaisbin telah melepaskan seluruh pasukan yang sesungguhnya akan menjadi kekuatan utama dalam permainan perangnya. Pasukan-pasukan yang sekarang sedang menaklukan satu demi satu kota-kota Narapati, menjarah, membunuh dan menghancurkan semua peradabannya hanyalah pengalih perhatian. Prabu Narayala paham betul taktik saudara kembarnya itu. Dia membiarkan saudara kembarnya menguasai seluruh kota tetapi pada saat yang bersamaan menyelamatkan kekuatan yang ada dengan mengungsikannya ke tempat yang aman. Prabu Narayala tahu bahwa Narapati belum siap menghadapi kekuatan baru Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Raja Sanaisbin tak beda dengan Prabu Narayala. Walaupun telah terlepas keterkaitan jiwanya dengan saudara kembarnya Prabu Narayala, tetapi cara berpikir kembarnya tidak pernah hilang. Raja Sanaisbin tahu saudara kembarnya sudah membaca semua gerakannya. Dia tetap membiarkan seolah saudara kembarnya telah berhasil ditipunya. Gerakan pasukan dan penaklukan bukanlah sarana utama dalam kemenangan perang ini. Rahasia-rahasia lain yang lebih kecil justru yang menjadi perhatiannya. Sang terpilih pembawa buku kehidupanlah yang harus diwaspadai olehnya. Raja Sanaisbin sudah menduga kalau Prabu Narayala sedang menyiapkan sang Terpilih untuk menjadi pamungkas dalam perang ini. Tetapi ada yang tidak diketahui saudara kembarnya itu dan itu akan menjadi senjata pamungkasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-8252858468574032240?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/8252858468574032240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=8252858468574032240&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/8252858468574032240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/8252858468574032240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2008/01/anak-krakatau-jauh-dari-kota-yogyakarta.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-7512951004625259666</id><published>2008-01-28T21:36:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:28:33.226-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ANGKOR WAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam belum lagi larut, kabut sangat tebal dengan tiba-tiba menyelimuti seluruh Medanggana Raya. Dimas sangat gelisah dan tak bisa sedikit pun memejamkan matanya. Setiap kali berusaha memejamkan mata, selalu saja kilasan-kilasan kejadian yang sempat diterimanya dari Garuda yang mati beberapa waktu lalu saat perjalanannya ke benteng Merapi. Perjalanan panjang yang baru saja dilaluinya tadi siang dari benteng Merapi bersama para Vairivaravira Vimardana tidak membuatnya lelah dan mampu beristirahat. Matanya tetap tak bisa terpejam bersama menerawangnya seluruh pikiran entah kemana. Akhirnya Dimas melangkahkan kakinya keluar kamar dan ternyata mendapati Raji dan Pafi juga tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau juga tidak bisa tidur rupanya” kata Raji bangkit dari pembaringan di ruang tengah begitu melihat Dimas keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Eh, tidak, kalian juga tidak bisa tidur ?” kata Dimas balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Aku dan Raji tadi sedang berbicara mengenai pesan penglihatan yang kau dapat dari Garuda Kencana yang mati di desa itu” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga tidak bisa tidur gara-gara masalah itu, aku ingin sekali menceritakannya segera kepada Bapak Narayala, tapi kelihatannya beliau sedang semadi. Menurut paman Wirapati, semadinya dilakukan sejak keberangkatan kita dua pekan lalu dan baru akan selesai setelah tiga hari lagi” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang harus kita lakukan ? apakah kita katakan saja kepada paman Arghapati atau Kerthapati ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak yakin, lagipula aku rasa keterangan sepenting ini lebih baik hanya Bapak Narayala yang harus tahu” kata Dimas. Pafi dan Raji terdiam, masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam masih sisa sepertiga, udara dingin telah menyelimuti seluruh kota Medanggana Raya dengan kabut tebal. Tak biasanya kabut yang begitu tebal melanda seluruh penjuru kota. Cahaya bulan yang sangat terang di langit yang tanpa awan, tak mampu menerangi kota yang berselimut putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medanggana Raya pagi begitu indah, Dimas, Pafi maupun Raji akhirnya tidak tidur semalaman. Mereka habiskan sepertiga sisa malam dengan bercerita. Mata mereka tampak mulai mengantuk berat, tetapi kantuk mereka sekejap hilang dikejutkan oleh datangnya seorang yang sudah mereka begitu kenal sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyai Janis !!!” Pafi berteriak dan berlari menyongsong kedatangan Nyai Janis yang sudah berdiri di depan pintu tengah. Kerinduan yang berbeda dan luar biasa dirasakan oleh Pafi yang langsung memeluk Nyai Janis, bule Belanda pemimpin asrama tempat mereka tinggal di dunia manusia. Dimas dan Raji pun merasakan kegembiraan yang sama dengan Pafi. Seakan bertemu dengan ibu mereka sendiri yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, apa kabar, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Saya rindu sekali dengan kalian” kata Nyai Janis dengan logat bulenya yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, Piye kabare Dimas, Raji.” Kata Nyai Janis dengan logat Jawa yang aneh menyapa Dimas dan Raji yang terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa. Nyai Janis melepaskan pelukannya dari Pafi lalu membuka kedua tangannya untuk Dimas dan Raji. Mendapatkan tangan yang begitu terbuka keraguan Dimas dan Raji hilang dan segera menyongsong Nyai Janis dengan pelukan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabar kami baik Nyai, bagaimana kesehatan Nyai sendiri” kata Dimas menanyakan sesuatu yang dulu sama sekali tidak pernah ingin dia lakukan. Dimas merasakan perbedaan yang luar biasa dari sikap Nyai Janis. Sikap keibuannya membuatnya nyaman dan merasakan sebuah sikap perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian seperti tidak tidur semalaman, ada apa ?” tanya Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…iya Nyai, kami begadang semalaman, kabut tebal yang turun tiba-tiba membuat kami semua kedinginan. Jadi kami akhirnya ngobrol semalaman” kata Pafi memberikan alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyai sendiri adakah yang sangat penting hingga harus datang ke Medanggana Raya ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Saya harus bertemu dengan Prabu Narayala. Ada hal penting yang harus saya sampaikan” kata Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sayang sekali Nyai. Bapak Narayala masih menjalankan semadinya dan baru tigahari kemudian beliau selesai.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..ya… saya tahu itu dari Wirapati, karena itu saya punya kesempatan untuk menghabiskannya bersama kalian disini, boleh kan ?” kata Nyai Janis. Dimas, Raji dan Pafi menganggukan kepala mereka secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja Nyai, kami ingin sekali tahu bagaimana kabar teman-teman di asrama.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, benar bagaimana dengan Aryo dan teman-temannya itu. Apakah mereka masih berlagak jagoan seperti dulu” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabar teman-teman di asrama baik-baik semua, mengenai Aryo, dia sekarang sudah lebih baik. Dia bersama teman-temannya menjadi aktifis pegerakan bumi putera.” Kata Nyai Janis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kangen sekali dengan pisang goreng buatan Mbok Sinem.” Kata Dimas tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka makin asyik terlibat pembicaraan mengenai semua hal yang terjadi di asrama dan teman-teman di dunia manusia. Nyai Janis dengan sabar dan senang hati menceritakan semua pertanyaan ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari telah berlalu, pagi itu Prabu Narayala telah menyelesaikan semadinya. Wajah raja Narapati itu tampak lebih bersinar. Turun dari tandu didampingi Wirapati, Prabu Narayala memasuki kediamannya. Dimas, Raji, Pafi dan Nyai Janis telah menunggu di depan menyambut kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyai Janis, ahahahaha... apa kabar ? kau malah yang menyambut kedatanganku. Maafkan aku Janis” kata Prabu Narayala. Nyai Janis tersenyum lebar membuka tangannya dan menghampiri Prabu Narayala dengan pelukan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak, kalian sudah berada disini juga, bagaimana dengan pelajaran kalian ?” tanya Prabu Narayala kepada Dimas, Pafi dan Raji yang sejak tadi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sudah sampai tiga hari yang lalu Bapak Narayala. Bagaimana kesehatan Bapak Narayala ?” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik-baik saja nak” kata Prabu Narayala. Sejenak menarik nafas kemudian duduk di kursi. Dimas merasakan ada yang aneh pada diri Prabu Narayala. Lemahnya bukan seperti orang yang baru semadi atau pun berpuasa, tetapi seperti orang yang lelah karena habis melakukan perjalanan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sehingga jauh-jauh kau datang kemari Janis” tanya Prabu Narayala mulai pertanyaannya kepada Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang karena ada berita besar dari dunia manusia. Bangsa Jepang menyerang pangkalan angkatan laut terbesar bangsa Amerika Serikat di Pearl Harbour. Hari berikutnya menyerang Hongkong, Filipina dan Burma.” Katanya Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Janis, keteranganmu sangat berguna bagi Narapati. Memang Narapati sedang mengawasi semua kemungkinan gerakan-gerakan yang dilakukan Amukhsara dan mencoba mencari dimana Amukhsara mengendalikan semuanya. Tapi sejauh ini belum ditemukan petunjuk yang pasti mengenai keberadaan pusat pasukan Amukhsara.” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami juga menemukan keterangan yang mungkin penting saat kami melakukan perjalanan kemarin Bapak Narayala.” Kata Dimas. Prabu Narayala beralih kepada Dimas, walau sudah sangat paham watak Dimas, tetapi tetap saja dia sesekali terkejut dengan apa yang dimiliki oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, ceritakanlah anakku” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garuda yang mati yang kami temui di desa itu sempat menyebutkan satu kata – Pasauran” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm nama yang menarik, Pasauran adalah wilayah yang terletak di ujung barat Jawa. Letaknya memang dekat dengan tempat munculnya anak krakatau saat kelahiran kau anakku.” Kata Prabu Narayala. Semua tampak berjengit kecuali Nyai Janis mendengar semua yang dikatakan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdasarkan ingatan Garuda yang mati yang sempat ditarik oleh Kerthapati dan cerita yang kau dapatkan langsung dari Garuda itu, aku makin yakin dengan tempat yang aku kunjungi selama semadiku.” Kata Prabu Narayala. Dahi Dimas agak berkerut heran mendengar kata “kunjungan selama semadi”. Prabu Narayala tersenyum mengerti keheranan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amukhsara telah berhasil membuat persilangan Naga dengan Garuda, sehingga naga-naga Jalatunda yang mereka miliki sekarang lebih tangguh karena memiliki semua kekuatan naga dan Garuda untuk menandingi semua Garuda kencana para Narapati. Mereka juga berhasil mengembangkan Serigala Cakracakra menjadi seukuran kerbau sehingga mampu menandingi para Narasimha. Latihan yang mereka lakukan dengan menggunakan banyak Garuda dan Narasimha menjelaskan mengapa jumlah mereka berkurang akhir-akhir ini. “ Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tak menemukan dimana Sanaisbin membentuk tentaranya. Aku telah menjelajahi semua tingkatan waktu, tetapi tak satupun menunjukan adanya tanda sebuah markas pembentukan pasukan. Aku hanya bisa menduga bahwa dia telah menciptakan ruang waktu yang baru. Ada satu kekuatan yang membantunya, karena untuk membuka sebuah ruang waktu yang baru, akan dibutuhkan sumber tenaga yang sangat besar. Sumber tenaga seperti sekarang hanya dimiliki oleh batu bintang Satuasra, kecuali dia………. berhasil mendapatkan pecahan Satuasra yang terlempar jauh saat menghantam bumi. Konon kabarnya pecahan itu sebesar seperti delapan dari Satuasra yang sekarang bersemayam di perut Cakravartin.” Kata Prabu Narayala sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Narapati sudah menyiapkan pasukan ?” tanya Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Janis, Narapati sudah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk menghadapi serangan Amukhsara, tapi aku masih belum bisa menebak ke mana arah Sanaisbin mengarahkan sasarannya. Kalau dia memiliki pusat pengaturan di Krakatau, mengapa dia harus membuat serangan tipu muslihat seolah-olah serangan datang dari utara ? Aku Cuma bisa menduga kalau dia belum yakin dengan kekuatan pasukannya, sehingga dia melakukan serangan dari arah lain untuk mengecoh sasaran sebenarnya sambil mengukur tingkat kekuatannya. Aku sangat yakin sasaran utama selain Medanggana Raya adalah Benteng Merapi Amangkubhumi. Sanaisbin tahu kalau dia tidak mungkin melewati lembah keramat Sunda, karena pasukannya akan mengalami banyak hambatan.” Kata Prabu Narayala sambil mengibaskan tangannya ke arah lampu kepompong di langit-langit ruangan. Sinar terang kuning menyoroti meja di bawahnya dan membentuk lekuk-lekuk wilayah kerajaan Narapati yang membentang dari Bagan, Angkor Wat, Ayuthaya, Kutai, Sunda, Kenchana, Sumatra, dan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Sanaisbin mengira kita tidak mengetahui rencana serangannya, maka biarkan dia tetap begitu. Kita berikan apa yang kita mau.” Kata Dimas. Prabu Narayala tersenyum mendengar yang dikatakan Dimas, tetapi Nyai Janis seperti menjadi kagum melihat perkembangan dan kecerdasan yang ditunjukan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul sekali nak, kita baru mendapat petunjuk mengenai datangnya serangan dari utara, tetapi serangan sebenarnya di dunia Narapati belum kita ketahui di mana persisnya wilayah Narapati yang akan lebih dulu diserang.” Kata Prabu Narayala. Temu kangen itu akhirnya berubah menjadi sebuah pembicaraan tingkat tinggi mengenai perang. Berbagai taktik dan strategi dibahas untuk memecahkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Wirapati sang ajudan Prabu Narayala rupanya selain menjadi ajudan, dia pula menjadi penasihat Prabu Narayala dalam melancarkan rencana perang, hal itu terlihat dari kemahirannya dalam memberikan pilihan-pilihan lain dalam mengatur serangan. Raji dan Pafi ikut memberi pendapat, pengalamannya berkelana bersama para Vairivaravira Vimardana memberi mereka cukup pengetahuan dasar mengenai keadaan di medan perang. Semua yang hadir ikut terlibat tukar pendapat mengenai rencana terbaik dalam menghadapi pasukan Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama tanpa mereka ketahui dari sudut kota yang lain seorang prajurit yang kedinginan bergegas mengetuk pintu kediaman Arghapati. Suara langkah kaki dari dalam rumah terdengar mendekati pintu. Dari balik pintu Arghapati membuka pintu dan langsung bertanya kepada prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa prajurit, apakah ada hal yang sangat penting sehingga kau mengetuk pintu rumahku.” kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku Arghapati, ada seorang telik sandi mohon diijinkan menghadap tuanku” kata prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, suruh dia masuk” kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit itu membalikan badannya dan tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa seorang lelaki berpakaian seperti seorang petani yang sudah sangat lusuh dan kelihatan kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku, nama hamba Kraitong, hamba adalah telik sandi yang ditempatkan di wilayah Angkor Wat. Hamba membawa berita sangat penting untuk tuanku” kata Kraitong sambil menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berita apa yang kau bawa Kraitong, lekas katakan kepadaku” kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah terjadi pergerakan pasukan dari wilayah utara tuanku, ribuan pasukan tidak hamba kenal telah mulai menyebrangi perbatasan.” Kata Kraitong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka dari kerajaan tetangga ?” Tanya Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan tuanku, hamba mengenali pasukan kerajaan tetangga. Pasukan yang kali ini sedang menuju Angkor Wat sangatlah menyeramkan. Mereka membawa pasukan Cakracakra raksasa seukuran Narasimha dan Naga Jalatunda yang berbadan seperti Garuda.” Kata Kraitong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kau istirahatlah Kraitong, aku akan segera melaporan ini kepada Prabu Narayala” Kata Arghapati yang segera bersiap untuk ke tempat kediaman Prabu Narayala. Sang telik sandi pergi meninggalkan tempat sementara Arghapati berjalan melalui pintu belakang menuju pintu tembus yang langsung masuk ke halaman kediaman Prabu Narayala. Dengan hati-hati Arghapati mengetuk dengan irama ketukan yang sangat tidak lazim. Dari dalam pintu Prabu Narayala membuka pintu perlahan dan melihat Arghapati yang telah lengkap dengan semua atribut keprajuritannya. Prabu Narayala mengerti arti ketukan pintu yang dilakukan Arghapati dan diperkuat oleh kesiapan Arghapati dengan seluruh pakaian kedinasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah Arghapati” Kata Prabu Narayala. Arghapati memasuki ruangan dimana Nyai Janis, Dimas, Raji, Pafi dan Wirapati sedang duduk bersama Prabu Narayala membahas strategi perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku, hamba membawa berita penting dari teliksandi kita di Angkor Wat” Kata Arghapati sambil bergerak masuk ke dalam. Arghapati mendekati Prabu Narayala yang duduk di atas kursi batu yang berada di tengah ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, tidak apa-apa semua yang ada di ruangan ini boleh mendengarnya.” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amukhsara telah bergerak dari utara menuju perbatasan kita di Angkor Wat.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kita duga sebelumnya, bahwa Amukhsara akan menyerang kita dari utara. Mereka akan menguasai tanah Narapati bagian demi bagian sehingga kita akan tersudut ke selatan” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kali ini ada yang tidak biasa dari pasukan Amukhsara tuanku, pasukan Cakracakra yang mereka gunakan sekarang berbeda dengan pasukan yang terdahulu. Kali ini Cakracakra seukuran Narasimha” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala terdiam, dia termenung seperti sedang merangkai kejadian demi kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raja Sanaisbin melakukan persilangan dan pembentukan pasukan yang lebih tangguh untuk menandingi Narasimha dan Garuda Kencana. Sepertinya berita penculikan banyak wanita manusia di ujung kulon juga lenyapnya beberapa Narasimha dan Garuda Kencana secara misterius cukup menjelaskan kegiatan mereka selama ini. Anak krakatau adalah tempat yang paling tepat untuk melakukannya.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kita juga sudah mengirimkan telik sandi kita ke sana tuanku. Tetapi kita tidak menemukan apapun” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, kita memang telah mengirimkan telik sandi ke sana untuk menyediliki tempat itu, tetapi kita mencari di tempat yang salah. Dengan kesaktian Raja Sanaisbin, teliksandi kita tidak akan mampu menembus pandang barak tersembunyi yang berada di depan mata mereka. Aku menduga Raja Sanaisbin menggunakan tingkatan waktu yang berbeda sebagai tempatnya, karena telik sandi kita berada di dunia tengah, maka dia tidak akan dapat melihat mereka, sementara Raja Sanaisbin dapat melihat mereka” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa penyerangan dilakukan melalui utara ?” Tanya Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami baru saja membahas pertanyaan itu Arghapati. Dia ingin tetap menyamarkan barak pembangunan pasukannya sampai dia merasa yakin dengan kemampuan pasukannya. Dalam semadiku kemarin, aku melakukan “Kembara Sukma”, aku sudah berusaha untuk menembus barak gaibnya, tapi sampai saat ini belum juga berhasil. Sepertinya Raja Sanaisbin menggunakan sihir yang sangat kuat, sehingga Senopati Sarwwajalla dari Kerajaan Selatan pun tidak mampu menemukannya.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan sekarang tuanku” tanya Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus mengirimkan pasukan ke sana” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, bukankah tadi tuanku katakan bahwa pusat kekuatan mereka sebenarnya berada di anak Krakatau.” Tanya Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, dan sampai sekarang kita belum mampu menemukan mereka. Selain itu, laporan telik sandi mengatakan bahwa ada yang berbeda dari pasukan mereka sekarang. Kita harus kirim pasukan untuk mengukur kekuatan dari pasukan baru itu, sehingga kita bisa mempelajari kekuatan dan mencari kelemahan mereka.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah tuanku, sekarang hamba mengerti” kata Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapkanlah limapuluh pasukan Garuda Kencana dan limapuluh pasukan Narasimha. Gunakan wahana Pavaratha Pushpaka untuk mengangkut pasukan. Berangkatlah pagi-pagi setelah subuh, gunakan jalur Lembah Sunda timur.” Kata Prabu Narayala kepada Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan ikut dengan paman Arghapati.” Seru Dimas. Semua yang hadir terkejut dengan pernyataan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau pikir harus ikut anakku ?” tanya Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir penting untukku untuk mengenali kelemahan Naga Jalatunda. Pada tahap ini Naga Jalatunda harus menjadi perhatian utama untuk menemukan kelemahannya, karena serangan udara akan lebih berbahaya dari pada serangan darat. Kalau kita tidak mampu menemukan kelemahan Naga Jalatunda, maka pasukan Garuda Kencana akan kocar kacir pada saat perang yang sesungguhnya nanti.” Kata Dimas dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi dan Raji akan mengendarai Garuda Kencana akan menggiring seekor Naga Jalatunda menjauhi arena perang, kemudian akan melakukan serangan-serangan dari udara, sementara aku akan mencoba menyerangnya dari daratan. Sementara pasukan yang lain harus mencoba bertahan sebisa mungkin sampai kami menemukan kelemahan Naga Jalatunda.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kenapa harus kalian yang melakukannya, bukankah kita bisa menyiapkan tiga prajurit khusus dari Vairivaravira Vimardana.” Kata Wirapati. Dimas diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu, dirinya harus yakin bahwa orang-orang yang akan mendengar jawabannya telah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena untuk menemukan kelemahan Naga Jalatunda diperlukan mata seorang Sethi.” Kata Dimas singkat. Kecuali Prabu Narayala, Pafi dan Raji semua terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku rasa jawabanmu cukup memuaskan semua yang hadir di ruangan ini. Bersiaplah untuk keberangkatan kalian.” Kata Prabu Narayala. Semua bangkit berdiri tegak secara bersamaan. Bersamaan dengan pamitan Arghapati untuk mempersiapkan keberangkatan pasukan ke Angkor Wat, Dimas, Pafi dan Raji ikut meninggalkan ruangan mempersiapkan diri untuk keberangkatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Pavaratha sudah bersandar di halaman depan pintu gerbang kota. Wahana terbang itu terdiri dari 2 Pavaratha Pushpaka pengangkut dan satu Pavaratha rudra atau perusak. Diiringi dengan gemuruh pelepasan disepanjang nadisara yang mengairi dan membelah kota. Para penduduk Narapati berbaris melepas seratusan tentara yang diiringi para Narasimha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di atas wahana Pavaratha menjadi yang pertama bagi Dimas, Pafi maupun Raji. Merasakan benda mirip perahu yang terbuat dari bahan yang tidak dikenal dunia manusia itu mengangkasa merasakan sesuatu yang berbeda. Pavaratha terbuat dari bahan mirip logam tetapi sangat ringan dan fleksible. Kulit permukaan kapal bersisik seperti sisik ikan saling bertumpuk. Sisik inilah yang membuat wahana ini mampu bergerak dengan kecepatan tinggi, karena angin yang menghadang dialirkan dengan luwes oleh sisik-sisik di seluruh badan wahana. Dilapisi sihir-sihir yang diciptakan oleh bangsa Sethi, membuat wahana itu mampu terbang dan mampu melindungi diri dari serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga wahana Pavaratha itu bergerak naik dan menembus selubung gaib, lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi melesat ke utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersiap semuanya, kita akan meningkatkan kecepatan tinggi” kata pemimpin wahana. Semua yang berdiri di dalam wahana sambil memegang pegangan pada dinding-dinding. Gerakan cepatan wahana mendorong seluruh penumpung di dalamnya ke belakang. Gerakannya yang sangat cepat menembus barisan awan yang sedang mengembangkan mendung hingga bergerak seolah sedang berlayar di atas lautan awan. Tiga Pavaratha melaju beriringan dengan kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersiap, kita akan melewati Lembah Badai, akan banyak angin hisap di depan, kita sudah memasuki lembah Sunda, kita akan melakukan gerakan menghindar.” Pengendali Pavaratha membuat wahana itu bergerak meliuk. Awan-awan hitam yang menggantung di angkasa tiba-tiba seolah-olah berputar dan tertarik ke bawah membentuk putaran hingga ke daratan. Puluhan angin putting beliung bermunculan susul menyusul membuat rintangan pilar-pilar langit yang berusaha menghantam wahana pavaratha yang terus bergerak menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa kita harus menghindari lembah Sunda paman ?” tanya Dimas kepada Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lembah Sunda adalah tempat dulu dimana seluruh bangsa Narapati mendirikan seluruh kota dan kebudayaannya, sewaktu masih tinggal di dunia manusia sekarang. Tetapi sekarang kenyataan di dunia manusia lembah ini adalah lautan. Lembah ini dulunya penuh dengan kematian, karena banyak yang tidak sempat terselamatkan saat banjir besar melanda seluruh lembah. Kemudian Prabu Narayala melarang setiap Narapati untuk tinggal bahkan melewati wilayah ini sebagai penghormatan kepada mereka yang meninggal. Lembah ini disebut lembah kematian yang hanya diijinkan lewat untuk situasi darurat. Kemudian dengan bantuan Bangsa Sethi dan Kerajaan Selatan seluruh lembah Sunda dijaga dengan sihir-sihir yang oleh Sanasibin sekalipun tidak akan mampu dihilangkan. Setiap benda yang melewati lembah ini baik di darat maupun di udara maka akan muncul banyak rintangan. Lembah ini memiliki beberapa nama seperti lembah guntur yang penuh dengan kilatan-kilatan halilintar, Lembah Badai dengan angin hisap dengan pilar-pilar badai yang menjulang dari awan hingga daratan, lembah api dimana semburan uap panas dari dalam tanah selalu menerjang apapun yang melewati wilayah itu.” Kata Arghapati menjelaskan. Dimas mengedipkan matanya yang seketika berubah menjadi biru dan memandang ke arah luar yang ditutupi oleh dinding-dinding Pavaratha. Dimas mencoba menembus pandang melihat isi seluruh lembah yang tak pernah seorangpun melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati wilayah selatan Kencana, angin hisap sudah tidak lagi tampak berputar-putar digantikan oleh hamparan hutan yang hijau membentang bagaikan permadani ke kaki bumi.Kelok-kelok sungai yang menari indah di antara hutan hingga menembus masuk pedalaman. Dalam beberapa jam lautan luas telah tampak di utara. Kemudian pavaratha diarahkan menyusuri garis batas antara laut dan daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wilayah ini tampak lebih tenang” kata Dimas yang masih menggunakan mata Sethinya untuk mengamati keadaan di luar wahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah wilayah lembah api, kita akan menyusuri di pinggir saja hingga sampai ke wilayah Angkor Wat. Di wilayah ini banyak jebakan-jebakan yang ditebar untuk menghalau siapa saja yang masuk. Hanya yang berpengalaman melewati wilayah ini saja dapat menghindarinya.” Kata Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jebakan ? jebakan apa paman ?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semburan angin panas dari dasar bumi yang cukup mampu membuat sebuah wahana Pavaratha terbakar dan jatuh.” Kata Arghapati. Semburan-semburan angin panas mulai bermunculan di seluruh wilayah lembah api hingga menembus ketinggian awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kita bisa menangkalnya dengan menciptakan angin putting beliung.” Tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kita hadapi adalah tenaga yang langsung berasal dari bumi itu sendiri, sehingga pemiliki tenaga angin, air dan api tidak akan sanggup menahannya. Kekuatan yang diciptakan semburan angin panas itu begitu kuatnya sehingga bisa melontarkan wahana yang terbang di atasnya kepada ketinggian hampa udara.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahana Pavaratha terus melaju dengan cepat meliuk-liuk mengikuti garis batas laut yang membuat semua penumpangnya terguncang-guncang. Bunyi derit goresan-goresan kuku dari para Narasimha dan Garuda Kencana memenuhi lantai ruang Pavaratha. Goncangan itu berhenti ketika daratan Angkor Wat sudah mulai tampak. Hamparan hutan yang sangat lebat yang mengelilingi sebuah kota yang cukup besar. Benteng besar dan tinggi melindungi seluruh kota yang dikelilingi parit yang lebar. Kemegahan kota dengan istana pahatan batu menjulang tinggi melengkapi keindahan langit Angkor Wat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Pavaratha itu mendarat di dalam benteng kota. Ratusan prajurit telah bersiap menyambut kedatangan tiga Pavaratha yang dikenali sebagai milik Narapati dari bentuk dan bendera yang berkibar di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak ada perisai gaib yang melindungi kota ini paman ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota Angkor Wat adalah kota yang terletak dekat perbatasan kerajaan Narapati di wilayah utara dan sangat jauh. Kota Angkor Wat tidak dilindungi oleh perisai gaib seperti kota Medanggana Raya, karena tidak memiliki sumber tenaga perisai gaib yang cukup seperti yang dimiliki Medanggana Raya dari batu bintang Satuasra.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu wahana Pavaratha terbuka lebar, Arghapati keluar menuruni tangga dimana para pejabat kota Angkor Wat telah berbaris menyambut kedatangan mereka. Mereka memberikan salam di depan dada ketika Arghapati turun dan membalas salam mereka satu per satu. Ketika Dimas, Pafi dan Raji keluar dari pintu wahana, serentak seluruh pejabat dan masyarakat yang menyambut kedatangan itu bersujud. Tindakan itu cukup membuat Arghapati terkejut tidak menduga penghormatan mereka terhadap Tritunggal Narapati. Dimas, Pafi dan Raji menjadi kikuk menghadapi situasi ini, mereka belum pernah mendapat penyembahan yang begitu besar selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangkitlah Angkor Wat, terima kasih atas penyambutan hangat kalian.” Kata Arghapati. Semua pejabat kota dan masyarakat kota Angkor Wat bangkit dan tetap menundukan kepala dengan tangan bertepuk di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di Angkor Wat Panglima Arghapati. Terima kasih sang Tritunggal telah mau datang ke tempat kami.” Kata seorang pejabat yang terlihat paling tua diantara semua pendampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih paman.” Kata Dimas dengan memberikan salam kepada lelaki tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Pafi, Raji, ini adalah Adipati Narajaya, beliau adalah pemimpin kota Angkor Wat.” Kata Argahapati memperkenalkan lelaki tua yang sedari tadi terus-menerus memberikan salam dengan kedua tangan menyatu di depan dada yang membuat Dimas, Pafi dan Raji sedikit canggung dengan penyambutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam Paman Adipati Narajaya.” Kata Pafi dan Raji bersamaan yang dibalas dengan salam yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman Narajaya, kami datang atas hasil laporan telik sandi tentang pergerakan pasukan Amukhsara dari utara. Kami datang untuk membicarakan masalah ini bersama Angkor Wat.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Panglima Arghapati, mari kita ke balai kota. Segala rencana persiapan telah disiapkan disana.” Kata Adipati Narajaya menunjukan arah kepada Arghapati. Arghapati memerintahkan semua pasukan Garuda Kencana dan Narasimha untuk beristirahat. Ratusan prajurit kota Angkor Wat segera sibuk membantu para prajurit Narapati memberikan makanan bagi para Garuda dan Narasimha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pejabat Angkor Wat bergerak bersama mengikuti menuju balai kota. Balai kota yang megah terpahat dari batuan yang sangat besar dan tinggi menjulang di tengah kota. Meluncur kencang dengan kendaraan kereta kayu yang ditarik oleh burung-burung Galapaksi menembus jalan utama kota yang dipenuhi dengan saluran air Nadisara dan kolam-kolam Baray yang membentang di sisi-sisi kota. Semua rombongan kereta burung Galapaksi berhenti di halaman rumput yang luas di depan balai kota yang megah terpahat dari batuan yang sangat besar dan tinggi menjulang di tengah kota yang membelakangi kuil piramida segi enam yang menjulang setinggi tiga kali pohon kelapa. Kemakmuran tampak diseluruh kota dengan bangunan-bangunan tinggi yang berada di pinggir-pinggir nadisara kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ruang balai kota pertemuan penting membahas cara-cara menghadang gerak Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdasarkan penyelidikan menyeluruh tentang kekuatan Amukhsara, kami menyimpulkan bahwa Amukhsara sekarang datang dengan kekuatan baru yang belum pernah kami coba dalam sebuah pertempuran sesungguhnya. Kami hanya tahu ada beberapa perubahan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Kedatangan kami menghadang mereka di Angkor Wat untuk mengukur kekuatan baru itu.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana rencana selanjutnya jika kita tidak bisa membendung mereka mendekati gerbang kota.” Tanya Adipati Narajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angkor Wat harus bersiap bertempur dan mengungsi. Seluruh penduduk kota harus diungsikan ke tempat yang lebih aman sebelum pertempuran untuk mempertahankan kota dilakukan. Ayuthaya adalah tempat teraman saat ini, karena kedudukannya yang berbatasan dengan lembah keramat Sunda. Amukhsara tidak akan berani menyerang ke Ayuthaya.” Kata Arghapati. Semua yang hadir mulai menangkap bahwa kali ini perang dengan Amukhsara akan lebih luas dan lebih besar dari yang dulu pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku Panglima Arghapati, aku Senopati Panaraban ingin mengajukan pertanyaan, mohon diijinkan.” Kata seorang pemuda gagah yang selalu berada di samping Adipati Narajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertanyalah senopati, pertemuan ini terbuka untuk semua hal dan bagi siapapun.” Kata Arghapati mempersilahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasakan ada kesan bahwa sekarang kekuatan kita berada di bawah Amukhsara. Apakah benar dugaanku Panglima Arghapati.” Tanya senopati Panaraban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sepenuhnya benar, tetapi Narapati tahu bahwa sekarang kekuatan Amukhsara jauh lebih baik dibandingkan perang yang lalu, begitu juga dengan cara mereka melakukan penyerangan. Sekarang perang tidak dimulai dari pusat wilayah Narapati di Jawa, tetapi dimulai dari lingkar utara dan timur perbatasan. Narapati tidak mungkin menyebarkan semua pasukannya ke seluruh wilayah di perbatasan, tanpa melindungi ibukota. Menurut pengamatan kami, serangan ini bertujuan untuk melumpuhkan daya dukung kota-kota perbatasan jika terjadi serangan di ibukota dan memutuskan hubungan ibukota dengan kota-kota lain yang cukup jauh jaraknya. Amukhsara bermaksud mengepung Medanggana Raya. Mereka telah belajar dari kekalahan perang di masa lalu, dimana mereka langsung menyerang ibukota. Pasukan mereka banyak habis setelah banyak bantuan dari kota-kota di perbatasan yang jauh. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menghindari korban terlalu banyak di kota-kota yang mungkin akan menjadi sasaran Amukhsara. Pilihan kita hanyalah membiarkan Amukhsara menang di semua perbatasan dan memberikan jalan mereka masuk mengepung ibukota. Tetapi kita dapat menyelamatkan sebanyak mungkin rakyat dan prajurit untuk mengungsi ke tempat yang aman. Pada waktunya nanti prajurit yang bisa berhasil mengungsi bergabung dan bergerak secara perlahan mengepung prajurit Amukhsara yang telah terkonsentrasi di Medanggana Raya.” Kata Arghapati menjelaskan. Semua yang hadir mulai mengerti arah yang dimaksud Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita akan bermain tipu muslihat, seolah-olah semua kota-kota perbatasan telah berhasil dikuasai dan memberi keyakinan kepada Amukhsara untuk mengkonstrasikan pasukannya di Medanggana Raya agar mudah kita ketahui seluruh kekuatan yang sesungguhnya.” Kata Adipati Narajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali paman Narajaya. Menurut perhitungan, Amukhsara tidak berniat menduduki kota-kota di perbatasan, tetapi lebih bertujuan melumpuhkan kekuatan di perbatasan agar tidak dapat lagi memberikan bantuan kepada ibukota Medanggana Raya. Karena tujuan sesungguhnya dari pasukan Sanaisbin adalah Cakravartin.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana caranya kita memindahkan penduduk ?” tanya Adipati Narajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gunakan kesempatan ketika kami melakukan penghadangan terhadap gerakan Amukhsara di utara. Kami akan mengulur waktu sebanyak mungkin agar kalian cukup waktu untuk memindahkan semua penduduk. Aku minta seratus prajurit untuk membantu, siapkanlah limartus prajurit untuk menjaga gerbang kota. Kita harus tetap memberikan perlawanan saat mereka memasuki gerbang kota agar mereka tidak bisa menerka tipu muslihat kita. Sementara sebagaian besar pasukan harus mengawal para pengungsi dan menyamar menjadi pengungsi. Aku akan mengirim kabar kepada Ayuthaya agar bersiap menerima kalian.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah aku akan menyiapkan seratus prajurit terbaik Angkor Wat untuk membantu kalian. Semoga Yang Maha Kuasa menolong kita semua.” Kata Adipati Narajaya. Semua yang hadir berdiri dan meninggalkan ruangan balai kota. Adipati Narajaya melepaskan pasukan yang sudah disiapkan membantu pasukan Narapati untuk menghadang Amukhsara. Para Garuda dikeluarkan dari wahana Pavaratha Pushpaka pengangkut. Para Garuda berpekik ria memanggil-manggil penunggangnya sehingga menimbulkan suasana gaduh. Sekitar seratusan prajurit kota Angkor Wat dipimpin langsung oleh Senopati Panaraban memenuhi alun-alun kota. Arghapati memimpin pasukan bergerak keluar gerbang kota. Tiga wahana Pavaratha mengangkasa ke udara bersamaan dengan terbangnya para Garuda mengiring di sekeliling wahana. Dimas, Pafi dan Raji berangkat secara terpisah setelah lepas dari gerbang kota dengan mengambil jalan ke ke timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas keberangkatan pasukan Narapati, kesibukan segera saja terjadi diseluruh kota. Adipati Narajaya memimpin pasukan yang tersisa untuk memanggil seluruh penduduk kota untuk segera bersiap mengungsi. Seluruh penduduk kota Angkor Wat dengan patuh mengikuti semua perintah yang diberikan. Pengungsian besar-besaran penduduk kota Angkor Wat segera dimulai. Dengan berjalan beriringan yang dikawal pasukan gajah dan kuda di sisi kiri dan kanan. Gerobak-gerobak pengangkut perbekalan, anak-anak, orang-orang tua dan yang sakit beriringan bergerak diantara para pengungsi yang berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dimas terus memacu Sighram berlari ke arah timur menembus lebatnya hutan. Pafi dan Raji mengikuti dari udara bersama Garuda masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji kita harus terbang rendah dan kasat mata. Gerakan kita tidak boleh terlalu kelihatan.” Kata Pafi dengan telepatinya kepada Raji. Tangannya menepuk memerintahkan Srigati mengikuti gerakan-gerakan Jethoraksa yang bergerak seperti burung yang kehilangan kendali terbang. Pafi tampak kesal karena kesulitan mengikuti gerak Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, katakan pada Garudamu agar jangan seperti burung mabuk seperti itu, atau sekalian aku gebuk sampai jatuh.” Kata Pafi galak. Raji menepuk punggung Jethoraksa. Garuda itu memekik ringan seolah sedang menggerutu. Akhirnya Jethoraksa dan Srigati terbang sejajar dan merendah mengikuti gerak Sighram di bawah kelebatan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, aku akan berada di depanmu untuk mengawasi jalan yang akan kita lalui. Pafi kau ikuti Dimas dari belakang.” Kata Raji sambil memacu Jethoraksa untuk mendahului. Pafi mengangguk dan membawa Srigati terbang lebih rendah lagi mengikuti gerakan Sighram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang bersamaan tubuh Garuda yang terbang rendah itu pun menghilang dari pandangan. Yang tampak hanya kebasan angin yang menerpa daun-daun di ujung pepohonan hutan. Sighram terus berlari diantara batang-batang pohon hutang hujan yang lebat. Gerakannya yang sangat lincah melompat menghindari bonggol-bonggol kayu pohon mati yang rebah termakan jamur. Dalam kecepatan gerak tersebut Dimas merasakan hutan seakan menyempit dan makin mengurung dirinya dan Sighram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sighram, sepertinya kita melewati hutan larangan. Pohon-pohon disini seperti bergerak merapat menghalangi jalan kita. Lebih baik kita berhenti dulu.” Kata Dimas kepada harimau putih itu. Sighram menghentikan larinya dan terlihat waspada. Pohon-pohon disekeliling Dimas bergerak merapat dan hanya memberikan ruang berupa lingkaran. Tidak ada satu celahpun yang bisa dilalui dari kurungan pohon-pohon itu. Sighram menggeram keras, Dimas mencoba menenangkan harimau itu dan berusaha tenang. Tak lama kemudian sebuah celah terbuka dan muncul seorang gadis kecil bermata sipit sebaya dengan Dimas memakai mahkota yang terbuat dari ranting-ranting kayu dengan kuntum-kuntum bunga kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm….orang asing dan Narasimha, pasangan yang jarang terjadi. Sepertinya mengandung gizi yang cukup untuk pohon-pohonku.” Kata gadis kecil itu dengan bertolak pinggang. Sighram menggeram marah, badannya sudah siap untuk menerkam. Dimas mengusap punggungnya agar menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kesalahan telah kubuat sehingga kau mengurungku.” Tanya Dimas dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hihihihihihihi huahahaha hahahahaha…….. kesalahan, hahahahaha. Aku tidak perlu sebuah kesalahan untuk mengurungmu. Seperti bangsa manusia yang membuat perangkap untuk menangkap buruan, kau adalah buruanku yang akan jadi makanan pohon-pohonku.” Kata gadis kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku yang telah masuk ke wilayahmu, tapi aku tidak bisa menjadi makanan untuk pohon-pohonmu. Aku sedang terburu-buru dan tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu.” Kata Dimas tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar, serang!!” kata gadis kecil itu. Serta merta pohon-pohon itu menyerang Dimas dengan menghantamkan cabang-cabangnya ke arah Dimas dan Sigram. Dimas dengan sigap membuat perisai gaib menahan pukulan cabang-cabang pohon dari berbagai arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“EKHARA SOBIENH”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas punggung Srigati Udara Pafi merapalkan mantra yang membuat angin putting beliung berputar bergulung-gulung melindungi Dimas dan Sighram dari serangan. Angin putting beliung itu makin lama makin besar menghisap pohon-pohon yang mengurung Dimas. Setiap kali barisan depan pohon-pohon terhisap angin putting beliung ciptaan Pafi, tumbuh pohon baru yang makin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ada bantuan dari atas rupanya. Kerahkan semua kemampuanmu Narapati. Hihihihih…ayo pohon-pohonku tangkap makanan kalian.” kata gadis kecil itu. Sulur-sulur pohon melesat ke udara berusaha menangkap Srigati yang sedang terbang berputar. Dengan gesit Srigati menghindar, tetapi banyaknya sulur yang melesat membuat sebagian sanggup merenggut kaki Srigati. Garuda itu kontan tertahan di udara dan berusaha mengepakan sayapnya lebih kencang ke udara. Tetapi sulur-sulur yang mengikat kakinya makin banyak dan membuat Srigati kehilangan keseimbangan. Pafi yang berada di punggung Srigati berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya agar tetap berada di atas Srigati yang meliuk-liuk diudara menahan tarikan sulur-sulur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat situasi kritis tersebut Dimas menjejakan kakinya tiga kali sambil merapalkan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ASSBAN BHUMI” pohon-pohon yang mengurung Dimas terhisap ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pemilik kekuatan bumi, tunduklah kalian kepadaku atau aku hancurkan kalian semua.” Kata Dimas sambil menjejakan kakinya ke tanah tiga kali. Tanah yang dipijaknya bergetar hebat. Seketika pohon-pohon itu berhenti bergerak. Gadis kecil itu terkejut melihat pohon-pohonnya berhenti bergerak. Kakinya perlahan-lahan terhisap tanah yang dipijaknya. Gadis kecil itu sendiri terpaku di tanah tak mampu menggerakan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun…ampunkan hamba gusti.” Teriak gadis kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hancurkan saja kekuatannya Dimas.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kita tidak perlu melakukan itu. Dia sudah meminta ampun artinya dia sudah mengakui kekalahannya dan akan tunduk kepadaku.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba tunduk kepada perintah paduka, ampunkan hamba tuanku.” Gadis kecil itu menundukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namamu ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama hamba, Jagawana Tunggadewi. Hamba yang mengasuh pohon-pohon di hutan ini.” Kata Gadis kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kau aku ampuni.” Kata Dimas. Pafi dan Raji hampir saja berusaha mencegah, tetapi Dimas mengangkat tangannya agar keduanya untuk diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangunlah. Oh ya, namaku Dimas dan ini temanku Raji dan Pafi. Kami tidak bermaksud mencari musuh disini. Kalau kau bersedia menjadi teman kami, akan sangat menyenangkan sekali.” Kata Dimas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Mendapatkan uluran tangan seperti itu Jagawana Tunggadewi bukannya menyambutnya malahan dia menangis tersedu dan bersujud di depan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuuu….belum pernah ada yang mau menjadi temanku selama ini, aku sangat terharu. Huuuu……” Jagawana Tunggadewi terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau mau jadi teman kami ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..iya aku mau sekali, terima kasih atas kebaikan kalian. Aku berjanji akan selalu menjadi teman kalian selamanya.” Kata Jagawana Tunggadewi sambil bangkit dari sujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimalah tuanku, ini sebagai tanda persahabatan dari hamba.” Kata Jagawana Tunggadewi menyodorkan kantong kulit itu. Dimas menerima kantong kulit yang diserahkan Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau ingin jadi teman kami, panggillah dengan nama saja, tak perlu dengan tuanku.” Kata Dimas yang diangguk setuju oleh Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benda apa ini ?” tanya Dimas membuka kantung kulit ditangannya. Sinar putih keemasan menyeruak dari dalam kantung kulit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu adalah batu bintang Satuasra, hamba menemukannya di hutan ini.” Kata Jagawana Tunggadewi. Mendengar nama benda yang diberikan Dimas dan Pafi terbelalak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu Bintang Satuasra ?” kata Pafi terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya batu apa sampai kau begitu kaget ?” tanya Raji. Pafi kelihatan malas menjawab pertanyaan Raji. Pertanyaannya Raji menurutnya terlalu bodoh untuk dijawab dan keterlaluan kalau benda paling penting di dunia Narapati sampai tidak diketahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu bintang Satuasra adalah Batu bintang yang menjadi sumber tenaga untuk berdirinya dunia Narapati. Terdapat 7 pecahan batu bintang Satuasra. Pecahan paling besar dan utama ada di perut Cakravartin, sementara yang enam lainnya merupakan pecahan kecil yang menurut legenda disembunyikan oleh para leluhur agar tidak digunakan oleh orang-orang yang berniat jahat.” Dimas dengan sabar menjelaskan kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau mendapatkannya ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu bintang ini semula dijaga oleh para pohon penjaga, tetapi aku berhasil mengambilnya setelah aku memenangkan permainan teka-teki bersama mereka.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teka-teki ?” Dimas keheranan dengan cara Jagawana Tunggadewi mendapatkan benda yang sangat penting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, teka-teki. Mereka memberi teka-teki, dan jawabannya menuntunku kepada tempat dimana batu bintang Satuasra disembunyikan.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Jagawana, kami harus melanjutkan perjalanan. Dapatkah kau menunjukan arah yang benar untuk menuju Hoa-Binh.” Pinta Dimas kepada Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoa-Binh adalah tempat yang cukup jauh, wilayah itu sangat berbahaya, aku sendiri pun jarang ke sana. Banyak pohon-pohon asuhanku mati terbakar akibat ulah para naga Jalatunda. Tapi aku bisa membuat jalur menuju ke arah sana asalkan aku diijinkan untuk ikut bersama kalian.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sedang dalam tugas berbahaya dan kemungkinan akan mengorbankan nyawa untuk ini.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persahabatan yang kalian berikan kepadaku lebih berharga dari sekedar mengorbankan nyawaku. Aku bersedia menukarnya dengan apapun asalkan tetap menjadi sahabat kalian.” Kata Jagawana Tunggadewi. Wajahnya menyinarkan kesetiaan dalam yang sudah diikrarkannya di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sekarang tunjukanlah jalannya.” Dimas langung bersiap menunggangi Sighram. Jagawana Tunggadewi tersenyum gembira kemudian membalikan badanya menghadap ke utara kemudian mendendangkan nyanyian lembut yang menggema ke seluruh hutan. Setelah nyanyian Jagawana Tunggadewi selesai pohon-pohon bergeser membentuk sebuah celah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naiklah bersamaku.” Kata Dimas kepada Jagawana Tunggadewi agar menaiki Sighram di belakangnya. Tanpa banyak tanya Gadis kecil itu melompat naik. Pafi dan Raji kembali mengudara bersama Srigati dan Jethoraksa. Sighram langsung melesat menyusuri celah diantara pepohonan. Kehijauan hutan sangat menyegarkan dengan suara-suara hewan liar menggema di seantero rimba. Pafi di atas punggung Srigati menciptakan angin yang sangat kencang mendorong semua mendung. Membutuhkan satu siang untuk bisa tiba di wilayah Hoa-Binh yang terletak di wilayah aliran sungai hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah sudah dekat dengan wilayah Hoa-Binh, di seberang sungai ini adalah wilayah yang kita tuju.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi dan Raji menukik dari udara mendaratkan Garuda mereka tepat di tepi sungai hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari sudah gelap, lebih baik kita beristirahat disini.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengumpulkan ranting-ranting kering membuat api unggun di tepian sungai di bawah langit hitam yang masih kebiruan sisa mentari sore. Aliran sungai yang tenang sedikit diriakan oleh lemparan tombak dari Raji yang berusaha menangkap ikan untuk makan malam mereka. Setelah memberikan sebagian besar kepada Sighram, Srigati dan Jethoraksa, Raji membawa sisa ikannya untuk di panggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati ikan bakar, mereka duduk mengelilingi api unggun. Jethoraksa terlihat manja sekali mengelus-eluskan kepalanya ke pangguan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku tahu apa yang sedang kita kejar ?” tanya Jagawana Tunggadewi. Dimas menatap Jagawana, ada sesuatu yang dipikirkannya. Raji dan Pafi menunggu apa yang akan dikatakan Dimas. Sejenak Dimas menatap Pafi dan Raji seperti ada suatu hal yang sedang mereka rundingkan melalui tatapan tersebut. Kemudian tatapan Dimas kembali kepada Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sedang dalam perjalanan untuk menghadang gerak pasukan Amukhsara di perbatasan utara.” Kata Dimas yang begitu hati-hati menjelaskan maksud perjalanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengerti sekarang mengapa begitu banyak Naga Jalatunda berbentuk yang tidak seperti biasanya berkeliaran di Dong-Son. Aku tidak pernah melihat jenis naga ini sebelumnya. Mereka mengeluarkan api dari mulutnya dan membakar banyak pohon-pohon asuhanku. Kulit sisik hitam legam dan mengkilat seperti logam dengan tubuh dan sayap seperti Garuda.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana daerah Dong-Son ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelah timur dari tempat kita sekarang, tunggu…….” Jagawana diam seolah sedang mendengarkan sesuatu. Bagi Dimas, Raji dan Pafi yang terdengar hanyalah suara gesekan daun yang tertiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sedang mendengarkan pohon-pohon berbicara.” Kata Pafi yang cukup paham dengan bahasa angin yang dibawa oleh pohon-pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendapat kabar dari pohon-pohonku bahwa ada serombongan pasukan Garuda terbang melintas beberapa waktu yang lalu di sebelah barat aliran sungai Ngum.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kita berada di belakang mereka.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ini sudah sesuai rencana kita ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti demikian, kita memang seharusnya datang lebih lambat dari mereka supaya kehadiran kita tidak terlalu diawasi.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu besok kita tidak bisa berada di udara, karena hal itu akan membuat kedatangan kita cepat terendus.” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa meminta pohon-pohonku untuk menyamarkan perjalanan kita.” Kata Jagawana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kita bisa jalan di darat, tapi bagaimana dengan Jethoraksa dan Srigati. Mereka berdua tidak bisa berjalan cepat di darat.” Tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rasa mereka berdua bisa harus terbang sendiri, sehingga seolah mereka adalah Garuda–Garuda tanpa tuan.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya dimana kita akan melakukan penghadangan, di Hoa-Binh atau Dong-Son ? Karena kedua tempat itu adalah tempat yang memiliki sifat yang berbeda. Dong-Son memiliki sifat liar dan buas karena merupakan tempat berkumpulnya para naga. Sedangkan Hoa-Binh adalah tempat para peri tinggal yang sangat baik dan membantu. Peri-peri disana dipimpin oleh seorang Peri tertinggi yang mereka sebut Peri Agung. Peri Agung lah yang menentukan semua yang berlaku di wilayah Hoa-Binh. Menurut legenda Peri Agung mengetahui segala jawaban semua pertanyaan.” Kata Jagawana Tunggadewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat penghadangan adalah aliran sungai Mekhong di selatan Yunan persis di perbatasan Khitai. Tapi kita akan ke Hoa-Binh dulu bertemu para peri di sana setelah itu kita menuju Mekhong.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi memasuki wilayah Hoa-Binh tidaklah mudah, para peri sangat melindungi wilayahnya dengan banyak sihir hebat sehingga tidak mudah untuk ditemui. Aku sendiri tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung.” Kata Jagawana Tunggadewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ini aku rasa tidak akan terlalu sulit bukan ?” kata Dimas sambil menunjukan kantong kulit yang berisi batu bintang Satuasra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau bagaimana menggunakannya ?” tanya Jagawana Tunggadewi. Dimas menggelengkan kepalanya, semua terlihat heran dan mengira-ngira apa yang akan dilakukan Dimas dengan batu bintang Satuasra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa peri adalah bangsa yang sangat menyukai cahaya, dan batu bintang Satuasra adalah sumber cahaya yang paling menggoda di permukaan bumi. Kalau kita tidak bisa menemukan mereka, kita akan memancing mereka keluar.” Kata Dimas dengan mengerutkan dahinya ke atas sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tahu bahwa sebenarnya dia bisa menggunakan mata sethinya untuk menemukan dimana tempat tinggal para peri itu. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak sembarangan menggunakannya. Raji dan Pafi pun tahu kalau Dimas tidak mau kemampuannya diketahui banyak orang. Sejauh ini selain mereka berdua hanya Ratu Selatan dan Prabu Narayala yang mengetahui kemampuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin larut, udara semakin dingin. Taburan bintang di langit mengelipkan cahaya indah ditemani bunyi jangkrik dan lembayan kelap-kelip kunang-kunang. Sighram tampak tetap terjaga dan sangat waspada terhadap setiap suara dan gerakan. Pohon-pohon asuhan Jagawana merapat melingkar seakan menjadi sebuah benteng yang tak dapat ditembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin pagi mulai menjalari seluruh tubuh. Api unggun telah padam tinggal menyisakan abu dan arang kayu yang masih merah membara. Matahari tampaknya cepat sekali bersinar ditempat ini, sinar hangatnya segera saja menyingkirkan udara dingin. Setelah menutup semua sisa api unggun semalam perjalanan dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita berangkat.” Dimas mengajak ketiga temannya untuk bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membuat jembata air.” Kata Raji dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sihirmu tidak akan bekerja di sungai hitam, karena para peri di Hoa-Binh sudah menyebar sihir-sihir anti sihir di sepanjang sungai hitam dan sungai merah yang menjadi perbatasan tempat tinggal mereka.” Kata Jagawana yang membuat Raji urung melakukan aksi pamernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah kau baru mengatakannya sekarang kalau sihir kita tidak akan bekerja di wilayah para peri. Bagaimana kalau ada yang menyerang kita, lalu dengan apa kita akan menyeberang ke sana ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak akan diserang apapun selama masih berada di wilayah Peri. Para Peri juga tidak akan menyerang kita tapi juga tidak akan menampakan diri jika tidak mereka perlukan.” Kata Jagawana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira kita bisa menyebrangnya dengan para Garuda, setelah kita tiba di seberang para Garuda kembali ke tempat ini.” Kata Dimas sambil mengelus-elus kepala Sighram seperti berpamitan. Binatang itu mengeluskan kepalannya ke badan Dimas seperti mengerti maksud dari tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara lagi mereka segera menaiki punggung Srigati dan Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Jethoraksa, terbanglah ke seberang sungai.” Raji menepuk punggung Jethoraksa. Garuda itu mengerti dan sekali kepakan sayap mereka langsung mengudara menyebrangi sungai hitam. Srigati yang membawa Pafi dan Jagawana juga ikut mengudara dan menyeberangi sungai. Sementara Sighram duduk menunggu di pinggir sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di seberang sungai para Garuda kembali lagi ke tempat Sighram menunggu. Mereka kemudian memasuki hutan yang begitu rapat dengan pohon-pohon dengan ukuran yang sangat besar. Kerapatan atap hutan membuat cahaya tidak mampu menembus lantai hutan. Dimas mengeluarkan kantong kulit yang berisi batu bintang Satuasra. Sinar putih kekuningan menyeruak keluar dari kantong kulit itu dan ketika Dimas mengeluarkan dari kantongnya sinar batu bintang Satuasra menerangi ruangan hutan. Mereka terus bergerak diantara batang-batang pohon yang berjajar rapi seakan penanamannya sudah diatur seperti sebuah susunan pilar-pilar bangunan yang menyangga atapnya. Dahan-dahan pertama yang sangat tinggi menjulur saling menyatu membentuk relung-relung seolah menjadi bagian langit-langit dari sebuah koridor ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.” Kata Jagawana Tunggadewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kita melihat ruangan hutan ini dengan cahaya biasa. Cahaya batu bintang Satuasra memiliki kekuatan untuk menyingkap apapun yang telah ditutupi oleh sihir.” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus berjalan memasuki lorong hutan lebih dalam hingga tiba di sebuah ruangan seperti sebuah balairung dengan langit-langit dahan yang lebih tinggi. Sebelum mereka semua melangkah lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang sangat merdu menggema ke seluruh ruangan hutan. Nyanyian yang terasa begitu memilukan hati. Dimas paham nyanyian itu adalah bentuk sapaan bangsa peri terhadap setiap tamu yang baru datang dan ingin ditemui mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauh nasib melangkahkan raga untuk menemukan jiwa yang kelana entah dimana Melintasi tanah-tanah kematian, menghadang bencana, mencari sesuatu yang tak perlu dicari. Mengapa masih mencari padahal cahaya timur telah bersamanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lorong yang berada di seberang balairung itu muncul seorang lelaki dewasa yang bersinar sangat cerah. Sinar kuning keemasan memancar dari seluruh tubuh dan pakaiannya. Matanya yang biru tajam menyorotkan aura yang tidak bisa ditahan oleh siapapun kecuali, Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami telah mengganggu ketenangan anda semua. Kami datang bermaksud meminta pertolongan.” Kata Dimas yang tetap menatap pandangan sang lelaki. Sementara Raji, Pafi dan Jagawana sudah tidak tahan dengan perasaan yang begitu bersalah, menyesal dan perasaan sedih lainnya akibat nyanyian dan tatapan lelaki tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Pembawa Buku kehidupan, mengapa begitu jauh langkah kakimu ? Pertolongan apa yang hendak kau cari ?” tanya lelaki peri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati dalam perang dengan Amukhsara, Dunia tengah dalam bahaya.” Kata Dimas singkat sambil memasukan kembali batu bintang Satuasra ke dalam kantong kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peri tidak ikut campur dalam pertarungan siapapun, Narapati harus berperang sendiri.” Kata lelaki peri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati tidak meminta para Peri ikut berperang, Narapati hanya ingin bertanya dan mendapatkan jawaban.” Kata Dimas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, pertanyaan dan jawaban. Ikutilah aku.” Kata lelaki peri itu membalikan badannya masuk ke dalam lorong. Kemudian mereka melangkah mengikuti peri, tetapi Raji, Pafi dan Jagawana masih tetap dengan perasaan sedih mereka dan kali ini air mata sudah mengalir deras dari kedua mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahanlah perasaan kalian dulu.” Kata Dimas kepada tiga sahabatnya yang sudah sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah balairung yang sangat megah dengan cahaya lampu berbentuk bunga terompet berjumlah ratusan menggantung lurus dengan panjang tak berarturan dari langit-langit dahan. Sebuah kursi tahta yang diduduki oleh seorang wanita muda dengan pakaian putih panjang dan mahkota kecil di dahinya. Di kiri dan kanannya berjajar para wanita dan pria dengan ciri-ciri yang sama dengan lelaki peri tadi. Mungkin ini yang dimaksud Peri Agung oleh Jagawana, kata Dimas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas memberi hormat dengan membungkukan badannya. Sementara Raji, Pafi dan Jagawana langsung bersimpuh di lantai di belakang Dimas. Perasaan sedih yang mereka rasakan makin menjadi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri Agung melambaikan tangannya meminta Dimas mendekat sementara tangan yang lainnya memberi isyarat perintah kepada seorang peri yang membawa kendi air. Peri yang membawa kendi air mendekati Raji, Pafi dan Jagawana. Kemudian memberikan mereka minum satu per satu. Setelah air kendi masuk ke dalam kerongkongan mereka, semua perasaan sedih hilang begitu saja. Rupanya air itu adalah penangkal dari sihir rasa sedih yang mengenai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang wahai Sang Narayana, kedatanganmu menjadi dilema bagi kaum Peri. Kau datang dengan cahaya bintang dan juga sekaligus bayangan kegelapan. Pada sisi yang mana kau akan berikan kepada kami, kami pun tak tahu.” Kata Peri Agung dengan menatap Dimas sambil tersenyum. Suara wanita itu begitu lembut dan menyentuh lembut ke dalam dada dan membuat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami datang hanya ingin mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban.” Kata Dimas. Dia tahu mengajukan pertanyaan saja tidak cukup kalau tidak mendapatkan jawabannya. Sang Peri Agung merasakan kecerdikan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau mempunyai tiga pertanyaan yang kau inginkan untuk mendapat jawaban anakku.” Tanya Peri Agung kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanakah cara mengalahkan Naga Jalatunda ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmm.. Naga Jalatunda, air ketuban akan membersihkan semua sihir yang melekat ditubuhnya.” Kata Peri Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimanakah letak 5 batu bintang Satuasra yang tersisa. ?” tanya Dimas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana semua bermula tak akan berakhir, semuanya senantiasa baru disanalah semuanya tersimpan.” Kata Peri Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tinggal memiliki satu pertanyaan lagi anakku, bijaksanalah dalam menggunakannya.” Kata Peri Agung. Dimas diam sejenak, pikirannya melayang mencari sebuah pertanyaan yang tersisa di kepalanya. Menengok ke arah Raji, Pafi dan Jagawana seakan hendak mendapatkan pertanyaan itu dari kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimanakah aku bisa menemukan makam kedua orang tuaku ?” kata Dimas menyelesaikan pertanyaan terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaanmu yang terakhir tidaklah sulit untuk aku jawab, tapi sudah siapkah mendengar jawabanku ? Aku bisa memberikan jawaban yang kau inginkan atau kau ingin jawaban yang sebaliknya. Apakah kau tidak ingin tahu bagaimana kedua orang tua kedua sahabatmu ?” kata Peri Agung seolah tahu apa yang dipikirkan. Diantara rasa tak siap akan mendengar kenyataan pahit dan rasa bersalah setelah mendengar sindiran dari Peri Agung. Raji dan Pafi memegang pundak Dimas, seakan keduanya mengerti situasi perasaan Dimas yang tersudut oleh sindiran Peri Agung. Walaupun merasa lebih lega tapi rasa bersalah terhadap kedua sahabatnya masih tetap terselip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ke langit tak ke bumi, jiwa merana di antara dunia-dunia. Dimana makam jika tak ada jasad. Penantian panjang menanti pemuasan kerinduan.” Kata Peri Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menarik nafas dalam, ada sesak di dada entah rasa sedih atau luapan kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas kemurahan hati Peri Agung.” Kata Dimas yang berusaha terus menahan luapan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah wahai Narapati, perang kali ini hanyalah awal dari perang dahsyat yang tidak hanya dimenangkan oleh golongan putih tetapi juga oleh golongan hitam. Malaikat mengambil jalan iblis, iblis tersenyum di balik wajah malaikat. Jadi dimana kebenaran diletakan ? Kebenaran hanya akan menjadi sebuah nilai yang ditentukan oleh siapa yang kuat dan berkuasa. Perang abadi akan terus berlangsung tapi kau tidak bisa membedakan siapa musuhmu. Janganlah kau sampai salah mengambil cara untuk memenangkan perang ini.” Peri Agung memberikan isyarat kepada peri yang menyambut kedatangan Dimas, Raji, Pafi dan Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambilah jalan melalui hulu sungai hitam dan sungai merah. Berjalanlah lurus terus ke utara, kalian akan tiba di perbatasan Hoa-Binh sebelum matahari mencapai ubun-ubun, perjalanan selanjutnya menuju perbatasan Khitai adalah menjadi pilihan kalian.” Peri Agung memberikan petunjuk. Peri Agung bangkit mendekat, tangannya menyodorkan masing-masing sebuah busur panah kepada Raji dan Pafi. Raji dan Pafi agak gugup mendapatkan kejutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimalah busur panah Cakrabuwana ini.” Peri Agung menyerahkan dua busur panah kepada Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Peri Agung.” Kata Raji dan Pafi bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji, Pafi dan Jagawana berangsur pamit diantar seorang peri lelaki sampai keluar gerbang. Matahari terlihat masih muda, sinarnya sesekali menembus rapatnya dedaunan hutan. Jagawana memimpin di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah kita sekarang berada di wilayah yang sudah terbebas dari sihir Peri Agung. Kalian beruntung sekali mendapatkan busur Cakrabuana. Busur itu ditempa oleh para pandai besi bangsa peri dan dilengkapi sihir-sihir hebat. Anak panah apapun yang digunakan, dia akan mampu menembus dinding setebal benteng.” Kata Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenapa Peri Agung memberikan Busur ini kepada kita berdua saja, sementara kau tidak.” Kata Raji .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peri Agung pasti punya maksud, kita akan mengetahuinya saat kita membutuhkannya. Sekarang bagaimana mengartikan jawaban-jawaban Peri Agung. Apa yang dimaksud dengan air ketuban naga dan tempat semuanya dimulai. Kita harus menerka teka-teki ini.” Kata Dimas dengan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air ketuban ? Dimana kita bisa mendapatkan air ketuban naga ? masak kita harus menunggui naga beranak.” Kata Raji sambil garuk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rasa istilah ketuban naga bukanlah dalam arti yang sebenarnya tetapi lebih merupakan kiasan.” Kata Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku setuju, ketuban naga tetap mengartikan bahwa benda yang dimaksud berupa air.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lebih baik kita mencari sejarah kelahiran naga Jalatunda nanti setibanya kita di Medanggana Raya.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku heran mengapa kau menanyakan soal batu bintang Satuasra ? Apakah kau akan mengumpulkan semuanya ?” tanpa Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu, nuraniku mengatakan hal ini akan menjadi sangat penting pada saatnya. Tapi aku tidak terpikir untuk mengumpulkan semuanya.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan terakhir ?” tanya Jagawana dengan polosnya. Mendengar pertanyaan itu Dimas langsung terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku yang hanya memikirkan diriku sendiri sampai aku lupa tentang kalian.” Kata Dimas dengan nada suara yang lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Dimas, kau tak perlu merasa seperti itu. Keberadaan orang tua kami sudah jelas keberadaannya dalam bentuk makam. Tetapi kau cuma mendapatkan cerita tentang meninggalnya kedua orang tuamu tetapi tidak dijelaskan dimana mereka dikuburkan.” Kata Raji berusaha membuat Dimas tidak merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Dimas, aku pun akan bertanya jika aku tahu ada yang bisa menunjukan dimana makam kedua orang tuaku. Masalahnya aku sudah mengetahui dimana mereka dikuburkan, jadi tak perlu bertanya lagi.” Kata Pafi ikut menenangkan Dimas. Dimas merasa beruntung sekali mendapatkan dua sahabat yang begitu pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku atas pertanyaan tadi.” Kata Jagawana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, lebih baik kita melanjutkan perjalanan menuju lembah Mekhong.” Dimas mengajak teman-temannya untuk segera berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berempat tidak melanjutkan lagi pembicaraan mereka. Perjalanan dilanjutkan dengan berlari. Gesekan ranting-ranting diiringi silir angin meniup daun-daun yang mengiringi laju lari keempat remaja itu. Mengiringi perjalanan panjang yang masih misterius bagi siapapun bahkan untuk Dimas sendiri. Itulah uniknya kehidupan, rasanya makin menantang dan memberi semangat karena ada hal yang tidak diketahui di depan sana yang memberikan harapan. Perjuangan Narapati untuk membuat dunia tetap memiliki harapan dengan menjaganya tetap menjadi misteri masih belum berakhir. Harapan itu kini diletakan di pundak sang pembawa buku kehidupan bersama para pahom narendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------ **** ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan makin menanjak, Jagawana seperti tidak pernah kehabisan tenaga dengan lincah melompat ke sana kemari. Andaikan saat kakinya terpeleset, sebuah cabang pohon dengan cekatan seperti sebuah tangan meraihnya. Seakan semua pohon di hutan Hoa-Binh hidup dan menjaganya terus menerus. Dimas, Raji dan Pafi mengikuti gerakan dari lantai hutan. Tanah-tanah gembur bercampur lumut dan ranggasan daun berderak bersama ranting yang terinjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa istirahat sebentar ?” kata Raji yang sudah begitu kelelahan. Keringatnya mengucur deras membasahi kening dan seluruh wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rasa kita bisa istirahat sebentar.” Jagawana turun dari cabang pohon dengan sekali lompat menjejakan kakinya di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tidak pernah lelah Jagawana ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana aku merasa lelah, aku hanya mengeluarkan sedikit tenaga. Sejak tadi aku diayun-ayun oleh pohon-pohon asuhanku.” Kata Jagawana. Pafi maupun Raji mengangguk-angguk mengerti mengapa Jagawana terlihat santai sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak boleh terlalu lama beristirahat, karena kemungkinan pasukan kita sudah berhadap-hadapan dengan Amukhsara. Masih berapa jauh dari tujuan kita ?” kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, andaikan aku bisa naik Jethoraksa.” Kata Raji mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita tidak berhenti lagi dan tetap pada kecepatan yang sama, aku rasa kita akan tiba di tujuan sebelum tengah hari” Kata Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa beristirahat lagi mereka melanjutkan perjalanan tanpa berhenti sekalipun. Makanan yang mereka makan hanyalah yang tersisa di perbekalan mereka, itupun dimakan sambil berlari. Sesekali Jagawana melempar buah-buahan yang dipetiknya dari pohon-pohon hutan kepada Dimas, Raji maupun Pafi. Sampai tengah hari dimana matahari tepat dipuncak ubun-ubun langit yang cerah mereka akhirnya tiba di ujung utara perbatasan bernama Khitai. Bukit tebing yang cukup tinggi memberikan pandangan yang cukup luas untuk pengamatan wilayah di bawahnya. Terlihat pasukan Narapati sudah siap dan berhadap-hadapan dengan pasukan Amukhsara yang memiliki jumlah pasukan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari siang yang tadi begitu cerah perlahan berangsur gelap tertutup bayangan awan tebal yang menutupi seluruh lembah bersama gerakan pasukan Amukhsara mendekati barisan Narapati. Suara teriakan-teriakan dari pasukan Amukhsara dengan tunggangan srigala Cakracakra mengambil inisitatif untuk menyerang lebih dulu. Hampir bersamaan setelah gerakan itu pasukan Narapati yang menunggang Narasimha melompat menyambut serangan pasukan srigala Cakracakra setelah perintah serangan dilakukan. Begitu bertemu di tengah, para Narapati dan Amukhsara melompat dari tunggangan masing-masing dan langsung menghunus pedang. Sementara para Narasimha dan Cakracakra saling bergumul. Setelah beberapa saat pasukan naga Jalatunda terbang menyerang yang disambut oleh pasukan Garuda. Manuver-manuver menukik dan meluncur deras diantara dua wahana Pavaratha rudra yang sudah saling berhadapan. Serangan-serangan dilancarkan para naga Jalatunda yang sudah mengalami perubahan bentuk baik ke arah para Garuda maupun Pavaratha Narapati. Semburan-semburan api dari mulutnya menyapu apapun yang berada di permukaan tanah tidak peduli pasukan dari Narapati ataupun Amukhsara. Para Garuda menghindar ke sana kemari sambil sesekali melakukan serangan ke darat ke arah pasukan Amukhsara. Kadang-kadang tidak semua Garuda bisa menghindar, ada yang harus berdebum ke tanah terkena semburan api para naga Jalatunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua wahana Pavaratha Rudra yang saling berhadapan mulai melakukan manuver saling menyerang. Pavaratha Rudra Amukhsara memiliki bentuk yang berbeda dengan milik Narapati. Layar-layarnya yang terkembang compang-camping seperti hasil kumpulan kain-kain perca. Warnanya yang kusam dan berlumut seolah sudah lama terendam di dalam air. Meriam-meriam yang ditempatkan di bagian depan dan belakang geladak terlihat seperti terbuat dari batu yang meleleh tak beraturan. Semburan-semburan sinar merah mulai meluap dari mulut-mulut Pavaratha Rudra Amukhsara. Dalam waktu yang bersamaan semburan sinar biru meluncur dari geladak Pavaratha Rudra Narapati. Serangan-serangan itu hanya membentur dinding kosong, tetapi benturannya begitu terasa bergetar ke dalam lambung wahana. Masing-masing wahana dilindungi oleh perisai-perisai gaib yang menahan setiap serangan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dimas dan kawan-kawannya mulai berpikir mencari cara untuk bisa memancing seekor naga Jalatunda terbang ke arah mereka. Upaya mereka harus benar-benar tersembunyi dan lolos dari pengawasan para Amukhsara. Hal itu penting agar saat penangkapan dilakukan, tidak datang bantuan yang akan menyulitkan penyelidikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat pasukan naga Jalatunda sudah mulai bergerak.” Pafi menunjuk ke arah gerakan pasukan naga Jalatunda yang mulai mengudara menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, Raji panggil Srigati dan Jethoraksa. Minta mereka untuk memancing satu naga Jalatunda ke arah kita.” Kata Dimas. Pafi dan Raji berkonsentrasi sejenak dan tak lama kemudian dua ekor Garuda dari balik bukit yang terbang menghampiri pertempuran. Kedua ekor Garuda itu seakan sedang bekerja sama memancing seekor naga Jalatunda. Seekor naga Jalatunda berhasil dipancing perhatiannya dan bergerak menyerang Srigati. Garuda betina itu menukik ke angkasa disusul oleh naga Jalatunda dengan semburan-semburan api dari mulutnya. Jethoraksa mengikuti semua gerakan naga Jalatunda yang mengejar Srigati dari belakang. Srigati terus terbang ke arah tempat Dimas, Raji, Pafi dan Jagawana berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lihat Srigati telah berhasil membawa seekor naga Jalatunda, ayo kita bersiap. Pafi kau ciptakan angin putting beliung, tahan dia di dalam pusaran. Jagawana, bersiaplah menarik naga itu dengan pohon-pohon sulur dan kalau sampai ke daratan ikatlah. Raji kau harus siapkan serangan air untuk meredam semburan api dari mulutnya dan melumpuhkan Amukhsara yang menungganginya.” Dimas membagi tugas serangan kepada teman-temannya. Naga Jalatunda yang mengikuti Srigati terus mengejar dan menyeburkan api. Pada jarak yang tidak terlalu jauh dari berdirinya Pafi melakukan serangan. Sebuah angin putting beliung berhembus muncul dari permukaan tanah kemudian meninggi hingga menjebak naga Jalatunda itu di dalamnya. Raji langsung melakukan serangan ke arah Amukhsara penunggangnya hingga jatuh dan kemudian di kurung dalam bongkahan es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagawana cepat keluarkan pohon-pohon sulurmu, anginku tidak akan cukup lama menahan semburan apinya.” Pafi mendesak Jagawana untuk segera bertindak. Sebelum Jagawana bertindak, Raji terlebih dahulu melakukan serangan. Sebuah pusaran air yang diambilnya dari aliran mata air di semprotkan ke arah mulut sang naga. Sementara Jagawana melontarkan pohon-pohon sulurnya membelit ke seluruh tubuh naga itu. Naga itu berontak dan berusaha melepaskan diri dengan mencoba terbang lebih tinggi, tapi kurungan angin ciptaan Pafi terus menahannya dan perlahan naga itu makin turun ke tanah dan terikat di sebuah pohon yang besar. Sang naga mengeluarkan suara teriakan yang sangat nyaring dan sesekali berusaha menyemburkan api dari mulutnya. Tetapi Raji memadamkannya dengan semburan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagawana, kau bisa ikat mulutnya, karena kalau tidak aku akan kehabisan air untuk memadamkan mulutnya.” Kata Raji ngedumel. Jagawana kemudian menyuruh sulur-sulur pohonnya mengikat mulut naga Jalatunda itu. Dimas mendekati naga yang masih terus meronta-ronta. Bentuk tubuh naga Jalatunda sekarang benar-benar berubah, kulit sisik berwarna hitam mengkilat dengan sayap mirip Garuda, ekor kadal yang panjang dengan ujungnya yang bersirip. Dimas menunduk memegang tanah dan perlahan naga yang terikat itu terhisap ke dalam tanah hingga setengah bagian kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membaca pikirannya, bantu aku jika terjadi sesuatu denganku.” Kata Dimas yang mulai meraba bagian tubuh naga itu, sementara Pafi dan Raji langsung bersiap untuk melakukan serangan kepada naga itu jika terjadi sesuatu terhadap Dimas. Dimas memulainya dengan menyentuh bagian dada. Bola matanya yang terpejam bergerak-gerak seperti sedang melihat lintasan-lintasan sesuatu yang bergerak di depan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak mempan dengan mantra pembeku ataupun mantra-mantra pelumpuh lainnya. Kalau terjadi sesuatu dengan Dimas kita harus menghantamnya sekuat yang kita bisa.” Kata Pafi yang pernah sekali berhadapan dengan naga Jalatunda. Naga itu terus meronta-ronta, tatapan matanya yang merah menyala menyorot tajam kepada Dimas yang sedang terpejam. Tiba-tiba Dimas membuka matanya dan menatap balik tatapan sang Naga. Mata Dimas telah berubah menjadi biru terang tanda dia sedang menggunakan mata Sethi-nya untuk masuk ke dalam ruang pikiran naga itu. Seketika naga itu diam tak bersuara lagi, tatapan merahnya yang semula begitu tajam dan beringas kini berubah menjadi tatapan yang kosong. Perlahan-lahan warna tubuh naga itu berubah dari hitam menjadi biru cerah. Dimas sedang mengobrak-abrik seluruh pikiran dan ingatan sang naga dan kekuatan Dimas telah mulai melunturkan sihir-sihir yang melekat di seluruh tubuh sang naga. Tetapi tiba-tiba Dimas terjengkang dan terlepas dari sang Naga dan warna kulit naga itu kembali berubah hitam mengkilat dengan cepat. Naga itu kembali meronta-ronta dan tatapannya kembali tajam dan beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak apa-apa Dimas ?” Raji membantu Dimas untuk bangkit dari duduknya. Rasa pusing dan mual mulai menjalar diseluruh tubuh Dimas, tubuhnya terhuyung ketika mencoba berusaha berdiri, tetapi Raji dengan cekatan menopangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak apa-apa Dimas ?” Pafi mengulang pertanyaan yang sama dari Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing dan mual. Mungkin ini akibat penjelajahanku di pikiran naga itu. Dia membawaku berputar-putar sampai pusing sekali rasanya. Sihir yang melekat di tubuhnya sangat kuat.” Kata Dimas sambil berusaha berdiri tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau terpental begitu jauh, apa yang terjadi ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi aku berusaha menetralkan sihir yang menutupi seluruh tubuh naga itu, tapi sihir para Janggan Wimana memang sangat hebat. Dia mempunyai pertahanan yang kuat sehingga sihir putih manapun tidak akan bisa melumpuhkannya. Sihirnya membuat kulit naga ini lebih kuat dari besi.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kau coba batu bintang Satuasra, bukankah batu bintang Satuasra bisa menetralkan semua jenis sihir ?” kata Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar bukankah itu sudah terbukti efektif di hutan Hoa-Binh, ada baiknya kita coba.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dimas mengeluarkan kantong kulit yang tergantung di lehernya dan mengeluarkan batu bintang Satuasra. Sinar putih keemasan memancar dari batu tersebut sampai jarak sepuluh meter. Sinar yang terang yang memancar itu menerpa naga Jalatunda yang sedang terikat. Seluruh tubuh sang Naga berubah menjadi biru terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang dia bisa diserang dari sisi manapun.” Kata Dimas, apakah ada yang mau melumpuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar aku saja, aku akan mantrai dia dengan mantra pembeku” kata Raji yang langsung merapal mantra tersebut dan dua larik sinar biru meluncur deras dari kedua telapak tangan Raji mengenai tubuh naga itu. Nara Jalatunda itu langsung diam tak lagi bergerak ataupun mengeluarkan suara. Setelah yakin naga Jalatunda itu membeku, Dimas memasukan kembali batu bintang Satuasra ke dalam kantung kulitnya. Tubuh naga Jalatunda itu terlihat biru terang dan tetap diam membeku. Tetapi beberapa saat kemudian naga itu perlahan berubah kembali menjadi hitam dan meronta-ronta. Mantra yang dikenai Raji luntur hanya dalam beberapa saat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya mantra para Wimana Janggan sangat kuat, tidak ada cara lain kita harus membunuhnya saat seluruh mantra itu netral oleh sinar batu bintang Satuasra.” Dimas mengeluarkan kembali batu bintang Satu asra dari kantong kulitnya. Saat sinar batu bintang Satuasra mengenai tubuh naga Jalatunda itu dan warna kulitnya kembali menjadi biru terang, tanpa disangka Jagawana melancarkan serangan dengan membelit leher sang Naga dengan sulur-sulur pohon hingga binatang itu tercekik dan darah mengalir dari belitan sulur-sulur pohon itu di lehernya. Tanpa banyak suara binatang itu akhirnya mati dan tak bergerak lagi. Dimas, Raji dan Pafi begitu kaget melihat tindakan Jagawana yang begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku bertindak lebih dulu, hatiku sejak tadi sudah terbakar oleh api yang menghanguskan pohon-pohon asuhanku.” Kata Jagawana. Mendengar alasan Jagawana yang lainnya cukup mengerti dengan kebencian Jagawana terhadap naga Jalatunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita harus membantu pasukan Narapati. Jagawana kau tetaplah disini, bantu kami dengan membuat rintangan pohon-pohon saat nanti ada perintah mundur.” Kata Dimas. Jagawana Cuma mengangguk. Kemudian Dimas memanggil Sighram. Harimau itu tidak lama kemudian muncul di hadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua langsung menuju tempat pertempuran. Pasukan Narapati sudah mulai terdesak hebat. Beberapa Garuda berdebum ke bumi dan terkapar tak bergerak lagi. Sementara di angkasa beberapa burung api terbang meliuk-liuk ke sana kemari menghantam para naga Jalatunda yang terus melontarkan api dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasukan Garuda, lindungi pasukan darat dari semburan api Jalatunda !!” kata Arghapati berteriak. Berberapa Garuda yang telah berubah menjadi burung api menabrak sejadinya ke tubuh naga-naga Jalatunda yang terlalu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Narapati yang ada memiliki kemampuan menyerang jarak jauh sehingga sangat sedikit yang menjadi korban. Tetapi pasukan yang di perbantukan dari Angkor Wat adalah pasukan dengan tingkatan di bawah pasukan Narapati. Pertempuran tangan dengan menggunakan senjata tajam tidak cukup membantu mereka menahan serangan para Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman Arghapati, kami sudah menemukan kelemahan naga Jalatunda.” Kata Dimas mendekati Arghapati yang sedang sibuk menghajar lawan-lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, bisakah kau membantu para Garuda melawan mereka ?” Arghapati meminta Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah paman.” Dimas langsung melompat dari punggung Sighram, sambil menyambar sebuah pedang yang tergeletak di tanah dan mengambil segerombol anak panah bersama tempatnya dari punggung seorang prajurit Angkor Wat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi…Bisa kau angkat aku ke udara.” Kata Dimas berteriak kepada Pafi yang meliuk-liuk menghindari serangan seekor naga Jalatunda sambil melancarkan serangan-serangan angin punyuh yang membuat beberapa Naga terdorong dan kehilangan keseimbangan. Srigati, Garuda tunggangan Pafi meluncur deras ke tanah dan menyambar Dimas dengan kakiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, kau lindungi Pafi dari serangan naga lain, ambilah beberapa anak panah, aku akan mengeluarkan batubintang Satuasra.” Kata Dimas kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jethoraksa tangkap kakiku.” Kata Raji yang langsung melompat ke udara meluncur deras ke tanah dengan kepala menghadap bawah. Jethoraksa dengan lincah menangkap kaki majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawa aku ke arah prajurit panah Angkor Wat itu, aku mau mengambil anak panah mereka.” Kata Raji yang bergelantungan dengan kepada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jethoraksa meluncur mengampiri tanah, kemudian Raji melakukan gerakan menyambar dan beberapa anak panah berhasil di ambilnya. Sang Prajurit terkejut bukan main dan tersungkur oleh udara deras dari kepakan sayap Jethoraksa. Raji tersenyum dan melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jethoraksa, angkat aku kembali ke punggungmu.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung Garuda itu menanjak naik ke angkasa kemudian melepaskan cengkramannya pada kaki Raji. Pada saat Raji melayang jatuh, Jethoraksa melakukan manuver melengkung dan menangkap Raji di atas punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus…bagus Jetho, ayo kita hajar kadal-kadal jelek itu.” Kata Raji sambil menepuk punggung Jethoraksa. Garuda itu memekik keras tanda setuju dengan majikannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Jethoraksa menghampiri Srigati dan melakukan gerakan berputar vertikal melindungi Srigati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, terimalah anak panah ini.” Dimas melempar segerombol anak panah bersama tempatnya ke samping. Dengan cekatan Srigati meliuk menghampiri anak panah itu dan membiarkan Pafi menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, dekatilah satu persatu naga Jalatunda. Begitu kau melihat bagian tubuh Jalatunda ada yang mulai berwarna biru, segeralah kau serang dia dengan panahmu. Raji….kalau ada naga Jalatunda yang mendekat dan berusaha menyerang Srigati, kau panah saja dengan busur Cakrabuwana.” Dimas memberikan instruksi kepada kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Dimas, Aku akan hajar mereka satu per satu.” Kata Raji sambil terus melakukan gerakan memblokade di sekitar Srigati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mulai mengarahkan Srigati mendekati seekor Jalatunda dengan seorang Amukhsara di atasnya. Dimas mengeluarkan batu bintang Satuasra dari kantung kulitnya. Dengan gerakan cepat Srigati terbang sejajar di sebehlah kiri seekor Jalatunda, Pafi telah siap dengan busur Cakrabuwana yang terentang dengan sebuah anak panah. Begitu sinar batu bintang Satuasra mengenai tubuh naga itu, Pafi mulai mencari sasaran bidikannya. Sementara di atas naga Jalatunda, Amukhsara yang mengendarainya tertawa terbahak-bahak tanpa sadar bagian dada naga tunggangannya sudah mulai berubah warna menjadi biru terang tanda sihir di tubuh naga itu mulai luntur. Kemudian Pafi melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur deras dan mengenai ruang kosong di antara dua sayap sang naga. Hal itu membuat prajurit Amukhsara itu makin terbahak. Pafi mengambil satu batang anak panah lagi dan mengarahkan ke dada kiri sang naga. Setelah tepat sasaran anak panah dilepas dan melesat menembus tubuh sang naga hingga melesat keluar lagi di bagian kanan. Naga itu memekik kesakitan, suaranya begitu keras dan kemudian terhuyung dengan darah yang mengalir deras mengguyur pasukan yang sedang bertempur di bawahnya. Darah naga adalah racun yang langsung membuat mahluk hidup apapun selain Garuda akan melelah. Tak lama kemudian naga itu jatuh berdebum ke tanah. Sorak sorai pasukan Narapati dan Angkor Wat melihat kejatuhan seekor naga. Semangat mereka bangkit kembali, pertempuran kembali makin sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jeritan seekor naga yang terluka, beberapa ekor naga Jalatunda yang lain bergerak mengejar. Dengan sigap Raji menarik busurnya dan melepaskan anak panah berturut-turut ke arah naga-naga itu. Beberapa naga terjengkang dan meluncur deras dan berdebum di atas tanah, tetapi kemudian bangkit lagi. Tak ada luka sedikitpun, panah Raji hanya membuat para naga itu terdorong oleh tenaga yang dihasilkan busur Cakrabuwana. Tak lama kemudian seekor naga menjerit lagi dan berdebum keras di tanah. Rupanya Pafi berhasil menjatuhkan naga yang kedua. Tapi jumlah naga yang bertempur masih terlalu banyak sehingga tidak mungkin dilumpuhkan satu persatu dengan cara itu. Arghapati yang melihat aksi Dimas di udara terlihat cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kita akan menarik mundur pasukan.” Kata Arghapati berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik paman, aku akan membuat rintangan. Raji tetaplah kau menghalau naga-naga itu dengan panahmu. Pafi buatlah rintangan angin putting beliung. Aku akan membuat rintangan yang lain di bawah sana.” Kata Dimas. Srigati meluncur turun dan mendaratkan Dimas di atas tanah. Pasukan Garuda yang tersisa bergerak mundur, bersama dengan itu Pafi mulai menciptakan puluhan angin putting beliung yang menghalau para Naga. Sementara Raji melepaskan anak-anak panah ke arah naga-naga yang berhasil melewati rintangan yang dibuat oleh Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mundur….mundur…. kembali ke Pavaratha.” Arghapati berteriak. Satu per satu pasukan Narapati dan Angkor Wat bergerak mundur. Bersamaan dengan mundurnya pasukan, puluhan pohon muncul merintangi gerakan para Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang melakukan itu Dimas.” Tanya Arghapati kepada Dimas yang baru saja lepas dari Srigati. Arghapati tahu, Dimas tidak mungkin bisa melakukannya selama kakinya belum menyentuh tanah, karena pohon-pohon itu muncul sesaat Dimas sebelum menjejakan kakinya ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanku paman, dia pengasuh pohon-pohon di seluruh hutan Angkorwat.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagawana maksudmu ?” tanya Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, paman mengenalnya ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja, dia pernah hampir membuatku jadi pupuk untuk pohon-pohonya.” Kata Arghapati. Mendengar hal itu Dimas tersenyum lebar. Dimas mengerti apa yang dimaksud oleh Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rintangan pohon-pohon itu tidak cukup lama menahan gerak para Amukhsara, aku akan membuat jurang paman.” Kata Dimas. Arghapati menganggukan kepalanya tanda setuju. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali pemilik tenaga bumi. Sementara Arghapati adalah pemilik tenaga api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“GERANH ASSBAN BHUMI”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menjejakan kakinya tiga kali. Seketika bumi bergetar hebat, sebuah retakan memanjang sejajar di hadapan pasukan Narapati sedikit demi sedikit mulai melebar dan terus melebar hingga menganga menjadi sebuah jurang yang sangat dalam. Beberapa prajurit Amukhsara yang berhasil menerobos barisan pohon-pohon ciptaan Jagawana tidak menyadari kalau di hadapan mereka telah menganga sebuah jurang yang dalam. Tanpa bisa dikendalikan lagi mereka terjatuh ke dalam jurang itu. Melihat jurang yang sudah menganga lebar dan menghambat gerak pasukannya, para Amuksara yang menunggangi naga Jalatunda mengurungkan niatnya mengejar pasukan Garuda yang mundur menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu pasukan Narapati dan Angkor Wat juga para Narasimha yang tersisa memasuki wahana Pavaratha. Pasukan Garuda yang telah berkurang separuhnya mendarat. Beberapa Garuda dan Narasimha yang terluka dinaikan ke wahana lebih dulu untuk mendapatkan perawatan dari tabib-tabib Narapati. Tak lama kemudian Pafi dan Raji mendarat paling terakhir bersama Srigati dan Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekuatan Amukhsara sekarang sungguh diluar dugaan. Kita selain kalah jumlah juga kalah kekuatan terutama dari pasukan Garuda. Garuda-garuda kita tidak mampu mengoyak sedikitpun kulit para Naga Jalatunda yang sudah mengalami perubahan bentuk. Kita harus mengabarkan semua kota perbatasan agar bersiap mengungsi ke tempat yang lebih aman.” Kata Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan sisa pasukan yang kita tempatkan di kota Angkor Wat ?” tanya Senopati Panaraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabarkan kepada Prajurit Angkor Wat yang menjaga kota agar segera menyusul untuk mengungsi. Bawalah serta pasukanmu yang tersisa menuju Angkor Wat. Kabari Pagan agar mereka juga mengungsi. Narapati akan mengabari Kutai dan Sriwijaya.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Panglima, kami akan berangkat sekarang.” Senopati Panaraban mengangguk memberikan salam perpisahan. Kemudian bersama sisa pasukannya pergi menuju Angkor Wat. Berita-berita sudah menyebar ke seluruh negeri Narapati. Kepanikan melanda diseluruh negeri terutama yang tinggal di garis batas wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Amukhsara mulai menyebar di seluruh bagian utara wilayah perbatasan Narapati. Pagan, Angkor, Hoa-Binh telah dikuasai. Ayuthaya tetap bebas dalam pelindungan sihir-sihir tanah larangan. Tetapi Ayuthaya tidak bisa bergerak ke manapun. Hanya lembah guntur jalan yang tidak dikuasai oleh Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Narapati yang kembali dari Angkor Wat membawa berita penting untuk Medanggana Raya. Berita yang harus disampaikan dengan berpacu waktu. Pasukan Amukhsara mulai mengincar Kutai dan Sriwijaya. Tidak ada jalan lain Arghapati akhirnya memecah pasukannya menjadi 3 bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jatuchakra, Gambungjago, pimpinlah masing-masing satu wahana Pavaratha Pushpaka. Bawa separuh dari pasukan Garuda dan Narasimha bersama kalian, sampaikan pesanku kepada Adipati Sanjaya di Sriwijaya dan Adipati Ajidarma di Kutai agar mereka mengungsikan seluruh penduduk kota ke tempat yang aman. Bawalah tanda ini untuk menunjukan kalau kalian utusan Narapati.” Kata Arghapati menyerahkan dua buah medali kepada Jatuchakra dan Gambungjago. Tanpa banyak pertanyaan semua segera bersiap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Jagawana naik.” Dimas mengajak Jagawana itu naik ke wahana Pavaratha Rudra. Gadis kecil itu hanya diam dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya sampai disini saja Dimas. Tempatku disini bersama pohon-pohon asuhanku. Mereka masih membutuhkanku.” Kata Jagawana. Matanya berkaca-kaca, ada keharuan dirasakan diujung waktu kebersamaan mereka. Dimas, Pafi dan Raji mengerti apa yang dirasakan Jagawana. Sebuah pertemanan yang wajar baru dirasakannya sekejap kini harus terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita masih bisa bertemu lain waktu.” Kata Dimas mengulurkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kita sudah menjadi teman. Jarak hanyalah sebuah ruang yang tak berarti jika hati kita tetap bersahabat.” Kata Pafi mendekap erat Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kunjungi aku kalau kalian punya cukup waktu.” Kata Jagawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pasti mengunjungimu nanti.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas persahabatan yang kalian berikan kepadaku.” Kata Jagawana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagalah dirimu baik-baik Jagawana.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas memasuki wahana Pavaratha Rudra diikuti oleh Raji dan Pafi. Tidak lama kemudian tiga pavaratha mengangkasa menuju arah yang berbeda. Melesat menembus barisan awan meninggalkan Jagawana kembali bersama dunianya dunia pohon-pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan melewati tanah larangan, bersiaplah Lembah Guntur adalah yang pertama yang harus kita lewati.” Kata Arghapati memberikan perintah kepada juru mudi Pavaratha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pavaratha rudra yang dinaiki oleh Dimas, Raji dan Pafi meluncur langsung ke selatan ke arah yang paling berbahaya diantara ketiga Pavaratha, lembah guntur. Dengan kecepatan yang lebih tinggi dari pada pavaratha pengangkut, pavaratha rudra melesat menembus permukaan awan dan melayang. Memasuki wilayah lembah guntur pavaratha rudra itu menukik kembali ke bawah dan terbang rendah nyaris menyentuh daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasakan kita kembali menukik ke bawah, sepertinya kita berada tidak terlalu jauh dari daratan.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul Pafi, wilayah lembah guntur yang membentang dari selatan wilayah Ayuthaya dan Angkor Wat tidak bisa dilalui di atas awan, karena di sana terdapat medan energi yang akan menarik apapun yang ada di atasnya masuk ke dalam gumpalan awan dan memanggangnya di dalam. Wahana ini harus turus ke bawah awan dimana ratusan kilatan halilintar siap menghadang kita dan membakar kita hidup-hidup.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan halilintar mulai menyerang kemanapun arah pavaratha rudra itu bergerak. Suara dentuman-dentuman keras menghantam tanah dan dinding-dinding tebing sempit yang dilalui pavaratha rudra. Seperti sebuah ledakan gunung tanah yang terhantam halilintar itu berdeburan ke udara. Debu hitam pekat beterbangan memenuhi udara yang memang sudah sarat dengan kabut. Juru mudi Pavaratha mulai kehilangan arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kita mengenali serangan halilintar itu paman ?” tanya Dimas yang khawatir dengan apa yang dilihatnya dibalik mata Sethinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan ada putaran debu halus yang sukar untuk dilihat yang naik tidak terlalu tinggi dan menjadi penghantar untuk halilintar yang berada di dalam awan untuk menyerang. Juru mudi akan merasakan putaran debu halus itu melalui perabahan energi halus yang dilakukannya, tapi jika banyak gangguan getaran itu akan hilang.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak bisa lagi meraba putaran debu halus itu tuan Arghapati, Debu yang ditebarkan oleh hantaman halilintar mengganggu pembacaan getaran yang saya lakukan.” Kata juru Mudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arghapati terdiam, dia tidak bisa memberikan pemecahan atas masalah yang baru saja dikemukakan oleh juru mudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikan kemudianya pada saya.” Kata Dimas. Juru mudi itu melihat Dimas kemudian berganti kepada Arghapati. Sementara Arghapati cukup terkejut dengan permintaan Dimas, tapi Dimas menatapnya dengan mata yang sudah menjadi biru terang. Arghapati menunduk tak sanggup menatap mata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juru Mudi, berikan kemudi kepada Dimas.” Kata Arghapati. Sang juru mudi tanpa banyak bertanya menuruti perintah.Dimas memegang kemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersiaplah.” Kata Dimas. Mata Sethinya mampu menembus semua kegelapan debu hitam. Bagi Dimas semua yang berada diluar sangat jelas, semua getaran halus dari debu-debu yang membentuk pusaran ke atas yang diikuti dengan sambaran halilintar terlihat begitu jelas. Tidak ada yang sadar kalau Dimas sedang menggunakan kemampuannya melambatkan waktu sehingga bisa menghindari semua serangan-serangan halilintar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian langit kembali cerah, sebuah jurang yang tidak terlalu dalam membentang memanjang. Dimas menghentikan laju pavaratha. Dirinya merasakan hawa dingin luar biasa di udara yang cerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman, kita sudah melewati lembah Guntur. Langit sudah kembali cerah, tapi aku merasakan hawa dingin sekali disini.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavaratha itu sekarang memasuki perbatasan Lembah Kematian. Lembah yang penuh dengan arwah yang bersemayam sebagai penghormatan atas bencana banjir besar yang melanda dunia Narapati 15.000 tahun yang lalu. Lembah Kematian selalu sangat dingin bahkan lebih dingin dari udara pagi di puncak gunung. Kabut tipis menggantung di atas tanah yang bagitu rapuh. Tonggak-tonggak pohon yang sudah meranggas tampak begitu kering dan menghitam. Dimas merasakan getaran yang terasa kencang di dadanya. Tangannya menggenggam kantong kulit yang tergantung di dadanya. Digenggamnya kuat-kuat kantong kulit yang berisi batu bintang Satuasra itu seakan khawatir akan lepas dari tempatnya. Juru mudi mengendalikan Pavaratha dengan sangat hati-hati. Bayangan-bayangan putih yang berjalan melayang-layang hilir mudik terkadang menembus wahana dan terlihat lewat di dalam lambung wahan dimana semuanya berada. Rasa dingin yang teramat sangat seakan membekukan seluruh pembuluh darah saat bayangan hantu itu menembus melewati bagian tubuh. Arghapati meletakan jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan agar semua tidak bersuara dan tidak bergerak. Tetapi Dimas tidak sanggup mentaati permintaan Arghapati. Tangannya terus bergetar hebat menggenggam kantong kulit yang tergantung di dadanya. Tanpa dapat ditahan lagi batu bintang Satuasra mencelat keluar dari kantongnya dan melayang-layang di atas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu bintang Satuasra !” kata Arghapati terkejut melihat sebuah sinar putih yang menyala terang melayang-layang di hadapannya. Dimas dengan cepat menangkap kembali batu bintang satuasra dan memasukan kembali ke kantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi ?” tanya Pafi. Suaranya diusahakan sepelan mungkin. Dimas menggelengkan kepala. Dirinya juga sama tidak tahunya apa yang sedang terjadi. Batu bintang Satuasra bergetar hebat sejak memasuki wilayah lembah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka meminta batu bintang itu serahkan kepada mereka.” Kata juru mudi Pavaratha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak boleh menyerahkannya begitu saja, kita harus meminta mereka membiarkan kita melewati lembah kematian.” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana berbicara dengan mereka ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus keluar dari Pavaratha dan menyerahkannya langsung kepada mereka. Bagaimana Dimas, apakah kau bersedia menyerahkan batu bintang satuasra itu kepada mereka ?” Kata Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asalkan itu menjadi jalan kita lebih cepat memberi kabar ke Medanggana Raya.” Kata Dimas tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas dan Arghapati keluar dari Pavaratha. Lembah kematian terasa begitu dingin. Dataran berdebu halus dengan kabut tipis menutupi seluruh lembah. Sejauh mata memandang hanya warna hitam, abu-abu dan putih saja yang terlihat. Reruntuhan bangunan batu tampak berjajar rapi seakan sebuah kota besar pernah berdiri di sini. Untuk tanah kematian, apapun yang hidup akan memancarkan sinar terang. Begitu pula dengan Arghapati dan Dimas. Tubuh mereka memancarkan sinar terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serahkan….Satuasra……” suara menggema seakan datang dari berbagai arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bersedia menyerahkannya, tapi apakah kami diberi jalan melintas hingga keluar lembah ini.” Kata Arghapati menjawab suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua yang hidup akan mati, semua yang telah di tanah kematian tak akan bisa kembali ke tanah kehidupan.” Suara itu kembali bergema, tetapi kali ini di hadapan Arghapati dan Dimas muncul bayangan-bayangan putih. Dalam sekejap seluruh lembah telah dipenuhi oleh arwah-arwah yang menghuni lembah kematian. Begitu banyaknya arwah tersebut hingga seluruh dataran lembah berubah menjadi putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak sekali mereka.” Dimas berkata pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka adalah korban yang tidak sempat menyebrang ke dunia tengah.” Kata Arghapati pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan menyerahkan batu bintang satuasra, asalkan kami dibiarkan melewati lembah ini dengan selamat.” Kini Dimas yang menjawab kembali suara gema itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kematian akan menjadi perjalanan akhir bagi yang hidup, yang telah sampai didalamnya tak akan bisa kembali lagi hidup. Hanya sang pembawa buku kehidupan bisa mengubahnya.” Suara gema itu kini seolah berasal dari banyak suara yang berbicara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau demikian aku akan mengubahnya untuk kalian.” Dimas berkata dengan yakin kepada para arwah itu. Arghapati sedikit terkejut dan tidak yakin dengan apa yang telah didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau bisa melakukannya ?” bisik Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu paman, tapi yang aku yakin pasti mereka mengenali apa yang bersemayam di tubuhku.” Kata Dimas pelan. Kemudian dengan pasti maju beberapa langkah ke depan meninggalkan Arghapati di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada yang hidup membawa buku kehidupan, yang hidup tak bisa dipercaya membawa buku kehidupan.” Suara gema itu kembali muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akulah pembawa buku kehidupan.” Kata Dimas dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembawa buku kehidupan tak bisa disentuh yang mati.” Suara gema itu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalian tidak akan bisa menyentuhku.” Kata Dimas dengan garang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seluruh arwah bergerak secara bersama menghampiri Dimas dan sangat cepat melesat menabrak tubuh Dimas. Dengan kecepatan yang lebih hebat lagi kesemua arwah itu terpental. Melihat tak ada satupun yang mampu menembus tubuh Dimas, ke semua arwah itu mundur perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian percaya, ambilah batu bintang satuasra ini dan berilah kami jalan.” Kata Dimas dengan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mati mengikuti yang telah digariskan.” Suara gema itu kembali muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dimas mengeluarkan batu bintang satuasra dari kantung kulitnya dan dengan cepat dia melemparnya ke arah para arwah. Sinar putih yang dikeluarkan menyirami seluruh lembah. Perlahan seluruh bayangan putih itu seperti pudar tertiup angin. Sebuah jalan lurus yang terang terbuka tanda para arwah sudah memberikan jalan melewati lembah kematian. Dimas dan Arghapati segera bergegas masuk kembali ke dalam pavaratha. Perjalanan pun dilanjutkan tanpa adanya hambatan hingga tiba di ujung tanah Jawa di muara Citarum. Pavaratha kemudian bergerak ke timur menuju Medanggana Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---- *** ----&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-7512951004625259666?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/7512951004625259666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=7512951004625259666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/7512951004625259666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/7512951004625259666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2008/01/angkor-wat-malam-belum-lagi-larut-kabut.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-3001628754957620245</id><published>2007-05-29T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-03-12T00:29:27.870-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;VAIRIVARAVIRA VIMARDANA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ekor Narasimha menyambut kedatangan Dimas, Raji dan Pafi. Tampaknya keduanya telah mengenal mereka bertiga. Auman ringan mempersilahkan ketiganya melewati gerbang. Masuk ke dalam gerbang, Dimas, Raji dan Pafi diantarkan penjaga, ketika sudah sampai di depan lorong tujuh lapis si penjaga berhenti dan mempersilahkan ketiganya masuk. Tanpa ragu Dimas, Raji dan Pafi masuk menembus lapis demi lapis ruangan. Setibanya di tengah ruangan, Bapak Narayala telah menunggu di depan meja batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah Dimas, Raji, Pafi duduklah, terima kasih kalian sudah datang” Prabu Narayala mempersilahkan ketiganya duduk. Wajah lelah yang bercampur rasa bersalah dan khawatir begitu jelas terbaca oleh Prabu Narayala. Namun Sang Prabu hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami Bapak Narayala, kami terpaksa melakukannya, in bukan salah Dimas” Pafi memulai pembicaraan. Tapi Bapak Narayala tidak menampakan wajah marah kepada ketiganya, beliau justru Sangat lembut dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, ini salahku kalau aku tidak terjebak, kalian tidak akan mengambil keputusan itu. Sayalah yang salah Bapak Narayala, maafkan saya” Dimas berusaha membela kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melakukan apa ? kenapa harus meminta maaf ? kalian kan melakukan apa yang harus kalian lakukan” Bapak Narayala tetap tersenyum sabar, guratan di dahinya turun naik tertarik oleh alisnya yang memberikan cahaya ramah dari senyumnya yang terus mengembang. Matanya tampak sekali menyorotkan rasa sayang yang besar kepada ketiga anak di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Dimas walaupun begitu betah memandang sorot matanya yang teduh, tapi tetap saja hatinya merasa bersalah karena telah bertindak bodoh. Lain halnya ketika situasi sedang tidak bermasalah seperti sekarang, Dimas paling suka memandang langsung ke mata Prabu Narayala. Dimas merasa ada begitu banyak kedamaian di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kalian lakukan sudah benar, justru dengan kerusakan yang timbul akibat serangan itu, kita bisa mengetahui kekuatan Pavaratha Pushpaka. Sebelumnya memang aku pernah merasakan kekuatannya, tapi aku belum tahu bagaimana kekuatannya jika Pavaratha Pushpaka di tangan Bangsa Amukhsara. Dan kalian baru saja memberiku pengetahuan itu” Prabu Narayala tetap tersenyum, jawaban itu membuat air muka Dimas, Raji dan Pafi sedikit lega. Tapi mereka masih tak berani kembali buka bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, ternyata serangan kalian Sangat hebat walaupun sebenarnya tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Seandainya Pavaratha Pushpaka itu masih seperti aslinya sebelum jatuh ke tangan Amukhsara, mungkin sudah hancur. Aku yakin sekali Amukhsara juga menyiapkan Pavaratha Pushpaka untuk peperangan kali ini. Paling tidak sebagai pengangkut pasukannya” Prabu Narayala berhenti, mataya memandang ke langit-langit lalu tangannya mengibas ke atas. Dari kepompong emas yang menggantung persis di atas meja pualam itu meluncur cahaya kuning keemasan. Dimas, Raji dan Pafi menegakan badannya. Dari cahaya itu muncul gambar Pavaratha Pushpaka yang sedang diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah baik-baik Pavaratha Pushpaka milik Duta Besar Creatus, nyaris tidak ada bekas akibat serangan kalian tadi. Nah Dimas jelaskan apa yang kau rasakan sewaktu terjebak dengan Pavaratha Pushpaka. Hal ini tidak pernah terjadi pada Pavaratha Pushpaka yang dimiliki bangsa Narapati” Prabu Narayala sekarang menatap Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sewaktu selubung gaib terlepas dan energi saya menyentuh permukaan kulit wahana itu, energi saya seperti tersedot dan saya masuk ke dalam sebuah lubang gelap yang hitam tak berujung, makanya saya berteriak terus karena seperti sedang jatuh dari ketinggian” Dimas berhenti sesaat seperti sedang mengingat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada hal lain yang kau rasakan nak” Prabu Narayala mencoba lebih detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, sampai saya mencoba menarik kilasan-kilasan apa yang terjadi pada wahana itu. Waktu itu saya berpikir bahwa saya bisa menarik kilasan sejarah wahana itu dan saya mendapatkan hal yang Sangat mengerikan” Dimas terdiam, Pafi dan Raji memandang penasaran tapi tak berani buka mulut. Wajah mereka menunjukan tahu bahwa saat ini Dimas bukanlah obyek pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa nak, jelaskan saja apa yang kau lihat” Prabu Narayala menyakinkan Dimas dengan tenang. Sejenak Dimas ragu, tapi kemudian wajahnya berubah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pavaratha Pushpaka itu dilapisi oleh campuran darah, darah dari Garuda Kencana dan Narasimha” Dimas diam tak lagi melanjutkan. Prabu Narayala hanya mengkerutkan dahinya, tetapi Raji dan Pafi langsung melotot dengan mulut menganga terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm ini menjelaskan mengapa banyak Garuda dan Narasimha yang hilang. Beberapa waktu belakangan ini jarang sekali muncul Narasimha dan Garuda Kencana di wilayah barat, padahal jumlah mereka paling banyak berada di sana. Aku sudah mencari tahu dengan penglihatan jarak jauh, tapi tak dapat menangkap apa yang menyerang mereka” Prabu Narayala berhenti sejenak, tangan mengusap-usap janggutnya yang putih keperakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah anakku, sekarang situasi sudah makin jelas, kekuatan-kekuatan yang mulai dibangun oleh Amukhsara. Narapati perlu melakukan persiapan yang lebih cepat dan aku rasa persiapan itu harus dimulai dari kalian. Setelah lebih dari setahun aku rasa kalian punya cukup bekal untuk melindungi diri kalian, tapi belum cukup untuk menghadapi perang yang sesungguhnya”. Prabu Narayala kemudian bangkit dan menepukan kedua tangannya. Dari arah sudut ruangan yang lain entah dari mana datangnya muncul sebuah pintu. Prabu Narayala mengajak Dimas dan kedua sahabatnya mengikuti menuju pintu itu. Memasuki ruangan bundar berlapis batu hitam yang utuh, lampu kepompong yang berwarna keemasan memendarkan cahaya indah ke seluruh ruangan. Kemudian lantai yang mereka pijak mulai bergerak turun yang makin lama makin cepat. Tak lama kemudian berhenti dimana didepan mereka menganga sebuah lorong bundar, Plat batu yang mereka pijakpun bergerak maju memasuki lorong tersebut dan berjalan dengan kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan kemana Bapak Narayala ?” Tanya Dimas. Raji dan Pafi memandangi sekelilingnya dengan decak kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita berada di lorong bawah tanah yang menembus ke dasar Kuil Cakravartin, Gunung Bromo dan Mahameru hingga ke pantai selatan” Sepanjang perjalanan tangan Prabu Narayala tak henti-hentinya melakukan kibasan-kibasan kecil ke arah dinding-dinding di kiri kanan yang mereka lalui. Setiap kibasan kecil membuat tirai gaib. Melihat tirai-tirai gaib yang begitu berlapis-lapis ditinggalkan oleh Prabu Narayala, Dimas tahu betapa rahasianya tempat yang akan mereka tuju. Pafi dan Raji pun tak berbuat lain selain menutup mulutnya rapat-rapat.&lt;br /&gt;Kecepatan plat makin tinggi, tanpa membutuhkan waktu yang lama mereka akhirnya tiba di ujung lorong yang langsung menghadap ke sebuah ruangan yang Sangat besar berbentuk lingkaran. Menjulang tinggi ke atas dimana di setiap dinding yang bertingkat-tingkat bersandar ribuan Pavaratha Rudra yang sedang dikerjakan oleh ribuan orang. Ratusan Garuda Kencana melayang kesana kemari membawa barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah persiapan Narapati, Creatus Sangat ingin mengetahui dimana kita melakukan persiapan. Tapi semua persiapan ini tak akan ada artinya jika kalian bertiga, terutama kau Dimas tidak siap menghadapinya juga. Oleh karena itu kalian akan tinggal disini untuk mempersiapkan diri kalian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu ini adalah ibukota pertama kerajaan Narapati, sebelum akhirnya pindah ke Medanggana Raya. Naraphala membuat kota di bawah gunung Mahameru karena dia tidak menyukai cahaya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa Naraphala, Bapak Narayala ?” Dimas merasakan nama itu begitu Sangat dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah Naraphala adalah raja pertama kerajaan Narapati” Pafi mencoba mengkonfirmasi apa yang dia baca dari pustaka sejarah Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmm….sepertinya kau sudah cukup tahu banyak mengenai sejarah Narapati, Pafi” Bapak Narayala memuji. Pafi tersenyum bangga dan masih sempat menebarkan senyum pamernya kepada Raji yang otomatis langsung senyum kecut melihat Pafi tapi tak berani berkomentar seperti biasanya karena ada Prabu Narayala diantara mereka dan itu membuat Pafi makin senang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Naraphala adalah raja pertama kerajaan Narapati. Dia adalah kakak kembarku. Tapi dia berubah menjadi jahat dan menjadi Amukhsara dan tidak menyukai cahaya, kerenanya dia membangun kotapraja di bawah gunung Mahameru”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tempat kalian untuk mempersiapkan diri tidak disini” Prabu Narayala membawa plat itu bergerak melintasi ruang kubah raksasa itu dan terus menanjak ke atas dan masuk ke dalam lubang bundar yang persis sama besar dengan ukuran bundaran plat, terus bergerak ke atas dan berhenti tepat di sebuah ruangan yang cukup dikenal, Dimas mengenali lengkung relung dan bentuk ruangannya, Catur Bhasa Mandala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di ditengah ruangan telah menungggu 7 orang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan yang tidak berpakaian prajurit seperti biasanya. Pakaian mereka cenderung Sangat tidak lazim untuk seorang prajurit. Pakaian yang dipakai seperti pakaian rakyat jelata bangsa manusia. Dimas Sangat mengenali jenis pakaian itu. Pakaian yang hanya dipakai oleh para petani atau nelayan. Jenis pakaian rakyat Narapati Sangat berbeda dengan bangsa manusia. Dimas yakin bahwa mereka bukan pula bangsa manusia, tetapi bangsa Narapati. Ketujuh orang itu menghaturkan sembah kepada Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku titipkan ketiga anakku ini kepada kalian untuk kalian latih semua yang kalian ketahui dan kalian miliki” Prabu Narayala menatap satu per satu ke tujuh orang tersebut dengan seksama. Ketujuh orang itu serentak memberikan anggukan setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik tuanku Prabu Narayala, kami akan melaksanakan perintah” Ketujuh orang itu kembali berdiri setelah membungkuk hormat secara bergantian kepada Prabu Narayala, Dimas, Raji dan Pafi. Dan satu persatu memperkenalkan nama mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama hamba Kriyandita”&lt;br /&gt;“Nama hamba Karyadewi”&lt;br /&gt;“Nama hamba Sukmaratih”&lt;br /&gt;“Nama hamba Jatrapraga”&lt;br /&gt;“Nama hamba Lakunogo”&lt;br /&gt;“Nama hamba Prajamukti”&lt;br /&gt;“Nama hamba Garangjiwo”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka semua adalah anggota dari pasukan khusus Narapati bernama Varavairivira Vimardana, meraka berada di bawah pimpinan Kerthapati, aku rasa kalian pernah bertemu dengan Kethapati sebelumnya.” Tak lama disebut namanya oleh Prabu Narayala, Kerthapati muncul dari balik dinding memberikan salam. Dimas teringat pertemuan mereka di puncak kuil Cakravartin. Kerthapati termasuk ke dalam kelompok Pahom Narendra – Bathara Sapta Prabhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang menjadi inti dari pasukan Narapati. Berlatihlah bersama mereka selama satu purnama. Kerthapati, sekarang Dimas, Raji dan Pafi akan berada di bawah pengawasanmu. Jaga mereka dengan nyawamu” Prabu Narayala memberikan perintah. Kerthapati berlutut dan memberikan sembah kepada Rajanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas kepercayaan paduka kepada hamba. Hamba akan jaga amanat paduka dengan taruhan nyawa hamba” Kerthapati bangkit dari berlututnya kemudian membungkuk hormat kepada Dimas, Raji dan Pafi yang dibalas serupa oleh ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan tinggalkan kalian bertiga disini” Prabu Narayala memberikan salam kepada semuanya yang membungkuk hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang ke pasukan khusus Narapati” Kerthapati menyambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih paman Kerthapati” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kami akan mulai sekarang ?” Tanya Raji dengan semangat dan tak sabar memulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini kita tidak akan melakukan latihan apapun, hari ini raden bertiga akan saya ajak berkeliling dahulu” Kerthapati memberikan isyarat tangan kepada ke tujuh prajuritnya. Ke tujuh prajuritnya melakukan gerakan mengusap wajah mereka masing-masing. Seketika wajah mereka berubah menjadi berlainan usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah raden bertiga juga harus melakukan malih rupa dan mengganti pakaian dengan pakaian bangsa manusia. Hamba yakin raden bertiga sudah terbiasa dengan pakaian bangsa manusia.” Kerthapati menyodorkan tiga pasang pakaian kepada Dimas, Raji dan Pafi. Wajah sumringah keluar dari wajah Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan telah dilakukan, wajah Dimas telah berubah, begitu juga Raji dan Pafi. Kerthapati menempatkan masing-masing pada kelompok yang berbeda. Dimas dan Raji ditempatkan bersama sebagai kakak beradik dengan Kerthapati sendiri yang telah merubah dirinya menjadi orang tua separuh baya. Pafi bersama Sukmaratih sebagai pengemis nenek dan cucunya. Karyadewi dan Prajamukti berpasangan sebagai sepasang pedagang. Lakunogo dan Garangjiwo sebagai dua pemuda desa pengembara. Sedangkan Jatrapraga dan Kriyandita berperan sebagai sepasang kekasih. Semuanya telah berwajah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah sekarang tujuan kita adalah Benteng Jagamandala Amangku Bhumi di Merapi. Kita masing-masing akan ke sana dengan cara yang berbeda-beda. Jarak kita tidak boleh lebih dari seratus langkah. Kalian semua harus mengamati semua kejadian dan warta yang kalian lihat dan dengar di sepanjang perjalanan.” Mendengar perintah pimpinannya ke tujuh prajurit itu segera menyebar tanpa banyak bertanya lagi. Dimas melihat kecerdasan semua anggota pasukan khusus Narapati itu dari gerak dan ketangkasan mereka dalam bergerak. Semua berjalan turun menapaki tangga kuil kemudian bergerak ke arah barat. Perjalanan darat di dunia Narapati yang belum pernah dirasakan oleh Dimas sebelumnya walaupun terasa berat namun begitu menyenangkan. Menembus hutan menjumpai hewan-hewan aneh, melewati bukit dan gunung-gunung, desa-desa mandiri yang belum pernah dilihat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman…” belum Dimas melanjutkan perkataannya Kerthapati sudah memotongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat Raden, pada saat ini kita sedang menyamar sebagai ayah dan anak, Raji adalah adik Raden. Nama Raden bukanlah Dimas tetapi Banu dan Raji sekarang hanya dipanggil dengan nama Karto. Sedangkan saya adalah ayah dari Banu dan Karto. Raden jangan sampai lupa” Kerthapati menjelaskan sekali lagi apa yang telah diberitahukannya di kuil Caturbhasa Mandala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah pam…ayah, Banu mengerti” Dimas mengangguk tersenyum. Kerthapati pun ikut tersenyum melihat Dimas mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik siang matahari Sangat menyengat di puncak musim kemarau. Pohon-pohon jati yang mereka lalui semuanya sudah meranggaskan daunnya untuk bertahan dari kekeringan. Tampaknya musim sekarang benar-benar Sangat panas, ada sesuatu yang lain yang membuat bumi ini terasa lebih panas dari yang biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bergantian mereka tiba di sebuah desa di kaki gunung Lawu. Rumput-rumput yang menguning diantara pangkal-pangkal pohon jati tanpa daun terlihat begitu indah diterpa matahari sore yang bulat telur. Hamparan sawah yang tidak seberapa luas menunjukan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Terlihat hanya beberapa rumah khas bangsa Narapati yang memiliki atap limas segi enam yang mengerucut ke atas seperti bangunan joglo. Atap yang terbuat dari tanah liat bakar yang dicampur aksen kayu. Keseluruhan badan bangunan terbuat dari kayu dengan pengerjaan yang Sangat halus mencerminkan kemajuan kemampuan dan teknik pengolahan hasil alam. Di depan rumah tertambat burung-burung tunggangan yang memiliki sayap pendek. Kentara sekali dari bentuk tubuhnya yang memiliki kaki yang Sangat tinggi dan tubuh yang kekar pada bagian punggung dan sayap yang pendek. Burung-burung tersebut bukan tunggangan untuk terbang, melainkan tunggangan untuk di darat. Burung Galapaksi demikian nama burung darat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu-ragu Kerthapati memasuki gerbang desa yang terbuat dari bata merah setinggi dua kali orang dewasa. Dalam suasana mentari sore, tampak beberapa orang masih bekerja di depan rumah mereka masing-masing merapikan hasil kebun dan hutan yang telah mereka kerjakan pada pagi dan siang hari. Senyum ramah keluar dari semua wajah yang begitu segera saja akrab dan sumringah melihat kedatangan Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakang Karjo, selamat datang kembali ke desa kami” sambut seorang lelaki yang masih muda menyongsong kedatangan Kerthapati, Dimas dan Raji. Kerthapati tersenyum gembira orang tersebut menyambutnya, sedangkan Dimas dan Raji masih memperhatikan situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Projo, aku sedang dalam perjalanan menuju barat bersama kedua anakku ini. Ayo lek, kenalkan ini paman Projo yang tempo hari memberikan tempat istirahat buat ayah” Kerthapati mendorong Dimas dan Raji ke depan. Dimas menyodorkan tangannya lalu diciumkan ke keningnya, demikian pula Raji sambil menyebut nama masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kedua anakku yang tempo hari aku ceritakan padamu Projo, mereka tak sabar melakukan perjalanan ini setelah aku menceritakannya. Rupanya mereka memiliki jiwa petualang” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Projo terlihat senang dengan sopan santun yang ditunjukan Dimas dan Raji. Akhirnya lelaki muda itu mengajak Kerthapati, Dimas dan Raji untuk mampir ke rumahnya. Keramahannya terkadang sungguh Sangat membuat jengah baik Dimas maupun Raji. Tetapi Kerthapati terlihat sudah terbiasa dengan keramahan yang kelewat Sangat itu. Di dalam rumahnya istri Projo, Nyai Narsih langsung sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk tamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu…bune, kita kedatangan tamu istimewa, kakang Karjo datang lagi bersama kedua anak-anaknya, tolong siapkan makanan yang enak-enak ya” Projo terlihat seperti Sangat bangga mendapat kunjungan dari Kerthapati. Dimas menangkap hal itu dari nada suara dan keramahan yang ditunjukannya. Dimas merasakan ada yang pernah ditunjukan Kerthapati begitu dikagumi oleh Projo. Hanya saja Dimas belum mendengar cerita mengenai perjalanan Kerthapati sebelumnya ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kakang, silahkan duduk” Projo mempersilahkan Kerthapati duduk diikuti Dimas dan Raji. Projo terus sibuk memeriksa persiapan yang sedang dilakukan istrinya di dapur. Tak lama kemudian kembali ikut duduk bersama dengan tamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya langit di barat agak merah ya” Kerthapati memulai pembicaran yang agak berbeda dan lebih serius dari sekadar basa basi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul kang Karjo, seperti banyak burung-burung merah di udara” Projo mempertegas apa yang disampaikan oleh Kerthapati. Dimas dan Raji masih tampak bingung dengan apa yang dibicarakan kedua orang itu. Mereka berusaha mereka-reka apa yang sedang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana burung-burung merah itu bersarang Projo, aku Sangat ingin melihat mereka” Kerthapati bertanya sambil menengok dan tersenyum ke arah Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabarnya setiap gelap mereka bersarang di ujung kulon, kicauannya Sangat khas di malam hari, kakang akan dengan Sangat mudah mengenalinya” Projo menjawab, kemudian matanya bergantian kepada Dimas dan Raji. Seperti mengerti pandangan yang diberikan oleh Projo, Kerthapati tersenyum kepada Projo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mengamati isyarat dari bahasa wajah yang dilakukan oleh Kerthapati dan Projo. Dimas menangkap aliran telepati yang sesekali dilakukan keduanya. Walaupun Dimas Sanggup membacanya, tapi Dimas merasa tidak perlu untuk menguping pembicaraan telepati itu. Dirinya sudah cukup tahu siapa Projo sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Nyai Narsih istri Projo datang dari dapur membawa makanan. Sebakul nasi, ikan goreng dan sayuran menantang mata Raji yang sedari tadi sudah mengelus perutnya. Dimas tersenyum melihat sedikit gerakan tangan yang dilakukan sahabatnya, hal sudah biasa dan lumrah baginya. Kerthapati merasakan getaran udara yang mengalir di perut Raji, tangannya segera meraih makanan yang sudah diletakan di dipan kayu. Tindakan Kerthapati tentu saja mengurangi rasa canggung Raji untuk juga ikut mengambil langkah yang sama. Dengan tersenyum dan gaya khas cengengesannya membuat semua orang ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo nak, jangan sungkan aku yakin kau sudah Sangat lapar setelah perjalanan jauh” Projo mempersilahkan Dimas yang masih tampak sungkan mengambil makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana makan yang diselingi dengan banyolan Raji membuat suasana makin meriah. Malam pun tak terasa merasuk ke dalam sela-sela waktu. Tetapi di tempat yang lain, Pafi dan Sukmaratih tengah kedinginan di pinggir perbatasan desa dengan setumpuk kayu yang sudah menjadi bara api. Tak seperti Dimas dan Raji, Pafi harus menjalani penyamaran sebagai pengemis dan semua resikonya. Tetapi tampaknya tidak ada rasa kecewa dengan apa yang dijalaninya. Wajahnya yang telah dirubah tetap membinarkan sinar cerah di matanya. Pafi sibuk membalik-balik daging burung hutan yang tadi sore ditangkapnya dipanggang di atas bara api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katri, waspada” tiba-tiba Sukmaratih melakukan gerakan tangannya agar Pafi waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa nek” Pafi bertanya lembut seolah sedang berbicara dengan neneknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tamu tak diundang” Sukmaratih menggeser duduknya mendekati Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang akan kita lakukan nek ?” tanya Pafi setengah berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak akan melakukan apapun, tapi tetap waspada dan siap menerima serangan” Sukmaratih membisikannya lewat telepati. Pafi tidak memiliki kemampuan dalam berbicara secara aktif melalui telepati. Pafi hanya berbicara secara pasif jika ada seorang telepati aktif mengajak berbicara dengannya. Dalam kewaspadaan mereka, dari balik rumpun semak yang sudah mengering muncul Jatrapraga dan Kriyandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi, boleh kami bergabung dengan kalian ?” Kriyandita bertanya seolah mereka tidak saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh….silahkan nak, senang sekali kalau ada teman” Sukmaratih menjawab juga seolah baru mengenal mereka. Pafi yang menyadari siapa yang datang, kembali melanjutkan membakar daging burung yang sudah mengeluarkan aroma Sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek, ini daging bakarnya sudah matang” Pafi menyodorkan satu tangkai kayu yang terikat daging burung bakar ditengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon maaf tuan, nona, kami tidak mempunyai cukup daging bakar untuk dibagi bersama kalian. Tadi kami hanya menangkap dua ekor saja” Sukmaratih menggigit daging bakarnya sambil melirik Kriyandita dan Jatrapraga yang sudah kelihatan kelaparan. Sukmaratih hanya tersenyum melihat ekspresi Kriyandita yang agak kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakang Garpo sayang, bisakah kau carikan aku daging burung untukku ?” Kriyandita menyandarkan tubuhnya ke badan Jatrapraga yang sedang asyik duduk di hadapan api unggun menghangatkan badannya. Melihat aksi dan gerakan yang dilakukan oleh Kriyandita, Sukmaratih melotot tajam kepada Kriyandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..kalian ingin berburu burung di malam seperti ini, tadi nenek melihat ada banyak sarang burung di pohon randu itu. Kalau kau beruntung, mungkin selamat dari patukan ular berbisa” Sukmaratih menunjukan arah dimana pohon randu itu berada dengan wajah yang Sangat tidak suka terhadap Kriyandita kemudian membuang mukanya jauh-jauh dari pemandangan mesra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi melihat nada suara yang Sangat berbeda dari Sukmaratih kali ini, ada getar marah yang tertahan di sana. Melihat aksi mesra yang dilakukan oleh Kriyandita dan Jatrapraga, mulailah Pafi mengerti apa yang sedang terjadi dan hanya tersenyum kecil. Pafi mulai meraba-raba perasaannya sendiri, ada getar marah yang juga pernah dia rasakan ketika melihat seseorang sedang berdekatan dengan perempuan lain. Tapi apakah getar marah itu hal sama dengan apa yang dilihatnya sekarang. Pikirannya menerawang jauh mengenai siapa yang menjadi sumber getar marahnya. Tapi segera ditepisnya pikiran itu, hatinya mencoba menasehati dan memberikan alasan-alasan bahwa dirinya masih terlalu hijau untuk mengerti apa yang dipikirkannya sekarang. Lamunannya segera terpecah ketika sebuah suara menegur dari orang di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katri, kalau kau sudah selesai mungkin sisa makananmu bisa kau taruh di tepi api unggun. Siapa tahu ada yang akan menghabiskannya malam ini” Sukmaratih meletakan sisa tulang-tulang makan malamnya di tepi api unggun. Kemudian beranjak sedikit menjauh dari api unggun dan menggelar kainnya untuk tatakan tidur bersama buntalan pakaian yang digunakan untuk alas kepala. Pafi melakukan hal yang sama dengan Sukmaratih, meninggalkan Kriyandita yang tersenyum kecut. Tetapi kelihatan sekali Jatrapraga menjadi kikuk menghadapi situasi ini. Situasi itu membuat Jatrapraga terjaga sepanjang malam, bingung memikirkan keberadaannya di antara dua perempuan yang sekarang berada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi begitu cerah menghujamkan kehangatannya ke pucuk-pucuk daun berhiaskan dinginnya embun pagi. Burung-burung Galapaksi yang ditambat di depan rumah sudah memekikan suara-suara riang dengan kepakan sayapnya. Menyambut para majikan memberikan makanan kepada mereka. Namun keriangan para Galapaksi ternyata bisa menutupi pekik kesakitan seekor Garuda Kencana yang mengepak-ngepak lemah di tengah sawah yang tengah menguning. Pekik yang Sangat khas itu tentu Sangat dikenal oleh Kerthapati, dengan segera dirinya meninggalkan beranda rumah Projo. Kopi panas yang terhidang tak lagi dipedulikannya. Dimas dan Raji mengikuti Kerthapati dari belakang bersama Projo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergolek lemah dengan sayap yang terluka mengeluarkan darah berwarna biru kehitaman, darah yang telah tercemar racun. Tampak bekas-bekas pertarungan yang hebat dari luka-luka yang tergores di sekujur tubuhnya. Kerthapati mendekati Garuda yang memekik semakin lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Dimas pekik lemah itu bukan hanya sekadar pekikan tanpa arti, tapi sebuah kalimat yang sedang diucapkan, bahkan Raji yang bisa berbicara dengan Garudanya tidak akan mengerti pekikan Garuda lain. Dimas memang mampu berbicara dengan hampir semua binatang. Pekikan lemah itu dibalas oleh Dimas dengan telepatinya dan Kerthapati merasakan getar telepati yang dilakukan Dimas ketika berbicara dengan hewan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerthapati mendekati kepala Garuda yang tergolek lemah itu dan tangannya diletakan di kepala Sang Garuda dan melafalkan sesuatu dengan mata terpejam. Sejenak kepala Kerthapati tersentak ke belakang seakan ada hal yang membuatnya tertarik ke belakang. Tangannya yang menyentuh kepala Garuda itu tetap ditahannya. Tangannya yang semula biasa saja kini mulai menonjolkan urat-urat darah kebiruan yang semakin lama semakin menghitam. Wajah Kerthapati terlihat menahan rasa ngeri yang luar biasa, kemudian berangsur normal seiring dengan menutupnya mata Garuda itu untuk selamanya. Kerthapati membuka matanya, urat-urat darahnya kembali mengempis dan kulitnya kembali cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kakang Karjo, apa yang terjadi dengan Garuda ini” Projo mendekat ke sisi kiri Kerthapati sambil berusaha memeriksa seluruh tubuh Garuda itu. Dimas tampak berusaha menahan kesedihannya walau matanya tampak mulai berair sambil tangannya berusaha mencoba mengangkat kepala Garuda itu ke atas pangkuannya. Tak ada satu pun yang mengerti arti pekikan lemah yang sedari tadi dikeluarkan oleh Garuda tadi kecuali Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya Garuda ini habis berkelahi dengan seekor Naga Jalatunda, tapi kali ini rupanya Garuda ini menemui lawan yang lebih kuat” Kerthapati memberikan kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hampir tidak mendapatkan apapun dari ingatan terakhir Garuda ini. Racun yang bercampur dalam darahnya mengacaukan semua ingatannya. Akupun sempat nyaris terkena racun gaibnya, kalau tidak ada pertolongan tadi” Kerthapati melirik Dimas yang masih berkaca-kaca. Melihat mata Kerthapati beralih kepada Dimas, Projo mengikuti tatapan itu dan tersenyum kepada Dimas. Raji mengikuti semua pembicaraan dan tampak cukup mengerti dengan yang dimaksud oleh Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, akan kita kuburkan dimana Garuda ini” Projo bertanya kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus mengambil sisa darahnya” Dimas berkata singkat. Semua yang berada disitu terkejut mendengar apa yang diucapkan Dimas. Kerthapati yang sempat merasakan getar telepati yang dilakukan Dimas dengan Sang Garuda segera mengerti apa yang tadi Dimas bicarakan dengan Sang Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, kita harus mengambil sisa darah Garuda ini agar tidak ada yang mempergunakannya untuk tujuan tidak baik. Sekalian darah ini untuk kita teliti kandungan racunnya” Kerthapati menguatkan pernyataan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja Projo mengambil kantung-kantung ember kulit dari rumahnya. Kerthapati kemudian mengibaskan tangannya, tubuh Garuda itu terangkat ke udara dengan menggantung terbalik. Pada bagian bawah kepalanya Projo meletakan kantung-kantung ember kayu yang dilapisi kulit menampung darah yang mengalir. Kerthapati melakukan gerakan kecil mengarah pada bagian leher Sang Garuda, sebuah luka cukup besar menganga dari leher Garuda itu. Darah segarpun mengalir dengan deras memenuhi satu ember kulit. Setelah tetes terakhir kemudian Dimas tanpa ragu memindahkan isinya ke dalam kantung kulit besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka melakukan upacara penguburan buat jasad Sang Garuda seperti layaknya penguburan bangsa Narapati. Garuda Kencana dan Narasimha memang tidak dianggap lagi sebagai binatang semata oleh bangsa Narapati, tetapi sudah dianggap memiliki kedudukan yang sama. Dari kejauhan Pafi dan Sukmaratih mengawasi dari kejauhan. Jatrapraga dan Kriyandita tak tampak bersama mereka. Pafi terlihat sekali ingin menghampiri Dimas dan Raji. Tapi urung niatnya karena ingat akan penyamaran yang sedang dilakukannya bersama Sukmaratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka sedang apa nek” Pafi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…mereka sedang melakukan upacara penguburan, tampaknya ada seekor Garuda Kencana yang mati” Kata Sukmaratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana nenek tahu kalau yang sedang mereka kubur itu seekor Garuda Kencana” Pafi bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukmaratih hanya tersenyum, “Makam seekor Garuda Kencana selalu berbentuk segitiga, lihat saja. Kau tidak mendapatkan pelajaran ini di kuil ?” Sukmaratih menunjuk ke arah makam yang sedang diatur rapi dan ditaburi kembang hutan oleh Projo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, mungkin belum. Aku baru mendapatkan pelajaran mengenai keberadaan hewan-hewan gaib saja. Belum sampai kepada hubungan dan sejarahnya dengan bangsa Narapati” Pafi menjawab yang walaupun dengan wajah yang berbeda sekali, tetapi tetap sinar cerdas dari matanya memancar. Sukmaratih Sangat mengenali aura cerdas itu dan mengingatkan dirinya saat masih belajar di kuil Cakravartin. Sukmaratih tampak Sangat menyukai Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi dengan Garuda itu ?” Pafi bertanya penuh rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak tahu, Garuda Kencana tidak pernah mati dengan penuh luka seperti itu kecuali saat perang. Garuda binatang yang Sangat pandai bertempur. Satu-satunya musuh alami Garuda adalah Naga Jalatunda dan biasanya Garuda selalu unggul dalam setiap perkelahian dengan Naga Jalatunda” Sukmaratih menjelaskan kepada Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naga Jalatunda ? bukankah itu naga tunggangan bangsa Amukhsara” Pafi mengamati wajah Sukmaratih, mencoba meneliti perubahan wajah tua itu. Mata Sukmaratih menyipit, Pafi merasakan ada getaran halus mengalir dari tubuh Sukmaratih meluncur menuju Kerthapati. Pafi menyimpulkan Sukmaratih sedang melakukan komunikasi telepati dengan Kerthapati. Pafi melakukan hal sama dengan tujuannya kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, apakah kau mendengarku” Pafi berkata dalam hati. Mendengar panggilan Pafi, Dimas segera berkonsentrasi dan menundukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku dengar, kau ada dimana sekarang Pafi” Dimas berkata juga dalam hati, wajahnya tetap ditundukan ke tanah untuk menyembunyikan apa yang sedang dilakukannya. Tampaknya tak ada satupun mengetahui apa yang dilakukan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berada tidak jauh darimu, aku masih bisa melihat kalian dari tempatku, tapi aku tidak bisa mendekat, karena penyamaran ini tidak boleh terbongkar” Pafi menjawab Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, kalau banyak orang berkumpul dengan perbedaan yang terlalu mencolok akan banyak menimbulkan kecurigaan.” Dimas melirik sejenak ke arah Kerthapati yang masih tepekur di depan makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi pada Garuda Kencana itu ?” Tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah tahu rupanya kalau yang dimakamkan ini Garuda Kencana. Dia mati keracunan setelah bertarung dengan Naga Jalatunda. Dia adalah Garuda yang sempat ditangkap dan melarikan diri dari tahanan Amukhsara” Dimas memejamkan matanya sejenak, memeriksa kalau-kalau ada pencuri dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu Garuda memberitahumu dimana tempat persembunyian Raja Sanaisbin ?” Pafi bertanya dengan mata yang agak terbelalak. Seketika petir menyambar sesaat setelah Pafi menyebutkan nama Raja bangsa Amukhsara itu. Sukmaratih terkejut dengan perubahan cuaca yang mendadak itu, matanya menatap Pafi dengan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo lekas kita tinggalkan tempat ini, tempat ini sudah tidak aman” Sukmaratih menarik tangan Pafi yang sudah terputus dari telepatinya dengan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerthapati segera bangun dari tepekurnya mendengar petir yang tidak wajar di pagi yang cerah. Cuaca yang tiba-tiba mendung membuatnya bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita tinggalkan tempat ini, tampaknya hujan akan segera turun” Kerthapati berkata kepada Projo. Projo hanya mengangguk mengerti dan mereka pun segera meninggalkan tempat kembali menuju rumah Projo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerthapati memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lebih awal dari sebelumnya. Tanpa banyak mengundang perhatian banyak penduduk desa tersebut, Kerthapati, Dimas dan Raji segera meninggalkan desa tersebut. Projo tampak cemas dengan keberangakatan mereka. Wajah Dimas tetap menyiratkan luka yang dalam yang tampak jelas bagi Kerthapati. Kerthapati tahu bahwa Dimas menyimpan keterangan yang Sangat penting baginya. Keterangan yang selama ini selalu berusaha dicarinya dan selalu menemui kegagalan. Tapi Kerthapati tahu dia tidak bisa menanyai Dimas hal itu sekarang. Sekarang yang diperlukan adalah bagaimana keluar dari desa itu secepat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kita harus meninggalkan desa ini ?” Raji bertanya kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita Sangat dekat dengan perang penentuan dunia Narapati. Kita harus menyimpan semua yang kita tahu tentang perang ini sampai kita sampai ditempat yang aman” Kerthapati menatap kepada Dimas yang mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buta setelah melihat, Tuli setelah mendengar” Kerthapati menatap bergantian kepada Dimas dan Raji. Raji menoleh kepada Dimas memberikan isyarat untuk memberitahu apa yang dimaksud Kerthapati. Tetapi Dimas hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan menembus hutan belantara Gunung Lawu yang Sangat lebat ke arah selatan yang penuh dengan batuan putih dan kapur. Rekahan-rakahan tebing berlipat-lipat seperti sebuah permukaan yang mengkerut dalam luasan yang hanya bisa dilihat sejauh mata memandang. Bukit-bukit putih menjulang tinggi tidak seperti gunung kerucut pada umumnya. Jarang sekali pepohonan tumbuh di atas dataran itu, sekilas kilasan-kilasan cahaya aneh terkadang melenting keluar dari permukaan dataran batuan kapur itu, berbeda warna setiap saat. Terkadang sebentuk petir berwarna biru menyambar permukaan tanpa menimbulkan suara ataupun getaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita melewati wilayah gunung kidul, daerah ini adalah tempat tinggal mahluk setengah gaib bernama Sethi. Tubuhnya mengeluarkan cahaya terang yang membuat malam hari di daerah ini akan menjadi Sangat berwarna-warni. Mahluk ini termasuk mahluk cerdas dan memiliki banyak kemampuan yang sering diinginkan oleh banyak bangsa, termasuk Narapati dan Amukhsara” Kerthapati berhenti sejenak di sebuah batuan putih besar yang bersandar pada tebing yang cukup tinggi. Di bawahnya mengalir aliran sungai berwarna hijau terang yang berkilauan diterpa sinar matahari siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah karena kemampuan mereka melihat masa depan, sehingga mereka tidak mau membuka diri dengan bangsa-bangsa lain ?” Dimas bertanya kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul sekali” Kerthapati membenarkan jawaban Dimas. Ekspresi Raji yang kelihatan tidak tahu mengenai hal ini membuat Kerthapati tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau membaca Bangsa-bangsa yang hidup di dunia Narapati, kau pasti akan mengetahui semua hal mengenai bangsa Sethi” Kerthapati menepuk bahu Raji yang segera saja menggaruk-garuk kepalanya seolah begitu banyak ketombe yang membuat kulit kepalanya gatal-gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, Bangsa-bangsa dunia Narapati, jangannya semua hal mengenai mereka, bentuknya saja aku tidak hafal” Raji hanya ngedumel merutuki pelajaran yang dikatakan Kerthapati. Dimas yang melihat tingkah Raji hanya tersenyum maklum dengan perilaku sahabatnya itu yang sebenarnya termasuk anak yang pandai, hanya saja malas sekali membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kita akan menemui mereka sekarang ?” Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kita tidak akan menemui mereka. Kau tentu sudah tahu dari pelajaranmu bahwa mereka bangsa yang tidak akan bisa ditemukan kecuali mereka menginginkan pertemuan dengan kita” Jawab Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, apakah penting bagi kita bertemu dengan mereka ?” Tanya Dimas kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita hanya akan melintasi wilayah mereka, kalau mereka tertarik dengan kita, maka mereka akan menampakan diri. Pertemuan mereka selalu menjadi penting, karena berarti mendapatkan kesempatan untuk meneropong kejadian-kejadian di masa depan” Jawab Kerthapati. Dimas mengangguk-angguk sambil menyapu seluruh wilayah putih yang mulai diselimuti kabut putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo lebih baik kita tetap berjalan, jangan sampai mereka mengira kita berniat bertemu mereka” Kerthapati melanjutkan langkahnya diikuti Dimas dan Raji yang mulai kelihatan kelelahan karena suhu udara siang di wilayah itu yang Sangat tinggi akibat pantulan batuan kapur. Tidak ada satu pohon pun yang bisa dijadikan perlindungan dari panas dan teriknya sinar matahari. Kerthapati tampak tetap segar seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh keadaan cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat tiba-tiba kabut muncul, aneh sekali” Raji menunjuk-nunjuk ke arah kumpulan kabut yang menggumpal diantara letupan-letupan sinar berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang Raji, kabut itu adalah tanda dari kemunculan mereka. Satu-satunya orang yang pernah bertemu dengan mereka adalah Raja Prabu Narayala. Itulah sebabnya kita punya pengetahuan mengenai mereka” Kerthapati menjelaskan sambil terus berjalan menghindari gumpalan kabut itu. Perlahan gumpalan kabut itu menipis dan muncul beberapa mahluk kecil berukuran setengah manusia dewasa dengan warna kulit keperakan yang memantulkan sinar berwarna-warna seperti letupan-letupan sinar yang keluar dari batuan kapur. Wajah yang mirip manusia dengan mata yang lebih lebar berwarna biru terang tanpa rambut di kepala. Mereka mengenakan pakaian yang Sangat berbeda dengan bangsa Narapati maupun Manusia. Kesemua mata mereka menatap hanya kepada satu tujuan. Kerthapati berhenti dan menggiring Dimas dan Raji berdiri di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa bangsa Narapati bermalih rupa melewati tempat ini di hari yang tidak menyenangkan” Kata seorang bangsa Sethi yang berdiri paling depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami, kami sedang dalam perjalanan menuju Benteng Merapi” kata Kerthapati singkat. Kerthapati yakin bahwa bangsa Sethi yang berdiri paling depan itu adalah pemimpin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh sekali, bukankah akan lebih singkat perjalanan jika kalian melanjutkan ke arah barat. Mengapa harus memilih jalan memutar ke selatan, apakah kalian menginginkan sesuatu dari tempat ini ?” Pemimpin Bangsa Sethi itu kembali bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kami memilih jalur ini karena jalur yang biasa kami lewati tidak lagi bisa kami lewati. Kami berharap mendapatkan perlindungan disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Merapi” Kerthapati mencoba menjawab dengan nada suara serendah mungkin. Kerthapati tahu bahwa dia harus menjawab sebaik mungkin setiap pertanyaan untuk meyakinkan bangsa Sethi. Walaupun sebenarnya bangsa Sethi sudah bisa mengetahui tujuan siapapun melintasi daerah mereka karena kemampuan mereka dalam melihat masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu telah membenarkan ramalan itu, Sang penjaga telah datang dan memberikan kehormatannya di tempat ini” Pemimpin Bangsa Sethi mengangkat kedua tangannya ke udara. Seketika suasana panas itu berubah menjadi Sangat sejuk. Tiba-tiba saja muncul pohon-pohon sulur raksasa berwarna hijau menjulang tinggi ke angkasa dan bangunan-bangunan berukuran kecil di sekeliling mereka. Perubahan itu dimengerti sebagai penerimaan bangsa Sethi terhadap tamunya. Pemimpin bangsa Sethi itu maju mendekati Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Aruung Nam, aku adalah pemimpin ke 9876 dari bangsa kami. Selamat datang di kerajaan Sethi” Pemimpin bangsa Sethi itu menyilangkan tangan kanannya yang berjari empat itu di depan dada lalu menundukkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Kerthapati, salam hormat kami dan terima kasih atas undangan ini” Kerthapati balas memberikan salam yang sama. Dimas dan Raji yang sedari tadi berada di belakang Kerthapati menggeser tempat berdiri mereka disamping Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu dijelaskan, aku sudah tahu siapa mereka berdua” Aruung Nam menghentikan kata-kata Kerthapati. Aruung Nam membungkuk dan memberikan isyarat agar Kerthapati mengikutinya sambil tersenyum lebar kepada Dimas. Dimas tampak canggung dengan senyum itu, dirinya bisa melihat ada pandangan tajam dibalik senyum itu, begitu tajam sehingga terasa menusuk ke dalam dada. Tapi Dimas merasakan ada sesuatu yang lain yang mendorong rasa menusuk itu keluar dari dadanya. Pandangannya menjadi lebih tajam dan menembus masuk ke setiap mata para Sethi yang menatapnya. Dimas merasakan ada ruang dingin di dalamnya. Banyak dari para Sethi itu akhirnya menundukan wajahnya tak Sanggup menahan tatapan balik dari Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan di atas hamparan rumput hijau yang segera menjulur tinggi membentuk tapak-tapak pijakan untuk diinjak pada setiap langkah. Dimas dan Raji tampak ragu-ragu melangkah. Tapi akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah bangunan sederhana berdinding batu putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan duduk” Aruung Nam duduk di atas sebongkah batu putih berbentuk kubus yang tampak mengkilat karena sering diduduki. Kerthapati duduk berhadap-hadapan dengan Aruung Nam, sedangkan Dimas dan Raji duduk di samping kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruung Nam menatap Dimas, tetapi kali ini Dimas merasakan tidak ada rasa yang menusuk tajam dari tatapan itu. Kali ini tatapan mata itu begitu teduh bahkan begitu menaruh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh suatu kehormatan akhirnya kami mendapatkan kunjungan Sang pembawa BUKU KEHIDUPAN” Aruung Nam kali ini tersenyum ramah sekali. Jubah putih dengan penutup kepalanya di buka dan diletakan di sampingnya. Kerthapati tetap diam menunggu pertanyaan demi pertanyaan muncul dari Aruung Nam. Kerthapati tahu bahwa di Dunia Sethi, tamu asing dianggap sopan bila dia berkata setelah mendapatkan sebuah pertanyaan dan menjawabnya dengan penjelasan yang cukup. Bertanya hanya bila sudah dipersilahkan untuk bertanya. Bangsa Sethi tidak mengenal keramah-tamahan seperti yang dilakukan bangsa Narapati. Terhadap sesamanya mereka cenderung berbicara menggunakan telepati. Bahasa verbal Sangatlah jarang digunakan sehingga bangsa Sethi tidak mengembangkan bahasa verbal dalam komunikasi sosial dan budaya mereka. Bangsa Sethi juga bangsa yang amat penyendiri, tidak menyukai pertemuan dengan bangsa lain sehingga mereka amat jarang diketahui. Bangsa Narapati umumnya mengenal bangsa Sethi melalui buku-buku dari ruang pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah yang diinginkan dari tempat ini ?” Aruung Nam bertanya, tapi kali ini tidak menatap kepada Kerthapati tetapi mata birunya menatap Dimas dengan lekat. Kerthapati mengerti bahwa saat ini bukan dirinya yang diinginkan oleh bangsa Sethi ini. Dimas lah yang membuat mereka akhirnya bisa bertemu dengan bangsa penyendiri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kami hanya ingin melintas dan mendapatkan perlindungan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Merapi” Dimas berusaha tenang dan mengulang jawaban Kerthapati yang diingatnya. Kerthapati dan Raji tampak diam seperti patung. Dimas melihat kedua orang itu sepeti sedang dalam tatapan yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruung Nam tersenyum melihat Dimas menyadari suatu perubahan yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;“Mereka tidak apa-apa, aku hanya mengentikan waktu” Aruung Nam menunjuk ke arah jendela berbentu bundar dimana seekor burung sedang melayang di depan jendela tanpa mengepakan sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin berbicara berdua saja denganmu anakku dan melupakan semua tata krama bangsa Sethi” kata Aruung Nam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah semua bangsa Sethi dapat menghentikan waktu ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, hanya dia yang memiliki kemampuan menembus jauh ke masa depan dapat melakukannya, dan kau anakku adalah salah satunya” kata Aruung Nam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satunya ? aku bisa menghentikan waktu, tidak mungkin. Aku tidak mempunyai kemampuan setinggi itu” Dimas tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Aruung Nam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tentu sudah tahu sumber kekuatan terbesar yang bersemayam di tubuh mu. Kau hanya perlu melatih diri untuk menggunakannya. Bahkan kekuatanku pun bagaikan bulir padi dibandingkan yang kau miliki anakku” Mendengar pujian Aruung Nam, Dimas merasakan aliran aneh yang membuat denyut jantungnya berdegup makin kencang. Antara bangga dan takut Dimas merasakan hal itu bercampur aduk. Aruung Nam tersenyum dengan mata birunya tetap lekat ke arah mata Dimas. Tak sedikitpun pandangannya lepas dari gerakan mata Dimas. Terkadang Dimas merasa kikuk mendapatkan tatapan yang begitu terus menerus. Sesekali tatapannya dibuang ke arah lain dan kemudian kembali lagi untuk membuang rasa jengah yang mulai menggumpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melatihnya ? bagaimana caranya ?” Dimas bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membantumu untuk melatihnya” Aruung Nam menatap Dimas seakan sedang menunggu jawaban yang akan diberikan Dimas. Sementara Dimas seakan sedang bingung diantara jawaban yang akan diberikannya. Dimas merasakan ada keraguan dalam hatinya untuk menerima tawaran yang diterimanya dari Aruung Nam. Aruung Nam merasakan ada keraguan yang muncul di hati Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa lama waktu diperlukan untuk melatihnya, karena kami harus berangkat ke Merapi segera” kata Dimas agak cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm….” Aruung Nam tersenyum mendengar alasan keraguan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau begitu cepat lupa anakku, kau akan melatih kemampuanmu untuk menghentikan waktu. Jadi waktu bukanlah masalah buat kita disini” kata Aruung Nam sambil mengerakan jari-jari tangan kanannya yang hanya berjumlah empat di depan matanya. Gemercik cahaya menari-nari di hadapan Dimas lalu mengumpul dan membentuk sebuah lempengan bening yang berputar seperti sebuah pusaran air. Kemudian Aruung Nam berdiri dan menghampiri jendela dimana terdapat seekor burung penghisap madu sedang melayang lambat di depan sebuah bunga. Aruung Nam mengambil burung tersebut dengan mudah lalu membawanya ke hadapan Dimas dimana lempeng pusaran air tadi masih melayang di hadapan Dimas. Aruung Nam meletakannya di atas lempeng pusaran air tadi. Bagaikan tersedot kedalam pusaran air, burung tersebut lenyap. Aruung Nam menunjukan jarinya ke arah jendela dimana tadi dia mengambil burung tersebut. Burung penghisap madu itu sedang bergerak normal dengan kepakan sayap dengan kecepatan tinggi berusaha menghisap madu dari sekuntum bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruung Nam mengulurkan tangan kanannya ke arah Dimas. Dengan sedikit ragu yang masih tersisa dalam hati Dimas, tetapi nalurinya berkata untuk menyambut uluran tangan itu dengan tangan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan Kerthapati dan Raji?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tidak akan kehilangan waktu sedikit pun, bagi mereka berdua tidak ada yang berubah kecuali melihat kita sejenak saling bertatapan seperti hanya sekejapan mata” Aruung Nam membimbing Dimas berjalan keluar dari rumah. Suasana langit tidak lagi biru, tetapi menjadi merah seperti darah. Dimas merasakan tubuhnya begitu ringan dan tak berbobot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana kita berada ?” Dimas sedikit cemas melihat langit merah di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada di tingkatan waktu paling atas dimana sekedipan mata di dunia Narapati sama dengan satu setengah hari disini” kata Aruung Nam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tingkatan paling atas ? memangnya waktu bisa bermacam-macam ?” tanya Dimas keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu menurut urutannya terbagi tiga bagian, masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Tetapi waktu juga terbagi menjadi tujuh tingkatan menurut jenis ruang. Tingkatan waktu dalam Dunia Manusia dan Dunia Narapati adalah sama atau disebut tingkat satu putaran bumi. Pada tingkatan dua waktu berkali lipat menjadi 7 putaran bumi, artinya tujuh hari pada tingkatan kedua setara dengan satu hari pada tingkatan pertama. Demikian pula pada tingkatan tiga berkali 7 dari tingkatan dua, begitu seterusnya sampai tingkat yang paling atas yaitu tingkatan ketujuh.” Aruung Nam berhenti, senyumnya melebar melihat Dimas yang mulai manggut-manggut mengerti apa yang sedang diterangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada tingkatan ke berapa ruang Dunia Sethi ?” Dimas mulai tampak lebih tertarik dan lebih santai dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruang yang diisi oleh bangsa Sethi termasuk ke dalam tingkatan ke dua” kata Aruung Nam, Dimas tampak mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah saya bisa menjelajah ke waktu yang lampau ?” Pertanyaan Dimas mulai makin berkembang. Dimas mulai mengerti arti kemampuan dalam menguasai waktu. Aruung Nam tampak mengerti dengan arah pertanyaan Dimas. Dengan hati-hati sekali Aruung Nam menjelaskan kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada waktu lampau kau hanya akan bisa melihat apa yang sudah terjadi tetapi tidak akan pernah bisa menghapus atau mengubahnya. Waktu selalu tercatat dalam setiap benda, oleh karena itu kita bisa melihat apa yang pernah terjadi dengan menarik ingatan yang tersimpan dalam benda-benda itu. Tetapi ingatan itu mempunyai masa habis tergantung seberapa banyak sumber tenaga yang tersimpan dalam benda tersebut. Waktu lampau masih bisa kita kunjungi tetapi kita tidak dapat mengubahnya.” Aruung Nam berhenti sejenak sambil terus memandangi Dimas yang mulai menyimak apa yang sedang diterangkan olehnya. Tampak sinar mata yang Sangat bergairah mulai terpancar dari sorot matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada waktu sekarang kita bisa melakukan perubahan apapun yang akan berpengaruh terhadap waktu yang akan datang. Waktu yang akan datang hanya bisa kita lihat tetapi tidak bisa kita kunjungi. Waktu yang akan datang memiliki banyak cabang yang terkadang butuh keahlian dan ketelitian untuk mengetahui cabang yang benar. Akan banyak tipuan dalam setiap cabang waktu di masa yang akan datang. Hanya ada satu orang yang bisa melihat secara jelas cabang mana yang bukan tipuan. Banyak peramal baik dari dunia Manusia maupun Narapati menemukan cabang waktu yang salah, kalaupun benar itu karena kebetulan semata. Tidak ada satu pun manusia yang bisa melihat waktu yang akan datang dengan tepat. Bahkan bangsa Sethi pun sesungguhnya hanya melihat cabang-cabang itu, tetapi tidak bisa menentukan cabang mana yang akan merupakan masa depan yang sesungguhnya” Aruung Nam diam. Dimas melihat ada hal yang sedang dipikirkan oleh Aruung Nam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa anda mau berkenan melatih saya menguasai waktu ?” tanya Dimas penuh rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Sethi memiliki penginderaan yang Sangat peka terhadap perubahan alam dan tanda-tanda gaib yang diberikan alam semesta. Setiap kali kami menemukan sebuah pertanda yang Sangat nyata dan jelas tapi tidak mengenali artinya, kami akan selalu melakukan semadi untuk bertanya dengan para leluhur kami” Aruung Nam berhenti karena Dimas kemudian memotongnya dengan sebuah pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanda apa yang telah dilihat, lalu apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah pertanda telah ditunjukan oleh langit bahwa akan datang badai gelap yang Sangat mengerikan dari arah utara. Dua bintang saling bertubrukan hingga hancur, Dunia Sethi terguncang hebat nyaris runtuh sebelum akhirnya datang bintang yang lebih bersinar datang meniup semua kegelapan dan mengembalikan semuanya.” kata Aruung Nam sambil berhenti sejenak mengambil nafas cukup dalam. Seakan cerita ini banyak menyerap energinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Leluhur kami memberikan jawaban yang sama dengan apa yang telah terjadi tadi sewaktu kalian melewati wilayah batuan kapur” kata Aruung Nam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawaban ? maksud anda mengenai kedatangan kami ke tempat ini ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Cuma itu, tetapi juga mengenai kedatangan seorang anak yang mampu menatap tatapan bangsa Sethi dan membuat bangsa Sethi tertunduk oleh tatapannya” kta Aruung Nam. Dimas teringat mengenai tatapan yang beradu dengan beberapa bangsa Sethi yang sempat membuatnya merasa sesuatu yang aneh tetapi kemudian muncul sesuatu dalam dirinya yang mendorong perasaan tersebut sehingga berbalik menyerang para Sethi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak seorang pun tamu kami atau bangsa manapun yang Sanggup menahan tatapan dari bangsa Sethi. Tatapan tersebut tidak sekadar sebuah adu pandang saja, tetapi pembacaan semua ruang pikiran yang ada di dalamnya. Sehingga kami bisa tahu semua mengenai isi maksudnya” Aruung Nam kemudian menatap tajam ke arah pandangan mata Dimas. Dimas terpaku dengan tatapan tersebut, sesuatu yang aneh terasa mengalir melalui matanya ke dalam rongga kepalanya, dadanya seperti ditusuk-tusuk. Tetapi sebuah aliran hangat menenangkan dadanya dan mendorong aliran asing itu keluar melalui matanya dan terus mendorong hingga masuk ke dalam mata Aruung Nam. Aruung Nam tampak berusaha mendorong balik dengan sekuat tenaganya, tetapi usahanya sia-sia karena dorongan balik yang dilakukan Dimas terlalu kuat, akhirnya Aruung Nam hanya bisa menunduk menghentikan tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, sekarang kau sudah mengerti apa yang aku maksud anakku” Aruung Nam tampak tenang dan mengangkat wajahnya kembali menatap Dimas. Tapi kali ini dia tidak melancarkan serangan seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa anda melakukan hal tadi ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya memancing kekuatan yang bersemayam dalam tubuhmu, tanpa kau menyadarinya kekuatan itu sebenarnya telah melakukan pertahanan sendiri. Tapi pertahanan itu sifatnya masih pasif, belum bisa digunakan untuk menyerang. Kekuatan menyerang yang selama ini kau pergunakan datang dari intisari tenagamu sendiri. Dan aku akan membantumu melatih untuk mengaktifkan kekuatan itu.” Aruung Nam dan Dimas segera terlibat dalam sebuah gerakan-gerakan latihan yang Sangat cepat dan ketat. Dunia yang semula hanya berspektrum warna merah, kini berubah dengan warna-warni yang lain yang dipancarkan keluar oleh kilatan-kilatan yang melesat dari tubuh Dimas seperti halnya kilatan-kilatan cahaya yang muncul di daerah gunung kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------- “” --------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tampak seperti melamun matanya hanya menatap kepada Aruung Nam yang juga sama-sama menatapnya. Raji menyikut pinggangnya, seperti tersadar dari mimpi Dimas mengedipkan matanya dan menengok ke arah Raji dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kenapa ?” tanya Raji&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit ngantuk saja” kata Dimas sambil menguap, tetapi matanya melirik kepada Aruung Nam. Tetapi tak ada yang menyadari bahkan Dimas sendiri pun akan perubahan warna matanya. Setiap kedipan matanya sekilatan warna biru yang serupa dengan warna mata Aruung Nam, biru laut sebelum akhirnya kembali ke warna aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan berikan perlindungan dan tempat yang istirahat yang kalian perlukan” kata Aruung Nam singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ucapkan terima kasih atas kemurahan hati tuan Aruung Nam kepada kami” Kerthapati terlihat senang dengan sambutan yang diberikan oleh Aruung Nam. Dia yakin semua ini karena dia bersama Sang pembawa BUKU KEHIDUPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerthapati, Dimas dan Raji tinggal beberapa jam saja di kerajaan Sethi. Tak sedikitpun Dimas menceritakan apa yang telah dilaluinya bersama Aruung Nam di tingkatan waktu ke tujuh. Mereka bergerak menyusuri batas pasir terus ke barat hingga di daerah dataran pasir yang luas bernama parang tritis. Dengan kembali kepada penyamaran mereka terus berjalan dihamparan pasir hitam yang tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku Sangat mengenal daerah ini” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menerawang jauh ke arah selatan yang penuh dengan lautan pasir. Hamparan lembah pasir dengan gugusan bukit-bukit batu membentuk tebing yang mengapit sebuah bentuk bekas aliran sungai yang Sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankan ini laut selatan ?” tanya Dimas kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul jika kalian pergi ke dunia manusia, maka hamparan lembah di bawah sana adalah sebuah lautan.” Kata Kerthapati singkat. Dimas dan Raji manggut-manggut. Sebuah gapura dua tiang yang berbentuk piramida persegi empat bersusun tujuh menjulang setinggi pohon kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu gerbang perbatasan antara kerajaan Narapati dengan kerajaan Selatan. Kita akan menuju utara dimana Benteng Gunung Merapai berada.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa peran penting yang diberikan oleh Benteng Merapi paman ?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benteng Merapi adalah benteng pertahanan terakhir Narapati sebelum menembus Medanggana Raya. Jika Benteng Merapi jatuh ke tangan Amukhsara, maka sasaran berikutnya adalah Medanggana Raya.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana kalau Medanggana Raya juga jatuh paman ?” tanya Raji dengan wajah yang mulai was was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu, hanya Gusti Prabu Narayala yang bisa memutuskan kemana kita akan bergerak” kata Kerthapati yang segera menyudahi pembicaraan itu. Dia merasa pertanyaan kedua anak itu mulai lebih kritis dan kalau salah menjawab maka akan membuka semua strategi Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan menuju Selatan bukannya ke utara, Dimas dan Raji merasa heran. Berjalan dengan biasa Kerthapati menuju depan gapura perbatasan dan berhenti tetap di antara dua tiang gapura. Seperti sedang menunggu sesuatu, Dimas dan Raji berdiri di samping Kerthapati. Tanpa disadari oleh Kerthapati dan Raji, mata Dimas berubah menjadi biru. Dimas merapalkan suatu mantra di depan gapura itu. Dimas bisa melihat bahwa hamparan lembah dengan tebing-tebing batunya bukanlah sekadar batun yang menjulang tinggi. Tetapi merupakan sebuah kota yang Sangat besar dengan segala kemegahannya. Kendaraan terbang yang melintas lalu lalang di antara bangunan-bangunan tinggi kota itu. Bangunan kota dengan gaya yang Sangat unik dan Sangat berbeda dengan kota Medanggana Raya. Peradaban di kerajaan Selatan tampak lebih maju dari kerajaan Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita menunggu apa paman ?” tanya Dimas yang sebenarnya berkat latihan yang diberikan oleh Aruung Nam telah dapat melihat apa yang sedang mereka tunggu di gapura itu. Dimas berusaha tidak menunjukan kemampuan itu seperti pesan yang diberikan oleh Aruung Nam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita menunggu penjaga gerbang untuk membukakan pintu buat kita” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu ? pintu apa paman ?” tanya Raji yang berusaha menengok sana sini mencari pintu yang dimaksud. Dimas tersenyum kecil dengan tingkah Raji sedang Kerthapati tetap berusaha konsentrasi memandang hamparan lembah di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lembah yang di depan kita adalah kota kerajaan Selatan, atau orang jawa bilang Segoro Kidul. Kita tidak akan mampu melihatnya jika tidak dibukakan pintunya oleh penjaga gerbang ini” kata Kerthapati menunjuk jauh ke arah lembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti apa mereka ?” tanya Raji lagi. Dimas tetap diam memandang jauh ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bentuk mereka hampir sama dengan kita, hanya mereka memiliki tanda yang berbeda, telinga mereka meruncing ke atas” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan mereka muncul begitu saja dua orang berpakaian hijau-hijau dengan senjata tombak berujung keris. Keduanya memberikan salam kepada Kerthapati yang dibalas Kerthapati dengan salam yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di kerajaan Selatan tuan Kerthapati, anda telah ditunggu” kata salah satu prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih prajurit” Kerthapati melangkah diantara kedua prajurit itu diikuti Dimas dan Raji. Begitu mereka melewati gerbang, barulah terlihat semua pemandangan kota kerajaan Selatan yang sejak tadi sudah dilihat oleh Dimas. Warna mata Dimas kembali seperti semula, sementara Raji begitu terkagum-kagum dengan seluruh keindahan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah…bagus sekali kota kerajaan Selatan, sepertinya kota ini lebih maju dari Medanggana Raya” kada Raji bergumam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul Raji, kerajaan Selatan memang lebih maju dari Narapati, keberadaan mereka di dunia tengah telah lebih dulu, karena mereka sebenarnya bukan penduduk asli planet ini. Mereka telah datang jutaan tahun sebelum Narapati berkembang menjadi peradaban maju. Bahkan Narapati membangun seluruh peradabannya karena ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh penduduk kerajaan Selatan. Oleh karena itu kita memiliki ikatan yang Sangat kuat dengan kerajaan Selatan. Mereka menempati ruang tingkat ke empat sehingga tidak sama dengan kerajaan Narapati, dimana satu hari di dunia Narapati sama dengan tujuh hari di kerajaan Selatan.” kata Kerthapati. Belum lagi rasa penasaran Raji terucap lewat pertanyaan berikutnya, mereka telah disambut oleh sebuah kendaraan yang berbentuk seperti ikan hiu dengan tempat berdiri di bagian punggungnya. Bahannya seperti terbuat dari batu yang begitu halus diukir dengan bagian mata di kiri kanan yang menyala merah. Seorang prajurit dari kerajaan Selatan bertugas mengendalikan kendaraan tersebut memegang tuas kristal yang erat dipegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mulai mengerti dengan perjalanan yang ditugaskan Prabu Narayala bersama para Vairivaravira Vimardana. Bukan hanya mengenal kerajaan-kerajaan lain, tetapi untuk memberikan semangat bahwa Narapati tidak sendirian dalam menghadapi perang ini. Dan hal ini melegakan hati Dimas, bahwa dirinya tidaklah sendirian, tetapi banyak yang mendukungnya dan berusaha melindunginya dari kejahatan Raja Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan itu melesat menembus langit kota berbelok-belok diantara gedung-gedung tinggi dengan kecepatan yang luar biasa. Raji merasakan degupnya makin kencang teringat manuver-manuver yang dilakukannya bersama Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyik sekali wahana ini, geraknya sama lincahnya dengan Jethoraksa” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa nama wahana ini paman ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Gandewa, artinya busur panah. Bergerak secepat angin” kata Kerthapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kita tidak membuat kendaraan seperti ini, tapi malah menggunakan hewan-hewan sebagai kendaraan seperti ini paman ?” tanya Raji penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu sebelum pindah ke dunia tengah, kita memiliki kendaraan seperti ini, tapi tidak bisa kita bawa ke dunia tengah, karena kristal yang menjadi sumber tenaga wahana ini malah menyedot tenaga dari batu bintang Satuasra yang menyangga dunia Narapati” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu bintang ?” tanya Raji tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu bintang yang menjadi sumber tenaga bagi dunia Narapati yang tersimpan di dasar kuil Cakravartin” Dimas menerangkan kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…eh..hehehe kenapa aku tidak tahu ya ?” Raji cengengesan. Dimas hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Raji, dia makin tersenyum ketika ingat jika saja sekarang ada Pafi juga disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka tiba di tengah kota dan mendarat di depan sebuah bangunan semacam kuil piramida segi lima dengan dua tiang bundar besar yang menjulang setinggi puncak kuil. Di kaki kuil terdapat sebuah bangunan terbuat dari batu marmer putih yang cukup besar. Gaya ukiran dan bentuk bangunan terlihat Sangat indah dan megah yang menjadi kraton kerajaan Selatan. Sebuah kolam segi lima berada di depan kraton dengan pancaran air mancur yang keluar dari patung-patung orang setinggi 2 kali orang dewasa yang sedang mengangkat piramida kecil persegi empat. Pada bagian ujung-ujungnya meluncur dengan kuat air mancur ke tengah kolam. Di bagian tengah kolam terdapat sebuah patung perempuan yang Sangat cantik seperti sedang melayang di atas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Kerthapati ? Salam, selamat datang di tempat kami Gusti, Raji” Niepethin Sonar dan Heritha Radhnana memberi salam. Sebutan gusti membuat Dimas merasa jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggil saja saya Dimas, jangan menggunakan embel-embel lain” pinta Dimas kepada Niepethin Sonar dan Heritha Radhnana. Keduanya mengangguk memberikan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah lain rombongan Pafi dan keenam Vairivaravira Vimardana muncul. Senyum mengembang dari wajah Pafi melihat Dimas dan Raji. Tampak sekali kerinduan yang begitu besar dari ketiga sahabat itu ketika bertemu. Dimas tersenyum lebar melihat Pafi yang berlari menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Raji !” Pafi setengah berteriak memanggil Dimas. Tak peduli lagi orang-orang di sekitarnya Pafi berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, kau sudah disini. Senang sekali akhirnya bisa berkumpul lagi” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana perjalananmu ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyenangkan sekali, nanti aku akan ceritakan semuanya” Pafi menjawab singkat. Kemudian Pafi kembali beralih kepada Dimas. Raji langsung cemberut melihat Pafi tidak terlalu peduli dengannya. Matanya dialihkan ke arah yang lain, tetapi sesekali melirik ke arah Pafi yang semakin cantik dengan perubahan warna kulitnya yang agak coklat akibat terpaan sinar matahari sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan kau tiba disini ?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sudah tiba kemarin. Kemana saja kalian, kenapa kalian terlambat ?” tanya Pafi balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mengunjungi Kerajaan Sethi dulu sebelum kemari” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Sethi, wah hebat sekali, bukankah bangsa Sethi Sangat penyendiri dan tidak mau bergaul dengan bangsa-bangsa lain ?” kata Pafi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus ceritakan semuanya nanti, janji !” pinta Pafi. Dimas mengangguk kemudian melirik Raji yang tampak cemberut melihat perhatian Pafi hanya tertuju kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita masuk, Kanjeng Ratu telah menunggu di dalam” Heritha Radhnana mempersilahkan semua tamunya untuk masuk. Menanjak menapaki tangga yang Sangat tinggi mereka semua masuk ke dalam ruangan kraton. Di dalam ruangan kraton duduk di singgasana seorang wanita yang Sangat cantik. Dimas melihat wanita itu begitu mempesona, dalam hatinya menebak usianya belum lagi mencapai empat puluhan usia manusia. Wanita cantik itu tersenyum, mata lekat menatap Dimas, seakan tahu apa yang dipikirannya. Wajah Dimas bersemu merah dan menundukan kepalanya. Di depan kiri kanan singgasana para pejabat kerajaan duduk tegak. Ruangan itu begitu besar dan tinggi sehingga terasa kosong sekali. Cahaya kuning teduh memancar memenuhi ruangan dari kristal-kristal yang tergantung di langit-langit ruangan. Cahayanya semakin indah dipantulkan dinding berwarna keemasan yang penuh dengan lukisan. Sampai 20 langkah di depan Sang Ratu, Niepethin Sonar dan Heritha Radhnana berlutut memberikan hormat. Gerakannya diikuti Kerthapati, Dimas, Raji dan Pafi, dan &lt;/span&gt;&lt;a name="OLE_LINK2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="OLE_LINK1"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;keenam prajurit Vairivaravira Vimardana.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangkitlah Arya Narapati, kau tidak perlu menyembahku. Kehormatanku atas kedatanganmu wahai pembawa BUKU KEHIDUPAN” Sang Ratu melambaikan tangannya kepada Dimas untuk mendekat. Ragu dengan lambaian itu Dimas menengok ke arah Kerthapati. Kerthapati menganggukan kepalanya meyakinkan bahwa lambaian itu benar hanya untuknya. Niepethin Sonar dan Heritha Radhnana memberi jalan kepada Dimas yang masih ragu-ragu melangkah. Sang Ratu meminta Dimas duduk di samping kanannya, tangan kirinya mempersilahkan Kerthapati, Raji dan Pafi untuk duduk di atas kursi yang berada di kiri depan Sang Ratu sementara keenam prajurit Vairivaravira Vimardana duduk bersila di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar Prabu Narayala, Kerthapati ?” tanya Sang Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gusti Prabu Narayala dalam keadaan baik, beliau menitipkan salam hangatnya untuk Gusti Ratu dan meminta maaf belum bisa mengunjungi kerajaan Selatan” Kerthapati menjawab sambil memberikan hormat kepada Sang Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, orang tua itu masih saja suka berbasa-basi” Sang Ratu tersenyum kecil. Raji begitu terpana dengan kecantikan Ratu Selatan, matanya seperti melekat dengan kecantikan Sang Ratu. Sang Ratu tersenyum lembut dan merasakan pandangan yang lekat Raji, kemudian mengarahkan pandangannya kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beruntung bagi Sang pembawa BUKU KEHIDUPAN yang mempunyai penjaga yang rela melapaskan nyawa demi keselamatannya.” Sang Ratu mengarahkan kata-katanya kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi menyikut pinggang Raji yang sejak tadi begitu terpesona dan tersentak kaget, wajahnya ditundukan untuk menutup rona merah yang menghiasi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menunduk wahai Dwitunggal Janardana yang gagah berani, engkau tidak lebih rendah dari aku. Kemarilah, duduk di sampingku.” Sang Ratu melambaikan tangannya meminta Raji dan Pafi duduk si sebelah kirinya. Raji ragu sejenak, Pafi kembali menyikutnya kemudian bangkit dan pindah dari duduknya setelah anggukan Sang Ratu mengarah kepadanya membuatnya yakin. Raji mengikuti apa yang dilakukan Pafi. Kini Sang Ratu duduk diapit oleh Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perang Besar akan segera berkobar seperti ramalan bangsa Sethi. Narapati akan menjadi penentu nasib keseimbangan dunia tengah. Kerajaan Selatan tidak bisa hanya berpangku tangan. Pembawa BUKU KEHIDUPAN harus dilindungi bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun. Mengantar Sang Pembawa BUKU KEHIDUPAN untuk menemui takdirnya. Hanya Dwitunggal Janardana yang mampu membuatnya bertahan dari tugas berat ini.” Sang Ratu bangkit dari singgasananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebarkan ke seluruh rakyat Kerajaan Selatan, kita akan berdiri bersama Narapati dalam perang besar ini.” Kata Sang Ratu dengan suara yang menggema ke seluruh ruangan. Para pejabat dan penasehat yang duduk di kiri dan kanan ikut bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perintah Sang Ratu Kami Laksanakan” kata mereka secara serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tinggallah disini selama tujuh hari. Aku sendiri akan memberikan pembekalan untuk Sang pembawa BUKU KEHIDUPAN dan Dwitunggal Janardana” kata Sang Ratu kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba tunduk kepada perintah Sang Ratu” kata Kerthapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian istirahatlah” Sang Ratu tersenyum. Kerthapati memberi hormat pamit. Dimas, Pafi dan Raji juga bangkit memberikan salam pamit. Mereka diantar oleh Niepethin Sonar dan Heritha Radhnana menuju wisma. Sesampainya di luar kraton, rombongan dibagi dua arah yang berlainan. Kerthapati diantar oleh Niepethin Sonar menuju wisma yang masih dalam lingkungan kraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Raji, Pafi mari ikuti saya, kalian akan tinggal di kediaman Sang Ratu.” Kata Heritha Radhnana menunjukan arah kediaman Sang Ratu. Dimas saling pandang dengan Raji dan Pafi tak percaya dengan yang mereka dengar. Kediaman Sang Ratu berada di sisi lain kuil piramida. Hanya dengan berjalan kaki mereka sudah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku tinggal kalian disini. Abdi dalem akan mengantarkan kalian ke tempat istirahat masing-masing. Selamat beristirahat” Hertiha Radhnana memberikan salam hormat kemudian pergi meninggalkan tempat. Kediaman Sang Ratu tampak begitu terbuka tanpa pagar. Seorang abdi dalam perempuan keluar dari menyambut mereka dan mengantar Dimas, Raji dan Pafi ke sebuah ruangan seperti ruang tengah. Abdi dalem itu menunjukan kamar masing-masing kemudian meninggalkannya setelah semua cukup dijelaskan. Raji langsung melompat ke atas kursi panjang empuk yang terletak di tengah ruang tengah. Lampu-lampu yang terbuat dari kristal menempel di dinding ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira apa yang akan berikan Sang Ratu kepada kita ya ?” Raji tiduran di atas kursi panjang menerawangkan pandangannya ke langit-langit ruangan mencoba membayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar penghayal, apapun yang nanti akan diberikan oleh Sang Ratu, tentunya untuk kepentingan kita pada saat perang besar nanti” Kata Pafi. Suasana mulai panas lagi. Dimas begitu merindukan suasana ini, pertengkaran kecil antara Raji dan Pafi. Raji bangkit dari kursi panjang dan duduk menghadap dinding kaca tetap di hadapan kursi yang didudukinya. Hatinya ingin sekali bertanya kepada Pafi tentang perjalanannya, tetapi gengsinya terlalu besar untuk bertanya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaiamana perjalananmu, ayo kau sudah janji akan menceritakannya kepadaku” Pafi mendekati Dimas yang ikut duduk di sebelah Raji. Pafi berdiri dengan antusias di hadapan Dimas sambil melihat tangannya di dada. Raji memanyunkan bibirnya meniru gerakan bibir Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bertanya kepadamu, kau ceritapun aku tidak akan mendengarkannya” Kata Pafi ketus, tapi hatinya menclos. Ada rasa menyesal, ingin sekali menarik kata-katanya kembali. Tapi gengsinya terlalu besar. Perhatiannya kembali di arahkan kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau bertanya pun aku tidak akan ceritakan” kata Raji santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, tapi sebelum aku ceritakan kau harus ceritakan dulu perjalananmu. Kalau aku yang cerita duluan, maka Cuma kau yang belum tahu. Sedangkan kalau kau yang cerita duluan, kan ada dua orang yang mendengarkan” Kata Dimas sambil melirik Raji yang pura-pura tidak peduli dengan apa yang dikatakan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah” kata Pafi. Kemudian Pafi menceritakan semua perjalanannya termasuk pergolakan cinta segitiga antara Sukmaratih, Kriyandita dan Jatrapraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau sempat melihat ada seekor Naga Jalatunda ?” tanya Dimas. Raji hanya mendengarkan saja, hatinya sebenarnya begitu penasaran yang cerita Pafi tapi gengsinya menahan mulutnya untuk bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya bertemu, bahkan kami sempat bertempur dengannya. Naga Jalatunda itu adalah naga yang membunuh Garuda Kencana yang kau temukan waktu itu. Menurut Sukmaratih, Naga Jalatunda itu tidak seperti yang biasanya. Kulitnya begitu kuat dan tahan terhadap serangan kami. Hampir saja kami kewalahan dengan serangannya, akhirnya kami dapat meloloskan diri setelah aku ciptakan badai putting beliung yang melemparnya cukup jauh sehingga cukup waktu bagi kami untuk melarikan diri.” Pafi menceritakan dengan penuh ekspresi ketegangan. Sesekali Raji tampak ikut tegang tetapi cepat ditutupi dengan wajah tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalian bisa bertempur dengan naga Jalatunda ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami menyongsong arah yang salah, kami pikir sudah menjauhi ternyata justru menghampiri. Suara naga Jalatunda kali ini sangat kuat sehingga mampu membuat kami tidak mampu bergerak. Untungnya Jatrapraga dan Kriyandita datang tepat waktu membebaskan pengaruh suara naga Jalatunda. Naga Jalatunda menyerang dengan cara melumpuhkan sasaran dengan suaranya, setelah sasaran menjadi kaku tak bergerak serangan langsung baru dilakukan. Sepertinya Garuda Kencana yang mati itu mengalami kesulitan gerak sehingga gerakannya lambat dan mudah diserang. Kalau dengan seorang penunggang mungkin masih dihalangi dengan perisai gaib.” Pafi menyelesaikan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjalananmu ternyata lebih menarik dari yang kami alami” kata Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo ceritakan aku ingin mendengarnya, kau kan sudah janji” kata Pafi agak manja kepada Dimas. Raji menatap tingkah Pafi dengan sorot mata yang tajam. Ada rasa tidak suka dengan tindakan Pafi yang begitu manja kepada Dimas. Dimas merasakan aura yang bergejolak tak beraturan dan meledak-ledak keluar dari tubuh Raji tetapi tidak mengerti apa artinya. Tapi Dimas tahu bahwa penyebabnya adalah sikap manja Pafi yang ditunjukan untuknya. Dimas menceritakan semua perjalanannya kepada Pafi tidak termasuk perjalanannya bersama Aruung Nam berlatih di ruang waktu tingkat ke tujuh. Pafi kelihatan begitu antusias mendengarkannya berbagai pertanyaan meluncur dari bibirnya. Raji mengikuti semua pertanyaan-pertanyaan Pafi ada rasa ingin ikut menjelaskan, tetapi gengsi teringat apa yang diucapkan sebelumnya. Matanya hanya memandangi bibir Pafi yang menari-nari bersamaan keluarnya pertanyaan-pertanyaan kritis kepada Dimas. Matanya makin betah saja ditambah kecantikan Pafi dalam warna kulitnya yang merona coklat. Sesekali pandangannya dialihkan ke arah lain jika kepergok mata dengan Pafi. Pafi pun merasakan bahwa Raji sedang menatapnya, tapi tak dihiraukannya. Dimas tahu ada rasa rindu diantara mereka, hanya mereka berdua terlalu gengsi untuk saling mengungkapkan perasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keasyikan mereka, akhirnya waktu mencairkan kekakuan antara Raji dan Pafi. Mereka terlihat kembali akrab dengan sesekali meluncur kata-kata meledek satu sama lain. Dimas melihat suasana kembali normal, dia ikut menikmati setiap banyolan yang dikeluarkan Raji mengenai semua tokoh yang pernah ditemuinya. Saking asyiknya mereka tidak menyadari kehadiran seseorang dari arah pintu. Sang Ratu muncul dengan pakaian yang lebih sederhana dan ringkas dibandingkan di ruang kraton tadi. Rambut diikat kuda menunjukan lehernya yang jenjang dan daun telinganya yang runcing lentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam anak-anak” Sang Ratu menyapa. Seketika mereka berhenti dan berdiri memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam hormat kami Gusti Ratu” kata Dimas. Pafi dan Raji hanya mengikuti dengan gerakan memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tinggalkan semua itu, panggil aku Ibu. Aku pikir usiaku pantas dipanggil ibu dan aku anggap kalian adalah anak-anakku.” Kata Sang Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah…i…ibu….ibunda Ratu” kata Dimas agak gugup yang akhirnya menemukan kata yang paling nyaman untuk memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian istirahatlah, karena tengah malam nanti kalian harus bangun” Kata Sang Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Ibunda Ratu !” Dimas, Raji dan Pafi serentak. Sang Ratu pergi meninggalkan ketiganya yang keheranan. Tidak pernah terbayangkan seorang Ratu pemimpin Kerajaan Selatan yang sangat maju peradabannya bisa begitu santai dan sangat tidak formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu istirahat tidak terlalu sulit dilalui oleh Dimas sendiri di dalam kamar yang besar dan penuh cahaya keemasan yang keluar dari lampu-lampu kristal di langit-langit ruangan. Seluruh ruangan seakan memberinya kenyamanan yang dibutuhkannya untuk beristirahat. Kasur yang empuk dan lebar. Dalam nyamannya tidur-tidur ayam, tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, boleh aku masuk ?” suara Raji dari arah balik pintu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah” kata Dimas. Seperti mengikuti perintah pintu terbuka sendiri tanda Raji menyentuh gagangnya. Raji muncul dari balik pintu yang terbuka dengan wajah khasnya yang cengesesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo ikut ke kamarku, kau lapar tidak ?” tanya Raji kepada Dimas yang masih berbaring di atas kasurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir tidak, tapi perutku tidak bisa bohong. Aku memang lapar sekali” Dimas bangkit dari pembaringannya mengikuti Raji kembali menuju kamarnya. Di depan pembaringan kamar Raji telah berjejer meja-meja bundar yang telah berisi makanan. Dimas kaget sekaligus senang dengan semua makanan yang terhidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau melakukannya ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi aku secara tidak sengaja melakukannya, habisnya perutku lapar sekali. Paman Kerthapati sama sekali tidak memberikan waktu kita beristirahat. Lalu aku memejamkan mataku sambil memikirkan enaknya makan daging rusa bakar, eh tiba-tiba di atas lantai di pojok sana muncul meja bundar lengkap dengan daging rusa bakar. Hah….Aji mumpung, aku sekalian saja minta makanan yang selama ini aku inginkan. Coba saja pikirkan makanan yang kau inginkan” Kata Raji. Dimas memejamkan matanya memikirkan semangkuk buah anggur. Tiba-tiba di sebelah deretan meja bundar itu muncul lagi sebuah meja lengkap dengan semangkuk besar anggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus ajak Pafi sekalian makan bersama” kata Dimas bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau saja yang memanggilnya” kata Raji agak canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan memanggilnya dengan telepati saja” Dimas memejamkan matanya sejenak mulutnya berkomat-kamit tidak jelas. Tak lama kemudian Pafi datang ikut bergabung makan besar di kamar Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat tengah malam kabut tebal turun tiba-tiba, udara dingin begitu kencang diluar. Dimas terbangun seakan ada yang menepuk pundak kanannya. Kemudian bergegas keluar kamar menuju ruang tengah. Tak lama Pafi keluar dari kamarnya begitu pula Raji. Kali ini Raji tidak seperti biasanya susah untuk bangun tengah malam, dia terlihat bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian sudah siap ?” tanya Dimas. Pafi dan Raji mengangguk. Mereka bertiga keluar dari ruang tengah menuju ruang utama. Seorang prajurit yang sudah siap di depan pintu memberikan hormat. Dimas dan Pafi terlihat biasa dengan bentuk sang prajurit, tetapi Raji berjengit melihat bentuknya yang berbeda, lagi-lagi karena kemalasan Raji membaca pustaka sejarah. Kulit bersisiknya yang seperti ikan dengan warna hijau ditambah banyak selaput tambahan di antara jari-jarinya membuatnya lebih seperti kadal daripada orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan-tuan ditunggu Gusti Ratu, harap mengikuti saya” kata prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak tanya Dimas melangkah mengikuti prajurit itu, Pafi dan Raji hanya mengikuti dari belakang. Sebuah wahana Gandewa menunggu di luar kediaman Sang Ratu. Mereka semua menaiki wahana tersebut dan melesat menembus lapisan kabut yang tebal dan dingin. Tiba di sebuah pelataran yang sempit yang juga masih tertutup kabut tebal. Mereka semua turun dengan pandangan yang tertutup kabut. Gandewa yang mengantar mereka pergi melesat begitu saja meninggalkan tempat.Dimas yakin tempatnya sekarang berdiri adalah puncak sebuah bangunan. Dugaannya didasarkan gerakan Gandewa yang terus meninggi, udara yang makin tipis dan suhu yang makin dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah serangan datang bersiutan dari segala arah. Bunyinya seperti anak panah yang bergerak cepat ke arah mereka. Pafi dengan sigap memutar kedua tangannya diudara sambil merapalkan mantra. Seketika angin putting beliung berputar-putar melindungi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi anginmu tidak cukup kuat untuk menahan kecepatan panah-panah itu” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paling tidak aku bisa menghambat dan mengurangi kecepatannya menerjang kita. Kau bantu buat perisai gaib” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah” Raji menepukan kedua telapaknya di atas kepala lalu menurukan tangannya dengan tegak ke kiri dan ke kanan. Dari telapak tangannya yang terbuka keluar tenaga yang menggumpal lalu menyebar membentuk perisai bola yang melindungi mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan menyerang balik penyerang-penyerang itu” kata Dimas geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan anak panah melesat, seperti dugaan Raji panah itu bisa menembus perisai angin putting beliung yang diciptakan Pafi, tetapi kecepatannya berkurang dan terpantul oleh perisai gaib Raji. Dimas merapalkan mantranya, tiba-tiba angin yang berputar cepat itu melambat, bahkan anak panah yang melesat kencang itu pun seperti berhenti di udara. Pafi dan Raji terlihat berdiri kaku tak bergerak. Dimas kemudian berputar mengelilingi Pafi dan Raji sambil melontarkan serangan-serangan balik yang tidak mematikan. Matanya sudah berubah menjadi biru terang seperti mata bangsa Sethi yang mampu menembus kabut sehingga dapat melihat jelas letak penyerangnya. Kemudian kembali ke posisi semula berdiri dan menangkap sebuah anak panah yang sedang melayang berhasil menembus perisai gaib Raji dan nyaris menghujam ke dada Pafi. Dimas mengedipkan matanya, kemudian warna matanya kembali normal dan angin kembali berputar cepat dan panah yang hampir menembus Pafi ditangkapnya. Raji dan Pafi terlihat kaget melihat anak panah yang berhasil ditangkap Dimas. Sisa anak panah yang melesat berguguran di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, coba kau usir semua kabut ini” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekali gerakan Pafi mengibaskan kedua tangannya sambil merapal mantra. Angin badai berhembus kencang menyapu semua kabut. Perlahan-lahan kabut mulai menipis sehingga terlihat para penyerang yang berada di atap-atap bangunan tinggi yang mengelilingi kuil. Mereka semua dalam keadaan kaku tak bergerak dengan busur panah yang masih terkembang, bahkan ada yang sudah siap melepaskan panah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau serang mereka dengan apa Dimas ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku serang mereka dengan mantra pembeku, sehingga mereka berhenti melakukan serangan” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kapan kau melakukannya ?” Tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum sebuah anak panah nyaris menyentuhmu” kata Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…gerakanmu cepat sekali sampai aku tidak sempat melihat lontaran cahaya biru yang menjadi ciri khas mantra pembeku” kata Pafi kritis. Dimas mulai kehilangan jawaban. Dia tidak ingin menceritakan tentang kemampuan barunya menghentikan waktu kepada kedua sahabatnya. Dimas teringat terus pesan Aruung Nam mengenai hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya aku juga tidak melihat kau melakukan serangan” kata Raji menguatkan pendapat Pafi. Sebelum sempat memberikan alasan lain, tiba-tiba muncul suara yang mereka kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersahabat harus dilandasi rasa percaya, hanya itu yang akan membuat kalian mampu melewati semua rintangan.” Suara Sang Ratu terdengar menggema ke seluruh penjuru kota. Bulan yang sedang purnama memberikan cahaya indahnya menyoroti munculnya sosok cantik dengan pakaian hijau muda sederhana polos tanpa lukisan wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ratu muncul di depan Dimas yang menjadi serba salah. Sang Ratu sadar betul dengan yang ditakuti Dimas tentang kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dwitunggal Janardana tidak akan mampu melindungimu kalau masih ada rasa tidak percaya di hatimu” Kata Sang Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku ibunda Ratu, aku tidak mengerti maksudnya” kata Dimas berpura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibunda yakin kau sudah mengerti maksudnya, cepat atau lambat semua akan terungkap baik diceritakan maupun tidak. Tetapi hati akan menjadi lebih kasih ketika semua diceritakan tanpa ada yang ditutupi” kata Sang Ratu. Dimas terdiam sejenak, Pafi dan Raji memandangi Dimas menunggu jawaban Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, tadi aku menggunakan kemampuan baru yang aku dapat dari Aruung Nam yaitu menghentikan waktu. Saat menggunakan kemampuan itu mataku akan berubah menjadi biru seperti mata para bangsa Sethi sehingga penglihatanku bisa menembus kabut dan melakukan serangan dengan mantra pembeku dengan mudah. Itu sebabnya kalian tidak melihat sama sekali serangan yang akan lakukan. Maafkan aku karena tidak menceritakannya kepada kalian” kata Dimas. Pafi dan Raji termangu tidak percaya dengan apa yang diceritakan Dimas. Pafi langsung cemberut dan Raji terlihat lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menghentikan waktu bukanlah ilmu sembarangan, jangan pernah menggunakannya jika tidak dibutuhkan, apa yang kau khawatirkan terjadi seperti pesan Aruung Nam hanya jika kau menggunakannya secara sembarangan.” Kata Sang Ratu dengan senyum. Pafi dan Raji mulai mengerti apa yang dikhawatirkan Dimas mengenai kemampuan barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih banyak yang harus dibagi bersama kedua sahabatmu anakku. Dwitunggal Janardana telah ditakdirkan akan selalu bersamamu yang akan membantumu menemui takdirmu, jangan kau tolak itu.” Kata Sang Ratu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin mereka menjadi korban, karena sebenarnya beban ini adalah takdirku” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kami sudah ditakdirkan menjadi nyawa lapisan pertama dan kedua untukmu sejak kami dilahirkan, mengapa kau masih berpikir seperti itu” kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beban itu sudah ada bersama kami sejak dilahirkan, kau tidak bisa memisahkannya dari kami dan menganggap ini hanya bebanmu.” Kata Pafi setengah emosi. Dimas tersentak dengan kenyataan yang disebutkan Raji dan Pafi. Dirinya tidak pernah berpikir sekeras apapun dia berusaha menjauhkan bahaya dari kedua sahabatnya, bahaya itu tidak akan pernah lepas dari mereka, karena mereka sudah menjadi Tritunggal. Jiwa mereka telah terkait satu sama lain dan tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku yang telah berpikir egois dan hanya memikirkan perasaanku saja. Malam ini aku berjanji akan selalu berbagi apapun dengan kalian, karena kalian adalah bagian jiwaku yang satu” Kata Dimas. Pafi terharu mendengar kata-katanya Dimas. Dirinya tak tahan lagi selain memeluk Dimas. Kikuk itu yang dirasakan Dimas, tangannya ragu membalas pelukan Pafi, matanya sempat melihat Raji. Keraguan itu dirasakan Raji, dan akhirnya Raji memeluk Dimas dari samping. Mereka berpelukan bertiga .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah pembekalan untuk malam ini telah selesai, masih banyak yang harus kalian bagi setelah ini. Sekarang kembalilah ke kamar kalian.” Kata Sang Ratu melambaikan tangan kirinya ke samping, senyumnya begitu puas melihat hasil pembekalan malam ini, sekali matanya mengarah pada sebuah ruang kosong dan tersenyum seakan ada seseorang disana. Dimas merasakan keganjilan itu, karena dirinya merasa tidak ada orang lain selain mereka berempat. Sebelum sempat melanjutkan pikirannya sebuah wahana Gendewa meluncur mendekati mereka. Dimas, Raji dan Pafi menaiki wahana itu dan meluncur kembali ke kediaman Sang Ratu dan melanjutkan semuanya di ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari berlalu waktu yang diminta Sang Ratu untuk memberikan pembekalan. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada Dimas dan hubungan persahabatannya dengan Pafi dan Raji. Dua wahana Gendewa telah siap di depan kraton. Sang Ratu beserta semua pejabatnya berdiri di halaman kraton. Dua wahana Gendewa itu melesat menuju gerbang perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mengantar sampai disini” Kata Niepethin Sonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga kalian selamat sampai tujuan” kata Heritha Radhnana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mereka semua berjalan bersama, tidak secara terpisah. Gunung Merapi menjulang tinggi di utara. Asapnya tampak membumbung ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak kita pinjam saja Gendewanya, kan lebih cepat kita sampai” kata Raji ngedumel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak ingat kenapa Gendewa itu tidak bisa berada di dunia Narapati ?” Dimas mengingatkan Raji. Raji cuman cengesesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagipun apa enaknya petualangan jika harus cepat-cepat sampai di tujuan” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Jalan yang meninggi karena tebing yang menjulang membatasi cukup memperlambat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan menyusuri kali Opak. Tetap waspada karena banyak bangsa Gendrawa tinggal di hutan-hutan sepanjang kali Opak dan mereka bukan sekutu kita” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan sekutu ? berarti musuh ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tentu, karena mereka belum menunjukan niat mereka akan berpihak kemana. Bangsa Gendrawa adalah bangsa yang tidak bermasyarakat, setelah mempunyai keluarga mereka hanya akan bersama keluarganya. Anak-anak yang sudah dewasa akan meninggalkan orang tua mereka membentuk keluarga sendiri dan tinggal di tempat lain. Setiap tahun para Gendrawa berkumpul di sekitaran Gajah Mungkur untuk ritual mencari pasangan. Bagi mereka tidak ada kata berbagi dengan saudara, walaupun itu orang tua kandung sendiri mereka akan membunuhnya jika sudah menyangkut soal perebutan makanan dan wilayah. Bersikaplah hati-hati jika ada yang melihat Gendrawa berkelompok karena itu bukan budaya mereka” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali opak tidak terlalu besar namun airnya cukup deras, hutan lebat mengelilingi sepanjang daerah aliran. Mereka berjalan dengan kelompok yang tidak terpecah. Garangjiwo prajurit Vairivaravira Vimardana yang paling ahli dalam membuka jalan berada di depan mengawasi setiap daerah yang akan dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti, kita akan beristirahat disini sebentar. Siapkan api unggun, kita akan berburu untuk makan kita. Garang Jiwo, Sukmaratih, Lakunogo, kalian berjaga seratus langkah di utara, selatan dan barat. Kriyandita, Prajamukti kalian berdua berburu untuk makan kita, Karyadewi, Jatrapraja siapkan api unggun.” Kata Kerthapati kepada ketujuh anak buahnya. Dengan cekatan ketujuh prajurit khusus itu bergerak sesuai dengan tugas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kami lakukan ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantulah mencari ranting-ranting kering atau kalian bisa membantuku mencari ikan di sungai.” Kata Kerthapati sambil mengeluarkan sebilah pisau dari saku pinggang kemudian mengikatkannya pada sebatang kayu sepanjang tangan orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa paman menggunakan tombak untuk mencari ikan ? bukankan lebih cepat jika kita menggunakan mantra penarik ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan kehilangan rasa asyiknya berburu. Karena Cuma itu satu-satunya hiburan selama perjalanan panjang ini” kata Raji menyela jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar Raji, dan aku tidak akan menukar kesenangan itu dengan apapun” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmhh…aku masing tidak mengerti kesenangan para pria.” kata Pafi menghela nafasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas dan Raji mengikuti Kerthapati menuju sungai, sedangkan Pafi membantu Karyadewi mencari ranting-ranting kering. Selang beberapa waktu semua sudah kembali dengan beberapa hasil buruan dan tiga api unggun kecil telah siap. Semua sigap membersihkan buruan yang hanya terdiri dari burung hutan dan ikan kemudian memanggangnya. Aroma daging bakar menyebar menelusuk ke seluruh rongga hutan menarik beberapa kucing untuk mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman aroma daging bakar yang menyebar ini akan membuat Gendrawa tahu keberadaan kita, bukankah kita menghindari pertemuan dengan mereka?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang betul, tapi Gendrawa tidak akan langsung menyerang jika ada Narapati melewati wilayahnya. Dia akan mengawasi dari kejauhan menunggu. Mereka akan menyerang kepada para pendatang yang berniat mengambil wilayahnya. Karena itu kita tidak akan terlalu lama beristirahat disini.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasakan cukup istirahat, perjalanan dilanjutkan. Sisa api unggun dipadamkan dengan air sedangkan sisa-sisa makanan dibiarkan menumpuk untuk kucing-kucing hutan yang sudah menunggu giliran. Beberapa pasang mata berwarna merah terus mengawasi kepergian rombongan itu. Kehadiran para pengintai itu sudah disadari oleh Raji dan Pafi. Naluri mereka semakin tajam akan kehadiran mahluk lain semenjak pembekalan yang diberikan oleh Sang Ratu Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman, ada beberapa Gendrawa yang mengawasi sejak kepergian kita dari tempat istirahat tadi” kata Pafi kepada Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, sejak aroma daging bakar ini menyebar ke seluruh hutan, mereka sudah mengintai kita.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lalu kenapa paman diam saja dan bersikap seolah mereka tidak ada ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik membiarkan mereka melihat kita tidak menyadari kehadiran mereka karena mereka akan menganggap kita hanya melintas saja. Karena kalau mereka tahu kita menyadari kehadiran mereka, maka mereka akan semakin menampakan diri dan mulai menyerang untuk mengusir kita. Jika kita melawan maka mereka tidak segan-segan membunuh.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus bergerak secara cepat menembus hutan di pinggir kali Opak. Garangjiwo tetap selalu berada paling depan membuka jalan bagi rombongan untuk lewat. Dimas merasakan nalurinya menangkap gerakan yang sangat halus di sekeliling mereka. Dengan sekali mengedipkan matanya dan merapalkan mantra sambil terus bergerak ke utara, Dimas mengerahkan kemampuannya menembus pandang. Matanya berubah menjadi biru seperti mata para bangsa Sethi. Kemudian dia memandang ke sekelilingnya dan jauh ke depan menembus lebatnya hutan. Puluhan Gendrawa bergerak melingkar dengan cepat berusaha memotong jalan mereka di sisi barat kali Opak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman, sekelompok Gendrawa telah menghadang jalan kita di depan.” Dimas mengingatkan Kerthapati. Kerthapati agak terkejut dengan yang disampaikan Dimas. Dirinya memang merasakan adanya gerakan yang lebih cepat dari gerakan mereka disisi barat mereka, tetapi tidak melihat adanya penghadangan di depan. Sebelum sempat lepas dari keterkejutannya dari arah depan Garangjiwo kembali dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekelompok Genderewo menghadang di depan, apa yang harus kita lakukan kakang Kerthapati” tanya Garangjiwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti dugaan Gusti Prabu Narayala, kita berhasil memancing sikap mereka dalam perang besar ini. Mereka bersekutu dengan Amukhsara. Kita lumpuhkan mereka secepat mungkin, karena kita berada di wilayah pemukiman mereka. Pertempuran kita dengan mereka akan cepat terdengar oleh yang lain. Walaupun mereka bukan bangsa yang saling membela, tapi perubahan perilaku yang sekarang kita lihat menunjukan adanya kemungkinan hal itu juga sudah merubah juga cara hidup mereka yang lain.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada berapa jumlah mereka ?” tanya Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang lebih duapuluhan” kata Garangjiwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang sudah menjadi tigapuluh lebih, karena ada sepuluhan lagi sedang bergerak dari sisi timur kali Opak.” kata Dimas menambahkan. Semua langsung menengok kepada Dimas dengan wajah heran, kecuali Pafi dan Raji. Kerthapati sempat kilatan biru dari mata Dimas ketika berubah kembali menjadi warna aslinya yang coklat. Barulah Kerthapati mengerti mengapa Dimas bisa mengatakan semua itu kepadanya, dia teringat kemampuan para bangsa Sethi yang bisa menembus semua hal di balik benda dengan mata biru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita akan menghadapi tigapuluhan bangsa Gendrawa. Kalian harus melumpuhkan paling sedikit 3 Gendrawa.” Kata Kerthapati mengalihkan keheranan anggota pasukannya yang tidak pernah salah sebelumnya dalam memperkirakan jumlah para pengintai. Mereka kemudian bergerak maju dimana sekelompok Gendrawa telah berjejer berdiri menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tidak melakukan penyerangan menjebak, padahal mereka memiliki keuntungan dari posisi mereka yang menunggu.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena mereka sebenarnya bukanlah mahluk berkelompok, jadi tidak mengerti artinya koordinasi dan taktik dalam perang yang membutuhkan kerjasama. Yang mereka bisa hanya bertarung satu lawan satu tak beraturan.” Kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran tak terhindarkan, sekitar tigapuluh Gendrawa menghadang jalan. Para Gendrawa itu secara bersamaan mulai bergerak dan menyerang membabi buta dengan batang-batang kayu yang mereka pegang. Tubuh mereka yang dua kali tinggi orang dewasa dengan bulu hitam membuat para Vairivaravira Vimardana terlalu kecil. Dengan gerakan lincah pasukan khusus Narapati itu bergerak berputar mengelak memanfaatkan sempitnya medan yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar dan tubuh-tubuh besar para Gendrawa. Akibatnya para Gendrawa sering salah sasaran menghantam batang pohon atau sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi bergerak lincah seperti angin melancarkan serangan mantra pembeku berkali-kali ke sekeliling tubuh lawannya. Gendrawa itu menjadi beku dan tumbang tak bergerak. Pafi tersenyum puas setelah mengalahkan lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Raji masih sibuk menghadapi seorang Gendrawa sedang mengincarnya, kemudian melancarkan mantra pembeku untuk menyerangnya. Selarik sinar biru meluncur dari telapak tangan kanan Raji menghantam Gendrawa itu. Tetapi serangan itu hanya membuat Gendrawa itu terjengkang saja, dia tetap bangkit dan kembali menyerang. Raji kewalahan menghindari serangan-serangan lawannya. Berkali-kali dirinya terjengkang ketika perisai gaibnya dipukul sejadinya oleh lawannya. Raji menepukan tangannya ke udara dan menariknya ke depan dada, kemudian menyerang bagian tanah tepat yang dipijak lawannya. Sekumpulan air berkubang mengelilingi kaki lawannya. Gendrawa itu langsung terperosok ke dalam kubangan air. Sebelum sempat Gendrawa itu berenang, Raji memutar air dalam kubangan yang telah menjadi sumur yang dalam itu sehingga membuat lawannya terhisap ke dalam air dan tertahan di dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan Dimas sendiri sedang sibuk menghindari serangan-serangan dari dua Gendrawa sekaligus. Kakinya berkali-kali menjejakan tanah. Setiap kali menjejakan tanah sambil merapal mantra tanah yang dipijaknya bergetar hebat membuat sebuah rekahan yang semakin besar ke arah lawannya. Sejumput akar-akaran keluar dari dalam rekahan dan menarik lawannya ke dalam. Sementara sejumlah dahan pohon melengkung menangkap Gendrawa yang lain dan menahannya di batang pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Vairivaravira vimardana yang sudah terlatih terlihat sangat lihai dan ahli dalam menghadapi para Gendrawa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah mampu melumpuhkan lawan-lawannya dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantra pembeku ku tidak mampu melumpuhkannya” kata Raji kepada Pafi yang menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja, dari pustaka yang aku baca bangsa Gendrawa memiliki tujuh titik kelemahan yang harus diserang secara berurutan. Kalau urutannya salah maka serangan tidak akan menghasilkan apapun” kata Pafi bangga. Mendengar kata pustaka Raji mencibirkan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gendrawa memiliki kulit yang sangat tebal, sehingga kebal terhadap banyak serangan mantra tingkat menengah, kecuali pada tujuh titik kelemahannya.” Kata Dimas yang baru saja menyelesaikan lawannya dari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo cepat kita segera kembali bergerak, matahari sudah makin condong ke barat, kita harus segera sampai di benteng Merapi sebelum gelap tiba” Kerthapati memimpin di depan rombongan yang terus berlari. Garangjiwo seperti biasa menjadi pembuka jalan berada seratus langkah di depan rombongan. Rombongan berlari dengan membentuk formasi panah &gt;&gt;&gt; dimana Dimas, Pafi dan Raji di apit oleh 3 orang Vairivaravira Vimardana dari depan dan belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat, kau sanggup melumpuhkan dua sekaligus.” Kata Raji memuji sambil mengimbangi lari Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku tidak melumpuhkannya, aku hanya menahannya. Kau lihat yang satu aku kubur setengah badan di dalam tanah, yang satu lagi aku ikat di batang pohon.” kata Dimas terus berlari berusaha mengimbangi kecepatan para Vairivaravira Vimardana yang sudah terbiasa melakukan perjalanan darat. Bagi Dimas, Raji maupun Pafi berlari bukanlah latihan yang sering mereka lakukan sehingga mereka cukup kesulitan apalagi bergerak diantara semak belukar dan lebatnya pohon-pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaupun sudah sering berlatih, tetapi tetap saja pertempuran pertama membuatku gugup, kau mungkin sudah lebih baik Pafi, karena ini pertempuranmu yang kedua.” kata Dimas memuji Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pun masih merasakan gugup, karena aku menghadapi lawan yang berbeda yang hanya aku mengerti dari pustaka.” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi paling tidak kau sudah pernah membacanya, dari pada aku yang sama sekali tidak tahu bagaimana dan apa kelemahan mahluk ini” Kata Raji yang kini agak merendah. Pafi tersenyum senang mendengar pujian yang sangat jarang diberikan Raji. Hatinya begitu gembira entah mengapa berbeda sekali mendapatkan pujian dari Raji lebih menyenangkan dari pada pujian dari Dimas. Perasaannya berbunga-bunga sehingga rona merah merebak ke seluruh wajahnya yang bersemu coklat diterpa angin. Dimas melihat perubahan itu, hatinya agak menclos mencoba menerka isi hati Pafi. Pafi memang terlihat begitu cantik dengan warna kulit baru dan sangat menyenangkan memandangnya terus. Raji tersenyum merasakan aura berbunga yang dipancarkan Pafi, hatinya merasa ada suatu kelegaan walau tanpa kata-kata dia merasakan sesuatu yang berbeda dari perasaan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat sebelum matahari tenggelam rombongan itu telah tiba disisi barat benteng. Kerthapati mengeluarkan siutan keras ke udara yang menggema ke seluruh benteng. Dari balik awan yang menutup puncak gunung Merapi dua ekor Garuda Kencana menukik tajam dan mendarat di hadapan rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Gusti Kerthapati, Nankhidhaba Soraphi” kata seorang prajurit itu tanpa turun dari Garudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teja Satuasra” kata Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan Gusti” kata prajurit itu diikuti oleh sekelompok Garuda Kencana terbang merendah menuju tempat mereka berada. Kemudian Kerthapati dan rombongan menaiki Garuda-Garuda Kencana itu terbang memasuki benteng yang hanya bisa dimasuki lewat udara. Benteng yang sangat panjang mengelilingi gunung Merapi, Dimas merasakan udara dingin menerpanya sejenak tetapi kemudian berubah hangat ketika para Garuda telah sampai mendarat di atas teras benteng. Matahari masih lagi tersisa separuh di garis barat, warnanya yang kuning telur memberikan suasana yang begiu tenang. Awan yang berarak ke timur tampak berubah warna menjadi jingga dan kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mulai mengerti apa yang dimaksud Bapak Narayala bahwa persiapan Narapati harus dimulai dari kita. Karena perang yang sesungguhnya terjadi dalam diri kita bukan dari luar. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan diri kita untuk bisa saling percaya sepenuhnya tanpa ada keraguan.” Kata Pafi sambil memandang ke arah yang sama di samping Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, aku juga merasakan hal yang sama, sekarang aku merasakan bebanku jauh berkurang karena aku memiliki kalian berdua sebagai saudaraku” kata Dimas menghadapkan badannya ke arah Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak kata lagi yang terucap, tatapan mata ketiganya sudah menyiarkan semua perasaan dalam hati mereka masing-masing. Mereka bertiga saling berpelukan seakan mengukuhkan kembali persahabatan mereka menjadi lebih berarti lagi dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------- “”” --------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-3001628754957620245?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/3001628754957620245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=3001628754957620245&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/3001628754957620245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/3001628754957620245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2007/05/1930-pewaris-suatu-masa-pada-tahun-1930.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-4833718839648297424</id><published>2007-05-29T00:48:00.000-07:00</published><updated>2008-03-12T00:30:02.086-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;UTUSAN MINOAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah benda seperti perahu besar dengan tiga tiang layar tiga susun mengangkasa di depan gerbang kota Medanggana Raya. Bagian permukaannya yang berwarna perunggu tua dengan lapis-lapis kecil sehingga terkesan seperti sisik ikan terkesan sangat kuat dan megah. Hanya diam seperti menunggu sesuatu untuk bergerak. Tak lama kemudian sebuah sinar kebiruan meluncur dari dalam kota menembus selubung gaib dan membuat sebuah lubang cukup besar berwarna biru terang hingga cukup besar untuk perahu di depannya bisa melewati. Kendaraan perang yang disebut Pavaratha Pushpaka itu pun bergerak melewati lubang itu dan bergerak turun mendarat di halaman gerbang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki tua berambut pirang dengan perawakan tinggi keluar dari geladak perahu kemudian turun dengan tangga yang sudah terjulur. Pakaiannya yang sangat mewah menunjukan kedudukan tinggi yang disandangnya. Kemudian seorang lelaki muda berpakaian seragam prajurit kota Medanggana Raya menghampiri dan memberikan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di Medanggana Raya, Tuan Duta Besar Creatus” Kata prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Arghapati” Kata Duta Besar Creatus menyebut nama prajurit tersebut. Tampaknya keduanya sudah saling kenal dan tampak akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda Sudah ditunggu Prabu Narayala, Tuanku” Kata Arghapati kemudian membimbing Duta Besar Creatus untuk menaiki seekor Narasimha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah pakai penyambutan kebesaran, aku sudah tidak punya waktu lagi, aku harus segera bertemu dengan Prabu Narayala” Kata Duta Besar Creatus. Mendengar permintaan itu Arghapati mengerti situasi darurat yang diisyaratkan Duta Besar Creatus. Mulutnya mengeluarkan siulan nyaring ke arah udara. Dua ekor Garuda Kencana mendarat di hadapan Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prajurit, kami pinjam Garuda Kencana kalian untuk mengantar Duta Besar Creatus” Kata Arghapati kepada prajurit yang masih berada di punggung Garuda Kencananya. Prajurit itu kemudian mengusap leher Garuda Kencanya dan membisikan sesuatu ke telinganya. Garuda Kencana itu mengeluarkan suara nyaring. Lalu prajurit itu turun dari punggung Garuda Kencana mereka. Sementara Pavakah Garuda Kencana Arghapati tetap diam menunggu tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan naik Duta Besar” kata Arghapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Creatus menaiki Garuda Kencana yang sudah menunduk diikuti oleh Arghapati menaiki Pavakah. Dengan sekali menepuk punggungnya kedua Garuda Kencana mengepakan sayapnya mengangkasa ke udara kota Medanggana Raya menuju puncak Kuil Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di ujung gelap dekat perahu itu ditambatkan, Dimas, Pafi dan Raji mengendap endap di balik gerbang lapis kedua. Di belakang mereka Srigati, Jethoraksa dan Sighram ikut mengendap-endap meniru tingkah majikannya. Sesekali Jethoraksa menggeram kecil, seketika Dimas, Raji dan Pafi menengok ke belakang memberikan tanda untuk tidak berisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssssstttttttttt….. Jethoraksa jangan berisik” kata ketiganya pada waktu yang hampir bersamaan. Jethoraksa seperti mengerti mengeluarkan suara getar kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, siapa orang yang bersama Arghapati, kelihatannya dia orang penting” Pafi menunjuk ke arah perahu terbang yang sedang bersandar. Dimas dan Raji mengawasi dengan lekat orang yang berjalan di samping Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan mencoba mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Arghapati dengan orang itu” Pafi menjulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menutupi telinga sebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SINIDHAN ANHDHANA”. Tak lama kemudian Pafi melepas telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau dengar ?” Dimas bertanya penasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya mereka tidak berbicara menggunakan suara, aku merasakan ada getar halus saling berhubungan antara mereka” Pafi menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menggunakan telepati untuk berbicara satu sama lain” Desis Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti ada sesuatu yang sangat rahasia sampai mereka menggunakan telepati untuk berkomunikasi. Mengapa tidak menyadap pikiran mereka saja” kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak bisa, Arghapati adalah prajurit hebat dan sangat peka terhadap penyadapan pikiran. Lagipula aku belum sekuat itu untuk menyadap pikiran orang dari jarak yang cukup jauh” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita selidiki, kita ikuti orang asing itu” Dimas mengajak Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kita tahu siapa orang itu, tanpa terkesan ingin tahu” Tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat terbaik menyembunyikan rahasia adalah tempat yang paling terbuka” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya ?” Raji bertanya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini, maka banyak baca pustaka, kita akan mengunjungi Prabu Narayala dan mengatur waktunya persis sesaat tamu tersebut akan selesai dengan Prabu Narayala” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, sekarang lebih baik kita menyusul mereka” Dimas berbalik memanggil Sighram. Narasimha itu langsung mengerti maksud majikannya. Sedangkan Raji masih saja bingung, ada satu pertanyaan yang ingin keluar dari mulutnya tapi urung keluar karena pikirannya segera terganti dengan pekikan Jethoraksa yang memanggilnya karena melihat Srigati telah terbang lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Garuda Kencana terbang rendah mendarat dekat halaman kuil Cakravartin. Raji dan Pafi turun dan mengendap. Tak lama kemudian Dimas datang bersama Sighram. Duta Besar Creatus bersama Arghapati sudah sejak tadi berada di puncak kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya kita tahu kalau mereka sudah akan selesai” Raji bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang” Pafi memejamkan matanya kemudian mencabut sehelai daun rumput di kakinya menggerakan kedua tangannya ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“NASPHAIDHAN SORITHA ANHDHANA” Daun rumput itu melayang terbang menuju puncak kuil Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha…Creatus selamat datang di rumahku ha..ha..ha…” Prabu Narayala menyambut Duta Besar Creatus dengan gembira. Duta Besar Creatus menghampiri dan keduanya saling berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau makin sehat saja Prabu Narayala” Kata Duta Besar Creatus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita ke dalam, kau pasti sangat lelah telah melakukan perjalanan jauh” Kata Prabu Narayala membimbing tamunya ke dalam pendopo. Arghapati tetap berdiri tegak berjaga bersama Pavakah setelah menyuruh Garuda Kencana milik prajuritnya kembali kepada tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu Prabu Narayala” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya kau serius sekali, baiklah mari kita duduk” Kata Prabu Narayala yang mengajak tamunya duduk di bale batu. Duta Besar Creatus tampak sangat serius wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membawa ini” Kata Duta Besar Creatus sambil menyerahkan segulungan kertas kepada Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membuka dengan hati-hati gulungan kertas yang diterimanya kemudian membacanya dengan seksama. Wajahnya berkerut-kerut membaca isi gulungan kertas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi sudah ada pergerakan di Eropa, siapa yang memimpin ? Tanya Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah kekuatan baru yang menamakan diri NITHBOR GORSAN. Kami sudah mengamati perkembangan mereka. Kami mulai tertarik mengamati ketika secara tiba-tiba mereka muncul sebagai kekuatan baru dengan dukungan pasukan yang sangat kuat. Kami mencurigai ada dukungan misterius dibalik pasukan mereka.” Kata Duta Besar Creatus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seberapa jauh wilayah yang sudah ditaklukan” Tanya Prabu Narayala lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka sekarang sudah memasuki wilayah selatan, dan semakin kuat dengan munculnya sekutu baru mereka di bagian selatan. Kami khawatir semua ini menjadi tidak terbendung lagi, perang besar nampaknya akan segera berkobar di Orupha. Kami hanya mengingatkan agar Narapati bersiap. Karena kejatuhan Narapati berarti kejatuhan seluruh dunia tengah.” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati telah melakukan persiapan yang diperlukan, kami telah meletakan banyak telik sandi untuk mengawasi gerakan sekutu-sekutu Sanaisbin di Utara. Tapi kami sendiri belum bisa menemukan pusat kekuatan mereka” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pertahanan kalian ?” Tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua kekuatan kami pusatkan di sisi barat wilayah kami. INHHRINRAMA adalah benteng terakhir kami. Bentangan laut dan Ranjau-ranjau gaib telah kami sebar sepanjang selat untuk menghambat mereka.” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang mereka mulai mendesak pertahanan di PHORANVIN melalui SOBANKHA. Itu artinya jika mereka berhasil menguasai PHORANVIN dalam waktu dekat, maka INHHRINRAMA adalah selanjutnya” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan RUSALIDHENU ?”Tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka telah menyatakan diri sekutu NITHBOR GORSAN.” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah menurutmu hal ini ada kaitannya dengan Amukhsara ?” Tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum melihat bukti keterkaitan mereka dengan Amukhsara, telik sandi kami tidak pernah melihat ada kemunculan bangsa Amukhsara di Uropha” Kata Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pertahanan Narapati sendiri” Duta Besar Creatus menampakan wajah cemas yang dalam saat menanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala hanya tersenyum tipis kemudian berdiri dari tempat duduknya bergerak mengitari meja. Duta Besar Creatus tampak bingung dengan reaksi yang ditunjukan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir Creatus, tapi maaf sampai saat ini aku belum bisa mengatakan apapun mengenai persiapan Narapati. Kami sedang melakukan penyelidikan lebih dalam, dan persiapan yang kami lakukan sangat tergantung hasil penyelidikan ini.” Prabu Narayala menatap Duta Besar Creatus dengan tajam. Tatapannya beralih menuju tangan Duta Besar Creatus yang terlihat bertanda hitam. Dengan gerakan halus Duta Besar Creatus membalikan tangannya menyadari Prabu Narayala menatap tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu Prabu Narayala, aku hanya mengingatkan saja. Aku akan beristirahat malam ini, besok pagi aku akan kembali melanjutkan perjalananku ke Uropha” Duta Besar Creatus berusaha menyembunyikan kegugupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Creatus, kamarmu sudah disiapkan” Prabu Narayala menepukan tangannya. Arghapati muncul dari pintu relung kemudian menunduk memberikan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghapati, antarkanlah Duta Besar Creatus ke tempat istirahatnya. Jagalah dia baik-baik” Prabu Narayala memberi perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka akan segera selesai, sebaiknya kita segera bergegas naik” Pafi menyodorkan tangannya masing-masing kepada Dimas dan Raji,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa tanganmu ?” Raji mengkerut tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau mau menapaki seribu anak tangga itu dengan kakimu ?” Pafi mendengus. Tanpa banyak bicara lagi Pafi menyambar tangan Raji dan Dimas, dengan sekali hentakan badannya melayang membawa Dimas dan Raji ikut serta. Hanya dengan beberapa kali pijakan pada anak tangga, mereka sudah sampai di pelataran puncak kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik tuanku, mari Duta Besar silahkan mengikuti saya” Arghapati mempersilahkan Duta Besar Creatus. Saat berbalik meninggalkan tempat, Dimas, Raji dan Pafi muncul. Duta Besar Creatus sejenak berhenti tak melanjutkan langkahnya. Sedangkan Arghapati terlihat seperti pura-pura tidak mengenal mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari Duta Besar, kendaraan anda telah siap” Arghapati membuyarkan tatapan lekat Duta Besar Creatus kepada wajah Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Dimas terpaku melihat sosok asing yang menjadi kali kedua dilihatnya setelah Nyai Janis. Dalam pikirannya Dimas bertanya-tanya siapa orang ini, tetapi tiba-tiba matanya seperti menangkap bayangan hitam menjulang keluar dari kepala Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duta Besar….” Tegur Arghapati lagi. Duta Besar Creatus segera mengalihkan pandangannya dari Dimas sambil menyapu ke wajah Raji dan Pafi lalu berjalan gagah dengan jubahnya mengikuti Arghapati yang sudah siap menunggu dengan dua ekor Narasimha. Akhirnya keduanya menaikinya dan menghilang di balik gelap malam. Sementara Dimas masih tetap tertegun seperti terhipnotis tak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas….hey…..”Raji menguncang-guncang bahu Dimas. Tak lama Dimas seperti orang yang baru bangun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah anak-anak” suara Prabu Narayala dari dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi Dimas” Pafi bertanya penuh ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh….entahlah aku melihat sesuatu yang menyeramkan dari orang tadi” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang menyeramkan Dimas” Prabu Narayala muncul dari dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…saya tadi melihat ada bayangan hitam keluar dari ubun-ubun tamu yang tadi keluar” kata Dimas, bulu kuduknya seketika merinding membayangkan kembali apa yang tadi dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….. penglihatanmu memperkuat dugaanku rupanya. Orang itu adalah Duta Besar Creatus. Dia utusan dari kerajaan Minoan dari daratan Uropha” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaan apa Bapak Narayala ?” Kata Dimas, Pafi dan Raji pada waktu yang hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, bayangan hitam yang kau lihat tadi baru saja melihat proses perubahan menjadi Amukhsara dan tidak semua orang bisa melihat perubahan tersebut” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Bapak Narayala, Duta Besar Creatus sedang mengalami proses perubahan menjadi Amukhsara ?” Dimas bertanya lagi memastikan yang didengarnya barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya anakku” kata Prabu Narayala singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana hal itu bisa terjadi ? apa yang menyebabkan seseorang bisa berubah menjadi Amukhsara ? tanya Dimas lagi, sementara Raji dan Pafi tetap diam mengikuti semua pembicaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang bisa berubah menjadi Amukhsara kalau dia telah bersekutu dan mengabdikan dirinya kepada Raja Sanaisbin. Perlahan-lahan dia akan berubah hingga sempurna menjadi Amukhsara setelah 7 purnama. Perubahan itu akan amat menyakitkan, siapapun yang mengalaminya akan merasakan sakit yang luar biasa” Prabu Narayala menerawangkan matanya ke langit-langit ruangan seolah dia sedang mengingat-ingat kembali peristiwa di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Duta Besar Creatus sedang berubah menjadi Amukhsara berarti dia akan menjadi musuh kita, kenapa tidak kita tangkap saja, dia pasti bertujuan memata-matai kita” Raji dengan wajah yang penuh tanya dan khawatir bercampur aduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik membiarkan musuh tidak tahu kalau kita sudah mengetahui mereka, itu membuat musuh merasa di atas angin dan menjadi lengah” Pafi menjelaskan kepada Raji dengan wajah yang setengah kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar apa yang dikatakan Pafi, kita lebih baik berpura-pura tidak tahu kalau kita sudah tahu apa yang telah diketahui musuh” Prabu Narayala tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana dengan perahu yang bersandar di gerbang kota Bapak Narayala ?” Dimas tampak cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir Dimas, perahu itu sudah dikunci rapat oleh selubung gaib dari sihir-sihir kuno bangsa Sethi, sehingga tidak ada satupun yang bisa keluar dari perahu itu. Semua sudah dipersiapkan.” Prabu Narayala tersenyum menenangkan hati Dimas yang cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah sekarang sebutkan maksud kedatangan kalian ke sini” Prabu Narayala meruncingkan alisnya sambil menunjukan sehelai daun rumput. Mendengar pertanyaan itu Dimas, Raji dan Pafi salah tingkah. Pafi dan Raji mundur ke belakang Dimas dan mendorongnya maju ke depan. Dimas jadi makin salah tingkah, tapi Prabu Narayala hanya tersenyum ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami Bapak Narayala, kami hanya penasaran dan tertarik dengan kedatangan sebuah perahu terbang” Dimas menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul Bapak Narayala, kami hanya ingin tahu, siapa tamu penting yang datang pada waktu yang tidak biasa ini” Pafi mencoba memperkuat alas an Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, lalu kalian sedang apa pada waktu yang tidak biasa ini ?” Tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sedang melatih kemampuan mengendarai tunggangan kami Bapak Narayala” Raji mencoba membantu menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh….begitu, baiklah. Tapi sekarang kalian harus makin berhati-hati dalam memilih tempat latihan. Sekarang sudah sangat malam, lebih baik kalian kembali ke kamar kalian masing-masing” Prabu Narayala meminta ketiganya untuk kembali ke asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Bapak Narayala” kata Dimas pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pamit Bapak Narayala” kata Pafi yang kemudian mengikuti Dimas dan Raji. Begitu keluar dari pintu ruangan, Sighram telah berada di pelataran merunduk . Sedangkan Srigati dan Jethoraksa baru mendarat kemudian. Malam akhirnya menutup dengan sempurna semua kesunyian dengan hembusan lembut angin dingin yang membuat semua yang bernafas menggelungkan tubuhnya dalam balutan selimut hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ “”” -----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Creatus berjalan dilepas oleh Prabu Narayala dari kediamannya. Arghapati mengawal Duta Besar Creatus menuju Pavaratha Pushpaka yang masih disauhkan di gerbang utama. Sebuah pintu terbuka dari dinding lambung kiri kendaraan tersebut. Tampak sinar kekuningan memancar dari dalam ruangan Pavaratha Pushpaka. Semua acara pelepasan itu terus diperhatikan oleh Dimas dengan seksama. Tangannya tak henti berayun-ayun di depannya seakan sedang meraba-raba sesuatu di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau temukan Dimas” Raji bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, aku masih menunggu selubung gaibnya dilepaskan, selubung itu dirancang terlalu kuat” Dimas masih tetap dengan gerakan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerbang itu dibuat dengan sumber energi yang sangat besar, menurut yang aku baca dari pustaka, sumber energi itu adalah batu bintang yang dulu pernah jatuh ke bumi dan menghancurkan hampir semua kehidupan di permukaannya” kata Pafi sambil terus mengawasi gerakan Pavaratha Pushpaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasakan selubung gaibnya sekarang sudah terlepas, aaaahhhhhhhgggg….. aaaahhhhhhhhhh…..aaaaahhhhhhhhhhh” Dimas tiba-tiba merasakan sensasi ketakutan yang luar biasa yang dia dapatkan setelah selubung gaib terbuka dan menyentuh permukaan Pavaratha Pushpaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas….Dimas…..kau kenapa ?” Raji dan Pafi pada saat yang bersamaan. Tetapi Dimas tidak merespon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji kita harus memutus hubungan gaibnya dengan Pavaratha Pushpaka itu” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi bagaimana caranya ?” Raji kelihatan bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya tenaga Dimas kalah besar dengan Pavaratha Pushpaka, kita harus membantunya dengan menghajar Pavaratha Pushpaka itu pada satu titik, dengan begitu menurut yang aku baca, Pavaratha Pushpaka akan memusatkan energinya pada titik yang diserang, sehingga ada kesempatan buat Dimas untuk melepaskan diri dari ikatan energinya” Pafi mulai bersiap diikuti Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat Raji, kita harus menyerangnya pada satu titik yang sama, aku akan ikuti seranganmu, jadi kau bisa memilih bagian mana yang akan kau serang” Pafi menepukan kedua telapak tangannya di atas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah aku sudah siap” Raji sudah siap dengan tangannya melepaskan tenaga. Sementara Dimas masih terjebak dalam hubungan dengan energinya dengan Pavaratha. Air dari nadisara disekitar gerbang utama tiba-tiba bergolak dan air yang berputar melucur menghantam bagian lambung kiri Pavaratha diikuti angin puting beliung menghantam pada bagian yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….terima kasih……kalian telah membebaskan aku, cepat sembunyi sebentar lagi akan banyak prajurit yang akan menyisir wilayah ini” Dimas yang langsung terbebas setelah serangan yang dilakukan Raji dan Pafi bergerak cepat, diikuti kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavaratha itu mengalami kerusakan pada bagian lambung kirinya, hantaman hebat yang dilakukan Pafi dan Raji memaksa wahana terbang itu kembali mendarat. Sementara pasukan kerajaan segera menyebar ke segala arah mencari si penyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Creatus dengan wajah merah padam keluar dari Pavaratha yang dinaikinya disambut oleh Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan atas kejadian ini Duta Besar, kami sedang mencari pelakunya” Arghapati menyampaikan permintaan maaf. Duta Besar Creatus hanya menunjukan wajah murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku minta penjelasan kepada Prabu Narayala, siapa yang menginginkan kematianku” jawab Duta Besar. Arghapati mengerti apa yang diinginkan oleh Duta Besar Creatus, kemudian dia menyiapkan seekor Garuda Kencana untuk Duta Besar Creatus. Arghapati untuk kedua kalinya mengawal Duta Besar Creatus ke kediaman Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Arghapati, apa yang terjadi ?” Prabu Narayala muncul menyambut kembali kedatangan Duta Besar Creatus yang wajahnya merah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba mengganggu tuanku, tadi Pavaratha Pushpaka Duta Besar Creatus mendapat serangan. Saya masih mencari tahu siapa penyerangnya” Arghapati menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prabu Narayala, siapa penduduk Medanggana Raya yang mau membunuhku ?” Duta Besar Creatus bertanya dengan wajah yang begitu marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu Creatus, tapi aku akan pastikan melakukan penyelidikan atas masalah ini. Aku pribadi minta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan ini” Prabu Narayala berusaha menenangkan Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tinggal lah beberapa hari lagi sampai Pavaratha Pushpaka mu diperbaiki” kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Prabu Narayala, aku akan tinggal sampai Pavaratha Pushpaka ku siap, sekarang aku akan kembali ke wisma” Duta Besar Creatus membalikan badan. Prabu Narayala hanya memberikan isyarat kepada Arghapati untuk mengantarnya. Selepas Duta Besar Creatus pergi, Prabu Narayala memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit mengucapkan mantra, lalu memanggil nama Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas merasakan ada yang berbisik ke telinganya, dengan cepat dia segera mengenal suara siapa yang memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, Bapak Narayala memanggilku” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa” kata Raji dan Pafi bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mungkin Bapak Narayala tahu kejadian yang telah kita perbuat tadi?” Raji agak cemas mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin beliau sudah tahu, beliau memiliki kemampuan melihat jarak jauh” Dimas dengan nada lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, aku yakin begitu, karena memang ada ilmu yang mengajarkan penglihatan jarak jauh. Hanya orang-orang yang sudah sangat tinggi kemampuan energi dalamnya dan sangat jernih pikirannya yang bisa melakukan itu. Kabarnya hanya ada 1 orang lagi yang bisa melakukannya selain Bapak Narayala, dia adalah Raja Sanaisbin” Pafi memperkuat kekhawatiran Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita segera ke tempat Bapak Narayala” Dimas berjalan dengan lemas diikuti kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat Duta Besar Creatus baru saja keluar dari gerbang kediaman Prabu Narayala” Pafi mengarahkan pandangannya kepada Duta Besar Creatus yang sedang berjalan diiringi oleh Arghapati bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kita berpapasan dengan dia kali ini, dia tidak boleh mengenali kita sebagaimana yang pernah dia lihat di puncak kuil Cakravartin. Kita harus malih rupa” Dimas menyarankan kedua sahabatnya segera melafalkan mantra malih rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SORHANTHI LAGAN” sambil mengusap wajah mereka masing-masing seketika wajah mereka berubah. Dimas kembali berjalan menuju jalan yang kini sedang dilalui oleh Duta Besar Creatus. Pafi dan Raji mengapit dari belakang dengan wajah menunduk seperti yang dilakukan oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kedua kalinya Dimas berpapasan dengan Duta Besar Creatus, kali ini Dimas tidak lagi melihat bayangan hitam keluar dari ubun-ubun Duta Besar Creatus, tetapi perubahan yang lebih menakutkan lagi. Dimas segera menundukan kepalanya. Sedangkan Duta Besar Creatus memandangi dengan tajam ketiganya lalu berhenti. Wajahnya yang tadi berkerut marah, sekarang dipaksakan tersenyum dengan garis wajah yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….anak-anak” Duta Besar Creatus menebarkan senyumnya yang dipaksakan ramah. Dimas tersentak tak menyangka kalau Duta Besar Creatus akan menyapanya. Pafi dan Raji hanya diam berusaha menyembunyikan ekspresi wajah pelaku yang tadi menggagalkan keberangkatan orang yang di hadapan mereka. Dimas berhenti dan tetap menunduk berusaha sebisa mungkin tidak menatap wajah Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian pasti tiga serangkai yang terkenal itu, Namaku Creatus” Duta Besar Creatus menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada Dimas. Dimas berusaha menyembunyikan semua keraguan dari wajahnya, dia berpikir keras bagaimana tidak melakukan kontak tangan dengan Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku, hamba tidak mengerti maksud tuanku” Dimas berlutut dengan tetap menundukan wajahnya. Pafi dan Raji segera mengerti melihat apa yang dilakukan Dimas dan ikut berlutut dengan kepala tertunduk dan tangan disatukan diatas kepala. Arghapati yang berada di belakang Duta Besar Creatus tersenyum kecil mengenali siapa di balik wajah-wajah itu dan segera menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertiga anak-anak abdi dalem kediaman Prabu Narayala, mereka setiap sore seperti ini datang untuk membantu orang tua mereka membersihkan rumput di taman keraton” Arghapati dengan wajah serius menerangkan kepada Duta Besar Creatus. Mendapati dirinya salah maksud, Duta Besar Creatus tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, rupanya aku salah maksud” Dengan wajah yang sedikit keheranan dan agak ragu Duta Besar Creatus kembli melanjutkan langkahnya menuju wisma tamu kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh Duta Besar Creatus dari pandangan, Dimas segera bangkit dan kembali berjalan menuju kediaman Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir saja dia menyentuh tanganku” Jantung Dimas berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kenapa kalau dia menyentuhmu Dimas ?” Raji belum mengerti kenapa Dimas begitu ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dia menyentuhku, maka jejak ikatan energi yang pernah terjadi antara aku dan Pavaratha Pushpaka miliknya akan bisa dia rasakan. Akhirnya dia akan bisa menerka siapa yang menyerang Pavaratha Pushpakanya” Mendengar penjelasan itu Raji dan Pafi mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang akan kita katakan kepada Bapak Narayala tentang serangan kita terhadap Pavaratha Pushpaka milik Duta Besar Creatus” Pafi melempar pertanyaan kepada Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, mungkin lebih baik kita berkata jujur, toh pasti Bapak Narayala sebenarnya sudah tahu bahwa kita pelakunya. Kalau beliau marah pada kita, ya kita terima saja sebagai akibat dari kecerobohan kita” Dimas mencoba pasrah. Raji dan Pafi hanya bisa diam dan menunjukan ekspresi wajah yang juga sama pasrahnya dengan Dimas. Tanpa banyak bicara lagi mereka bertiga terus melanjutkan langkah mereka ke dalam gerbang kediaman Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Creatus kembali ke wisma tempatnya menginap, jalannya seperti tergesa-gesa. Wajahnya yang ditundukan saat berjalan berusaha menyembunyikan ekspresi suasana hati yang sesungguhnya. Tangannya disidakep di depan dadanya tertutup oleh bagian jubahnya. Arghapati mengantarkannya sampai depan pintu wisma kemudian meninggalkan wisma menuju tempat bersandarnya Pavaratha Pushpaka Duta Besar Creatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, apakah kau sudah panggil para ahli perbaikan kesini ?” Arghapati bertanya kepada seorang prajurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan tuan Arghapati, saya sudah membawa beberapa ahli perbaikan, tetapi ditolak oleh nahkoda kapal” kata prajurit tadi. Arghapati hanya terdiam memperhatikan wahana itu dengan seksama.&lt;br /&gt;Perbaikan terhadap Pavaratha Pushpaka milik Duta Besar Creatus terus berjalan. Tak satupun ahli Pavaratha Pushpaka Narapati diperbolehkan untuk ikut membantu memperbaiki. Beberapa pekerja yang memiliki bentuk tubuh yang kecil yang merupakan awak wahana tersebut sedang bekerja melakukan perbaikan dengan cara yang sangat aneh. Mereka hanya melakukan pengecatan pada bagian yang terkoyak dengan tinta berwarna ungu yang merupakan campuran dari dua tinta berwarna biru dan merah. Dalam sekejap tinta tersebut kering dan menyerap ke dalam kulit Pavaratha Pushpaka. Seperti mahluk hidup, kulit yang koyak tersebut segera saja kembali seperti semula seperti sebuah luka yang mulai sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prajurit” Arghapati memanggil dua prajurit yang sedang berjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian harus awasi dengan ketat semua yang dilakukan semua awak Pavaratha Pushpaka ini, jangan sampai lolos satu pun dari pengawasan kalian” Arghapati memberi perintah. Kedua prajurit tersebut mengangguk memberi hormat kepada Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arghapati menaiki Pavakah kemudian terbang meninggalkan tempat itu menuju kediaman Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba gusti Prabu kembali menghadap, hamba tadi sempat melihat pelaksanaan perbaikan Pavaratha Pushpaka Duta Besar Creatus” Arghapati berhenti menunggu isyarat untuk melanjutkan laporannya dari Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lihat Arghapati ?” tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba mendapat laporan bahwa tenaga perbaikan yang kita siapkan ditolak oleh awak wahana tersebut, mereka menggunakan tenaga perbaikan mereka sendiri. Dari ciri-ciri fisiknya mirip sekali dengan bangsa Sethi, tetapi dengan bola mata yang hitam. Perbaikan yang mereka lakukan sangat berbeda dengan yang biasa kita lakukan terhadap wahana Pavaratha Pushpaka. Mereka seperti sedang mengobati mahluk hidup. Para pekerja itu mencampur dua cairan berwarna biru dan merah kemudian menyiramkannya pada bagian wahana yang rusak. Kerusakan wahana itu segera menutup rapat seperti sebuah luka yang mengering. “ Arghapati menyelesaikan semua laporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm, para Janggan Wimana, dukun-dukun kerdil, baiklah Arghapati. Simpan semua hal ini, jangan sampai ada yang membicarakannya. Sekarang kau kembali lah awasi wahana Pavaratha Pushpaka itu sampai keberangkatannya keluar dari wilayah Narapati. Sebar telik sandi untuk mengikuti kemana pun wahana itu pergi. Berhati-hatilah.” Prabu Narayala memberikan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Gusti Prabu, hamba laksanakan perintah” Arghapati memberikan salam hormat dan pergi meninggalkan ruangan. Suasana ruangan menjadi hening, Prabu Narayala hanya duduk di atas kursi seakan sedang menunggu kedatangan tamu yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-4833718839648297424?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/4833718839648297424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=4833718839648297424&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4833718839648297424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4833718839648297424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2007/05/1883-sang-terpilih-pagi-begitu-dingin.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-4961208370275588870</id><published>2007-05-29T00:47:00.000-07:00</published><updated>2008-03-12T00:30:32.962-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;LEMBAH SUNDA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medanggana Raya pastilah begitu cerah pagi ini pikir Dimas yang merasa baru saja bangun dari tidurnya. Dimas masih terkesan dengan perjalanan pertamanya dengan Sighram semalam. Rasanya baru saja dia berpisah dengan Sighram. Ada rasa petualangan yang kini dapat memenuhi seluruh ruang emosinya. Berjalan menuju ruangan tengah tak dijumpai Raji dan Pafi. Pastilah mereka berdua masih tertidur lelap karena kelelahan semalam pikir Dimas. Di tengah ruangan Prabu Narayala telah duduk seakan sudah menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, baru saja aku mau membangunkanmu, rupanya kau sudah berada disini anakku.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh… Bapak Narayala, iya saya hendak berjalan-jalan di halaman. Pagi pasti sangat cerah hari ini.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi ? fajar masih menyingsing. Malam masih seperti saat engkau kembali bersama Sighram anakku” kata Prabu Narayala. Dimas bingung dengan perkataan Prabu Narayala. Rasa tak percaya dan penasaran mendorongnya untuk mendekat jendela. Matanya memandang langit yang masih diterangi candra yang melayang begitu rendah di barat. Seekor ngengat tampak melayang tak bergerak di tengah udara malam. Dimas masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Prabu Narayala maklum dengan kebingungan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menghentikan waktu untuk sementara, karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tempat dimana kau akan tahu asal-usulmu dan arti pentingnya dirimu bagi Narapati.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas masih belum mengerti, walaupun begitu banyak keajaiban yang sudah dia lihat, tetapi menghentikan waktu belum termasuk dalam bayangannya tentang keajaiban itu. Antara rasa tidak percaya dan ingin tahu Dimas bingung memilih pertanyaan yang ingin diajukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkan Bapak Narayala dapat menghentikan waktu ?” tanya Dimas dengan wajah yang masih tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, benar anakku. Tapi tidak semua Narapati bisa melakukannya. Kau sendiri sudah melihat buktinya, bagaimana ngengat itu diam melayang tak bergerak.” Kata Prabu Narayala sambil menunjuk ke arah jendela. Dimas henya tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mengapa harus dengan menghentikan waktu untuk menuju tempat yang Bapak Narayala maksud.” Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku tidak ingin ada orang yang tahu mengenai kepergian kita. Jika tiba-tiba kita menghilang beberapa waktu maka akan menimbulkan pertanyaan, terutama dari kedua sahabatmu.” Kata Prabu Narayala. Dimas langsung teringat dengan Raji dan Pafi. Sebelum pertanyaan keluar dari mulut Dimas, Prabu Narayala segera melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji dan Pafi sedang tertidur pulas” kata Prabu Narayala. Kemudian Prabu Narayala mengajak Dimas untuk keluar ruangan menuju halaman belakang yang langsung tembus ke dalam Kuil Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengajak Dimas menuruni tangga yang terlihat sangat panjang dan dalam. Dimas berpikir bahwa tangga ini menuju perut bumi yang tepat berpusat di dasar Cakravartin. Cahaya yang dikeluarkan dari ujung tongkat yang dipegang Prabu Narayala menjadi satu-satunya penerang untuk ruangan bawah tanah yang begitu gelap gulita. Berada di samping Prabu Narayala, pikiran Dimas masih terus bertanya dan menerka-nerka apa yang akan ditunjukan oleh Prabu Narayala kepada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding-dinding yang penuh lumut menutupi relief-relief disepanjang tangga menurun. Dalam hatinya Dimas ingin sekali mengajukan pertanyaan kepada Prabu Narayala, tetapi dirinya sudah dibuat berjanji untuk tidak bertanya apapun sampai diijinkan kembali. Banyak sekali pahatan-pahatan pada dinding batu itu menceritakan sesuatu yang ingin sekali ditanyakannya, tetapi Dimas hanya bisa menelan ludah dan menahan pita suaranya agar tidak berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya Dimas menuruni anak tangga itu, rasanya sudah pegal kakinya, Lalu mereka tiba didasar tangga, Dimas melihat tidak ada sesuatu pun baik pintu atau apapun dalam ruangan berbentuk lingkaran itu. Belum sempat meneliti lebih jauh, suara keras seperti benda bergesekan terdengar membunyikan gema yang berulang-ulang. Dimas menyadari bahwa tangga yang tadi dipijaknya bersama Prabu Narayala untuk turun kini bergeser masuk rapat ke dinding hingga tak mungkin lagi bagi mereka untuk naik lagi ke atas. Dimas ingin bertanya kepada Prabu Narayala, tetapi Prabu Narayala meletakan telunjuknya didepan bibirnya memberikan isyarat kepada Dimas agar tetap diam. Tak bisa berbuat apa-apa Dimas hanya patuh dan diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mereka berdua terdiam tanpa suara, Prabu Narayala mematikan cahaya yang keluar dari ujung tongkatnya. Suasana menjadi gelap total dan hening. Dimas merasakan adanya gerakan angin berputar di atas kepalanya. Tiba-tiba seluruh lantai yang dipijaknya menghilang, Dimas dan Prabu Narayala terhempas ke bawah. Nyaris saja keluar teriakan dari mulutnya, tetapi Prabu Narayala memegang erat tangannya. Setelah beberapa saat merasakan melayang jatuh dengan desiran angin keras dari bawah akhirnya Dimas merasakan sebuah pijakan merapat di bawah kakinya dan tak lama kemudian seperti mendaratnya seekor burung mendarat dengan sempurna tanpa hentakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang masih gelap gulita, Dimas merasakan kini ruangan tempatnya berdiri seperti melebar, angin berdesir kencang menerpa wajahnya, jubahnya ikut berkibar. Prabu Narayala masih tetap memegang tangannya tanpa bicara sepatahpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang pejamkan matamu, ikuti kata-kataku” Kata Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“NOGARAN NARAPHATHI THORSEDHABAN” Dimas memejamkan matanya dan mengikuti lafal yang diucapkan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah sekarang bukalah matamu anakku, kau boleh bertanya apapun yang ingin kau ketahui.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Dimas membuka matanya, cahaya yang sangat kuat membuat matanya terasa sakit. Matanya belum menyesuaikan diri dari kegelapan total yang tadi dialaminya. Tidak berapa lama berangsur pandangannya pulih dan rasa sakitnya hilang. Dimas melihat dirinya sekarang bersama Prabu Narayala tidak lagi berada di dalam ruangan tetapi berada di atas sebongkah batu besar yang rata dan mengerucut pada bagian bawahnya. Bongkahan itu melayang di udara hingga setinggi gunung yang kini berada di pandangan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana kita sekarang Bapak Narayala” Tanya Dimas terkejut mengamati sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada di alam Narapati enambelas ribu tahun yang lalu” Kata Prabu Narayala menjawab singkat. Prabu Narayala membiarkan pertanyaan yang mengalir dari mulut Dimas. Dia tidak ingin menceritakannya sebelum menjadi sebuah pertanyaan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu gunung apa namanya” Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Gunung Krakatau Purba” Jawab Prabu Narayala Singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Krakatau Purba, bukankah krakatau berada di tengah laut ?” Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada jaman itu Krakatau Purba berada di tengah daratan, semua adalah daratan sepanjang yang kau lihat sampai pulau Kalimantan, hingga ke utara” Jawab Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang terjadi kemudian ?” Dimas kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah baik-baik angkasa yang hitam itu, bukan mendung, tetapi abu yang sudah berminggu-minggu dilontarkan dari mulut gunung-gunung di seluruh Swarna hingga Kelimutu. Gelap ini bukanlah malam, tapi karena matahari tak mampu menembus tebalnya debu di angkasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah baik-baik, di lembah sana di pinggir sungai, itulah ibukota Narapati Narathala.” Prabu Narayala menunjukan jarinya ke tengah lembah yang dialiri sungai raksasa yang memiliki hulu dari segala arah membuat semua wilayah terlihat seperti sebuah rangkaian tulang ikan yang bertemu di jalur pusatnya. Tepat di tengah lembah tampak sebuah kota yang sangat besar dengan puluhan bangunan tinggi yang mengitari sebuah piramida yang menjadi paling tinggi di antara bangunan kota dengan hamparan sawah yang begitu luas mengembang hijau bagaikan permadani. Prabu Narayala mengibaskan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau batu tempat mereka berdua berdiri bergerak melayang mendekati pusat kota Narathala. Kota yang sangat megah ditengah surga hutan rimba belantara dan pohon-pohon kelapa yang melambai diseluruh penjuru kota. Kapal-kapal berlabuh di sepanjang dermaga sungai, tapi tak ada denyut gerak kehidupan. Lalu Prabu Narayala menujuk ke arah kejauhan, dimana terdapat iring-iringan penduduk merayap menuju daerah yang lebih tinggi didampingi gajah-gajah penarik gerobak. Mereka mendekati iring-iringan itu hingga menuju sebuah dinding tebing yang tinggi. Sebuah bayangan seperti air terjun yang cukup besar tampak di dinding tebing. Ratusan orang berjaga membentuk barisan yang membatasi antrian para pengungsi dengan dinding tebing. Pulau batu yang dipijak Dimas dan Prabu Narayala bergerak mendekati tebing dan terbang merendah. Prabu Narayala mengajak Dimas melompat. Mereka mendarat di sisi kiri dinding tebing dimana dua orang pemuda yang serupa wajahnya sedang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narayala, kita harus memindahkan seluruh penduduk segera, kita tidak punya banyak waktu” Kata seorang pemuda yang kelihatan cemas kepada seorang lelaki muda yang keduanya sangat mirip wajahnya. Dimas dapat menerka bahwa keduanya adalah saudara kembar. Garis dan bentuk wajahnya sangat dikenali Dimas, salah satu dari dua pemuda itu tidak lain Prabu Narayala. Prabu Narayala menganggukan apa yang dilihat oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih butuh waktu Naraphala, gerbang untuk memindahkan seluruh penduduk ke dunia tengah belum sempurna” Jawab Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bintang kemukus sebentar lagi akan melintas tepat di atas ubun-ubun, semua gunung akan meletus.” Naraphala tampak tak sabar dan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau aturlah persiapan agar seluruh penduduk siap di depan gerbang, tapi aku tidak akan mengijinkan siapapun melintas sebelum aku yakin benar-benar aman” Narayala menenangkan Naraphala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang seorang prajurit menghadap dan bersujud di hadapan Narayala dan Naraphala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan hamba tuanku, hamba ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting” kata prajurit itu dengan suara yang masih terengah kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa prajurit” Tanya Naraphala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telik sandi dari pantai barat melihat permukaan air laut perlahan-lahan naik ke daratan. Banyak wilayah di sepanjang pantai barat sudah terendam air laut sampai ketinggian pohon kelapa.” Prajurit itu menjelaskan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan kejadiannya ?” Tanya Naraphala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah bumi bergoncang sangat hebat sangat besar terjadi yang meruntuhkan banyak bukit dan gunung” jawab si prajurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah gempa terjadi, tiba-tiba saja air laut surut seperti lenyap tertelan bumi, beberapa saat kemudian gelombang sangat dahsyat menjulang setinggi 3 kali pohon kelapa menerjang seluruh pantai. Hamba sedang berada di puncak bukit ketika gempa dan gelombang pasang raksasa itu terjadi.” Sambung si prajurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus segera memasuki gerbang, aku yang akan masuk lebih dulu” Naraphala habis kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan Naraphala, kau tahu apa yang akan terjadi padamu kalau keseimbangan dunia di balik gerbang ini belum sempurna. Kerajaan Selatan pun tidak akan bisa membantu jika hal itu terjadi.” Narayala berusaha mencegah Naraphala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu, tapi aku tidak ingin melihat banyak korban berjatuhan pada rakyat kita” Naraphala makin gusar tidak lagi memperdulikan kata-kata Narayala. Tanpa mempedulikan peringatan dari Narayala, Naraphala segera menyebrangi gerbang yang tampak seperti tertutup air terjun. Sedikit ragu saat pertama akan melangkah masuk, tetapi akhirnya niatnya yang begitu kuat mendorongnya menerobos lapisan dinding tersebut. Kemudian Naraphala muncul kembali dari balik dinding itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narayala, di dalam sana sudah ada dunia yang persis keadaannya dengan yang ada disini, ayo cepat kita pindahkan segera seluruh penduduk, para prajurit kerajaan selatan pun sudah berada di sana dan siap membantu perpindahan penduduk kita.” Kata Naraphala dengan penuh semangat. Narayala terlihat khawatir dengan yang baru saja di lakukan saudaranya Naraphala. Tetapi dia sangat kenal watak saudara kembarnya yang sangat keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, prajurit segera lakukan persiapan untuk melakukan penyebrangan.” Kata Prabu Narayala kepada beberapa prajurit. Ratusan Prajurit segera menyebar di antara para pengungsi yang sudah kelelahan. Mendengar kepastian penyebrangan sudah dimulai, pengungsi yang jumlahnya jutaan itu pun bangkit dan mulai bergerak mendekati gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pikatan, kau pimpin beberapa puluh pasukan untuk menyebrang lebih dulu, cari tempat yang cukup baik untuk mendirikan kemah.” perintah Naraphala kepada seorang lelaki muda berperawakan tinggi dan kelihatan cerdas dari sorot matanya. Pikatan dengan cekatan memilih beberapa prajurit untuk ikut serta dengannya mengikuti perintah yang diberikan Naraphala. Ratusan prajurit yang terpilih dipimpin Nayakka memasuki gerbang lebih dulu. Sementara ribuan prajurit berbaris memagari antrian para pengungsi yang begitu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Prabu Narayala muda bersama saudara kembarnya Naraphala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sebenarnya sedang terjadi Bapak Narayala ?” Dimas melihat ada hal lain yang terjadi yang bukan seperti yang dilihatnya. Sesuatu yang menjadi penyebab semua bencana besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat semua itu terjadi Bangsa Narapati sedang berperang dengan bangsa Asvin. Awalnya perang itu hanyalah perang antara Bangsa Asvin dengan Bangsa Dravida. Tetapi menjadi Bangsa Narapati akhirnya ikut memerangi Bangsa Asvin setelah mereka menggunakan senjata penghancur yang mereka sebut ‘Isuagha’. Senjata itu menghancurkan puncak-puncak es di Himalaya hingga menimbulkan banjir besar di seluruh daratan kerajaan Dravida. Pada saat berikutnya mereka mulai menghancurkan semua pulau-pulau es di utara dan selatan bumi hingga menimbulkan banjir besar di seluruh dunia. Mereka melakukan semua perang itu saat Narapati sedang menghadapi perubahan bumi. Bangsa Asvin tahu, kalau dia tidak mungkin menyerang Narapati dalam keadaan siaga, tetapi harus dalam keadaan paling lemah. Bangsa Narapati memiliki kemampuan perang yang lebih unggul dari bangsa Asvin dan mereka melakukannya saat gunung-gunung di busur api meletus secara bersamaan. Para cendikia mengatakan kepada Raja Narapati, bahwa bencana ini akan berlangsung sangat lama. Bangsa Narapati akan mengalami penderitaan hebat walaupun pindah ke tempat yang lebih tinggi. Seluruh kota-kota Narapati akan tenggelam, abu gunung akan menutup semua permukaan bumi dan menghancurkan hutan dan ladang. Seluruh dunia akan mengalami kelaparan hebat dan suhu yang sangat dingin. Kemudian Raja memerintahkan pemindahan penduduk ke dunia tengah.” Narayala terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mulai mengerti semua situasinya. Pikirannya kini kembali menuju proses pengungsian yang sedang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi jika dunia balik gerbang itu belum seimbang Bapak Narayala.” Tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan menemukan jawabannya anakku, sabarlah. Perhatikan dengan baik semua yang terjadi.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Prabu Narayala mengajak Dimas turun dari pulau batu yang mereka pijak dan bergerak bersama para pengungsi yang mulai memasuki gerbang ke dunia tengah. Dimas menatapi satu per satu wajah-wajah lelah dan khawatir dari para penduduk Narapati yang membawa perbekalan seadanya. Prabu Narayala dan Dimas akhirnya masuk ke dalam gerbang dan menyebrang ke dunia tengah bersama para pengungsi. Keadaan berubah menjadi sangat gelap gulita. Sesaat kemudian kembali terang dan tiba di sebuah tanah lapang yang sangat luas yang diapit pohon-pohon besar pada kiri dan kanannya. Pagar betis para prajurit-prajurit yang dipimpin Nayakka diselingi oleh mahluk-mahluk bersisik berwarna hijau berjaga di pinggir-pinggir pohon. Mahluk bersisik berwarna hijau itu terlihat sangat bersahabat dengan para prajurit Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari arah belakang iring-iringan penduduk terdengar teriakan-teriakan panik yang mendorong iring-iringan paling belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerbang akan ditutup, cepat!! Cepat!! Gerbang akan ditutup” beberapa prajurit berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengajak Dimas bergerak berlawanan arah dengan antrian panjang penduduk Narapati yang masih terus bergerak memasuki dunia tengah. Kembali ke dunia manusia, langit telah berubah sangat cepat. Kemudian mereka menaiki kembali pulau batu dan terbang melayang ke angkasa mendekati awan hitam yang menggantung di seluruh lembah sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah anakku, kapulan asap yang menjulang tinggi itu.” Kata Prabu Narayala menunjuk ke arah kapulan asap yang menjulang tinggi di kejauhan laksana pilar-pilar langit berjajar melingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepulan asap itu berasal dari manakah Bapak Narayala ?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Leuser, Sinabung, Toba, Marapi, Talang, Kerinci, Seblat, Dempo, Ranau, Rajabasa, Krakatau, Karang, Sunda, Dieng, Merapi, Bromo, Ijen, Batur, Rinjani, Tambora dan Kelimutu adalah asal dari pilar-pilar asap yang menjulang tinggi ke angkasa itu. Hal itu adalah akibat berantai dari melintasnya bintang kemukus di langit dan bersatunya matahari, bumi dan bulan pada garis yang sama yang menyebabkan seluruh tanah bergetar dan mengakibatkan gunung-gunung meletus. Pilar-pilar itu berjajar membentuk busur dimana puncaknya adalah saat anak panah api dilepaskan dari tengah busur di krakatau purba.” Kata Prabu Narayala. Dimas begitu terkesima melihat sebuah bola cahaya seterang matahari bergerak pelan dengan ekor yang begitu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkasa begitu merah memendar ke seluruh daratan dan lautan. Matahari mendapatkan kembarannya hari itu, begitu besar dan bergerak dengan ekor hitam legam menebar debu ke seluruh langit. Terang yang sangat menyerang satu bagian bumi dan sekaligus gelap pada bagian yang lain. Disebuah lembah dengan dinding setinggi lebih dari seratus meter antrian panjang manusia mengalir memasuki sebuah gerbang setengah lingkaran yang tampak seperti sebuah dinding air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat bergerak masuk, waktu kita tidak terlalu banyak” teriak para laki-laki yang berdiri tegak di atas batu di sisi kiri dan kanan antrian yang terus bergerak memasuki gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dan guntur begitu kencang bersahutan diiringi dentuman-dentuman keras gunung-gunung yang melontarkan lahar-lahar pijar dan batu-batu api raksasa yang menyala dan berekor hitam ke angkasa. Sejak kehadiran bulan kembar seluruh permukaan bumi seakan bergerak, gunung-gunung bergetar. Begitu banyak hewan yang berpindah secara masal di darat, di laut maupun di angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terlalu lama terang berubah menjadi gelap gulita oleh sapuan debu gunung-gunung yang mengamuk yang menyebar di angkasa. Sesaat seluruh suara hilang, suara kerumunan orang berisik yang sedang bergerak seperti tersedot habis, suara letusan-letusan dan getar gunung-gunung yang meletus tiba-tiba saja lenyap tak terdengar. Hanya berlangsung sesaat dan kemudian diikuti suara dentuman paling dahsyat yang pernah didengar seluruh mahluk di permukaan bumi. Antrian manusia yang sedang bergerak tiba-tiba saja tumbang terhempas sebuah kekuatan gelombang kejut yang membuat banyak orang terpental begitu jauh dan beberapa menghantam dinding tebing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika panik menerjang semua jiwa yang tergopoh-gopoh berupaya bangkit dengan telinga-telinga dan hidung yang mengalirkan darah. Suara kembali terdengar, kali ini teriakan dan tangisan panik mengemakan seluruh lembah. Namun belum banyak yang berhasil memasuki gerbang, langit mendadak berubah menjadi sangat merah menderu menerjang seluruh permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tutup gerbang, tutup gerbang…….” Teriak para prajurit yang persis berada di sebelah kiri kanan dinding gerbang. Seketika gerbang menutup Kepanikan hanya sesaat terjadi sebelum akhirnya terhenti bersamaan dengan hempasan awan panas yang sangat hebat bergulung-gulung memenuhi lembah, melontarkan dan membakar apa saja yang dilaluinya. Dalam sekejap seluruh hutan lembah sunda hangus terbakar, terang yang tersisa bukanlah sinar matahari, tapi hanya api yang terus membakar semua sisa hutan di lembah sunda dan kota Narathala yang mulai tertutup abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air laut dengan deras mulai menembus masuk melalui celah yang terbuat dari letusan krakatau purba yang terdorong oleh gelombang laut yang terbentuk akibat gempa yang begitu hebat dari dalam tanah. Lembah sunda dibanjiri oleh air yang merubah debu letusan gunung menjadi lumpur hitam yang pekat dan memadamkan hutan-hutan yang terbakar. Sungai-sungai telah berubah menjadi hitam sepekat lumpur dan tak lagi bisa dikenali alirannya. Air terus meninggi dan merendam seluruh lembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menyaksikan seluruh kehancuran kerajaan Narapati di seluruh lembah sunda. Prabu Narayala merasakan getaran hebat di dada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kau saksikan tadi baru awal dari semuanya anakku. Cerita sebenarnya yang ingin aku perlihatkan kepadamu adalah yang terjadi di dunia tengah setelah dilakukan penyebrangan. Tapi aku rasa saat ini cukup untuk memperlihatkan kepadamu apa yang terjadi sebelum penyebrangan.” Kata Prabu Narayala sambil mengibaskan tangannya. Suasana kembali gelap gulita, Dimas merasakan gerakan mundur dan naik yang kemudian diikuti dengan terang di sebuah ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapankah Bapak Narayala akan memperlihatkan kepada saya mengenai yang terjadi di dunia tengah setelah perpindahan.” Tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktunya akan tiba anakku, aku tidak mengatakannya kapan. Aku hanya bisa mengatakannya ketika aku mulai merasakannya tiba.” Kata Prabu Narayala tersenyum kepada Dimas. Mereka berdua kemudian bergerak keluar dari ruangan dan kembali menuju kediaman. Masih begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Dimas dan menunggu jawaban. Dimas kembali ke ruangan tidurnya dimana Raji masih meringkuk tak bergerak. Dimas segera mengambil tempat meletakan badannya yang sudah sangat lelah di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan begitu cepat, Dimas, Raji dan Pafi berusaha mengejar ketinggalan mereka tentang Narapati. Dunia baru ini begitu memukau Dimas hingga benar-benar membuatnya terlarut dalam setiap kegiatan. Prabu Narayala tidak mengumumkan apapun kepada rakyat Narapati mengenai siapa Dimas sebenarnya dan takdir apa yang dibawanya. Hal itu membuat Dimas tetap terlihat seperti orang biasa dan bisa bergaul dengan nyaman dengan siapapun. Kenyataan bahwa dunia barunya tetap tak mempertemukannya dengan wajah-wajah yang selama ini selalu menjelma dalam mimpi-mimpinya. Ada rasa benci mengapa harus dirinya yang terpilih untuk kehilangan kedua orang tua di usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termenung di depan jendela memandang jauh di antara atap-atap bangunan rumah penduduk yang berjajar rapi di antara aliran nadisara. Teringat kembali perjalanan napak tilas sejarah perpindahan Narapati yang ditunjukan oleh Prabu Narayala cukup mampu menempatkan rasa sedihnya menjadi sebuah tanggung jawab yang sangat besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-4961208370275588870?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/4961208370275588870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=4961208370275588870&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4961208370275588870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/4961208370275588870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2007/05/1943-arya-narapati-bapak-narayalla-kami.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-116671742297480622</id><published>2006-12-21T08:08:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:31:07.691-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;NARASIMHA DAVANTI SIGHRAM&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Enam purnama telah berlalu, tiga serangkai menjadi pusat perhatian di Cakravartin. Ada yang mengagumi, ada yang mencibir, ada yang bersikap biasa saja. Semuanya tidak berpengaruh sedikitpun pada Dimas, dia tetap merasa seperti apa adanya. Kehidupannya di asrama bersama Nyai Janis di dunia manusia lebih melekat kuat membentuk pribadinya yang selalu rendah hati. Bahkan Dimas merasa dia tidak seberuntung anak-anak lainnya yang masih memiliki kedua orang tua. Tapi untungnya dia memiliki dua sahabat yang tak jauh berbeda dengan dirinya. Kesamaan itu membuat mereka makin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari biasa setelah pelajaran usai, Dimas bergegas menuju ruangan Guru Naradharma. Raji dan Pafi mengejarnya dari belakang. Tak biasanya ada panggilan khusus dari Guru Naradharma. Dimas merasa panggilan ini begitu penting sehingga langkahnya begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang Guru Naradharma” Dimas menyapa orang tua itu saat tiba di ruangannya. Raji dan Pafi secara bersamaan juga memberikan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, anak-anak terima kasih sudah mau segera memenuhi panggilanku. Aku hari ini ada berita untuk kalian. Kalian sudah diijinkan untuk ikut ritual pengenalan hewan gaib. Seharusnya ritual itu baru bisa kalian ikuti setelah di tingkat lanjut. Tapi Dewan guru menganggap kalian telah siap untuk mengikutinya.” Kata Guru Naradharma langsung pada pokok masalah. Dimas, Raji dan Pafi masih kebingungan dengan yang dimaksud oleh Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, ritual pengenal hewan gaib adalah ritual untuk mempertemukan hewan-hewan gaib dengan tuannya yang akan menjadi penunggangnya. Narasimha, Garuda adalah hewan gaib utama dalam ritual ini. Setelah hari ini nanti malam adalah purnama, kalian bisa datang ke halaman utama kuil pada tengah malam” Kata Guru Naradharma. Dimas, Raji dan Pafi berkerut heran, tapi dada mereka sudah mau meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kalau kalian mau memiliki hewan tunggangan pribadi” kata Guru Naradharma dengan wajah yang tidak butuh dan membalikan badannya. Dimas tersenyum lebar menatap Raji dan Pafi yang nyaris teriak kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah larut, Dimas tampak gelisah menunggu waktu tengah malam. Raji yang sejak masuk ke dalam kamar sudah langsung menempel dengan bantalnya sudah terkapar tak bergerak. Dimas duduk memandang keluar melalui jendela dimana cahaya bulan cemerlang masuk menyeruak memenuhi ruangan. Memandang ke halaman utama, tampak bayangan besar bergerombol di angkasa kemudian mendarat di halaman utama. Sekitar 20 an Garuda Kencana memenuhi halaman. Tak lama kemudian diikuti beberapa ekor Narasimha melompati pagar halaman mengaum keras dibalas teriakan para Garuda dan kepakan sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji….ji bangun, sudah waktunya” Dimas membangunkan Raji. Dengan mata yang masih lengket dengan belek, Raji berusaha bangkit dan mengikuti gerakan Dimas walaupun ubun-ubunnya belum terlalu penuh yang membuatnya sempoyongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah siap ?” Pafi menyambut di depan pintu saat Dimas keluar dari kamarnya. Dimas hanya mengangguk sambil menarik tangan Raji yang masih berusaha bertahan dari rasa kantuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman telah penuh dengan anak-anak tingkat dasar yang berkerumun bersebrangan dengan para Garuda dan Narasimha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhatian semua siswa tingkat dasar, saya Wanapati, Saya adalah pawang dari hewan-hewan ini dan akan menjadi pengawas malam purnama ini” Dimas mengenali orang yang berbicara di tengah lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu per satu kalian akan berdiri di atas batu di tengah lapangan, jika ada diantara Garuda Kencana dan Narasimha yang bersedia menjadi tunggangan kalian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang mulai berbaris”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua siswa berebut berbaris berada pada yang paling belakang. Hanya Jilan yang tampil maju paling depan. Dimas berada di belakangnya kemudian Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yang paling depan, silahkan maju dan berdiri di atas batu itu” Wanapati menunjuk Jilan. Dengan wajah yang angkuh Jilan maju menuju batu yang teronggok tepat di tengah lapangan. Kepakan sayap para Garuda dan auman para Narasimha menyambut langkah Jilan yang begitu percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo siapa yang mau menjadi tungganganku” Jilan berteriak ke arah para Garuda dan Narasimha. Serentak para Garuda dan Narasimha maju ke depan mendekati Jilan. Wajahnya terlihat mulai gemetar, semua Garuda dan Narasimha mengeluarkan suara-suara keras seakan tidak menyukai teriakan Jilan. Melihat situasi yang tidak baik Wanapati menarik tubuh Jilan dan menyeretnya kemudian mendorongnya kearah barisan. Para Garuda dan Narasimha kembali mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak akan mendapatkan tunggangan dengan kesombongan, meskipun hewan mereka sangat peka terhadap perilaku kalian. Para Garuda dan Narasimha bisa merasakan isi hati kalian. Maka bersikaplah rendah hati, kalau aku tidak melerai, tubuhmu sudah tercerai berai sejak tadi, yang tadi bisa menjadi contoh buat kalian. Jika hewan itu sudah bersedia kalian tunggangi, usaplah kepalanya dia akan memberitahu panggilannya untuk kalian.” Wanapati menunjuk Jilan yang berdiri gemetaran menyandar tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang giliranmu Dimas” Wanapati menatap Dimas dan tersenyum. Dimas tersenyum kecil menutupi rasa ragunya. Kemudian Dimas berjalan ke tengah lapangan dan berdiri di atas Batu. Sejenak Dimas ragu hanya berdiri tegak tak berbuat apapun, para Garuda dan Narasimha berteriak-teriak. Dimas kemudian membungkuk memberikan hormat kepada semua hewan itu, dan semua Garuda dan Narasimha berhenti berteriak dan mendekati Dimas. Dimas diam menahan nafas dan terus membungkuk. Di pinggir lapangan Wanapati tersenyum. Setelah sisa beberapa langkah para Garuda dan Narasimha itu membungkuk. Semua siswa memandang dengan kagum, Dimas perlahan bangkit dan memandang para Garuda dan Narasimha yang membungkuk bersedia menjadi tunggangan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jarang sekali hal ini terjadi, Dimas, kau mendapatkan kesetiaan semua hewan itu, tapi kau tidak bisa memiliki semuanya. Kau harus memilih salah satu di antara mereka. Walaupun kau sudah memilih salah satunya, kau akan mendapatkan kesetiaan mereka selamanya, walaupun mereka sudah memiliki tuannya sendiri.” Kata Wanapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terdiam, dia memandangi satu persatu para Garuda dan Narasimha. Kemudian matanya berhenti pada seekor Narasimha yang seperti sudah dikenalnya, begitu akrab dengan dirinya. Dimas turun dari batu dan menghampirinya kemudian membelai kepala hewan tersebut. Dengan lembut hewan tersebut mengesekan bulu halus kepalanya ke tubuh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingat kau, aku ingat Sighram, Aku ingat matamu ketika pertama kali kita kembali bertemu. Sekarang aku ingat Ayah, Ibu dan kau” Dimas tak kuasa menahan derai air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah Dimas, kau bisa menungganinya dan berjalan keliling kota agar hati kalian berdua semakin dekat” Wanapati menyadari keadaan yang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menaiki punggung Sighram dan Narasimha itu berbalik dan melompati pagar dan hilang bersama Dimas. Prosesi dilanjutkan oleh Pafi, Raji dan anak-anak lainnya. Raji dan Pafi memperoleh Garuda Kencana, walaupun Raji sempat jatuh saat menungganginya, tapi sekarang mereka berdua berada di angkasa kota Medanggana Raya mengikuti gerak Dimas yang berada di atas punggung Sighram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin menyapu rambut Dimas, menyadari ada yang mengikutinya dari udara, Dimas mendongakan kepalanya ke atas. Pafi dan Raji melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sighram kita berhenti di lapangan itu” Dimas menunjuk lapangan luas yang merupakan alun-alun kota. Garuda kencana Raji dan Pafi pun mendarat mulus di hadapan Sighram dan Dimas. Sighram mengaum kecil menyambut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian memilih Garuda Kencana rupanya” Dimas turun dari punggung Sighram. Raji dan Pafi tersenyum gembira juga turun dari punggung Garuda Kencananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian pasti sudah mengenal Davanthi Sighram, siapakah nama sahabat baru kalian ?” Dimas menghampiri Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Srigati, dia yang pertama maju menghampiriku dan membungkuk” Pafi menjelaskan dengan wajah sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya dia seekor betina” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Srigati seekor betina. Tadi kami banyak bercerita mengenai diri kami masing-masing. Umurnya baru 5 tahun atau setara dengan 18 tahun usia manusia” Pafi memeluk leher Srigati yang mengeluarkan suara lembut dari paruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri bagaimana Raji” Tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Jethoraksa, dia menghampiriku dengan cepat dan melompat-lompat. Aku pikir aku akan mati dicabik-cabik. Ternyata dia tadi menjelaskan kalau dia senang bertemu dengan aku dan mengajaku bermain” Raji nyengir sambil menepuk punuk Jethoraksa. Garuda Kencana itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memekik ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya Jethoraksa sangat periang seperti dirimu Raji” Dimas tertawa melihat tingkah Jethoraksa yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengangkat sayapnya dan mengangkat-angkat kedua kakinya. Tampak benar seperti sedang kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sighram kemarilah, kenalkan dirimu kepada Srigati dan Jethoraksa” Dimas melambaikan tangannya memanggil Sighram. Narasimha itu melenggang menghampiri dan berdiri di samping Dimas. Sighram langsung mengeluarkan auman keras kepada kedua Garuda Kencana itu bergantian yang dibalas dengan pekikan keras dari Srigati dan Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita lanjutkan berkeliling kota, aku rasa itu baik sebagai latihan buat kita agar lebih mahir mengendarainya” Pafi dengan semangat mengajak Dimas dan Raji yang dianggukan keduanya tanda setuju. Mereka kembali ke punggung tunggangan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srigati menjejakan kaki sambil mengepakan sayapnya membawa Pafi melesat ke udara. Suara lengking Pafi yang khas bercampur dengan pekik Srigati memecah keheningan udara. Sementara Jethoraksa dan Raji pun tak mau kalah. Mereka melesat menyusul Pafi sambil sesekali melakukan maneuver berputar dan menukik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Jethoraksa, kita tunjukan kehebatan kita” Raji memegang erat leher Jethoraksa yang melakukan gerakan-gerakan tak terduga. Terkadang Raji lepas dari pegangannya tapi dengan lincah Jethoraksa menukik menangkap Raji persis di punggungnya. Raji kelihatan tidak menunjukan kengerian, wajahnya malah makin cengengesan dan tanpa henti memuji-muji Jethoraksa. Mendapat pujian dari majikannya Jethoraksa makin gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Pafi, tampaknya lebih berkonsentrasi dengan kecepatan dan ketinggian. Pafi memacu kecepatan dan memanjat tinggi sampai menembus awan. Pafi tidak melakukan maneuver-manuver seperti yang dilakukan Raji dan Jethoraksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Srigati, kita lihat seberapa tinggi kemampuanmu mencapai angkasa” teriak Pafi sambil menepuk lembut punggung Srigati. Garuda Kencana itu menjawabkan dengan pekik kuat dan gerakan sayap yang makin kuat membelah ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dimas yang berada di punggung Sighram bergerak ringan melompat-lompat zig zag diantara nadisara di tengah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa mereka begitu asyik bermain semalaman, namun tak ada wajah kelelahan yang tampak. Sedang asyik beristirahat di bawah sebuah pohon beringin besar, mendarat seekor Garuda Kencana di depan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak kalian sebaiknya kembali ke asrama, waktunya sudah habis” Argaphati turun dari punggung Pavakah. Dimas bangkit dari sandarannya di punggung Sighram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kami kembali ke asrama, lalu dimana aku menempatkan Sighram ?” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka semua sudah tahu tempat tinggal mereka, kalau kalian memerlukannya kalian hanya perlu memanggil namanya saja. Angin akan membawa panggilan kalian. Jiwa kalian telah menjadi satu, jadi hanya dengan panggilan kecil saja mereka sudah mendengar dan bisa mengetahui dimana keberadaan kalian” Wanapati menyudahi dengan kembali ke punggung Pavakah. Tanpa banyak bicara Dimas menaiki punggung Sighram, diikuti Raji dan Pafi yang segera naik ke atas Jethoraksa dan Srigati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melesat ke angkasa menembus awan menjadi gerakan kesukaan Pafi, pagi masih begitu gelap, bintang masih terasa terang di angkasa. Sedangkan Raji selalu asyik dengan maneuver-manuver berputar dan menukiknya. Dimas merasakan babak baru yang lebih menakjubkan dalam hidupnya. Rasa bertualangnya makin besar bersama Sighram melesat menembus malam yang tinggal sepertiga. Petualangan besar menanti Dimas, Raji dan Pafi yang akan menentukan nasib dunia baru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-116671742297480622?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/116671742297480622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=116671742297480622&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671742297480622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671742297480622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2006/12/chapter-8-nostradamus-dan-utusan.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-116671715543672984</id><published>2006-12-21T08:04:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:31:44.558-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;KUIL CAKRAVARTIN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tidak menyadari semenjak hari kelahirannya yang ke 13 semua hal yang berkaitan dengan Amukhsara mudah dirasakan tanda-tandanya. Pengaruh kuat dari buku kehidupan yang mulai memancarkan energinya memberikan kepekaan yang tinggi pada Dimas. Kehadirannya di dunia Narapati juga membawa perubahan yang sangat besar yang belum disadari oleh siapapun termasuk Dimas sendiri. Batu bintang satuasra yang tersimpan dan dijaga ketat di perut Cakravartin pun tiba-tiba memancarkan sinar ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi datang dengan janjinya membaca semua halaman demi halaman yang terdapat di dalam buku Cakravartin. Wajahnya terlihat kusut sekali seperti kurang tidur. Agaknya dia menghabiskan waktu semalaman untuk membaca. Dengan gerakan yang sangat lesu duduk di bawah pohon beringin di halaman kuil tempat yang sama mereka kemarin duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau menemukan sesuatu yang menarik dari buku itu ?” tanya Dimas perlahan. Dimas tidak ingin terlihat terlalu memaksa Pafi. Wajahnya sudah menunjukan kelelahan yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulurkan tanganmu.” Raji meminta Pafi memberikan tangannya kepadanya. Pafi tahu maksud Raji, segera menyodorkan kedua tangannya kepada Raji. Raji adalah pemilik kekuatan air yang selain bisa digunakan menyerang juga bersifat menyembuhkan dan menyegarkan. Sebuah gelombang kejut seakan terdorong masuk dari kedua tangan Raji menembus kedua tangan Pafi. Sesaat Pafi merasakan rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi sejenak kemudian seakan semua irama tubuhnya kembali normal, wajahnya yang pucat mulai memancarkan sinar cerah dan segar. Raji melepaskan genggamannya dari tangan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Raji, aku sudah membaik sekarang. Baiklah aku semalaman membaca seluruh isi buku ini halaman demi halaman. Aku menemukan legenda mengenai pembuatan Cakravartin. Tapi tidak ada satu keterangan pun mengenai kemunculan sinar dari puncak Cakravartin. Sepertinya tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya sejak pembangunan kuil ini.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sama sekali ?” Dimas kembali diam, pikirannya seketika kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku bahkan membacanya sampai tiga kali, makanya aku tidak tidur semalaman. Aku tidak menemukan cerita apapun mengenai cahaya. Buku itu hanya menyebutkan kapan dibuat, berapa lama dibutuhkan untuk membuatnya dan untuk apa.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah sebaiknya kita bertanya saja kepada Bapak Narayala.” Raji menawarkan alternatif lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana memberitahukannya, Bapak Narayala sedang berada jauh di Minoan dan baru kembali saat pesta panen nanti. Tidak ada yang bisa kita percaya saat ini. Kita benar-benar baru berada di dunia ini, dan kita tidak tahu siapa yang bisa kita percaya selain Bapak Narayala. Lebih baik kita mencari tahu sumber lain.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dimana sumber lain itu ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan menyelidikinya langsung tiap malam.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…petualangan baru, aku suka itu. Bagaimana Pafi, kau juga setuju kan kalau kita obok-obok Cakravartin kalau perlu seluruh Medanggana Raya.” Kata Raji penuh semangat. Pafi menjawab dengan menggangguk setuju, walaupun dia tidak terlalu suka tapi Dimas benar, tidak ada cara lain selain langsung menyelidikinya di sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita sudah sepakat dan nanti malam akan menjadi yang pertama. Sekarang lebih baik kita kembali ke kelas, lihat Jilan sudah mulai mengendus-endus apa yang sedang kita lakukan.” Dimas bangun dari rumput menggendong tasnya di bahu. Raji menoleh ke arah Jilan yang sedang mengawasi dari tangga kuil. Tapi yang membuat Dimas, Pafi dan Raji agak terkejut dari tangga kuil tepat di belakang Raji empat anak lelaki yang mereka kenal bergegas menuruni tangga menghampiri mereka. Wajah mereka tampak sangat penuh permusuhan. Tubuh mereka jelas lebih besar dari Dimas, Raji maupun Pafi. Pastinya mereka adalah siswa dari kelas yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingat mereka ? kita meninggalkan mereka dalam keadaan lumpuh di perpustakaan kemarin.” Kata Dimas santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya mereka berhasil juga bebas dari totokan kita.” Kata Pafi dengan wajah melecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya mereka sangat marah dan ingin membalas.” Kata Raji yang tersenyum dan agak sedikit cekikikan saat membayangkan apa yang terjadi saat perpustakaan tutup tetapi mereka masih dalam keadaan lumpuh tertotok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, mau kemana kalian. Kalian harus membayar apa yang telah kalian lakukan.” Teriak seorang yang berjalan paling depan yang nampaknya adalah pemimpin diantara keempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya langsung melakukan gerakan serangan. Sebuah bola api menerjang ke arah Dimas, Raji dan Pafi. Dengan tangkas Raji membalas serangan. Segulung air meluncur dari kolam nadisara yang berada di sekitar halaman menelan bola api itu. Kedua tenaga yang saling berlawanan itu beradu persis di tengah menimbulkan dentuman keras. Pafi dengan sigap membuat perisai gaib melindungi kedua sahabatnya dari sebaran tenaga yang pecah. Keempat anak itu terpental ke belakang sementara Jilan tetap berdiri tegak padahal dia berada persis di belakang mereka. Lumpur yang terbawa mengotori seluruh badan mereka. Dimas menahan punggung Raji dari belakang dan mencegahnya terpental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dentuman yang keras mengundang banyak siswa untuk melihat yang sedang terjadi. Sorak sorai segera terdengar saat melihat pertempuran dua siswa dari tingkatan yang berbeda. Jilan sangat terkejut dengan kekuatan serangan balasan yang ditunjukan Raji. Jelas dia tahu bahwa kekuatan itu bukanlah untuk siswa tingkat dasar seperti Raji. Sekarang keempat pemuda tadi sudah kembali berdiri tegak di tengah lapangan berhadap-hadapan dengan Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya kau boleh juga, pantas kalian punya nyali. Tapi jangan senang dulu bocah. Kau akan segera meratap minta ampun.” Pemuda itu menunjuk ke arah Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita lihat saja apakah aksimu sebesar omonganmu.” Kata Pafii mengejek. Dimas berusaha mengambil alih keadaan, tetapi Raji menolaknya. Emosinya sudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita lihat apakah sekarang kau mampu menahannya.” Mendengar ejekan Pafi, pemuda tadi mendengus marah. Tangannya langsung mengayun diikuti tiga putaran api yang meluncur deras. Raji kembali menarik air yang berada di kolam nadisara dan membaginya menjadi tiga putaran air. Pafi langsung membentuk perisai gaib sementara Dimas berjaga di belakang Raji. Ketiga putaran tenaga yang berlawanan itu siap saling bertubrukan. Tetapi sebelum mereka serangan itu saling bertumbukan tiba-tiba muncul dinding batu dari dasar tanah tepat di tengah-tengah mereka sehingga menyebabkan putara api dan air itu menumbuk dinding batu tersebut. Semuanya terkejut, tidak ada yang tahu siapa yang melakukannya. Tetapi dari arah tangga kuil guru Wirabhumi bergegas menghampiri mereka. Dinding batu itu kembali masuk ke dalam tanah. Wajah Guru Wirabhumi tampak marah melihat yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kalian lakukan !!! mau pamer hah. Galih, Jambung, Sundo, Arto apakah kalian tidak malu melawan siswa tingkat dasar. Kalian siswa baru ! kalian akan mendapatkan hukuman bersama mereka sore nanti.” Guru Wirabhumi meninggalkan lokasi. Raji tampak tidak bisa terima, gerakannya tertahan oleh tarikan tangan Dimas. Galih meludah dan menatap merendahkan kemudian berbalik mengajak gengnya meninggalkan tempat. Semua siswa bubar setelah diperintah oleh Guru Wirabhumi. Bisik-bisik segera menyebar ke seluruh Cakravartin tentang siswa tingkat dasar yang mampu menahan serangan siswa tingkat utama. Dimas, Raji dan Pafi segera terkenal di seluruh Cakravartin. Sepanjang jalan menuju kelas bisik-bisik dari kumpulan-kumpulan siswa mulai dirasakan Dimas, Raji maupun Pafi. Tatapan-tatapan kagum maupun sinis terlihat jelas dari air muka mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita segera ke kelas, aku mulai tidak nyaman dengan bisik-bisik ini.” Kata Dimas. Sebaliknya dengan Raji, wajah genitnya mulai menebar pesona kepada gadis-gadis. Sementara Pafi tak ada lagi yang dipikirkan kecuali hukuman apa yang akan diberikan oleh guru Wirabhumi kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu kelas berjalan agak sulit bagi ketiganya. Guru Wirabhumi menunjukan sikap agak memojokan. Bahkan Jilan pun seperti mendapatkan angin untuk menyindir. Dimas tetap tenang tetapi Raji sudah sangat gatal ingin menghajar Jilan. Untung saja Pafi memberinya totokan sehingga dia tidak bisa melakukan gerakan serangan. Raji mendelikan matanya kepada Pafi karena tujuh aliran tenaga dalamnya diganjal oleh totokan Pafi. Pafi hanya tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Raji. Tapi dia tahu bahwa totokannya hanya sementara sifatnya, akan hilang dengan sendirinya oleh desakan tenaga dalam Raji sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang tidak menyenangkan untuk menghabiskan waktu menjalani hukuman dari Guru Wirabhumi. Bayangan-bayangan hukuman yang tidak menyenangkan membayang di mata dan makin kuat saat pintu ruangan Guru Wirabhumi terbuka. Galih bersama ketiga temannya muncul dari pintu ruangan Guru Wirabhumi langsung menghadang jalan Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan lanjutkan lagi di tempat lain bocah. Kau bisa pilih dimana tempat mati yang kau pilih.” Kata Galih melakukan gerakan menggertak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak ingin melanjutkan perselisihan ini, aku rasa kita bisa menyudahinya di sini saja.” Kata Dimas dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau takut…. Hah….” Galih makin menantang. Raji mulai terpancing lagi. Tetapi belum sempat suasana panas itu berkembang, suara Guru Wirabhumi dari dalam ruangan menghentikan semuanya. Dimas, Raji dan Pafi memasuki ruangan yang penuh dengan ukiran peta dan gunung-gunung di seluruh dindingnya. Pintu ruangan kembali tertutup setelah ketiganya masuk. Tak lama kemudian ketiganya keluar dengan wajah yang mengembangkan senyum. Sebuah pemandangan yang aneh, seolah mereka begitu senang dengan hukuman yang mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata hukumannya tidak seberat yang aku bayangkan.” Kata Raji dengan sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hukuman yang diberikan bukan menekankan pada pelatihan fisik Raji, tapi pada pelatihan mental agar kita lebih rendah hati, termasuk dalam menggunakan kekuatan kita.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan belajar banyak sekali dari hukuman ini.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian meninggalkan Cakravartin, tapi tidak langsung menuju asrama. Mereka berjalan keluar kompleks kuil dan juga asrama terus menuju pemukiman penduduk. Berjalan di tengah-tengah kota yang terbelah oleh aliran Nadisara. Perahu-perahu tanpa layar berlalu lalang membawa banyak hasil bumi yang akan diperjual belikan di pasar-pasar. Terdapat satu pasar utama dan sembilan anak pasar. Selain kereta kayu yang ditarik oleh burung-burung galapaksi, perahu adalah sarana yang sering digunakan untuk transportasi barang dan manusia. Penduduk dilarang menggunakan kendaraan udara di dalam kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bangsa Narapati Dunia ini diciptakan dalam 6 hari. Berdasarkan kepercayaan itu waktu dihitung setiap kelipatan enam hari yang berulang. Hari pertama dimulai dari hari Astra, Hari Aktu, Hari Banyu, Hari Bayu, Hari Bhumi, dan Hari Rimba. Diantara semua hari, hari Astra adalah yang paling utama. Pada hari itu semua kegiatan manusia harus ditinggalkan. Hari Astra adalah hari yang diperuntukan bagi sang Pencipta. Sehingga hari untuk berdagang dan melakukan kegiatan di pasar hanya dilakukan pada lima hari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Astra sebagai hari tempat semua bermula dan menjadi tempat sumber dari semua yang ada didunia. Hari kedua bernama hari Bhumi dimana tempat hidup dan kehidupan diciptakan pertama kali. Hari tiga adalah hari Aktu dimana bhumi dibakar terlebih dahulu agar menjadi tempat yang suci. Hari keempat adalah hari Banyu dimana bhumi yang terbakar didinginkan agar kehidupan bisa berdiri diatasnya. Hari kelima adalah hari Bayu dimana udara ditiupkan agar kehidupan bisa bernafas. Dan hari yang keenam adalah hari Rimba dimana semua pohon dan mahluk lainnya diciptakan mengisi semuanya. Setiap enam hari dinamakan satu pekan dimana melambangkan dunia yang selalu berulang mulai dari proses penciptaan alam semesta hingga penciptaan kehidupan lalu diulang lagi terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji dan Pafi berjalan terus menyusuri jalan-jalan kota yang sangat bersih dan indah. Cabang pohon-pohon jati yang meranggas berjajaran di disisi kiri dan kanan jalan. Pohon-pohon nyiur pun berjajar rapi di sepanjang jalur Nadisara. Mereka berjalan terus menuju sebuah alun-alun besar di barat kota. Ratusan pedagang berbagai macam hasil bumi dan ternak saling menawarkan barangnya kepada para pembeli yang lewat. Suasana pasar yang dirasakan begitu berbeda dengan yang dialami Dimas, Raji dan Pafi di dunia manusia. Di tengah alun-alun terdapat saluran air yang terpecah-pecah menjadi beberapa saluran seperti daun kelapa yang menjadi dermaga bagi berlabuhnya semua perahu yang membawa hasil bumi dan ternak. Diantara saluran-saluran itu terdapat bangunan-bangunan beratap tanpa dinding yang lebih rendah dari pada ketinggian air sehingga perahu-perahu yang penuh dengan hasil bumi itu terlihat mengapung setinggi dada. Para pembeli hanya tinggal berkeliling di dalam ruangan dengan pilar-pilar penyangga atap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di bagian atas atap dimana matahari menyinari dengan teriknya, bale-bale kayu dengan atap dari alang-alang menjadi tempat pelesir para pembeli yang sudah kelelahan dan menikmati makanan diantara barang-barang bukan hasil bumi dijajakan di bagian atas. Tembikar-tembikar tanah liat, Batik, Buku, dan perlengkapan kebutuhan rumah tangga lainnya tertata rapi. Penataan pasar begitu rapi dan teratur. Tidak ada percampuran jalur perahu pedagang dengan pembeli. Kereta-kereta burung Galapaksi bersandar rapi menunggu majikan-majikan mereka selesai berbelanja. Para pembeli yang menggunakan jalur air menambatkan perahu-perahu mereka di sisi luar pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan membantu pengurusan kereta-kereta Galapaksi. Kita harus menemui juru tambat kereta.” Dimas menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang menambatkan sebuah kereta burung Galapaksi dan memberi makan burung-burung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita ke sana, pasti dia orangnya.” Dimas bergegas menuju orang itu diikuti oleh Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi pak, apakah bapak bernama Suranaya ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya betul, saya Suranaya. Ada apakah anak-anak mencari saya.” Tanya Suranaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami dikirim oleh Guru Wirabhumi menemui bapak Surayana. Saya Dimas, ini Raji dan Pafi” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, Guru Wirabhumi. Baiklah nak kita langsung saja ya. Sekarang nak Dimas bantu saya untuk memberi makan burung-burung ini. Hati-hati terkadang mereka suka usil. Nak Raji membersihkan kotoran-kotoran mereka dan Nak Pafi setiap ada kereta baru masuk, tambatkan di tempat yang kosong.” Kata Suranaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji protes tapi tak berani diungkapkannya, ujungnya dia hanya merengut semrawut melihat bagian tugasnya. Pafi tertawa cekikikan melihat tugas yang akan dikerjakan Raji. Dimas sendiri merasa sedikit tergelitik. Dengan sangat terpaksa Raji membersihkan kotoran burung-burung Galapaksi yang jumlahnya puluhan dan silih berganti datang. Syarat yang diminta mereka mengerjakannya tanpa menggunakan kekuatan mereka dan itu memakan tenaga dan mengucurkan keringat. Semua dikerjakan sampai menjelang sore dimana pasar mulai menyelesaikan waktunya. Satu per satu kereta-kereta burung Galapaksi pergi bersama majikannya. Seakan terbebas dari sebuah pikulan berisi batu besar, Raji menghempaskan dirinya ke tanah. Mereka baru bisa pulang setelah semua tempat penambatan bersih dan mendapatkan sebungkus nasi sebagai upahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lapar sekali, ayo kita makan.” Raji membuka bungkusan makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya kita mulai melihat pelajaran yang kita dapat dari hukuman ini.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga pulang dengan setumpuk nasi telah berpindah dari bungkusnya ke dalam perut mereka. Merasakan mengerjakan sesuatu seperti layaknya orang biasa dan tanpa ada kekuatan khusus memberikan pengalaman ketidakberdayaan yang sangat berharga bagi mereka. Mereka akhirnya menyadari bahwa dalam setiap kekuatan diikuti sebuah tanggung jawab yang besar dan bijaksana dalam menggunakannya. Kekuatan hanya digunakan untuk menempatkan kemanusiaan pada tempat yang paling tinggi dalan setiap penegakan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---- **** ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai menggantung sepertiga. Bulan tak penuh tetap sangat terang timur kota yang agak berawan. Jalan-jalan kota sudah sepi. Medanggana Raya telah lelap tertidur di selimuti kabut dingin yang sangat tebal. Ketebalannya hingga mencapai ujung atap rumah. Bulan ini adalah bulan yang paling dingin dalam semua bulan yang terdapat dalam perhitungan waktu Narapati. Narapati menghitung waktu mereka menjadi dua bagian, waktu pergerakan matahari dan waktu pergerakan bulan. Waktu matahari digunakan untuk keperluan menentukan cuaca dan musim, sedangkan waktu bulan digunakan untuk keperluan ritual. Setiap tahun matahari dibagi 12 bulan. Tahun pertama dihitung sejak permulaan perpindahan bangsa Narapati ke dunia tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah benar-benar tidak kelihatan, bahkan kaki sendiri pun tidak dapat dilihat. Kabut terlalu pekat. Bagi orang biasa mungkin berjalan pun sudah menjadi hal yang mustahil. Tetapi bagi Dimas, Pafi maupun Raji, hal tersebut tidak menjadi sebuah halangan besar. Pafi mampu memerintahkan kabut-kabut itu untuk menyingkir hanya dengan kibasan halus jarinya yang lentik. Tapi kali ini agak berbeda, kabut ini tidak mau menuruti perintah Pafi. Setiap kali Pafi mengibaskan tangannya, kabut yang sudah membuka jalan dengan cepat menutup kembali. Seolah tidak bisa digerakan sedikitpun. Pafi berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong kabut-kabut itu, tapi yang didapatnya hanya rasa lelah dan kedinginan yang amat sangat. Dimas merasakan ada sesuatu yang tidak berjalan seharusnya dengan kabut itu. Dimas kemudian meminta Pafi untuk menghentikan usahanya membuka tabir kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kabut ini adalah kabut ciptaan sihir yang sangat kuat. Kita tidak bisa menyingkirkannya kecuali sihirnya telah dipunahkan.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti begitu, aku seperti kehabisan tenaga. Setiap aku kerahkan kekuatan untuk mengusirnya, seolah tenagaku ikut diserapnya.” Kata Pafi yang sudah terlihat sangat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila, siapa yang punya sihir sehebat ini, apakah kita kenal orang di Medanggana Raya yang mempunyai sihir sehebat ini.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setahuku, Cuma Bapak Narayala yang memiliki kemampuan menciptakan sihir dengan skala yang sangat luas seperti ini. Umumnya pejabat-pejabat Medanggara Raya hanya memiliki kekuatan tenaga dalam yang tinggi untuk bertempur, tidak untuk menciptakan sihir seperti ini.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah ini masih berkaitan dengan kejadian kemarin ? mungkinkah kemarin memang ada orang yang mencoba masuk ke ruang bawah tanah Cakravartin atau orang yang sama penasarannya seperti kita.” Dimas berkata-kata sendiri. Raji dan Pafi walaupun tidak bisa melihat wajah Dimas, tetapi suara Dimas cukup jelas terdengar di tengah kesenyapan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ini dugaan yang kuat. Pasti memang ada orang yang berniat masuk ke ruang bawah tanah Cakravartin, tetapi kemarin tidak berhasil sehingga dia mencobanya kembali.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang harus kita lakukan supaya bisa ke Cakravartin dengan keadaan seperti ini.” Raji melemparkan pertanyaan kepada kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan ke sana, tapi tidak dengan mata kasar kita, tapi dengan mata batin. Kita bisa berjalan dengan mengenali pantulan getaran setiap benda yang ada disekitar kita.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AKAMPA ATINDRIYA” Dimas merapalkan mantranya, disusul oleh Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka berjalan dengan mengandalkan getaran yang sangat halus yang mereka pancarkan dari kedua telapak tangan mereka. Getaran itu kemudian terpantulkan oleh benda-benda disekelilingnya sehingga pikiran mereka bisa melihat dengan jelas bentuk permukaan tanah dan tinggi rendahnya. Pandangan itu bagi mereka seperti sebuah dunia tanpa warna. Yang terlihat hanyalah bentuk gelap dan terang. Gelap menyatakan ruang kosong sedangkan terang menyatakan ada sebuah benda. Makin terang cahayanya makin keras benda tersebut. Dengan penglihatan itu cukup untuk mereka bergerak lebih cepat hingga sampai ke Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok bayangan putih seukuran tubuh mereka melesat kabur meninggalkan Cakravartin sesaat setelah mereka tiba di depan pintu Cakravartin. Dimas melesat mengejar bayangan tersebut. Tangannya mengayun deras melontarkan serangan-serangan untuk melumpuhkan bayangan tersebut. Dimas yakin bahwa serangan cukup kuat yang untuk orang seukuran dengannya tidak akan bisa menangkisnya. Dimas juga yakin orang itu seusia dengannya mengingat ukuran tubuhnya yang sama dengannya. Tetapi dengan mudahnya serangan Dimas bisa dipatahkan begitu saja. Bayangan itupun bergerak lebih cepat seakan kabut yang begitu tebal tidak menghalanginya. Dimas urung mengejarnya, pikirannya kembali ke Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan menghilangnya bayangan itu seluruh kabut perlahan menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Langit kembali cerah oleh sinar bulan dan bintang gemintang. Cakravartin tampak jelas di hadapan mereka. Sebuah sinar meluncur dari puncak Cakravartin hingga seperti sebuah pilar langit. Dimas kembali melihat sinar itu untuk kedua kalinya. Dirinya memimpin kedua sahabatnya memasuki ruang pertama dimana Dimas pernah menemukan sebuah lubang menuju ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah terlihat sangat terang oleh lampu-lampu obor. Mereka bertiga menuruni tangga menuju ruangan yang lebih dalam. Dimas ingat kemarin malam dia hanya melihat dinding penuh ukiran dan buntu. Tapi sekarang dinding ukiran yang tengah telah menjadi pintu sebuah ruangan di baliknya yang penuh dengan cahaya dengan tangga menurun yang makin dalam. Makin ke bawah cahaya makin hilang dan berujung pada sebuah ruangan buntu dengan penuh ukiran. Ukiran yang berbeda dari ruangan sebelumnya yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SEBAN TEJA SORDHESPHEBAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas merapalkan mantra dan beberapa cahaya lampu di atasnya padam berkumpul di atas tangannya menerangi ruangan gelap di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat ukiran itu, tulisan-tulisan narapati berbeda dari yang pernah kita baca di pustaka-pustaka Narapati.” Pafi menunjuk ke arah dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti artinya, sepertinya ini adalah huruf narapati yang lain.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi huruf-huruf ini juga tidak terlalu asing, aku yakin ada sesuatu yang tersembunyi.” Kata Raji. Tapi belum sempat mereka membahas dan menelitinya lebih dalam tiba-tiba perlahan-lahan seluruh lantai mulai mengangkat ke atas. Ruangan bawah tanah mulai kembali tertutup. Dimas, Raji dan Pafi bergerak gesit menanjak berkejaran dengan batu-batu dan dinding yang bergerak merapat. Hingga akhirnya lantai ruangan kembali tertutup rapat. Cahaya yang muncul di ujung Cakravartin kini sudah hilang. Semua sudah kembali seperti keadaan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi gerbang pertama bisa dibuka, pasti penyusup tadi sudah tahu bagaimana caranya masuk. Pasti dia sudah memecahkan teka-teki tulisan itu.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar sekali, pasti kita juga bisa memecahkan teka-teki ini. Ayo sekarang kita kembali ke asrama.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga kemudian meninggalkan Cakravartin dengan mengendap-endap. Walaupun tahu Cakravartin selalu tanpa penjagaan malam, Dimas merasa perlu untuk berjaga agar tidak siapapun mengetahui keberadaan mereka setiap malam. Satu hal yang membuat Dimas agak cemas, sosok bayangan yang lebih dahulu datang ke Cakravartin. Pikirannya bertarung dalam ketidakmengertian apa yang diinginkan oleh orang itu. Mengapa anak kecil seperti dia, mungkinkah ada siswa di Cakravartin yang juga memiliki rasa penasaran yang sama dengannya saat melihat sebuah sinar meluncur dari ujung Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---- *** ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi kembali disambut oleh kesibukan para siswa di Cakravartin. Hari ini adalah hari Rimba, sehari menjelang puncak perayaan pesta panen. Pelajaran demi pelajaran yang diikuti oleh Dimas, Raji maupun Pafi makin menambah kekayaan pengetahuan mereka akan dunia yang baru mereka tempati. Tetapi dari semua itu pelajaran dari hukuman yang diberikan Guru Wirabhumi adalah yang mereka rasakan paling berharga diantara semuanya. Menjadi penambat kereta Galapaksi, pengangkut barang dagangan, Pembersih sampah pasar dan pekerjaan lain yang harus dilakukan tanpa menggunakan kekuatan. Merasakan menjadi orang-orang kebanyakan, walaupun pernah dialami di dunia manusia, tapi kini orang kebanyakan yang dimaksud adalah orang-orang yang tanpa kemampuan ataupun kesaktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menemukan ini, secara tidak sengaja ketika aku mau meletakan kembali buku Cakravartin. Buku ini tak mau masuk ke dalam raknya, jadi aku berpikir pasti ada sesuatu yang mengganjal di belakang rak, ternyata ada sebuah gulungan kain batik yang berisi ulasan lengkap mengenai Cakravartin. Rupanya buku yang aku baca tempo hari adalah salinan dari naskah aslinya. Dan tidak semua naskah aslinya disalin ulang. Beberapa bagian yang sangat penting seperti sengaja tidak disalin. Sepertinya memang sengaja disembunyikan. Dan Justru bagian itulah yang kita cari selama ini.” Kata Pafi panjang lebar. Kemudian dia meletakan segulungan besar kain putih lusuh yang sudah tampak sangat tua dan rapuh. Dengan perlahan Pafi membuka bagian yang ingin ditunjukannya kepada Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, disini diceritakan mengenai adanya batu bintang Satuasra yang diletakan di dasar perut Cakravartin. Batu bintang ini adalah sumber tenaga perisai gaib yang melindungi Medanggana Raya dari serangan.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti ada orang yang berniat mengambil batu bintang itu ?” kata Raji. Pafi mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini berbahaya, jika batu bintang Satuasra dipindahkan atau diambil maka Medanggana Raya akan kehilangan pertahanan dan membuatnya mudah diserang.” Kata Dimas cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mengapa diletakan di Cakravartin, bukan di istana Raja.” Tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena sebenarnya Cakravartin dulu adalah sebuah kuil keagamaan yang menjadi tempat suci bagi Narapati. Tapi sekarang telah diubah menjadi tempat belajar.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik perhatian Dimas saat mereka sedang sibuk di meja. Ruang perpustakaan itu kini tidak satupun serangan yang mereka terima sejak pertama kali masuk tadi. Tidak seperti waktu pertama kali mereka berkunjung ke perpustakaan. Bahkan kelompok-kelompok siswa dari kelas yang lebih tinggi pun seakan tidak berani mengusik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat pencari muka itu, dia kelihatan rajin sekali datang ke perpustakaan.” Kata Raji menunjuk Jilan yang sedang duduk membaca naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memang sering berada di perpustakaan tapi selalu sendirian. Sepertinya tidak pernah berhasil mendapatkan teman.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mau berteman dengan dia, sombong dan suka menghina orang lain.” Kata Raji dengan mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, kita tidak perlu menambah kesusahan yang dia alami. Aku rasa dia sudah susah tanpa teman.” Kata Dimas seperti biasa dengan dewasa menengahi. Jilan sempat melirik ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tak ada lagi yang membicarakan Jilan. Mereka terlalu asyik bercanda dan tertawa. Walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan berisik di ruang perpustakaan, tetapi Dimas cukup cerdik meyiasatinya. Dia membuat selubung gaib yang membuat suara mereka tidak terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk siswa tingkat dasar, kemampuan itu sangatlah ajaib dan langka. Pelajaran yang mereka dapatkan dari Pak Narso saat masih di asrama rupanya lebih maju dari siswa-siswa setingkatannya. Hukuman yang diberikan Wirabhumi membuat mereka lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuatan mereka bahkan saat konfrontasi sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai merangkak naik meminang bulan yang sempurna di antara barisan bintang yang menghiasi langit yang sedikit berawan. Cakravartin melesatkan cahayanya diujung ubun-ubunnya. Bulan terang merangkak pelan menuju puncak langit. Cahayanya beradu terang dengan panah sinar Cakravartin. Sedikit demi sedikit kedua sinar itu bertumbukan, aura langit berubah menjadi sangat biru. Bintang-bintang tak mampu mencuri perhatian langit diantara benderangnya purnama, seperti lenyap dari pandangan. Seluruh permukaan Cakravartin berubah menjadi bening keemasan hingga semua yang terdapat di dalamnya menjadi tembus pandang. Sebuah pemandangan yang sama sekali tak disangka oleh Dimas. Raji dan Pafi pun terpesona melihat sebuah tonggak sinar yang meluncur dari dasar pusat kuil. Seolah seluruh lantai dan halaman kuil menjadi sebuah cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan kuil seolah terpantulkan di bawah tanah hingga keujungnya. Pada bagian ujung bayangannya tampak sinar terang berbentuk bola. Dimas, Raji dan Pafi menyusup masuk melalui pintu tangga bawah tanah yang telah mereka lihat malam sebelumnya terbuka. Kali ini tangga itu begitu jernih sebening kaca dan terus menurun ke bawah tanah hingga berujung di sebuah ruangan bundar yang dikelilingi oleh 9 patung-patung Mahakala. Patung berbentuk kepala singa dengan sayap berkilat keemasan setinggi dua kali orang dewasa dengan sayap mengembang menghalangi pandangan inti ruangan yang menjadi sumbu dari sinar putih yang keluar hingga ujung kuil. Walaupun diputari seluruh dinding ruangan itu, pandangan tetap tidak mampu menembus apa yang berada di balik patung-patung Mahakala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaris tulisan terpahat di dinding, huruf-hurufnya sama sekali berbeda dengan tulisan narapati. Tulisan itu mengelilingi dinding ruangan hingga bersambung kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, tulisan di dinding itu sama seperti yang kemarin-kemarin kita lihat.” Raji menunjuk barisan huruf-huruf yang mengelilingi dinding ruangan di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali ini huruf-huruf ini merupakan susunan baru, seperti diulang-ulang.” Dimas mengelilingi dinding ruangan kaca itu hingga kembali ke tempatnya semula berdiri. Pafi berusaha keras memahami tulisan-tulisan itu dengan melihatnya lebih dekat. Raji tampak lebih tertarik dengan meneliti barisan patung-patung Mahakala yang berada di dalamnya. Raji tiba-tiba mengucapkan kata-kata sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau ucapkan tadi ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya membaca tulisan di bawah itu.” Kata raji menunjuk bayangan lantai yang sudah seperti cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pintar Raji, kau sudah menemukan teka-teki tulisan ini.” Kata Pafi yang kemudian bergerak mundur mencoba membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SANG PENJAGA UTAMA. MELANGKAH PANJANGNYA TIGA PURNAMA” Pafi membaca keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang penjaga utama melangkah panjangnya tiga purnama. Apa artinya ?” Dimas berpikir mengira-ngira apa yang dimaksud tulisan itu. Dengan tanpa sadar Dimas berulang-ulang membaca kembali mengelilingi ruangan itu hingga dua kali saking penasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tiba-tiba seluruh dinding ruangan seolah bergetar, kepala Raji yang masih mengintip di dinding seperti kehilangan sandaran. Tubuhnya tersurung menembus dinding yang berubah menjadi seperti benda cair. Pafi dengan sigap menarik badannya keluar dari dinding itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerbangnya telah terbuka.” Kata Dimas spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau berhasil membukannya Dimas, kau lah yang dimaksud oleh tulisan itu. Untuk membukanya hanya diperlukan tiga kali mengelilingi ruangan ini yang tepat satu garis lurus dengan purnama.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak tadi kita tidak menemukan jejak orang asing yang selalu lebih dulu memasuki tempat ini.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga berpikir demikian, aku khawatir kita justru…..” sebelum Dimas melanjutkan kata-katanya tiba-tiba sebuah suara tawa yang mereka kenal menggema di seluruh ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha….benar anak-anak bodoh, kalian justru sengaja dipancing agar membukakan pintu terakhir untukku.” Sesosok bayangan pemilik suara itu muncul dari atas tangga masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jilan, kau orang misterius itu ?” Dimas sama sekali tidak mempercayai penglihatannya. Pafi dan Raji langsung bersiaga dengan wajah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kalian sudah menyadari saat bertempur di halaman kuil, dalam jarak itu siswa pemula tidaklah mungkin tetap berdiri setelah terhentak benturan tenaga yang begitu besar. Tapi kalian terlalu bodoh.” Kata Jilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musang licik, apa yang sebenarnya kau cari” Raji membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sombong kau Raji, tenagamu tidaklah sebesar pertempuran terakhirmu. Kalau bukan karena bantuan temanmu kau sudah terlempar jauh.” Kata Jilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kau sebenarnya ? apa yang kau inginkan” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapapun dia jelas dia menginginkan batu bintang Satuasra, karena dia tahu hanya kau yang bisa membuka tempatnya tersimpan, maka dia memancing kita untuk membuka tempat ini. Dia memanfaatkan rasa ingin tahu kita.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang pintar gadis kecil, sekarang aku tinggal mengambilnya hahaha…” Jilan tertawa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sebelum melewati kami.” kata Dimas menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak sebanding denganku, tapi bukan aku yang akan menghadapi kalian tapi itu.” Jilan menunjuk sembilan singa bersayap. Jilan melesat ke arah dinding ruangan dengan melancarkan serangan ke arah Dimas, Raji dan Pafi secara beruntun. Kecepatannya sangat diluar bayangan mereka bertiga. Serangan Jilan berhasil ditangkis. Dimas membalas serangan untuk mencegah Jilan menembus ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VAJRA BHUMI”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berteriak keras merapalkan mantra. Sebuah sinar putih kebiruan melesat keluar dari kepalan tangan kanannya yang di acungkan ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan Pafi dan Raji bersiap melepaskan serangan susulan untuk melindungi Dimas dari serangan balasan Jilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….mantra tingkat menengah.” Jilan tanpa terdengar merapalkan mantranya melakukan gerakan melebarkan kedua tangannya ke samping lalu menepuk udara kosong di atas kepalanya. Kilat putih kebiruan yang menyerangnnya seolah tersedot masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian dengan cepat dia masuk menembus dinding ruangan. Dimas menyusul masuk diikuti Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka semua telah berada di dalam ruangan, Jilan terlihat tersenyum senang. Perlahan wajahnya seperti mencair dan menguap ke udara. Wajah Jilan yang masih anak-anak kini berubah menjadi sosok mahluk berkulit hitam legam dengan mata berwarna hitam yang sangat besar. Dengan kepala yang lebih besar dari manusia dan tanpa rambut mahluk itu menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehehe, anak bodoh. Sekarang aku telah menjadi tuan bagi para Mahakala penjaga Satuasra, karena aku yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan ini.” Mahluk hitam itu terlihat sangat senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 patung singa emas bersayap yang mengelilingi pilar sinar di tengahnya mulai bergerak dan mengeluarkan suara auman yang sangat keras. Saking kerasnya seluruh ruangan ikut bergetar dan mendoyongkan dinding ruangan hingga menggelembung ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para mahakala, serang mereka !” mahluk hitam itu memberi perintah kepada sembilan mahakala itu. Sesaat ke sembilan penjaga itu menoleh ke arah Dimas, Raji dan Pafi. Tetapi kemudian kembali menoleh ke arah mahluk hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ke sembilan mahakala itu mulai bergerak sambil meraung-raung mengepung Dimas, Raji dan Pafi. Tapi kemudian sebagian mengepung mahluk hitam itu. Bingung dengan keadaan yang berbalik, mahluk hitam itu segera melancarkan kepada tiga mahakala yang mengepungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam mahakala lainnya mulai menyerang Dimas dan Pafi. Serangan semi serangan dilancarkan keduanya menghindari terkaman yang terus-menerus bergantian menyerang mereka. Tapi tak ada satupun serangan yang diarahkan kepada Raji. Raji seakan tidak terlihat oleh mahakala-mahakala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji bantu Pafi, dia sudah mulai terdesak.” Dimas berteriak menyadarkan Raji yang sedari tadi sudah bersiap tetapi tak ada satupun mahakala yang mau menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah” Raji melompat ke tengah kepungan 3 mahakala yang sedang bersiap menyerang Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo pergilah atau aku hajar kalian semua.” Raji membentak ketiga mahakala itu. Tiba-tiba ketiganya seperti tunduk pada perintah. Tiga mahakala itu pergi meninggalkan Raji dan Pafi. Ketiga mahakala itu kemudian bergabung menyerang Mahluk hitam yang sudah melumpuhkan dua mahakala. Sementara Dimas terus melancarkan serangan-serangan yang menghempaskan mahakala-mahakala yang menyerangnya. Tetapi serangan Dimas tidaklah berdampak terhadap mereka, serangan kembali dilancarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lakukan tadi Raji ?” Pafi bertanya keheranan setelah tiga mahakala yang menyerangnya pergi begitu saja setelah dibentak oleh Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak melakukan apa-apa ? aku hanya menyuruhnya pergi” kata Raji polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya mahakala-mahakala itu hanya tunduk pada perintahmu. Mahluk hitam itu tadi mengatakan, siapa yang masuk lebih dulu ke dalam ruangan ini maka dia yang mengendalikan singa-singa itu. Dan sebenarnya kaulah yang lebih dahulu memasuki ruangan ini secara tidak sengaja terperosok jatuh ke dalam tadi.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah, aku yang mengendalikan mereka ?” Raji keheranan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kau harus memerintahkan singa-singa itu untuk tidak menyerang Dimas, ayo cepat !” Pafi begitu bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik..baiklah.” kata Raji agak ragu-ragu, kemudian terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo cepat, kau mau Dimas tinggal berupa daging berserakan.” Pafi membentak Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, berhenti kalian !” Raji membentak keras. Tiba-tiba semua mahakala itu berhenti bergerak. Raji kegirangan melihat hasil dari perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serang mahluk hitam itu” Raji berteriak keras dan menunjukan tangannya ke arah mahluk hitam yang ternganga melihat perubahan situasi yang begitu cepat. Tujuh mahakala yang tersisa kemudian bergerak mengepung mahluk hitam itu. Melihat keadaan yang membahayakan itu mahluk hitam itu dengan cepat melesat keluar dari ruangan dan mencoba kabur keluar kuil. Melihat mahluk hitam itu kabur, Dimas mengejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejar-kejaran terjadi, Pafi yang bersifat angin melesat cepat sambil mengucapkan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AKASACARIN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap menghadang mahluk hitam itu persis di halaman kuil Cakravartin. Mahluk hitam itu dengan cepat melepaskan serangan ke arah Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ISUGAGANA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahluk hitam itu menghempaskan 2 larik sinar merah berbentuk anak panah ke arah Pafi. Pafi membentuk perisai gaib untuk melindungi dirinya dari serangan. Tetapi mantra itu lebih kuat dari perisainya, tanpa dapat dihindari lagi dua anak panah itu menembus perisai Gaib Pafi dan menghantam kedua tangannya. Rasa panas terbakar yang hebat menusuk masuk mulai dari telapak tangannya hingga ke ujung bahu. Pafi menjerit keras, rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya seketika pingsan dengan kedua tangan yang merah membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terkejut melihat yang dialami Pafi, dengan penuh marah Dimas melancarkan serangan ke arah mahluk hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SIMHA ATINDRIYA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sinar putih meluncur deras membentuk seekor harimau putih. Mengaum keras menerjang mahluk hitam itu dengan ganas. Melihat serangan Dimas, mahluk hitam itu tak tinggal diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JIVAH CAKRACAKRA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Srigala hitam meluncur deras dari kedua tangan mahluk hitam itu. Dentuman keras terjadi saat kedua sosok binatang itu saling bertumbukan dan bergumul saling menyerang. Seolah kehilangan tenaga, perlahan sosok harimau putih menipis dan tertelan habis oleh sosok srigala hitam. Kemudian sosok srigala hitam itu menyerang Dimas. Dalam situasi yang bimbang melihat Pafi yang terbaring pingsan, Dimas tak siap menyiapkan serangan untuk menahan serangan sosok srigala hitam yang berhasil mengalahkan harimau putih ciptaannya. Pada saat kritis tersebut sebuah sinar putih dengan sosok garuda terbang melabrak sosok srigala hitam yang hampir menerkam Dimas. Dentuman keras kembali terjadi yang mendorong srigala hitam jauh hingga terjengkang. Sosok garuda putih itu terus menyerang hingga srigala hitam melemah dan lenyap. Bersamaan dengan itu seorang berjubah putih muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Narayala.” Dimas mengenali sosok berjubah putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, mintalah Raji untuk mengobati kedua tangan Pafi. Biar Janggan Wimana ini aku yang hadapi.” Prabu Narayala melangkah ke depan menghadapi mahluk hitam yang disebutnya Janggan Wimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe…Narayala, rupaya kau masih punya kekuatan walaupun sudah 15.000 tahun.” Kata Janggan Wimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak akan pernah tahu kalau tidak pernah mencobanya Purusa.” Prabu Narayala mulai bersiap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan melepaskanmu Narayala.” Kata Purusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, aku juga tak akan melepaskanmu.” Kata Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mulai saling melepaskan mantra penyerang. Gerakan mereka makin cepat dan menimbulkan selubung gaib yang menutupi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, cepat tolong Pafi, dia terkena mantra halilintar. Kedua tangannya merah membara.” Dimas memanggil Raji yang tiba tidak lama kemudian. Raji langsung berlutut di depan Dimas yang sedang memangku tubuh Pafi yang pingsan. Kedua tangan Pafi terlihat merah menyala seakan seperti bara api. Raji menyentuh tangan Pafi dengan jarinya, rasa panas hebat menyengat jari Raji. Raji mengaduh kesakitan. Raji mengambil duduk bersila, kemudian dengan tarikan nafas yang dalam Raji menyentuh kembali kedua tangan Pafi dengan kedua tangannya yang berselubung bening kebiruan. Asap putih mengepul dengan suara seperti bara yang tersiram air saat kedua tangan Raji bersentuhan dengan tangan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantra ini terlalu kuat, aku tidak bisa menembusnya.” Raji mulai berkeringat deras. Tangan Pafi masih tetap merah membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenagaku tidak cukup kuat untuk menyerap panasnya.” Kata Raji yang mulai gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membantumu, gunakanlah tenagaku.” Dimas kemudian meletakan Pafi di atas tanah dan bersila di belakang Raji. Sesaat menarik nafas dalam-dalam kemudian meletakan kedua telapak tangannya di bahu belakang Raji. Sesaat kemudian Raji mulai kembali stabil dan merasakan aliran tenaga melalui tangannya. Perlahan pula kedua tangan Pafi mulai kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rasa sudah cukup, seluruh mantranya telah hilang. Kita hanya tinggal menunggu tenaganya pulih dan tubuhnya menyembuhkan luka-luka di dalam.” Raji melepaskan kedua tangannya dari tangan Pafi. Wajahnya penuh dengan bulir keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pertarungan antara Prabu Narayala dengan Purusa makin memuncak. Keduanya sekarang sedang terjebak dalam ikatan energi yang saling mendorong. Dua tangan Prabu Narayala mengeluarkan dua larik besar sinar biru yang berputar-putar terkait dengan dua sinar merah yang keluar dari kedua tangan Purusa. Saat mencapai puncak tenaga, kedua sinar itu melebar dan berdentum keras hingga membuat keduanya terjengkang ke belakang. Saat yang sempit tersebut dimanfaatkan oleh Purusa. Tubuhnya yang kecil melesat pergi meninggalkan halaman kuil Cakravartin dengan cepat. Prabu Narayala tidak mengejar Purusa, perhatian lebih teralih kepada keadaan Pafi, Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaan Pafi.” Tanya Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah stabil, seluruh mantra yang menyerangnya telah hilang. Sekarang tinggal menunggu tubuhnya sendiri menyembuhkan luka-luka dalamnya.” Raji menjawab dengan lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah melakukannya dengan baik Raji dan melakukannya dengan tepat. Jilan yang asli sudah ditemukan, selama ini anak malang itu dibuat tertidur oleh Purusa di asramanya.” Kata Prabu Narayala. Dimas dan Raji saling pandang, rasa kasihan menyelip diantara hati mereka kepada orang yang selama ini mereka anggap sangat menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Prabu Narayala berdiri menghadap kuil Cakravartin yang masih menyala terang sebening kaca. Kedua tangannya dilebarkan ke atas dan dengan mantra yang tidak terucap kedua tangannya melecutkan sembilan bola sinar keemasan yang melayang masuk ke dalam ruangan di dasar kuil. Tak lama kemudian semua sinar yang memancar padam, seluruh permukaan kuil kembali seperti semula. Pilar sinar yang meluncur di ujung kuil pun lenyap. Mereka kemudian meninggalkan halaman kuil menuju kediaman Prabu Narayala. Pafi dibawa dalam gendongan Prabu Narayala. Meninggalkan halaman kuil yang porak poranda akibat pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi di Medanggana Raya tampak cerah. Tak ada kesan ada yang tahu bahwa semalam telah terjadi pertempuran hebat. Hanya halaman kuil yang hancur porak-poranda. Para siswa yang baru tiba di halaman kuil keheranan menyaksikan yang terjadi pada seluruh area kuil. Tak ada yang tahu pagi itu ada seorang siswa tingkat dasar yang telah menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi telah pulih dari lukanya, pagi itu dia tampak segar. Hanya pegal-pegal masih dia rasakan di kedua tangannya. Dimas dan Raji menyambutnya gembira saat keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, kau sudah sembuh ?” Dimas berlari menghampiri Pafi. Raji turut menghampiri dengan senyum bahagia melihat sahabatnya kembali sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik-baik saja, Cuma kedua tanganku masih terasa pegal-pegal. Mungkin dengan sedikit berolah raga akan baikan.” Kata Pafi tersenyum gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Raji.” Pafi kemudian menoleh kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, aku yakin kau pun akan melakukan yang sama padaku.” Kata Raji yang tak bisa menutup kegembiraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini kita akan menghadiri pembukaan panen raya, bersiaplah” kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk di seluruh kerajaan Narapati merayakan pesta panen raya. Utusan-utusan dari kota-kota di seluruh kerajaan dengan beraneka macam pakaian yang indah datang dengan membawa upeti-upeti tanda selamat atas berkah yang diberikan oleh Sang Pencipta atas panen raya itu. Ribuan orang sudah berbaris sepanjang jalan menuju kuil menebarkan bunga-bunga tanda penyambutan kepada boyongan dari utusan-utusan kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian-tarian penyambutan dilakukan ratusan gadis-gadis dan pemuda-pemuda bermahkota emas dengan pakaian berwarna coklat tua di hiasi motif dedaunan berwarna emas. Alunan iringan musik menambah keindahan gerak gemulai para penari yang menandakan kegembiraan akan kedatangan tamu yang diagungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman istana hingga jalan utama yang menembus hingga gerbang timur telah penuh dengan barisan orang-orang yang dipagari pasukan kerajaan. Prabu Narayala duduk di atas panggung bersama para pejabat istana. Banyak sekali penduduk yang ingin tahu melihat kehadiran tiga orang anak-anak remaja yang tak lain adalah Dimas, Raji dan Pafi. Bisik-bisik mulai menjalar di kerumunan orang-orang yang berkumpul menyaksikan pesta panen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang aku ucapkan kepada para utusan, terima kasih atas upeti-upeti kalian kepada Narapati. Hari ini kita merayakan panen raya sebagai tanda terima kasih kita kepada sang pencipta yang telah memberikan kita kelimpahan hasil bumi dan mencukupi kita semua dengan makanan dan pakaian. Hari ini juga menjadi hari yang sangat penting dan membahagiakan. Medanggana Raya kini berhutang terima kasih kepada tiga sahabat kecil ini. Kalian pasti bertanya-tanya siapa mereka bertiga. Mereka adalah Dimas, Raji dan Pafi yang telah dengan gagah berani melawan penyihir hitam hingga mencegahnya mencuri batu bintang satuasra. Berkat keberanian mereka, Medanggana Raya tetap memiliki pelindung kota yang selama ini menjaga kita dari serangan jahat bangsa Amukhsara. Atas jasa mereka bertiga, aku mengucapkan terima kasih dan menganugerahkan mereka tanda anggota kerajaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengalungkan masing-masing sebuah medali kepada Dimas, Raji dan Pafi. Seluruh penduduk memberikan sorakan dan tepuk tangan. Pesta panen raya dimulai, suara tetabuhan, tarian dan arak-arakan datang silih berganti menggambarkan kekayaan budaya seluruh negeri Narapati. Negeri yang baru saja diperkenalkan kepada tiga pahlawan kecil. Sebuah pengenalan yang cerdik oleh Prabu Narayala tanpa harus membuka identitas asli mereka bertiga. Kini Narapati mengenal Dimas, Raji dan Pafi sebagai anak ajaib yang menyelamatkan batu bintang Satuasra, bukan sebagai tiga serangkai sang penjaga buku kehidupan. Identitas yang akan tetap membuat ketiganya hidup sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-116671715543672984?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/116671715543672984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=116671715543672984&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671715543672984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671715543672984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2006/12/chapter-7-vadava-mukha-persembunyian.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-116671703321112533</id><published>2006-12-21T08:02:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:32:29.343-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MEDANGGANA RAYA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Puncak Cakravartin tampak terlihat jelas dari lereng Semeru. Kepulan asap yang keluar dari kawah Bromo di sebelahnya memberikan kesan mistis. Bangunan-bangunan megah mengelilingi kuil diantara saluran-saluran air dan pohon-pohon jati yang meranggas. Benteng megah setinggi seratus meter mengelilingi kota. Kemegahan tiada tara yang bagi Dimas hanya bangunan-bangunan piramida di Mesir kuno yang mampu menandingi kehebatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan terus bergerak menuju kota. Bagi Dimas kembali berada di atas Davanti Sighram menjadi hal yang sangat menyenangkan. Pafi dan Raji begitu gembira melayang-layang di atas punggung Garuda Kencana. Perjalanan yang kedua kali menuju kota Medanggana Raya ini menjadi perjalanan yang membawa mereka bertiga ke dalam dunia baru yang penuh petualangan. Sighram terus berlari menembus barisan hutan yang rapat. Tidak berapa lama mereka semua telah tiba di gerbang kota Medanggana Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang segera terbuka menyambut kedatangan mereka. Suasana kota masih terasa sepi di waktu menjelang fajar menyingsing di ujung Bromo. Kali ini Dimas dan kedua sahabatnya tidak dibawa langsung ke kuil Cakravartin, tetapi ke sebuah kompleks bangunan tempat tinggal yang berada satu lingkungan dengan kuil Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita akan beristirahat di sini” Prabu Narayala menunjuk bangunan tinggi terbuat dari susunan batu hitam yang sangat megah. Dimas, Pafi dan Raji menatap bangunan di hadapan mereka dengan penuh rasa takjub. Kemegahannya menunjukan kedudukan apa yang dimiliki si empu bangunan itu. Dia menjadi yang termegah dan terluas di antara seluruh bangunan yang ada di kota. Gerbang setinggi limabelas meter menjulang megah di jaga oleh dua ekor Narasimha. Menjelang memasuki gerbang, kedua Narasimha tersebut membungkuk hormat kepada Prabu Narayala. Arghapati dan Wirapati berbalik pamit meninggalkan mereka di depan gerbang. Kemudian mereka terus berjalan menuju ke dalam kompleks. Hamparan taman dengan kolam air membentang sejauh tigapuluh meter dihubungkan oleh jembatan melengkung yang terputus selebar sepuluh meter pada bagian tengah kolam. Tanpa ragu Prabu Narayala terus melangkah menuju jembatan tersebut. Ketika sampai kepada bagian yang terputus, tiba-tiba dari dalam kolam muncul bentangan sepanjang sepuluh meter menyambungkan ujung-ujung jembatan yang terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka tiba di depan teras utama dengan atap yang berbentuk segi enam mengerucut pada ujungnya. Pilar-pilar batu hitam dengan relief-relief daun dan pohon dilingkari oleh akar-akar yang mencengkram kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari anak-anak, kita masuk ke dalam” Prabu Narayala membalikan badan dan mengajak Dimas, Pafi dan Raji masuk melalui relung yang sangat gelap yang ketika mereka melangkahkan kaki mereka di dalamnya, seketika lampu-lampu obor menyala sepanjang lorong yang diujungnya terdapat ruangan begitu terang dengan cahaya keemasan. Sepanjang lorong yang dihiasi oleh relief-relief cerita mengenai kehidupan bangsa Narapati suasana begitu terasa dingin. Tujuh lapisan bening seperti air berkali-kali harus ditembus yang memberikan sensasi yang menyenangkan, karena setiap kali menembusnya suhu dirasakan makin hangat dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lapisan apakah yang tadi kita tembus itu Bapak Narayala” Dimas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lapisan yang menyaring setiap usaha dari niat jahat untuk memasuki ruangan di depan sana, semakin dalam semakin kuat” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka tiba juga di sebuah ruangan yang sangat besar berbentuk segi enam dengan tinggi mencapai tigapuluh meter. Pada langit-langitnya menggantung sebongkah kepompong berwarna keemasan yang menyebarkan cahaya terang ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah” Prabu Narayala menunjuk kursi-kursi batu yang berada di sekeliling meja pualam hitam di tengah ruangan. Dimas, Pafi dan Raji menuruti Prabu Narayala dan segera duduk. Rasa dingin menjalar dari kursi batu yang mereka duduki yang terus merambat ke seluruh tubuh mereka sampai ubun-ubun kepala. Menyenangkan dan damai dirasakan ketika rasa dingin berubah menjadi rasa hangat dan bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana ? sudah nyaman sekarang” Prabu Narayala tersenyum dan ikut duduk di hadapan mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…iya, rasanya nyaman sekali” Raji menjawab mewakili kedua sahabatnya. Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Raji yang cengengesan ketika menjawab pertanyaan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah yang barusan kami rasakan tadi Bapak Narayala” Pafi memulai rasa ingin tahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aliran dingin yang kalian rasakan adalah energi dari batu yang kalian duduki. Bumi ini memiliki berbagai macam energi. Tidak semua kita bisa menyerap dan menggunakannya. Energi yang kalian tahu di dunia manusia hanyalah tenaga yang dapat dirasakan seperti panas, angin, dan air tetapi tidak dapat diserap langsung oleh tubuh kita. Tapi di dunia Narapati, kita memanfaatkan energi yang lebih halus tetapi dapat kita kumpulkan dan serap sehingga dapat kita gunakan untuk keperluan apapun” Prabu Narayala menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Energi apakah yang Bapak Narayala maksud, Saya masih belum mengerti” Dimas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, akan aku beri contoh. Pernahkah kalian merasakan sesuatu yang berbeda dari teman-teman kalian, misalnya kalian mampu membaca pikiran orang lain, atau mampu menggerakan benda-benda, atau mampu menyembuhkan luka dengan cepat ?” Prabu Narayala menatap ketiga remaja dengan seksama. Ketiganya mengangguk menjawab pertanyaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, apakah kalian tahu dari mana datangnya kekuatan tersebut ?” Pertanyaan Prabu Narayala dijawab dengan diam, hati Dimas berdesir karena sebenarnya dia dan kedua sahabatnya sudah mengetahui apa yang dimaksud oleh Prabu Narayala. Hanya saja mereka bertiga sudah terikat janji untuk tidak menceritakan perihal pak Narso kepada siapapun. Tetapi rasa penasaran muncul dan sebuah tanda-tanya besar mengenai siapa sebenarnya pak Narso hadir di benak Dimas, Raji maupun Pafi. Kalau apa yang dijelaskan Prabu Narayala sama persis dengan yang dijelaskan oleh pak Narso, lalu siapakah sebenarnya pak Narso ? apakah pak Narso juga seorang Narapati ?. Sejenak pertanyaan itu melamunkan pikiran Dimas, tetapi hilang segera saat Prabu Narayala mulai menjelaskan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Narapati memiliki kelebihan yang sangat berbeda dengan bangsa manusia. Bangsa Narapati telah mengolah kemampuan pikirannya begitu jauh selama puluhan ribuan tahun sehingga mampu menyerap energi halus yang berada di sekitarnya. Kalian juga seperti itu, dalam diri kalian ada sesuatu yang membuat pikiran kalian bisa menyerap dan mengumpulkan energi kemudian mengolahnya menjadi hal apapun yang kalian inginkan, seperti menggerakan benda, memasuki pikiran orang lain atau menyembuhkan luka. Sifat energi yang dapat kalian kumpulkan akan berbeda-beda dari satu yang lainnya. Hal tersebut sangat tergantung dari sifat kalian, bumi, air, api, udara, adalah sumber utama. Sumber mana yang paling sering di ambil akan sangat tergantung pada sifat alami kalian” Prabu Narayala berhenti menjelaskan dan kemudian menatap ketiga remaja itu yang masih bersemangat mendengarkannya tapi tampak sudah sangat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, hari ini cukup sampai disini. Kalian beristirahatlah sekarang, besok banyak hal yang harus kalian lihat” Prabu Narayala bangkit dari kursi batu diikuti oleh Dimas, Pafi dan Raji. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah pintu yang di baliknya dua orang penjaga segera membukakannya untuk mereka. Kembali berjalan menuju lorong yang berakhir pada sebuah ruangan yang memiliki tangga naik langsung menuju sebuah pintu ruangan. Kemudian menaiki anak tangga yang bergerak naik sendiri ketika dipijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat Istirahat” Prabu Narayala tersenyum kepada ketiganya setelah pintu terbuka lebar. Dimas, Raji dan Pafi segera memasuki ruangan dan melihat ruang tamu yang lengkap dengan semua perabotnya yang terbuat dari kayu jati. Mereka bertiga berpisah menuju kamar tidur masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ “””””” -----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi penuh semangat mengisi ruang hati ketiga remaja yang baru semalam merasakan petualangan baru mereka yang menakjubkan di negeri ajaib Narapati. Gumaman nyanyian keluar dari mulut Pafi yang sangat tidak sabar melihat keajaiban-keajaiban lain di dunia Narapati. Raji melakukan gerakan-gerakan beladiri dengan gerakan lambat. Sementara Dimas terlihat begitu cerah dengan sorot mata yang terlihat lebih bersemangat, semua beban gelapnya masa lalu terlihat telah terlepas dari pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi di ruangan bersantai semua terlihat sudah siap. Raji sedang asyik dengan gerakan-gerakan bela diri sementara Pafi terlihat berdiri memandang keluar jendela. Mereka sudah berpakaian lengkap dengan pakaian yang sudah disediakan sebelumnya. Pakaian khas bangsa Narapati yang selalu berwarna coklat tanah dengan hiasan dedaunan berwarna emas terlihat sangat anggun dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, kau sudah siap ?” Dimas yang telah lengkap dengan pakaian yang telah disediakan keluar dari kamarnya. Raji yang juga telah lengkap dengan pakaiannya masih saja melakukan kuda-kuda sambil menggerakan tangannya dengan gerakan lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, sejak tadi aku sudah menunggumu” Kata Raji sambil nyengir di akhir kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah seperti orang gila sejak pagi dengan gerakan seperti itu” Pafi yang juga sudah lengkap berpakaian menunjukan wajah kesalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dari balik pintu muncul Prabu Narayala dengan pakaian putih ditutup jubah berwarna hijau tua dan tongkat kayunya berwarna hitam legam yang diujungnya terdapat sepotong batu mulia berwarna putih. Wajahnya begitu berwibawa dengan mahkota emas bertahta batu-batu mulia. Dimas, Pafi dan Raji begitu kagum melihat kewibawaannya yang tampak bertambah dengan pakaian dan mahkota yang dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian sudah siap ?” Tanya Prabu Narayala dengan senyum. Dimas, Raji maupun Pafi terpaku kagum melihat pakaian kebesaran yang dikenakan oleh Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sudah siap Bapak Narayala.” Kata Dimas yang tiba-tiba saja kikuk dan baru tersadar bahwa yang di hadapannya sekarang adalah seorang raja dari sebuah bangsa yang sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu, mari kita menuju balairung.” Kata Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala berjalan di ikuti Dimas yang berjalan disamping kanannya, sementara Raji dan Pafi berjalan disebelah kirinya. Prajurit-prajurit jaga yang berdiri di setiap pintu masuk menuju ruang balairung membungkuk hormat memberikan salam kepada sang Raja. Tiba di balairung, sebuah ruangan yang tinggi dengan enam pilar menyangga langit-langitnya yang melengkung. Di atasnya menggantung sebuah benda berwarna keemasan yang penuh dengan cahaya memperjelas pahatan setiap ukiran di dinding-dinding batu. Dimas merasakan ada getar aneh yang berdesir di dadanya. Tetapi tak dihiraukannya, perhatiannya lebih tertuju kepada orang-orang yang berdiri di kiri kanan menuju singgasana Raja. Prabu Narayala berjalan menuju singgasana yang berada di ujung ruangan, yang letaknya lebih tinggi dari tempat lainnya. Di kiri dan kanan menuju singgasana, para pejabat Narapati telah duduk diatas kursi-kursi batu serentak berdiri memberikan salam kehormatan kepada Raja Narapati itu. Iringan musik gamelan yang begitu halus dan lembut mengiringi langkah sang Prabu diikuti oleh Dimas, Raji dan Pafi yang terasa kikuk dengan suasana itu. Prabu Narayala duduk di kursi paling tinggi terbuat dari emas dan perak. Dimas duduk disebelah kanannya sedangkan Raji dan Pafi di sebelah kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada duabelas orang pejabat yang duduk di kiri dan kanan. Pada bagian kanan duduk seorang Patih, Panglima Perang, Empat orang Penasihat Kerajaan, Di sebelah kiri duduk enam orang menteri yang membantu Raja menjalankan semua urusan kerajaan. Menteri Urusan Lintas Batas, Menteri Urusan Pangan dan Persediaan, Menteri Ilmu Pengetahuan, Menteri Urusan Harta dan Niaga Kerajaan, Menteri Urusan Hukum dan Keadilan, Menteri Urusan Penduduk dan Kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini, adalah hari yang sangat penting bagi seluruh bangsa Narapati. Aku perkenalkan kepada kalian semua. Disebelah kananku adalah Dimas, dan di sebelah kiriku adalah Raji dan Pafi.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Pembawa Buku Kehidupan dan Dwitunggal” kata semua yang hadir bersamaan. Serentak mereka bangkit dari duduknya dan memberikan salam selamat datang kemudian berlutut memberikan sembah kepada Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah gerangan yang membawa Sang Pembawa Buku Kehidupan dan Sang Dwitunggal mengunjungi Medanggana Raya.” Tanya Patih Narmada. Lelaki tua itu memberikan hormat dengan tangan di silangkan di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Pembawa Buku Kehidupan mulai sekarang akan tinggal bersama kita. Amukhsara telah mengetahui persembunyiannya. Sekarang ini tidak ada tempat yang lebih aman daripada Medanggana Raya. Aku akan membuat pengamanan berlapis di seluruh kota. Sekarang Medanggana Raya akan menjadi pusat perhatian semua bangsa yang hidup di dunia tengah, termasuk Amukhsara. Keberadaan mereka disini akan tetap dirahasiakan.” Kata Prabu Narayala menjawab pertanyaan sang Patih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Titah Sang Prabu kami laksanakan.” Jawab semua yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panglima Arghapati akan memimpin pembuatan pengamanan berlapis ini.” Kata Prabu Narayala. Panglima Arghapati memberikan salam patuh terhadap perintah rajanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Dimas, Raji dan Pafi kalian akan belajar di Cakravartin. Kalian harus belajar banyak mengenai Narapati.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Gusti Prabu.” Kata ketiganya bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sekarang apakah ada yang ingin kalian laporkan kepadaku.” Tanya Prabu Narayala kepada para pejabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba Gusti Prabu.” Menteri Urusan Pangan dan Persediaan meminta ijin berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkah Nayaka, berita apa dari pangan dan persediaan.” Prabu Narayala mempersilahkan menterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Purnama ini adalah perayaan panen raya kita yang berhasil. Para utusan dari kota-kota perbatasan telah mengirimkan upeti mereka dan memberikan semua catatan tentang panen mereka. Seluruh rakyat akan merayakannya dengan tari-tarian dan hiburan lainnya. Akan banyak rakyat yang tinggal jauh mendatangi kota untuk mengikuti perayaan.” Kata Menteri Urusan Pangan dan Persediaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pendapat para Naradyaksa.” Prabu Narayala meminta pendapat kepada para penasehatnya. Keempat lelaki yang sudah terlihat tua itu saling berunding hingga akhirnya seorang diantara mereka menjadi juru bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut kami, perayaan ini sangat penting bagi rakyat, tetapi keamanan kerajaan sekarang sedang menghadapi ancaman besar. Kami pikir perayaan ini harus tetap diselenggarakan agar rakyat senang, tetapi kita harus membuat pengamanan yang lebih baik untuk mencegah penyusup masuk.” Kata Naradyaksa tertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm….bagaimana menurutmu Patih Narmada.” Tanya Prabu Narayala kepada patihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba sepakat dengan pendapat para Naradyaksa. Pesta panen raya ini penting untuk dilakukan selain untuk menghibur rakyat juga menunjukan kadar kewajaran akan situasi yang sedang kita hadapi, sehingga pihak manapun tidak akan melihat apa yang sedang kita lakukan. Walaupun keberadaan Sang Pembawa Buku Kehidupan dan Dwitunggal tetap dirahasiakan, tetapi kita tidak bisa mengabaikan kemampuan Amukhsara dalam mengendus keberadaan mereka dengan cepat. Pesta panen raya bisa menjadi jalan mereka untuk memasukan telik sandinya ke dalam kota. Karena itu penyaringan berlapis penting dilakukan.” Kata Patih Narmada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, buka gerbang kota dengan penyaringan berlapis. Patih Narmada akan menjadi pemimpin keamanan selama pesta panen raya ini.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Titah Sang Prabu hamba laksanakan.” Kata Patih Narmada memberi hormat kepada Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panglima Arghapati, aku mempunyai tugas khusus untukmu.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba siap melaksanakan titah Sang Prabu.” Kata Panglima Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada hal lain yang hendak dilaporkan ?” tanya Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba Gusti Prabu, mohon ijinkan bicara.” Kata menteri Urusan Lintas Batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan bicara Narabhumi.” Prabu Narayala mempersilahkan menteri urusan Lintas Batas berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mencatat pelanggaran lintas batas yang agak kurang wajar di wilayah ujung barat Jawa. Kami sedang menyelidiki penyebabnya tetapi sampai sekarang belum menemukan jawaban apapun, bahkan 9-Nandiswara penjaga di 9 pintu gerbang tidak melihatnya, tetapi mereka mengatakan merasakan ada getaran yang sama dengan persis dengan akibat dari upaya penyebrangan ke dunia manusia.” Kata Menteri Narabhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di ujung barat Jawa katamu ? Sejak kapan terjadi ?” tanya Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum satu purnama ini, Gusti Prabu.” Kata Menteri Narabhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…suatu kebetulan yang menarik. Baiklah, tetaplah lakukan pengawasan yang lebih ketat. Kau bisa mengerahkan Pasukan Khusus Vairivaravira Vimardana untuk menyelidikinya lebih dalam.” Kata Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Titah Gusti Prabu hamba laksanakan.” Kata Menteri Narabhumi memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin tidak ada lagi yang akan dilaporan oleh para menterinya, Prabu Narayala meninggalkan tempat diiringi Dimas, Raji dan Pafi. Dimas merasakan sebuah getaran yang sangat mengganggunya tak kala melewati barisan para menteri kerajaan. Getaran yang lebih kuat dari yang dia rasakan saat pertama kali memasuki ruang balairung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga remaja itu mengangguk sambil tersenyum gembira. Prabu Narayala mengajak ketiganya keluar menuju pendopo utama dimana sudah menunggu seorang lelaki lanjut usia seukuran Prabu Narayala dengan janggut putih menjuntai panjang sedada. Kepala yang disorban kain putin menambah pesona sejuk mata yang begitu sabar dan penuh senyum ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“NOBASATH SORGESPHA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki tua itu mengucapkan salam dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dada ketika melihat Prabu Narayala beserta Dimas dan kedua sahabatnya muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“NABAS NURSATH” Prabu Narayala membalas salam dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Pafi dan Raji tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan keduanya. Prabu Narayala menyadari hal itu kemudian meminta mereka untuk duduk di kursi batu hitam dan memejamkan mata mereka. Kemudian Prabu Narayala mengucapkan mantra sambil mengusap kepala ketiga remaja itu satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SIVARABAN, SONHORTIBHAN NARAPATHI” Prabu Narayala mengucapkan keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Prabu Narayala menyuruh ketiganya membuka mata mereka kembali dan Prabu Narayala langsung berbicara kepada lelaki tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru Naradharma, saya titipkan mereka bertiga kepada anda sekarang, harap mereka dibantu dalam pelajaran mereka” Prabu Narayala berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas kepercayaan tuanku untuk menitipkan sang terpilih kepada saya. Saya akan mengajarkan kepada mereka apa yang saya ketahui dan saya miliki” Guru Naradharma menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Dimas, Pafi, Raji, sekarang kalian ikutilah Guru Naradharma, turuti semua perintahnya, dan belajarlah sebanyak-banyaknya” Prabu Narayala menasehati ketiga remaja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Bapak Narayala” Ketiganya serempak berkata dengan anggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu pesanku yang harus kalian patuhi, kalian jangan menceritakan kepada siapapun mengenai dunia manusia tempat kalian dulu pernah tinggal. Kalian harus tutup rapat-rapat siapa jati diri kalian sebelumnya” kata Prabu Narayala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari anak-anak, sekarang ikuti saya” Guru Naradharma bangkit sambil memberikan gerakan salam kepada Prabu Narayala, kemudian berbalik meninggalkan pendopo diikuti oleh Dimas, Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bagian samping kompleks kediaman Prabu Narayala mereka mengambil jalan tembus langsung menuju kompleks kuil Cakravartin yang dikelilingi oleh pagar tinggi. Tampak dari angkasa berkali-kali mendarat Garuda Kencana di halaman kuil diikuti kemudian para siswa yang turun dari punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei lihat…..mereka mengendarai Garuda Kencana” Pafi menunjuk ke angkasa seekor Garuda kencana yang sedang berusaha mendarat. Guru Naradharma hanya tersenyum sedikit. Dimas dan Raji kagum melihat keberanian para siswa tersebut menunggangi binatang raksasa itu. Burung-burung mitos raksasa itu kemudian terbang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa lama kemudian beberapa ekor Narasimha melompat masuk dari balik pagar mendarat persis di bekas tempat beberapa Garuda Kencana tadi mendarat. Hampir sama seperti tadi, beberapa siswa yang menungganginya kemudian turun dari punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kami bisa memiliki tunggangan seperti itu Guru Naradharma ?” Dimas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hemm….tentu saja bisa, kali bisa memiliki binatang tunggangan jika ada seekor yang mau bersahabat dengan kalian. Tidak semua siswa bisa bersahabat dengan binatang-binatang itu” Guru Naradharma menerangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kami bisa menemukan binatang-binatang tersebut Guru” Raji bertanya dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap purnama binatang-binatang tersebut akan datang ke kuil ini untuk melakukan ritual menemukan tuan mereka. Mereka akan memilih siapa yang akan menjadi tuan mereka. Ritual itu akan sangat berbahaya bagi para siswa, jika ada yang ditolak maka binatang itu biasanya akan menyerang. Tetapi jika mereka sudah memilih maka dia akan menunduk untuk ditunggangi” Kata Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji nyengir ngeri mendengar cara mendapatkan Garuda Kencana dan Narasimha. Dimas dan Pafi mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Cuma dua jenis Garuda Kencana dan Narasimha yang ditunggangi para siswa disini” Pafi bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena hanya kedua binatang itu yang memiliki kemampuan mengangkut sekaligus bertempur, binatang lainnya hanya sebagai pengangkut saja” Guru Naradharma menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertempur bagaimana Guru?” Dimas mulai makin bersemangat, seolah ada darah prajurit yang selama ini terpendam mulai bergelora memompa semangat ke seluruh urat nadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garuda Kencana dan Narasimha memiliki musuh alami yang sering digunakan oleh bangsa Amukhsara untuk berperang, yaitu Naga terbang dan Srigala Cakracakra” Guru Naradharma menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amukhsara ?” Dimas menyebut nama itu dengan pelan, tetapi sebelum menjadi sebuah pertanyaan, mereka sudah tiba di depan pintu utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki sebuah bangunan piramida batu hitam persegi enam yang dikelilingi oleh enam pilar raksasa. Pintu menuju ruang pertama berbentuk segi enam terasa megah, ruangan yang pernah mereka masuki sebelumnya. Hanya saja sekarang mereka melihatnya pada pagi hari, dimana seluruh aktifitas intelektual bangsa Narapati mulai berdenyut kembali dengan banyak siswa yang hilir mudik berseragam persis seperti yang mereka kenakan. Tidak ada tas atau buku seperti yang biasanya Dimas dan kedua sahabatnya lakukan di sekolah Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua siswa terlihat memandangi mereka kemudian mengangguk memberi salam kepada Guru Naradharma yang dibalas dengan senyum ramah Guru tersebut. Akhirnya mereka sampai juga di sebuah ruangan yang cukup besar dimana terdapat relief-relief wajah-wajah laki-laki di dinding-dinding. Dimas memandangi wajah-wajah itu dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…. Itu wajah Guru-guru besar yang dulu memimpin kuil ini sebelum aku” Guru Naradharma menyadari keingintahuan Dimas menjelaskan tentang relief-relief itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah” Guru Naradharma mempersilahkan ketiga remaja itu duduk di atas kursi batu hitam yang melingkari meja yang sangat besar seperti sebuah meja pertemuan di tengah-tengah ruangan yang diterangi obor-obor di sekeliling dinding memberikan cahaya keemasan yang dipantulkan kembali oleh dinding-dinding batu hitam yang mengkilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Guru Naradharma ikut duduk bersama, tangannya dikembangkan ke arah tengah meja sambi melafalkan sesuatu dimulutnya. Bagian tengah meja tersebut terbuka kemudian muncul bangunan berbentuk piramida persegi enam persis seperti bentuk bangunan kuil Cakravartin. Kemudian Guru Naradharma menjentikan jarinya dan miniatur kuil Cakravartin itu pun terbelah menjadi dua bagian sama besar. Terlihat struktur ruangan di dalam bangunan kuil yang seperti bangunan sarang lebah, bertingkat-tingkat dan berlorong-lorong. Di dalamnya terdapat orang-orang kecil yang sedang melakukan sesuatu di dalam ruangan-ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah miniatur kuil Cakravartin. Yang kalian lihat di dalamnya adalah kegiatan siswa-siswa bersama para guru di dalamnya saat ini juga. Jadi aku bisa melihat apa saja yang terjadi di dalam setiap sudut kuil ini” Kata Guru Naradharma. Dimas, Pafi dan Raji mengamati dengan seksama setiap tingkatan dalam ruangan sarang lebah kuil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siswa disini dibagi menjadi 5 tingkatan, tingkatan dasar, tingkatan madya, tingkatan lanjut, tingkatan utama, dan tingkatan ahli. Makin tinggi tingkatannya makin tinggi ruangannya, tapi tidak semua siswa akan berhasil memasuki sampai tingkatan tertinggi. Sekarang kalian akan memasuki tingakatan dasar. Dalam enam purnama kalian harus menyelesaikan tingkatan dasar. Ini yang kalian perlukan dan dipelajari pada tingkatan dasar” Guru Naradharma menyerahkan masing-masing dua lembar gulungan kertas yang segera dibuka oleh ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Naradharma secara bersamaan mendekati Dimas kemudian melafalkan mantra dan mengusap kepala Dimas, Pafi dan Raji secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SOSSAVABAN SONHORTIBHAN NARAPATHI” kata Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ajaib, tulisan dengan huruf-huruf yang tadi terlihat asing tiba-tiba saja seperti berubah menjadi huruf-huruf romawi yang bisa terbaca dan dimengerti oleh ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah pintu terdengar suara ketukan kemudian muncul seorang pemuda yang lebih tua usianya memasuki ruangan dengan pakaian lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru memanggil saya ?” Pemuda itu bertanya kepada Guru Naradharma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah Nusapati, terima kasih kau telah datang tepat waktu. Aku mau meminta tolong padamu. Kau kenalkan dulu ini Dimas, Pafi dan Raji, mereka siswa baru disini. Tolong kau antar mereka ke ruang kelas Guru Wirabhumi. Tolong juga katakan kepada Guru Wirabhumi agar menerima mereka” Kata Guru Naradharma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Guru, mari ikuti aku” Nusapati mengajak Dimas, Pafi dan Raji mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya kemudian keluar dari ruangan Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya… namaku Nusapati” Pemuda itu memperkenalkan diri kepada Dimas, Pafi dan Raji. Ketika bersalaman dengan Pafi, pemuda itu tampak canggung. Melihat situasi salah tingkah itu Raji tak mampu menahan wajah kesalnya. Nusapati memang memiliki wajah yang sangat menarik, senyumnya membuat wajah Pafi bersemu merah dan hal itu sangat jelas dilihat Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak usah kemayu seperti itu” Raji menyindir Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini, apakah tidak ada hal lain selain mengurusi urusan orang lain” Pafi cemberut dengan sinar mata yang galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus berjalan kembali ke ruang utama pintu masuk kuil kemudian menaiki tangga. Akhirnya tiba di sebuah pintu sebuah ruangan yang sangat tinggi. Nusapati mengetuk pintu itu dan mendorongnya. Seorang lelaki muda terlihat di bagian depan ketika keempatnya memasuki ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya Guru Wirabhumi, saya membawa pesan dari Guru Naradharma” Nusapati menyatukan kedua telapak tanganya di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan apa yang kau bawa Nusapati” Guru Wirabhumi menatap Nusapati kemudian bergantian menatap Dimas, Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya membawa tiga orang siswa baru agar diterima oleh Guru di kelas ini” Nusapati menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, masuklah kalian bertiga. Kau bisa tinggalkan mereka disini Nusapati” kata Guru Wirabhumi. Nusapati mengangguk pamit dan meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari anak-anak, silahkan ambil tempat duduk” Guru Wirabhumi mempersilahkan Dimas, Pafi dan Raji untuk mengambil tempat duduk. Tanpa Ragu Dimas, Pafi dan Raji mengambil tempat duduk di bagian belakang yang masih kosong. Suasana kelas dirasakan berbeda dengan yang mereka bertiga rasakan di sekolah Hindia Belanda. Dinding batu hitam dan mengkilat yang dikelilingi obor di seluruh sudut ruangan yang dibantu dengan cahaya matahari yang tembus melalui jendela tak mampu menghangatkan suasana dingin dan lembab yang telah tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah anak-anak, kita lanjutkan pelajaran. Bumi ini memiliki empat unsur energi utama, yaitu unsur bumi, api, udara dan air. Masing-masing unsur memiliki sifat yang berbeda-beda. Nah pelajaran kita hari ini adalah mengenal unsur kekuatan yang berasal dari bumi” Guru Wirabhumi menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang tahu apa saja yang bisa menjadi bagian dari unsur energi bumi” Tanya Guru Wirabhumi. Seorang siswa lelaki menunjukan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Jilan, kau tahu jawabannya” Tanya Guru Wirabhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu, tanah, pasir, pohon” Jilan menjawab dengan lantang sambil menengok ke belakang dengan wajah sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus Jilan. Walaupun kau baru satu pekan disini ternyata kau bisa mengejar ketertinggalanmu. Jadi, batu, tanah, pasir, pohon itulah unsur yang membentuk energi bumi. Setiap unsur tersebut memberikan kekuatan yang berbeda-beda” kata Guru Wirabhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mendapatkan kekuatan dari unsur-unsur tanah tadi, kalian harus menyatu dengan sumbernya. Kalian tidak akan dapat mengambil kekuatan bumi jika sedang berada di atas air atau di udara. Karena itu kelemahan utama dari pemilik kekuatan yang bersumber dari unsur bumi, dia tidak bisa meninggalkan daratan. Tetapi sekali saja dia menyentuh daratan, maka kekuatannya akan lebih besar dari unsur yang lainnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang tahu kenapa kekuatan unsur bumi lebih kuat dari pada unsur yang lainnya.” Guru Wirabhumi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilan dengan semangat mengacungkan jarinya, tetapi kelihatannya Guru Wirabhumi ingin memberikan kesempatan kepada siswa lainnya. Kemudian pandangannya mengarah kepada Dimas. Mendapatkan tatapan seperti itu Dimas menundukan kepalanya berusaha berharap agar dirinya tidak diminta menjawab pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah siswa yang baru datang, Dimas, mungkin bisa menjawabnya” Guru Wirabhumi berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh….eng… iya….karena bumi adalah tempat hidup dimana unsur-unsur lainnya bergerak dan mendapatkan tempat di atasnya” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…ternyata murid baru kita ini juga cukup pandai rupanya. Benar yang dikatakan Dimas, karena bumi adalah tempat hidup dimana unsur-unsur lainnya bergerak dan mendapatkan tempat di atasnya, tanpa bumi, maka tak akan ada unsur-unsur lainnya” kata Guru Wirabhumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu menguasai kekuatan unsur bumi adalah hal pertama yang harus kalian pelajari. Baiklah pelajaran hari ini sampai disini dulu.” Guru Wirabhumi membubarkan kelasnya, semua siswa berhamburan keluar kelas. Tetapi sebelum Dimas, Pafi dan Raji keluar dari ruangan, Guru Wirabhumi mencegah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Pafi dan Raji, kalian tinggal dulu di kelas” kata Guru Wirabhumi. Mendengar panggilan itu Dimas, Pafi dan Raji saling pandang, mereka kembali duduk di atas kursi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm, karena kalian tertinggal pelajaran ini, maka ada pekerjaan rumah yang harus kalian selesaikan agar kalian bisa mengimbangi teman-teman sekelas kalian. Ambilah buku ini, kalian baca sampai bagian ke 7, ikuti setiap perintah latihan yang diminta di dalam buku ini. Jika ada kesulitan kalian cari aku di ruanganku” Kata Guru Wirabhumi sambil menyerahkan tiga buku kepada masing-masing kemudian membalikan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian boleh meninggalkan ruangan” kata Guru Wirabhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Guru” Kata ketiganya yang kemudian segera berjalan keluar dari kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuhhh kenapa harus ada pekerjaan rumah juga di sini.” Raji mengeluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenanglah Raji, kita kerjakan bersama-sama, aku juga sama tidak mengertinya soal ini” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat tadi gayanya, idiiiihhhh menyebalkan sekali” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, seperti guru matematika kita di sekolah Hindia Belanda, Madame Van Boer.” Dimas nyengir membayangkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu masih tidak seberapa, kau lihat tadi waktu Jilan menjawab pertanyaan, gayanya sombong sekali seolah dia yang paling pintar di kelas. Tapi aku senang melihat ekspresinya sewaktu melihat Guru Wirabhumi memuji jawabanmu Dimas” kata Pafi dengan wajah yang berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kita bertemu saudara seperguruannya Aryo” kata Raji sambil tertawa yang diikuti oleh gerai tawa Dimas dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus segera ke kelas Sejarah Narapati, ayo aku sudah tidak sabar mengikutinya” kata Dimas dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya pelajaran ini sekarang akan menjadi pelajaran favorit kita, padahal di sekolah Hindia Belanda sejarah adalah yang paling membosankan, apalagi kalau sudah mendengar kesombongan-kesombongan penjajah itu.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua pelajaran bagimu terasa membosankan, karena kau memang tidak mau belajar. Tapi syukurlah kalau kali ini kau punya semangat” Kata Pafi agak sinis. Raji hanya menunjukan ekspresi masam mendengar komentar Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, kelas kita ada di ujung lorong sebelah sana” Dimas mengajak kedua sahabatnya untuk bergegas. Setibanya di depan kelas mereka melihat para siswa baru saja masuk ke dalam kelas. Seorang lelaki tua berpakaian berbeda dari Guru Wirabhumi berjalan ke arah pintu yang sama tetapi Dimas, Pafi dan Raji tak menyadarinya. Ketiganya segera saja memasuki ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat Pagi anak-anak” Salam Guru tersebut kepada seluruh kelas. Matanya sebentar menyapu seluruh kelas dan menemukan hal yang baru bagi kelasnya, tiga siswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ada siswa baru rupanya. Aku sudah mendapatkan kabarnya tapi tidak menyangka kalau hari ini aku mendapatkan mereka di kelasku. Perkenalkan diri kalian” Guru tua itu meminta Dimas, Pafi dan Raji memperkenalkan diri mereka ke seluruh kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka anak kesayangan pimpinan kuil ini Guru Kusumo” Jilan menyela pembicaraan dengan raut muka yang tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bertanya kepada kamu Jilan.” Jawab Guru Kusumo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Kusumo” Desis Dimas pelan. Pafi dan Raji terbelalak kaget melihat siapa yang menjadi guru sejarah mereka. Tetapi Guru tua yang sedang berdiri di depan itu hanya tersenyum melihat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Dimas, Pafi, Raji kalian perkenalkan diri kalian kepada kelas ini” Kata Guru Kusumo. Dimas, Pafi dan Raji berdiri secara bergantian menyebutkan nama masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran hari itu menjadi sangat menyenangkan bagi Dimas, Pafi dan Raji, karena ada orang yang mereka kenal di dunia manusia ternyata juga seorang Narapati. Selesai pelajaran sejarah, Dimas, Pafi dan Raji tinggal di kelas sebentar atas permintaan Guru Kusumo. Setelah semua siswa pergi dari ruangan, Guru Kusumo menutup pintu kelas rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya kita bertemu lagi nak.” Kata Guru Kusumo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Bapak adalah Narapati juga” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, aku ditugaskan Raja Prabu Narayala untuk membantu dan menjagamu di sekolah” Kata Guru Kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu siapa lagi yang juga seorang Narapati selain Bapak dan Nyai Janis” Tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa menjawabnya, karena hal itu harus dirahasiakan. Banyak yang masih ditempatkan di dunia manusia untuk mengawasi keadaan” Kata Guru Kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keadaan ? apa maksud Bapak ?” Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, Dunia Manusia dan Narapati tidak sepenuhnya terpisah. Apa yang terjadi di dunia Manusia bisa menjadi pertanda untuk sebuah kejadian di dunia Narapati” Kata Guru Kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak mengerti” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…baiklah akan aku ceritakan, tapi pelajaran apa selanjutnya setelah kelas ini” Tanya Guru Kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut daftar yang diberikan Guru Naradharma, kebetulan hari ini hanya sampai disini.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya yang akan aku ceritakan adalah pelajaran sejarah untuk kelas tingkat utama. Tapi tidak ada salahnya kalian mengetahuinya lebih awal. Toh kalian termasuk sedikit orang yang pernah tinggal di dunia manusia” Kata Guru Kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam dunia Narapati tidak ada kejadian yang terjadi secara terpisah dari apa yang terjadi di dunia manusia. Semua berkaitan karena sebenarnya Bangsa Narapati dahulunya juga tinggal di dunia manusia. Dunia Narapati pula memiliki wilayah yang sama persis saat seluruh bangsa Narapati berpindah ke dunia baru yang sekarang. Ada Gunung Bromo, Gunung Semeru dan gunung-gunung lainnya, hanya saja semua aktifitas alam dan perubahan bentuk bumi yang terjadi setelah perpindahan bangsa Narapati kurang lebih duabelas ribu tahun lalu tidak langsung terjadi di dunia Narapati. Kejadian besar seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir besar, perang atau bencana lainnya di dunia manusia akan berdampak kepada dunia Narapati dalam bentuk yang lain. Dunia Narapati sekarang menghadapi bahaya yang sangat besar karena sedang dalam masa perang dengan bangsa Amukhsara. Bangsa Amukhsara adalah bangsa Narapati yang memilih jalan sesat sehingga mengalami transformasi bentuk. Peperangan ini terjadi sejak terjadinya perebutan BUKU KEHIDUPAN.” Guru Kusumo diam sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Pafi dan Raji sudah mengerti dengan perang yang dimaksud Guru Kusumo. Prabu Narayala pernah menjelaskan tentang keberadaan BUKU KEHIDUPAN yang bersemayam di tubuh Dimas, dan peran Pafi dan Raji di dalam perebutan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian perhatikan tanda-tanda apa yang pernah terjadi di dunia manusia, kejadian besar yang terjadi atau pernah terjadi, maka juga telah terjadi sesuatu di dunia Narapati” Kata Guru Kusumo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sekarang kalian kembali ke ruangan Guru Naradharma, dia akan memberikan petunjukan berikutnya untuk kalian, aku sudah terlalu banyak bicara kepada kalian.” kata Guru kusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Pafi dan Raji tidak membantah walaupun rasa penasaran masih tetap bersemayam di hati mereka akhirnya mereka putuskan untuk berjalan keluar dari kelas meninggalkan Guru Kusumo sendirian di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejadian besar, kau ingat apa yang dikatakan pak Kusumo tadi, apa maksudnya” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin tabrakan tebu” Kata Raji santai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan kejadian seperti itu, yang dimaksud pak Kusumo itu kejadian besar seperti perang atau bencana alam, seperti letusan gunung krakatau pada tahun 1883” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingat pernah ada berita mengenai munculnya gunung baru di bekas letusan gunung krakatau” Kata Pafi. Dimas dan Raji manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kejadian apa yang berhubungan dengan dunia Narapati ?” Tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita baru beberapa hari disini tentu kita tidak tahu apapun yang terjadi sebelum kita disini. Lebih baik kita cari tahu apa yang pernah terjadi disini sebelumnya.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ke Perpustakaan saja, pasti di sana banyak cerita sejarah dan legenda tentang negeri Narapati ini.” Kata Pafi mengusulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sebaiknya kita kembali ke ruangan Guru Naradharma untuk mencari tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka bertiga bergegas berjalan menuju ruangan Guru Naradharma yang sudah menunggu mereka di dalam ruangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…anak-anak aku sudah menunggu kalian sejak kalian berbicara dengan Guru Kusumo” Kata Guru Naradharma. Dimas, Pafi, Raji saling menatap, tapi kemudian mereka teringat dengan miniature kuil Cakravartin yang berada di ruangan Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami, agak terlambat Guru” Dimas mewakili kedua sahabatnya kepada Guru Naradharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuai petunjuk Gusti Prabu Narayala, kalian akan tetap mengikuti peraturan yang berlaku bagi semua siswa di Cakravartin. Kalian harus tinggal di asrama bersama siswa-siswi lainnya.” Kata Guru Naradharma. Raji langsung berkerut, harapannya untuk tinggal di ruang tinggal semegah kerajaan harus terhapus oleh perkataan Guru Naradharma tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah didunia manusia kita tinggal di asrama, kenapa sekarang disini kita harus mengalami nasib yang sama. Huh nasib…nasib.” Kata Raji menggerutu. Guru Naradharma hanya tersenyum-senyum mendengar gerutuan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian akan diantarkan ke asrama dimana kalian nanti akan tinggal” Guru Naradharma menepukan tangannya. Nusapati yang berada di balik ruangan muncul di balik pintu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nusapati, tolong antarkan mereka ke ruang asrama mereka. Nah anak-anak selamat bersenang-senang.” Nusapati hanya mengangguk mengerti perintah yang diberikan Guru Naradharma kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Dimas, Raji dan Pafi mengikuti Nusapati dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian akan tinggal bersama 3 orang siswa tingkat menengah, 3 orang siswa tingkat lanjut, dan 3 orang tingkat utama. Nah ini ruangan kalian” Kata Nusapati menunjuk sebuah pintu kemudian mengetuknya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul seorang lelaki berumur enambelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Nusapati ada apa ?” Tanya pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membawa pesan dari Guru Naradharma, ketiga siswa baru ini akan tinggal bersama kalian” Nusapati memperkenalkan Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah tugasku sudah selesai, aku tinggalkan kalian disini” Nusapati berbalik meninggalkan Dimas, Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari masuklah, namaku Kiranaryo” Pemuda itu menyodorkan tangannya bergantian kepada Dimas, Pafi dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Dimas” “Raji” “Pafi” masing-masing menyambut sodoran tangan Kiranaryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah sebelum aku tunjukan dimana kamar kalian, kalian harus mengerti tentang aturan yang berlaku di asrama kita. Kalian bisa membacanya di pahatan di dinding itu.” Kiranaryo menunjuk sebuah ukiran tulisan-tulisan yang terpahat di dinding. Raji menilik-nilik mencoba membacanya tetapi rupanya huruf-hurufnya bukanlah huruf romawi yang selama ini dia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa membacakannya untuk kami ?” tanya Raji nyengir kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah nanti aku akan salinkan ke dalam huruf Romawi untukmu Raji.” Kata Dimas kepada sahabatnya. Kiranaryo hanya tersenyum kecil melihat air muka Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Dimas dan Raji kalian gunakan ruangan nomor 3, Pafi kau akan satu kamar dengan Sita” Seorang gadis cantik mendekati Pafi tersenyum dan menyodorkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Sita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari, aku tunjukan kamar kita” Pafi mengikuti Sita menuju ruangan nomor 5 sementara Dimas dan Raji memasuki kamar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melihat sebongkah buntalan berisi kapuk yang sangat empuk, Dimas tak bisa menahan kantuknya. Lelah yang dirasakan seharian mencoba mencerna sebuah dunia yang sangat baru baginya. Sementara Raji sudah tidak lagi sadar di atas kasurnya. Tetapi walaupun lelah dan kantuk begitu kuat menyerang, Dimas merasakan pikirannya terus menerawang jauh. Ada hal yang terus terpikir olehnya sejak pertemuan di balairung. Dimas merasakan ada yang tidak biasa dia rasakan yang sangat berbeda dengan tempat-tempat lain yang sudah dikunjunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- **** -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa malam sudah merambat naik. Dimas sudah terlelap tidur entah sejak kapan rasa kantuknya akhirnya mengalahkan semua beban pikiran yang menggantunginya. Tapi tak berlangsung lama, matanya kembali terbuka. Getaran-getaran di dadanya kembali terasa, kali ini seakan seperti sebuah panggilan. Langkahnya tertuntun begitu saja menuju keluar kamar. Dimas hanya mengikuti saja kemana langkah kakinya membawa. Dimas terus melangkah hingga keluar dari pintu asrama siswa yang masih dalam satu kompleks dengan Cakravartin dan Kraton. Langkahnya terhenti oleh pandangan sinar putih terang yang meluncur dari puncak Cakravartin menembus langit yang cerah oleh cahaya bulan dan sebaran bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terus melanjutkan langkahnya, tapi kali ini dia lebih berhati-hati terhadap lingkungan sekitarnya. Kuil Cakravartin adalah kuil yang sangat tinggi. Halaman kuil sangat terang oleh cahaya bulan. Dimas sedikit ragu untuk mengambil jalan memotong halaman kuil. Dimas mengambil jalan menyusuri tembok pagar yang mengelilingi halaman kuil kemudian mengambil jarak terdekat dengan pintu gerbang masuk kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai kuil terkena cahaya bulan yang hampir genap purnama, memantulkan kembali sebagian cahaya seolah sebuah cermin raksasa. Langit malam yang cerah tidak mampu menyembunyikan sosok Dimas yang berada di atas pelataran kuil. Rasa penasarannya terus membawanya masuk makin ke dalam menembus ruang demi ruang yang tadi siang dia lewati bersama Raji dan Pafi. Tetapi malam ini ada yang berbeda dari tadi pagi. Sebuah lubang besar menganga di lantai ruang utama dimana ratusan anak tangga menurun ke bagian bawah kuil yang gelap dan tak berdasar. Dimas agak ragu sejenak, tapi kakinya tanpa sadar turun menapaki satu demi satu anak tangga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SEBAN TEJA SORDHESPHEBAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas merapalkan mantra dengan telapak tangan kiri menengadah ke atas. Dari pintu masuk kuil puluhan larik sinar bulan tertarik masuk dan berkumpul di atas telapak kiri Dimas. Sinar terang itu menggumpal membentuk bola dan menerangi ruangan. Kali ini dasar anak tangga bisa dilihat dengan jelas, Dimas kembali meneruskan langkahnya. Langkahnya berhenti pada sebuah ruangan segi enam yang buntu tanpa pintu. Pada lima bagian dinding terdapat ukiran-ukiran. Dimas memandangi tiap dinding dengan seksama. Ukiran-ukiran itu tampak seperti sebuah tulisan-tulisan dengan huruf-huruf yang sama sekali tidak dikenalnya. Semakin berusaha dia mencoba mengerti, semakin pusing kepalanya. Tapi tiba-tiba bola sinar yang berada di tangan kirinya mulai meredup. Dimas bergegas menaiki kembali tangga dan bersamaan dengan keluarnya perlahan anak-anak tangga itu naik ke atas dan menutup semua ruangan dibawahnya. Dengan Langkah cepat Dimas meninggalkan kuil menuju asrama. Sinar putih yang menjulang tinggi di atas kuil tadi sudah tidak terlihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- **** -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam beranjak sangat cepat berganti dengan fajar muda yang merona merah di langit timur. Ujung langit Semeru begitu indah. Udara sangat dingin di Medanggana Raya. Kuil agung Cakravartin mulai kembali disibukan oleh kegiatan siswa. Dimas kembali menjalani belajarnya di kuil itu bersama dua sahabatnya. Berjalan beriringan Dimas mengajak dua sahabatnya mengambil tempat di bawah pohon beringin besar tepat di tengah halaman Cakravartin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin menceritakan sesuatu kepada kalian.” Kata Dimas pelan. Tak biasanya Dimas punya cerita yang langsung ingin di baginya bersama, biasanya Raji atau Pafi yang meminta dirinya bercerita terlebih dahulu. Tentu saja Raji dan Pafi langsung tertarik dengan ajakan Dimas duduk di bawah pohon beringin. Apapun yang diceritakan Dimas pastilah sangat menarik buat keduanya, apalagi sampai Dimas sendiri yang meminta untuk mendengarkan. Setelah cukup yakin tidak ada orang lain di sekitar mereka Dimas mulai menceritakan apa yang dia lihat semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam aku melihat sinar terang keluar dari puncak Cakravartin. Sinar itu seperti sebuah pilar hingga menembus awan selama beberapa saat. Aku penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu aku masuk ke dalam kuil untuk menyelidikinya. Di dalam kuil aku menemukan sebuah tangga menuju dasar kuil yang letaknya persis di lantai ruang pintu masuk utama. Lantai yang selama ini dilewati oleh semua orang. Aku masuk ke dalam ruang di bawah yang gelap itu. Disana aku menemukan sebuah ruangan berbentuk segi enam. Di lima bagian dindingnya terdapat pahatan-pahatan yang aku tidak mengerti. Aku sempat keluar sebelum ruangan itu tertutup lagi.” Dimas menyudahi ceritanya. Matanya memandang kedua sahabatnya menunggu reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ruangan itu memang terbuka dengan sendirinya atau dibuka oleh sesuatu ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu, aku sudah menemukannya dalam keadaan terbuka dan sebelumnya aku tidak melihat siapapun keluar dari kuil.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ruang itu sudah terbuka dengan sendirinya.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mungkin saja. Tapi mengapa tertutup lagi ? Mungkin sebenarnya ruangan itu tidak seharusnya terbuka sendiri. Ada orang yang membukanya, tetapi hanya menemukan ruang kosong.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang dicari oleh orang itu ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, tapi aku yakin ada kaitannya dengan pilar sinar yang meluncur dari puncak Cakravartin semalam.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita mencari tahu dari perpustakaan. Kita lakukan nanti setelah pelajaran terakhir.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, ayo kita segera ke kelas. Aku pikir hari ini kita akan belajar mengenai pengobatan and perbintangan. Kita akan ke perpustakaan setelah pelajaran terakhir selesai.” Kata Dimas. Mereka segera menuju kelas dan mengikuti pelajaran. Semua berjalan sangat lancar pelajaran hari ini. Raji menjadi begitu sangat tertarik terhadap pelajaran pengobatan. Kemampuannya berkembang lebih maju dari pada Dimas maupun Pafi. Seakan sekarang Raji menjadi yang paling pandai diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah hari ini kau tampak hebat sekali Raji.” Kata Pafi memuji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe…kebetulan kali ya, mungkin aku merasa ada yang begitu cocok denganku saja.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya bakat Raji di bidang pengobatan dan ramuan.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin juga, tapi pelajaran perbintangan tadi begitu membosankan. Aku sampai tertidur melihat bintik-bintik putih di langit-langit kelas.” Kata Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru Wariga Wadwan kelihatannya orang baik. Tidak seperti guru Wirabhumi di pelajaran tenaga dalam, dia sangat sombong.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin karena dia berpikir pelajaran yang dia berikan adalah pelajaran paling dasar dari semua kemampuan olah raga dan olah jiwa.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu asyik mereka membahas semua hal baru yang mereka temui di kelas tadi. Seperti janji yang sudah disepakati tadi pagi, mereka bertiga berkumpul dan menghabiskan waktu sore mereka di perpustakaan. Ruang perpustakaan terlihat penuh dengan beberapa siswa yang lebih tinggi tingkatannya. Beberapa mata menatap kedatangan Dimas, Raji dan Pafi. Berkali-kali Pafi mengibaskan tangannya dengan lembut. Getaran-getaran perubahan gerak udara di dalam ruang perpustakaan yang dirasakannya mendorong instingnya untuk membuat pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sedang diserang” kata Pafi berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan membalas, kita bertahan saja dengan membuat perisai gaib.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak membalas ? kita harus tunjukan kalau kita bisa menyerang balik.” Kata Raji dengan nada agak kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus tetap fokus pada tujuan kita kesini.” Kata Pafi agak kesal. Raji langsung diam mendengar dengusan Pafi. Mereka bertiga pun mengambil tempat duduk yang tidak banyak orang. Beberapa pasang mata anak-anak yang lebih besar tubuhnya menatap mereka bertiga. Dimas merasakan ada upaya membaca pikiran dan segera saja menyelubungi dirinya, Raji dan Pafi dengan selimut gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya ini tidak hanya sebuah perpustakaan, tetapi tempat latihan. Semua serangan yang dilakukan begitu halus.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, mereka menyerang pada bagian titik totok penting, sehingga walaupun serangan tidak keras, tapi cukup membuat kita kehilangan kendali tubuh kita sendiri.” Kata Pafi yang tadi sempat melakukan tangkisan-tangkisan terhadap serangan-serangan halus tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya tujuan mereka hanya untuk mempermalukan kita saja.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan balas menyerang mereka, aku sudah gerah dengan kesombongan mereka.” Kata Raji yang sudah gatal tangannya sejak tadi. Dengan gerakan yang halus Raji melakukan serangan ke arah para penyerang yang sedang berusaha masuk dan menembus perisai gaib Dimas. Pafi tak mau ketinggalan, dia juga ikut melakukan serangan. Sekelompok anak remaja yang tubuhnya lebih besar tiba-tiba terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyerang pusat gerak mereka. Mereka tidak sempat menahan seranganku.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menahan ikatan pikiran mereka denganku sehingga gerak refleks mereka melambat.” Kata Dimas sambil nyengir. Raji dan Pafi tersenyum senang. Paling tidak anak-anak itu akan terbebas dari gangguan sampai ada yang membentuk kelompok remaja itu lepas dari totokan serangan Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo sekarang kita mencari sejarah Cakravartin.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang perpustakaan yang luas dikelilingi oleh lemari-lemari kayu di sepanjang dinding ruangan. Di langit-langit menggantung kepompong-kepompong berwarna keemasan yang terang menyala. Cahayanya menyorot ke setiap meja dan seperti sebuah hologram memproyeksikan kelompok-kelompok pustaka. Seperti membalik-balikan sebuah buku, kelompok pustaka yang dipilih langsung bereaksi dan proyeksi berubah memberikan rincian dari kelompok pustaka yang dipilih. Sebuah benda berbentuk piramida dengan dasar bersegi enam sama sisi muncul setelah Pafi memilih kelompok pustaka. Di sekeliling bentuk piramida itu melayang-layang kelompok yang lebih detil dalam huruf-huruf narapati. Huruf-huruf itu menunjukan dimana pustaka yang diinginkan diletakkan di antara rak-rak. Pafi kemudian menggerakan jari telunjuknya ke arah dimana pustaka mengenai Cakravartin diletakan. Sebuah buku besar keluar dari sebuah rak dan melayang menghampiri meja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku Cakravartin” bisik Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita buka” kata Pafi tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi dengan sabar membuka satu per satu setiap halaman buku yang tebalnya satu telapak orang dewasa. Buku berlapis warna emas itu berisi semua keterangan mengenai sejarah Cakravartin yang dimulai saat pembangunan hingga selesai. Semua cerita dalam buku itu sudah seperti sebuah legenda karena usia buku itu hampir sama tuanya dengan usia Cakravartin itu sendiri. Telah hampir 15.000 tahun Cakravartin berdiri menjadi pilar bagi dunia tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya akan perlu satu purnama untuk membacanya.” Kata Raji terlihat agak malas melihat tebalnya buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kalau kau yang membacanya, aku Cuma perlu satu malam untuk membaca seluruhnya.” Kata Pafi dengan air muka cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kita bisa meminjamnya ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ini pasti bisa” kata Pafi mengeluarkan sebuah lempeng batu bening berbentuk bundar dengan senyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang kau pegang itu ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tanda keanggotaan yang memberikan aku kebebasan untuk meminjam pustaka dari ruangan ini.” Kata Pafi dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan kau mendaftar, kenapa tidak mengajak kami ?” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, karena aku yakin membaca bukan hal yang menjadi kesenangan kalian.” Kata Pafi agak ketus. Dimas dan Raji nyengir kuda mendengar ocehan Pafi. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan ruang perpustakaan dan meminjam buku Cakravartin. Tanpa banyak kesulitan Pafi berhasil mendapatkan pinjaman buku itu dan membawanya serta ke asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan Cakravartin merambat perlahan bersamaan dengan merendahnya mentari sore yang menebarkan jingga di awan-awan yang menggantung di langit Bromo. Kepulan asap putih yang keluar dari kawah Bromo meliuk ditiup angin bagaikan lidah api yang kemerahan di bawah sinaran senja. Mahameru yang gagah menjulang tinggi seakan sedang merayu para dewa untuk berpesta di puncaknya. Langit megah Medanggana Raya menjelang purnama yang belum genap yang sudah tergantung bersama bintang timur. Cahayanya yang walau belum seterang saat malam, tapi bulan telah memberikan keindahan yang lengkap di langit Cakravartin. Perahu-perahu nelayan di sepanjang Nadisara kota mulai pulang ke rumah setelah sepanjang pagi hingga siang mengangkut hasil bumi ke pasar-pasar mengejar sore yang akan segera berganti malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tak lama kemudian bertahta di puncak Cakravartin. Obor-obor menerangi seluruh penjuru kota memberikan warna keemasan ke seluruh bangunan. Sesekali tertiup angin semilir yang membuai penduduk Medanggana Raya. Kesenyapan menyelimuti kota di bawah bayang-bayang awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-116671703321112533?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/116671703321112533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=116671703321112533&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671703321112533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671703321112533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2006/12/chapter-6-cakravartin-kuil-pembawa.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-116671690750220435</id><published>2006-12-21T07:59:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:33:37.049-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ARYA NARAPATI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di ruang belajar asrama, Dimas, Raji dan Pafi sedang mengerjakan PR mereka yang mulai bertambah banyak menjelang ujian akhir. Raji mulai pusing dengan semua tugas yang sedang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh… pusing aku mengerjakan semua PR gila ini, sejak pulang sekolah tadi nggak selesai-selesai. Apalagi ini sejarah Londo ini, heran aku, kok bangsa ini mau aja dijadikan Negara boneka Belanda. Kalo Pak Tardjo nggak minta-minta, mungkin kita sudah jadi Negara yang berdiri sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji terus menggerutu tentang PR sejarah nasional Negara Hindia Belanda yang sedang dikerjakannya. Saat itu tahun 1939, saat dimana akhirnya muncul Petisi Sutardjo mengenai Negara Hindia Belanda yang dikabulkan oleh Ratu Kerajaan Belanda setelah diajukan tiga tahun yang lalu. Sedangkan Dimas tampaknya tetap asyik dengan tangannya yang terus menuliskan PR nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak bisa diam apa…..berisik, memangnya kalau kita memiliki negara yang berdaulat sendiri akan ada perubahan yang lebih baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi menimpali gerutuan Raji sambil memandangnya menantang menunggu jawaban apa yang akan diberikan Raji kepadanya. Raji tak menyahut dan terlihat tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malas aku kerjakan PR bangsa londo ini, mendingan aku kerjakan sastra Jawa saja, karya bangsaku sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji menutup halaman buku sejarah belanda yang sedang digunakannya untuk membuat PR. Tangannya kemudian membuka buku lain tentang sastra jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kerjakan PR sastra Jawa belum, Mas” Raji melongokan kepalanya ke arah buku catatan yang sedang ditulis Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, aku masih kerjakan sekarang” Jawab Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu merasa ada yang aneh gak, Mas, selama ini masyarakat kita begitu percaya dengan ramalan-ramalan prabu Jayabaya. Lihat saja beberapa terbukti kan. Nih lihat teksnya aku bacakan ya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Pulau Jawa tinggal selebar daun kelor, kelak akan datang jago kate wiring kuning dedege cebol kepalang yang menguasai pulau jawa hanya seumur jagung….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar-benar seperti tokek ya….gak bisa diam, aku kembali saja ke kamar, mendingan kerjakan di kamar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mendelik dengan wajah galak menatap Raji yang masih cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas hanya tersenyum kecil diujung bibirnya dan kemudian berkonsentrasi kembali kepada pekerjaannya. Dia tahu kalau sudah begitu Raji bukanlah orang yang bisa dinasehati. Dia akan makin tidak peduli dengan omongan orang lain. Wajah malas mulai merambat di seluruh permukaan wajah Raji, tangannya mulai ogah-ogahan menulis dan ketika semuanya mencapai puncak ubun-ubun .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, Dimas, Pafi dan Raji tak tampak akan segera mengakhiri belajarnya. Walaupun guratan kelelahan sudah tampak di wajah mereka, mereka tetap menulis seakan sedang dalam dunianya sendiri. Saking asyiknya menulis, ketiganya tidak lagi berbicara satu sama lain. Mereka tak sadar kalau tiba-tiba saja di seberang meja tempatnya menulis muncul 2 sosok manusia dewasa entah dari mana datangnya. Ketika keasyikannya terganggu oleh bayangan yang menutupi kertas bukunya sontak Dimas dan Pafi bangkit dari duduknya dan berjengit kaget, sementara Raji langsung terjengkang dari kursinya. Matanya melotot dengan dada yang berdegup begitu kencang, tangan gemetaran menahan rasa takut yang mulai menjalar ke ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantu, adalah kata yang pertama keluar dari pikirannya, kakinya bergerak mundur dengan gemetar mendorong kursi yang berada di belakangnya. Bunyi derak kursi yang tergeser membuat suasana yang dirasakan Dimas makin mencekam. Dalam ketakutan yang sangat, dua wajah yang muncul di depannya menarik ingatan akan kejadian aneh yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Dimas kini sadar bahwa dua orang yang sekarang berada di hadapannya adalah orang yang sama yang tempo hari dilihatnya saat pulang dari sekolah dan saat sedang duduk makan ikan bakar di depan api unggun bersama Raji dan Pafi dan juga yang sering mengunjungi Nyai Janis, sekarang mereka ada di hadapan mata. Seketika degup jantungnya makin keras saja, suaranya tercekat, Pafi tanpa sadar tangannya sempat mengayun pelan dan tiba-tiba saja kursi yang berada di sebelahnya melayang mengarah deras ke arah dua orang misterius itu. Salah seorang misterius yang berwajah sudah agak tua tersenyum sambil mengibaskan tangannya. Kursi yang melayang ke arahnya seketika berhenti dan turun dengan lembut di sampingnya. Dimas makin kaget dengan apa yang barusan saja terjadi, tangannya tanpa sadar bergerak tidak karuan yang seketika itu pula diikuti dengan melayangnya benda-benda yang berada di dalam ruangan belajar itu meluncur deras ke arah dua orang misterius tersebut. Namun seketika itu juga benda-benda itu seperti tertahan di udara dan berhenti mendadak kemudian turun perlahan di atas lantai. Tidak ada satupun yang jatuh menyebabkan bunyi keras di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganhanban Onhdhae Songakhi Dhnalathir Naraphathi Dhasi Khathanh Sedhan Enthedh Sonmadhithi ……” seorang yang lebih tua mengucapkan bahasa asing yang terdengar akrab di telinga Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian takut Narapati, kami datang bukan bermaksud menyakiti” seorang yang lebih muda menerjemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua yang berjubah putih dengan sorban di kepalanya menjulurkan tangannya untuk menenangkan Dimas, Pafi dan Raji yang sudah bangkit berdiri. Dimas merasa seperti ada yang menggenggamnya begitu kuat yang memaksanya duduk di kursi yang berada di belakangnya. Sekuat tenaga dia melawan, tetapi tidak ada daya yang mampu melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh…akh….Na..ra..pppati ? aku bukan Narapati…..apa yang kalian lakukan kepada kami ?” Dimas berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…aku tahu. Sekarang mari kita duduk, ada yang akan aku beritahukan kepadamu, namaku Prabu Narayala dan ini temanku Kerthapati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut memperkenalkan dirinya dan temannya yang langsung menghaturkan sembah dengan dua telapak tangan disatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian pasti ingin sekali tahu dari mana asal-usul kalian, bagaimana kalian bisa mendapatkan kemampuan-kemampuan gaib yang tidak dimiliki orang lain, dan juga ingin tahu mengenai arti mimpi-mimpimu selama ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala berkata sambil menarik kursi di depannya yang diikuti Kerthapati. Dimas yang mendengar ucapan Prabu Narayala terdorong rasa ingin tahunya menjadi lebih tenang, Pafi dan Raji mengikuti gerakan Dimas yang mulai lebih santai. Mereka bertiga tahu bahwa kedua orang itu sering mengunjungi Nyai Janis di kantornya yang selalu ditandai dengan kabut tebal pada pagi hari. Beberapa kali mereka mencoba untuk mencuri dengar apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis bersama teman-temannya, tapi selalu saja tidak ada yang dapat didengarnya kecuali saat yang pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah anda tahu mengenai asal usul saya ? Bagaimana anda bisa tahu mengenai mimpi-mimpi saya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Dimas begitu campur aduk antara bingung dan gembira juga curiga bagaimana mungkin kedua orang itu tahu semua mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengenalmu anak muda, aku tahu dari mana asal-usulmu. Kau pasti tahu dari siapa aku tahu mengenai mimpi-mimpimu…… ya…. Nyai Janis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menjelaskan. Dimas terkejut karena Prabu Narayala bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Lelaki yang sudah berambut putih itu tetap tersenyum, wajahnya yang bersih dan cerah memancarkan pesona kewibawaan yang begitu dalam. Tatapan matanya yang tajam tak sanggup dipandang terlalu lama oleh Dimas yang kemudian menunduk diam. Prabu Narayala kembali melanjutkan, dengan suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang dia meminta Dimas meletakan tangannya di atas telapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, letakan di atas kedua telapak tanganku” Prabu Narayala menjulurkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah magnet yang sangat kuat, Dimas menyorongkan tangannya tanpa sadar, kedua telapak tangannya disatukan dengan kedua telapak tangan Prabu Narayala. Prabu Narayala segera menggenggam telapak tangan kecil Dimas dan memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Rasa hangat menjalar melalui tangan Dimas menembus tulang-tulang tangannya terus meresap sampai ke leher dan menyebar diseluruh kepala. Begitu nyamanya, sampai Dimas memejamkan matanya merasakan sensasi yang dirasakannya seperti ada bagian-bagian di dalam kepalanya yang tersumbat kini terbuka mengalir dengan lancar. Namun belum lama kenyamanan dirasakannya kilasan-kilasan bayangan dari mimpi-mimpinya terus berkelebat seperti sebuah film yang sedang diputar. Mimpi-mimpinya yang terputus kini menemukan bagian-bagiannya yang hilang. Dalam pejamnya mata Dimas bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, wajahnya begitu pucat berkeringat dan tiba-tiba matanya terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aaaa…arrrgghhh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangkit dari kursinya dengan napas yang tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari jauh. Prabu Narayala dan Kerthapati menatap Dimas. Pafi dan Raji tampak cemas dengan yang terjadi pada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…dimas, kau tidak apa-apa…..” Pafi memegang kedua bahu Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lakukan pada Dimas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji seketika maju ke hadapan Prabu Narayala, tubuhnya tanpa disadarinya membentuk sebuah lingkaran gaib dan ketika mengibaskan tangannya sebuah bola kristal terlontar dari telapak tangannya kea rah Prabu Narayala. Prabu Narayala hanya tersenyum dengan menepiskan tangannya menangkap bola kristal itu. Ajaib bola kristal itu seperti terserap masuk kedalam telapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenangkan dirimu Raji”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala tersenyum dengan tatapan mata yang tajam kea rah Raji. Raji yang terkejut sendiri dengan apa yang telah dilakukannya merasakan kepalanya dingin dan begitu tenang. Kemudian Prabu Narayala kembali menatap Dimas yang sudah duduk di atas bangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang apa yang kau rasakan hilang selama ini, telah kembali. Kau adalah seorang Narapati, itulah sebabnya aku memanggil kalian Narapati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata Dimas mengalir, ingatannya yang kembali telah membawanya kepada kenyataan yang masih tidak dia pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti, apa maksud dari semua yang aku lihat tadi” katanya sambil duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan mengerti pada waktunya nanti, sekarang sudah saatnya kau harus tahu siapa sebenarnya dirimu Dimas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala bangkit dan memegang tangan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari nak, kita akan jalan-jalan sebentar, banyak yang harus kau lihat, sudah saatnya kau tahu mengenai duniamu yang sebenarnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membalikan badannya berjalan ke lukisan dinding gunung bromo dan gunung semeru. Sebuah pintu muncul menggantikan lukisan itu. Kerthapati membuka pintu. Sebuah cahaya temaram menyeruak dari balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu itu” Pafi berbisik pelan. Dimas dan Raji melihat pintu yang selama ini mereka selidiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pintu itu. Tanpa banyak Tanya ketiganya mengikuti masuk pintu. Di balik pintu mereka menemui sebuah ruangan berdinding batu hitam yang dihiasi obor-obor di kiri kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita keluar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala memegang pundak Dimas dan membimbingnya menuju sebuah sebuah relung seperti gerbang yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedha…………..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengibaskan tangannya ke arah tembok berelung di depan mereka, tembok di depan mereka tergeser dan sinar bulan yang indah di langit yang bening masuk memenuhi ruangan. Mereka bergerak menuju pintu, tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya di luar Dimas, Pafi dan Raji berdecak kagum. Mereka berada di puncak sebuah bangunan batu berbentuk segi enam setinggi bukit dengan ribuan anak tangga menurun ke bawahnya. Terdapat 6 pilar persegi yang tersusun dari potongan-potongan batu hitam dengan relief-relief menjulang tinggi di setiap sudut di dasar bangunan. Begitu megah dan menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada dimana sekarang ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas masih ternganga keheranan, sementara Raji bergerak ke sana kemari ke pinggir balkon. Prabu Narayala tersenyum melihat ekspresi wajah Raji yang takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sekarang berada di dunia Narapati, di atas puncak kuil agung Caturbhasa Mandala di gunung Mahameru, dan kita sedang menghadap gunung bromo di depan sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menujukan jarinya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia Narapati ? apakah dunia Narapati berbeda dengan dunia manusia ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mengawali pertanyaannya dari ribuan pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan kepada Prabu Narayala yang sudah siap pula dengan ribuan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati adalah sebuah bangsa yang menempati dunia yang berbeda dengan manusia, juga berbeda dengan mahluk gaib”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menjawab dengan penuh wibawa, dia tahu kerut di wajah Dimas menunjukan ketidakmengertiannya mengenai pembagian dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati bukan mahluk halus, mereka nyata seperti manusia, hanya saja Narapati mengisi ruang yang berbeda dengan manusia. Narapati dapat mati, makan, minum, berkeluarga seperti manusia. Dulunya Narapati bangsa yang menempati dunia yang sekarang ditinggali oleh manusia. Dunia yang masih menjadi satu sebelum banjir besar merendam semua dataran lembah dan menghancurkan seluruh kebudayaan bangsa Narapati. Untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk dan kebudayaan yang dimiliki, Bangsa Narapati kemudian pindah ke dunia baru dengan membuka gerbang dimensi dunia yang lain. Bangsa Narapati terus mengawasi dunia manusia dan perkembangan kemajuan dan keruntuhan peradaban mereka. Beberapa kali Narapati membantu penyelamatan manusia dari kemusnahan akibat bencana alam terutama akibat letusan gunung berapi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terbengong-bengong mendengar penuturan dari Prabu Narayala yang selalu tersenyum setiap kali menyelesaikan setiap kalimat dalam ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, nama-nama gunungnya sama” Kali ini Pafi bertanya dengan suara yang mulai bergairah. Ketakutan yang tadi mereka rasakan serta merta hilang digantikan rasa takjub dunia lain yang mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang Dunia Narapati memiliki wilayah yang sama dengan nama yang sama, yang membedakan hanyalah ruang. Dalam dunia Narapati, Laut Jawa tetaplah sebuah daratan luas dengan lembah-lembah sungainya. Swarnadwipa, Jawadwipa dan Kanchana adalah satu daratan yang satu. Bangsa Narapati pindah ke dunia baru tepat sebelum banjir besar datang, dimana ketiga pulau besar yang sekarang didunia manusia bernama Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih satu daratan. Tapi sayang waktu itu banyak rakyat Narapati yang terlambat pindah, akhirnya musnah bersama seluruh kota-kota di lembah SUNDA atau sekarang dikenal dengan selat karimata. Dunia Narapati memiliki sejarahnya sendiri, walaupun antara dunia Manusia dan Narapati ada kesamaan wilayah, tapi setiap sejarah yang dituliskannya memiliki jalan yang berbeda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga remaja itu mendengarkan dengan masih tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah perbedaan dunia Narapati dengan alam Gaib ?” Raji yang sejak tadi sudah begitu bersemangat mengajukan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membelai kepala Raji dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak anakku, Narapati tidak sama dengan alam gaib, Narapati berada di antara alam gaib dan dunia manusia. Sebelum adanya sebuah perjanjian, kami sempat mengajarkan beberapa kepandaian kepada manusia pada jaman itu. Kami mengajarkan mereka untuk membentuk kebudayaan dan masyarakat. Sampai terjadi undang-undang baru yang melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak diundang oleh manusia, kecuali atas perintah kerajaan, setiap gerbang menuju dunia manusia akan dijaga oleh Nandiswara. Jika hendak melintasi gerbang harus menunjukan ijin kerajaan, karena jika tidak maka para Nandiswara akan bertindak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga remaja itu mulai tampak mengerti sekaligus bingung, Prabu Narayala tampak mengerti dengan kebingungan mereka dan dia kembali menjelaskan. Lalu Prabu Narayala mengeluarkan siulan yang khas dari mulutnya, entah bagimana dia membuat siulannya begitu kencang menggema, Dimas terkagum-kagum dengan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Bapak Narayala bisa mengeluarkan suara yang begitu keras dan menggema ?” kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala tersenyum lalu dia menunjuk ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nanti juga akan bisa melakukannya, lihat dibawah itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menunjuk seekor harimau putih seukuran kuda jantan dengan pelana dipundaknya. Dimas terbelalak kaget dan merapatkan tubuhnya ke Prabu Narayala. Dari angkasa turun sepasang Garuda Kencana dan dua seorang penunggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, ini adalah dengan harimau putih Davanthi Sighram, dan yang ini adalah Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya, namanya Pavakah dan Vihangah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimanya menunduk dan memberikan salam, Dimas tidak mengerti kalau sujud tunduk hormat itu untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangkitlah semuanya !”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala meminta ketiganya bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah ! sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, Dimas naiklah ke punggung Sighram bersamaku! Raji kau naiklah bersama Arghapati, Pafi naiklah bersama Wirapati. Arghapati kau awasi jalan yang akan aku lalui dari udara, pastikan tidak ada yang mencurigakan, Kerthapati bawalah pesanku ini untuk penguasa pantai selatan jangan kembali sampai kau diperintahkan pergi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menaiki punggung Sighram dan kemudian menarik Dimas duduk di depannya. Arghapati dan Raji segera terbang bersama Pavakah, Wirapati dan Pafi juga terbang bersama Vihangah, sementara Kerthapati langsung saja menghilang seperti ditelan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di atas Sighram harimau putih yang sangat besar adalah hal yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Dimas. Dimas mencoba menyentuh bulu lembut di pundak Sighram, seakan Sighram mengerti elusan lembut yang dilakukan Dimas, Sighram mengaum menggema ke seluruh penjuru hutan Mahameru. Sighram terus berlari ke arah barat, jauh di depan sepasang Garuda Kencananya terus mengangkasa mengawasi setiap kemungkinan mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan telah tampak bangunan-bangunan batu menjulang tinggi mengelilingi sebuah piramida berbentuk segi enam. Piramida bangunan paling tinggi di antara bangunan batu lainnya. Benteng setinggi 100 meter mengelilingi kota megah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat di depan sana, itu kotapraja Narapati “Medanggana Raya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="OLE_LINK4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="OLE_LINK3"&gt;Pilar-pilar obor dari bangunan batu mengelilingi setiap sudut &lt;/a&gt;kota. Medanggana Raya memang sebuah kota yang sangat besar, terlihat dari tingginya bangunan-bangunan dan luas benteng yang mengelilinginya. Relief-relief dan relung-relung berukir di setiap gerbang rumah-rumah dengan atap berbentuk limas segi empat dan kerucut-kerucut mengelilinginya. Di tengah kota terdapat Nadhisara, sebuah saluran air buatan yang besar yang membagi-bagi kota menjadi sektor-sektor. Jembatan-jembatan lengkung menghubungan setiap sisi nadisara. Patung-patung Garuda kencana berseling dengan Narasimha bertengger di setiap pilar-pilar penjaga jembatan. Pohon-pohon tumbuh teratur di setiap halaman rumah-rumah penduduk menambah keindahan pagi yang mulai menjalar di ufuk timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sighram berhenti di depan gerbang batu dengan relung besar dan terukir relief-relief huruf-huruf kuno. Prabu Narayala mengibaskan tangannya sambil mengeluarkan suara yang agak berat dan lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedhaa…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang batu itu bergeser ke kiri dan ke kanan membuka perlahan. Sighram bergerak memasuki pintu gerbang yang terbuka, sementara Pafi dan Raji sudah menunggu bersama Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya di balik gerbang. Mereka segera bergerak menuju kuil piramida segi enam di pusat kota. Samar-samar di kejauhan terdengar suara Azan subuh berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sholat subuh dulu, ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala turun dari punggung Sighram dan mengangkat Dimas turun dari punggung Sighram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sighram, kau boleh kembali ke tempat peristirahatanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sighram menggeram kecil kemudian berbalik meninggalkan tempat. Arghapati dan Wirapati mengelus-elus kepala kedua Garuda Kencana mereka. Kedua Garuda Kencana itu juga segera mengangkasa meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sudah benar-benar sempurna menunjukan wajahnya walaupun matahari masih setengah hati membagi kehangatannya pada rumput-rumput yang sejak malam menggigil kedinginan. Sambutan pagi itu begitu meriah, daun-daun dengan sesaji embun dinginnya menyembul di ujung-ujungnya yang runcing, burung-burung dengan kicaunya begitu bergairah mengepakan sayap untuk pemanasan setelah semalaman meringkuk di hangatnya sarang yang bergantung di dahan yang yang daunnya sudah luruh karena meranggas. Disapu angin lembut yang membawa hangatnya mentari dedaunan kering meranggas di musim yang mulai kemarau. Kemegahan kota Medanggana Raya makin terlihat jelas, batang-batang pohon jati yang meranggas di seluruh kota membuat suasana kota begitu telihat penuh akan sejarah kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kini berada di sebuah ruangan yang merupakan bagian dari kuil utama di tengah kota. Kuil tersebut merupakan pusat segala kegiatan intelektual masyarakat Narapati di Medanggana Raya. Gerbang berbentuk segi enam setinggi duapuluh meter berbentuk pilar yang berelung ukiran di kaki kuil menembus masuk ke dasar bangunan. Memasuki ruangan pertama persegi enam yang sangat besar dengan tinggi melebihi 2 kali pohon kelapa dengan enam pilar besar menyangga langit-langitnya. Pada tiga dinding di depan, kiri dan kanan terdapat tiga ruang berarsitektur sarang lebah. Untuk mencapainya harus melalui tangga naik yang sangat lebar yang langsung dapat terlihat saat melalui gerbang utama. Sepertinya tangga itu adalah tangga utama yang menuju ruang-ruang lain pada bagian inti dan belakang kuil. Dua tangga lain berada di bagian dinding kiri dan kanan mengarah pada ruangan-ruangan pada bagian sisi kiri dan kanan kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu terlihat sepi, hanya kursi-kursi batu yang teratur rapi mengelilingi setiap pilar. Melihat lantai dan kursi yang begitu bersih mengkilat, jelas Dimas bisa menduga bahwa sebenarnya ruangan ini sangatlah ramai pada siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuil ini disebut yang artinya pembuat kemakmuran. Dahulu kuil ini kami gunakan untuk kegiatan persembahan bagi Isvarah, Dia sang pencipta. Kemudian kami mengubahnya menjadi pusat kebudayaan dan belajar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak sekali istilah-istilah yang digunakan dalam bahasa sansekerta dan jawa kuno, apakah Narapati tidak mempunyai bahasa sendiri ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…memang, kebudayaan Narapati adalah kebudayaan pertama. Sansekerta adalah bahasa turunan dari bahasa Narapati yang berkembang pesat di India. Narapati sempat bersentuhan dengan kebudayaan Hindu saat pemerintahan prabu Ajisaka di Jawa. Pada saat itu manusia Jawa baru memulai peradaban yang dibawa dari India, dibuatlah Undang-undang Ajisaka yang mengatur lalu lintas bangsa Narapati ke dunia manusia. Karena hal itulah akhirnya terjadi pertukaran budaya. Sampai akhirnya Undang-undang Ajisaka diganti dengan Undang-undang baru, seperti yang aku sebutkan tadi, melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak mendapatkan ijin dari kerajaan. Untuk mencegah penyebrangan yang tidak sah kemudian ditempatkan penjaga khusus di 9 pintu gerbang yang disebut para Nandiswara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala tersenyum, sebelum pertanyaan kembali keluar dari mulut Dimas, Prabu Narayala kembali melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kami melintas ke dunia manusia dengan ijin terlebih dahulu. Siapapun yang pernah melintas ke dunia manusia akan dapat terlihat jelas bekas-bekas di tubuhnya. Siapapun yang melintas tanpa ijin akan mendapatkan hukuman yang sangat berat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari telunjuk Prabu Narayala mengacung ke atas memberikan penekanan yang kuat pada kalimat terakhirnya. Tak terasa langkah mereka terus berjalan menapaki anak tangga menuju ruang pada lapisan kedua. Sesampainya pada depan ruangan, terhampar lorong persegi enam dengan kekosongan mutlak oleh kegelapan. Seakan tak dapat ditebak sampai mana ujungnya. Jari-jari Prabu Narayala menjentik membunyikan bunyi “klik” sambil mengucapkan kata “Aphi”. Dalam hitungan yang singkat seluruh lorong terang benderang oleh nyala obor di kiri dan kanan lorong. Jelas sekali sekarang semuanya terlihat. Di kiri dan kanan lorong terdapat pintu-pintu masuk persegi enam. Di setiap 2 pintu masuk diselingi oleh lorong persegi enam yang menghubungkan dengan lorong-lorong di bagian yang lain. Pada bagian ujung lorong terlihat sebuah ruangan yang sangat terang dan luas. Dimas, Pafi, Raji dan Prabu Narayala terus berjalan menuju ruangan paling ujung. Sesampainya di sana, ketiga remaja itu lagi-lagi berdecak kagum, kemegahan ruangannya yang dihiasi pancaran cahaya kuning dari obor-obor di sekelilingnya membuat ruangan ini tampak sangat indah. Enam Pilar menyangga sampai ke langit-langit ruangan. Di bagian tengah terdapat pilar bening seperti kaca yang menjulang setinggi pilar yang lain menembus langit-langit berdiameter 2 meter. Prabu Narayala membimbing Dimas mendekati pilar kaca itu. Tangannya bergerak menyentuh pilar dan mengucapkan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanha Ekhara Sedha….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga bagian dinding kaca pilar yang berbentuk lingaran itu terbuka. Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pilar dan berdiri di atas sebuah lapisan batu berbentuk lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran pilar. Alas batu yang mengkilat hitam penuh dengan ukiran tampak jelas sudah sangat sering di pakai. Prabu Narayala mengembangkan tangannya dengan telapak berada di atas, lalu dia menggumamkan mantra sambil mengangkat sedikit tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorhoradh Naidh Dhoathan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran batu bergerak naik ke atas sampai akhirnya menghilang dibalik langit-langit ruangan. Entah berapa tinggi telah dicapai, yang pasti merasakan sensasi yang tidak nyaman di perutnya ketika dirinya terangkat dengan cepat ke atas. Tak lama kemudian mereka berhenti dan tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Pintu pilar kaca segera terbuka setelah Prabu Narayala mengibaskan tanggannya. Kemudian mereka berjalan menuju relung yang tertutup. Seperti yang sebelumnya dilihat, Prabu Narayala mengibaskan tangannya dan mengucapkan mantra yang diikuti dengan terbukanya dinding relung. Mereka berdua bergerak menuju pintu yang telah terbuka. Di depan tampak seperti sebuah balkon dengan dinding batu setinggi pinggang orang dewasa.&lt;br /&gt;Matahari begitu hangat menyambut kedatangan mereka yang sekarang berada di puncak kuil Cakravartin. Kuil yang berada berada sebelah-sebelahan dengan kawah gunung Bromo. Medanggana Raya adalah kota yang berada di dalam kaldera Bromo purba. Bentangan bangunan kota dengan lansekap berundak-undak mengikuti bentuk lereng mengelilingi kawah dan Cakravartin. Setiap teras diisi oleh bangunan-bangunan rumah penduduk yang terbuat dari batu dengan atap-atap ukiran mengerucut. Pemandangan megah kota Medanggana Raya yang dikelilingi benteng setinggi seratus meter melingkar mengelilingi kota sampai ke tebing gunung Bromo. Dari tempat itu mereka dapat melihat puncak Mahameru yang menjulang tinggi. Dua kuil yang saling berhadap-hadapan Caturbhasa Mandala di lereng utara Mahameru dan Cakravartin di dalam kawah Bromo purba. Diantara keduanya membentang hamparan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kami berada di dunia manusia Bapak Narayala, bukannya tinggal di kota ini ?” Raji bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menghentikan kekagumannya akan pemandangan kota Medanggana Raya dengan pertanyaan yang memang sangat penting baginya. Alasan-alasan yang ingin diketahuinya sehingga dirinya harus tinggal di dunia manusia, sebuah asrama panti asuhan, bukannya di megahnya kota Medanggana Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala diam sesaat, seakan belum mendapatkan jawabannya. Sekelebat terlihat dia menghela nafas. Sepertinya dia sadar sudah waktunya pula Dimas mengetahui alasan sebenarnya dia berada di dunia Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, keberadaanmu di dunia manusia adalah untuk keselamatanmu. Waktu itu engkau dalam bahaya besar. Bahaya yang pernah mengancam dan akhirnya merenggut nyawa kedua orang tuamu. Waktu itu kau berusia 2 tahun, kau aku titipkan kepada Nyai Janis untuk merawatmu. Nyai Janis juga termasuk yang berasal dari dunia tengah, asalnya dari Minoan. Sampai sekarang bahaya itu terus mengancammu sehingga kami harus melindungimu setiap saat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang mereka inginkan dariku, mengapa aku sepertinya sedang diburu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas kembali bertanya. Prabu Narayala kembali menarik nafas panjang, sepertinya cerita ini sama melelahkannya dengan berlari mengelilingi kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menginginkan sesuatu yang bersemayam di dalam tubuhmu” Jawab Prabu Narayala singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tersentak kaget “Apa yang bersemayam di dalam tubuhku ?” sambil memegang dada dan perutnya. Pafi dan Raji memandang Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih ingat dengan mimpi-mimpi yang aneh yang tidak kau kenal.” Prabu Narayala terlihat begitu hati-hati berusaha menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menganggukan pertanyaan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kau lihat dalam mimpi-mimpimu adalah masa depan, masa yang telah dituliskan dalam BUKU KEHIDUPAN. Buku itu lah yang sekarang berada di dalam tubuhmu dan memberimu mimpi-mimpi mengenai masa depan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Prabu Narayala menjelaskan semua cerita mengenai BUKU KEHIDUPAN dan perang yang berkecamuk antara bangsa Narapati dengan bangsa Amukhsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi menyelamatkan dirimu, kami harus melakukan sesuatu untuk membingungkan musuh. Selain menempatkanmu di tempat yang tidak dikenal oleh bangsa Amukhsara. Kami juga membawa serta dua anak yang lain yang memiliki jam dan tanggal kelahiran yang sama denganmu. Seorang anak laki-laki keturunan bangsa Babilon dan seorang anak perempuan keturunan bangsa Minoan. Mereka adalah kedua sahabatmu Raji dan Pafi. Kami tempatkan mereka tinggal bersama denganmu agar kau tidak merasa kesepian anakku” kata Prabu Narayala menyudahi ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Pafi dan Raji tertegun mengenai kenyataan terakhir yang didengarnya. Dimas menemui kenyataan dirinya adalah buruan yang sedang dicari-cari oleh bangsa Amukhsara bukanlah hal yang menakutkan dirinya. Kenyataan bahwa kedua sahabatnya adalah umpan yang setiap saat bisa dikorbankan demi menyelamatkan dirinya adalah fakta yang menyakitkan hatinya. Ada rasa kesal dan benci dengan semua yang terjadi, tapi juga ada rasa sedih yang begitu dalam. Dimas terdiam dan menunduk tak menanggapi ataupun bertanya lagi. Prabu Narayala paham apa yang dirasakan Dimas, dia menepuk bahu Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian bertiga akan selalu aman, aku dan penjaga-penjaga yang lain akan selalu menjaga kalian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala berkata pelan dan menggiring Dimas dan kedua sahabatnya kembali ke dalam ruangan. Dimas mengikuti gerakan Prabu Narayala memasuki ruangan dan dia tidak melihat beberapa orang sudah duduk menunggu di dalam ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mempersilahkan Dimas, Raji dan Pafi duduk di antara mereka yang semuanya serentak berdiri dan menghaturkan sembah dengan telapak tangan saling menyatu di depan dada. Sembah yang sempat dia lihat dilakukan oleh Arghapati, Wirapati dan Kerthapati kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah semuanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala meminta semuanya kembali duduk di tempatnya. Dimas menatap satu persatu orang-orang yang hadir, ada enam orang termasuk dirinya. Seorang lelaki muda berpakaian hijau-hijau yang diingatnya sewaktu berada di pantai parang tritis. Seorang perempuan sangat cantik tampak duduk bersebelahan dengannya pakaian sangat indah berwarna biru laut. Dua laki-laki yang lain telah dikenal Dimas sebelumnya di kuil Caturbhasa Mandala, Kerthapati dan Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku perkenalkan, ini adalah utusan penguasa kerajaan Selatan” Prabu Narayala mulai mengenalkan lelaki berpakaian hijau-hijau yang sudah pernah dilihat Dimas sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkenalkan hamba gusti, nama hamba NIEPETHIN SONAR, hamba biasa dipanggil NIEPETHIN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu memperkenalkan diri dengan tangan kanan menyilang di dada sebelah kiri sambil membungkuk rendah. Kemudian disusul wanita cantik di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkenalkan hamba gusti, nama hamba HERITHA RADHNANA, hamba biasa dipanggil HERITHA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan gerakan hormat yang sama dengan Niepethin, Heritha kembali duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami semua adalah PAHOM NARENDRA – BATHARA SAPTHA PRABHU atau disebut tujuh penjaga BUKU KEHIDUPAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menatap Dimas yang masih kurang mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tujuh ? lalu yang dua lagi siapa ?” kata Dimas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua yang lain adalah Pafi dan Raji, kedua sahabatmu Dimas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menjawab pertanyaan Dimas yang hanya diucapkannya dalam hati. Setelah melihat semua kemegahan kota Medanggana Raya, masih ada satu yang tetap mengganjal di hati Dimas. Pertanyaan yang sangat penting mengenai asal usulnya, mengenai kedua orang tuanya. Rasa sesak tiba-tiba meledak dalam dadanya, kesedihan luar biasa mengingat kembali ingatan-ingatan masa kecilnya yang telah dibuka oleh Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah terlalu lelah hari ini nak, lebih baik kau istirahat, kita akan bertemu lagi besok di tempat yang sama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tidak puas dengan jawaban itu, ada pertanyaan lain yang harus segera mendapatkan jawabannya sekarang, tetapi sebelum kata-katanya keluar dari mulut Prabu Narayala sudah terlebih dulu bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khasaiban Gilaronan…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengucapkan mantra sambil mengusap kepala Dimas, Pafi dan Raji bergantian. Seketika ketiganya merasakan kedamaian yang luar biasa menghapus semua rasa sesak di dadanya. Beban yang terasa memuncak terasa ringan terangkat keluar dari kepalanya. Matanya melihat sekeliling ruangan yang terasa makin sempit, lama kelamaan wajah-wajah para Pahom Narendra lenyap dan akhirnya gelap gulita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ugh…arrrgggghhhhh…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menguap lebar, terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih terduduk di depan meja di ruang belajar bersama Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji…ji…bangun” Dimas mengguncang-guncang bahu Raji. Sementara Pafi yang mendengar suara Dimas terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…..aku tertidur di sini, bukankan semalam kita ……….” Pafi kebingunan. Raji juga akhirnya terbangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah….asyik sekali petualangan kita semalam” Raji berkata tanpa sadar kebingungan yang dirasakan oleh Pafi dan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa yang sebenarnya terjadi semalam, bukankah kita berada di Cakravartin, tapi mengapa tiba-tiba kita berada kembali di ruang belajar ini, apakah yang semalam hanyalah mimpi” Pafi tambah bingung. Raji baru menyadari keberadaannya juga ikut bingung dengan gaya khasnya yang menggaruk-garuk kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, tapi mana mungkin kita mengalami mimpi yang sama secara bersamaan, yang semalam itu benar-benar nyata” Dimas menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat semuanya terjawab, tiba-tiba Nyai Janis muncul dari arah pintu. Wajahnya tersenyum ramah sekali kepada ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goede Morgen Dimas, Raji, Pafi, kalian rupanya ketiduran disini” Nyai Janis menyapa ketiganya dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, kalian segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Waktu kalian tidak banyak untuk bersiap-siap” Nyai Janis menarik mereka bertiga yang bengong dengan perubahan yang begitu drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat sekolah dengan perasaan yang begitu segar adalah hal yang aneh dirasakannya pagi ini. Dimas sangat yakin bahwa semalaman dia tidak tidur tetapi berpetualang sampai pagi ke dunia Narapati. Dunia yang sekarang diketahuinya sebagai dunia tempatnya berasal. Walaupun belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai asal-usul dirinya tapi petulangan semalam memberinya perasaan yang cukup lega mengenai siapa dirinya. Tapi keraguan muncul dalam bentuk pertanyaan dalam benaknya, “mengapa dia sama sekali tidak merasakan kantuk yang luar biasa pagi ini, padahal dia tidak tidur semalaman, apakah semalam itu nyata ataukah hanya mimpi seperti mimpi-mimpinya yang lain”. Sesaat kemudian ditepisnya semua keraguan itu dengan sikap masa bodoh dan memutuskan untuk membahasnya semuanya nanti bersama dua sahabatnya Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalaman kita tidak tidur, tapi kenapa kita tidak merasakan kantuk sama sekali pagi ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata Dimas singkat dengan keyakinan bahwa kata-katanya itu akan memancing banyak pertanyaan kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak yakin apakah semalam itu Cuma mimpi atau kenyataan, karena kenyataannya kita tertidur di ruang belajar” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terus berjalan, Pafi yang juga penasaran terus mengikuti Dimas disampingnya tergesa-gesa dengan kepala yang terus menerus memandang Dimas. Raji tak kalah penasaran, setelah tadi pagi dia dibangunkan Dimas dari tidurnya, rasanya dirinya akan mati penasaran kalau tidak mendapatkan jawaban yang bisa mematahkan semua penglihatannya. Dimas diam sejenak, berpikir keras dari mana harus memulainya. Raji dan Pafi makin tidak sabar menunggunya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian ingat dua orang asing yang pernah kita lihat di jalan ini, juga sewaktu kita duduk berapi unggun dekat kali code dan juga yang mendatangi kantor Nyai Janis sewaktu kabut menutupi seluruh asrama. Bukankah mereka yang mendatangi kita semalam. Bukankah mereka betul-betul nyata, senyata kita” Dimas berkata dengan ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bapak Narayala, Kerthapati, Arghapati, Wirapati, Niepethin Sonar, Herita Redhana” Pafi menyebut nama-nama yang diingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..iya itu nama-nama orang aku ingat” Raji memperkuat Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah kita bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari dunia Narapati” Dimas bertanya kepada kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, tapi hatiku berkata bahwa apa yang terjadi semalam adalah benar dan nyata. Semuanya menjadi jelas sekarang mengapa kita bertiga berbeda dari anak-anak yang lain” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku setuju, kelebihan yang kita miliki yang tidak dimiliki anak-anak lain, keganjilan Nyai Janis, Pintu gaib yang hanya kita melihatnya, semuanya menjelaskan bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi” kata Raji memperkuat pendapat Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika benar berarti masih ada kemungkinan kita masih mempunyai keluarga lain di dunia Narapati” Dimas berkata dengan penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sederhana yang begitu saja keluar dari mulut Dimas dengan polos yang menyadarkan Pafi dan Raji akan kemungkinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan begitu, lebih baik kita tanyakan pada kesempatan kepada Bapak Narayala” kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau Nyai Janis, aku yakin dia juga pasti tahu mengenai keluarga kita, karena semalam Bapak Narayala mengatakan bahwa Nyai Janis juga adalah bangsa Narapati” kata Raji memberikan alternative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul sekali kau Raji, hal itu cukup menjelaskan mengapa dia juga memiliki kemampuan membaca pikiran, karena dia adalah bangsa Narapati” kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Dimas juga malah terdiam, wajahnya tampak dalam kekecewaan Pafi dan Raji sangat mengerti arti kekecewaan itu, kesedihan yang sama mereka rasakan, hidup dan dibesarkan tanpa orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya sampai di depan halaman sekolah yang sudah siap dengan upacara bendera. Hari senin, semua siswa harus memberikan penghormatan kepada bendera negara Hindia Belanda – Merah Putih Biru dengan tujuh bintang berwarna keemasan di tengah dasar putihnya. Acara yang paling dibenci oleh Raji. Berjemur matahari pagi sambil melantunkan lagu kebangsaan kerajaan Belanda kemudian memberikan penghormatan kepada bendera yang sedang dinaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sekolah rasanya berbeda dari hari-hari biasanya, ada kesedihan yang menyelimuti wajah Dimas. Hal itu dirasakan oleh kedua sahabat Dimas. Pafi yang paling merasakannya. Dia tak tahan kalau melihat Dimas mulai terlihat sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Mas, kenapa kau kelihatan sedih hari ini “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi memulai pembicaraan dalam perjalanan mereka pulang dari sekolah menuju asrama. Dimas berusaha menyembunyikan ekspresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…he..he.. siapa bilang aku sedang sedih, aku hanya sedang berpikir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji sebenarnya juga melihat kesedihan yang sedang dirasakan oleh Dimas, tetapi dia sangat tahu Dimas yang tidak akan membiarkan dirinya tampak sedih dan dikasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau kau tidak ingin kami SAHABATMU mengetahuinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata Pafi sambil memberi tekanan pada sebuah kata. Dimas merasa tidak enak dan bersalah kepada kedua sahabatnya. Beruntung Raji segera mengalihkan suasana dengan ceritanya. Mereka bertiga akhirnya sampai di asrama tanpa ada pertengkaran terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pengetatan kegiatan malam di asrama, Dimas, Raji dan Pafi lebih sering duduk di ruang belajar sampai pukul sembilan malam. Dalam kesibukan belajar mereka yang padat, dari arah pintu ruangan Pak Narso datang menghampiri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak, kalian dipanggil untuk segera ke kantor Nyai Janis sekarang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Narso memandang dan menunggu Dimas, Raji dan Pafi yang saling pandang kemudian menganggukan kepala kepada Pak Narso. Kemudian Dimas, Raji dan Pafi segera menuju kantor Nyai Janis. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk Ketiga remaja itu memasuki ruangan Nyai Janis yang sedang sendirian duduk di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah anak-anak” Nyai Janis tersenyum ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin perkenalkan dua tamu yang sering mengunjungi tempat ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis menunjukan tangannya ke sebelah kanannya. Tiba-tiba muncul dua sosok laki-laki yang sudah Dimas kenal semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalian sudah bertemu mereka semalam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Nyai Janis meyakinkan ketiganya bahwa apa yang terjadi semalam memang benar-benar nyata. Dimas dan Pafi tersenyum-senyum gembira. Lain halnya dengan Raji yang masih kaget terbengong-bengong menyaksikan kemunculan kedua orang yang diperkenalkan Nyai Janis kepada mereka. Walaupun dia juga semalam ikut dalam petualangan itu, tetapi kekagetan mereka tetap tampak dalam sebuah ketidak percayaan dengan apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabarmu nak” Prabu Narayala menyapa Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik Bapak Narayala, paman Arghapati ?” Jawab Dimas singkat dengan penuh senyum sambil menggangukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… Raji dan Pafi, Bagaimana kabar kalian berdua” Sapa Prabu Narayala kepada Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sa..sa…saya baik-baik saja” Jawab Raji agak terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga” Pafi menyusul dengan singkat. Prabu Narayala tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedatangan kami kemari karena urusan yang sangat penting dengan kalian bertiga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mulai membuka maksud dari pertemuan itu. Dimas, Raji dan Pafi berkerut heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berdua sekarang datang untuk menjemput kalian bertiga pindah tinggal di dunia Narapati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji dan Pafi seperti tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa…. Kami akan tinggal di dunia Narapati……” Dimas begitu bersemangat dengan suara yang bercampur getar tawa, kemudian memandang Raji dan Pafi yang juga tampak begitu gembira dalam suara getar mereka yang menahan lonjakan-lonjakan kegembiraan di jantung mereka. Tetapi sesaat kemudian Pafi berubah datar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pindah ? lalu bagaimana dengan sekolah kami ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi lumayan kritis mengenai masa depannya mempertanyakan hal-hal logis yang harus terjelaskan jika mereka bertiga tiba-tiba menghilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua sudah di atur dengan baik, kalian tidak akan membutuhkan apapun untuk dibawa, semua sudah disediakan di sana, semuanya akan dijelaskan nanti setelah kalian tiba di Cakravartin. Kita sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis menambahkan. Dimas, Raji dan Pafi hanya saling memandang tersenyum dan saling mengangguk-angguk yang begitu jelas menggambarkan khayalan mereka tentang keajaiban petualangan yang akan mereka hadapi nanti di Dunia Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendekatlah” Prabu Narayala meminta ketiga remaja itu mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari dinding ruang Nyai Janis muncul sebuah pintu yang persis sama yang berada di dalam ruang belajar. Kemudian mereka memasuki pintu tersebut dan mereka tiba di sebuah ruangan yang pernah dilihat sebelumnya. Ruangan puncak Caturbhasa Mandala di lereng gunung Mahameru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu yang sudah terbuka telah menunggu seekor Narasimha dan dua ekor Garuda kencana bersama Arghapati. Mata Pafi dan Raji menatap tidak percaya menyaksikan seluruhnya dengan mata sendiri apa yang diceritakan Dimas mengenai Dunia Narapati dan mahluk-mahluk gaibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, ikutlah Arghapati bersama Garuda kencananya, Pafi ikutlah naik Garuda bersama Kerthapati, dan kau anakku ikutlah bersamaku” Prabu Narayala menempatkan masing-masing menjadi dua orang dalam setiap kendaraan hewannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji dengan bersemangat menaiki Garuda kencana bersama Arghapati yang menyambutnya dengan senyum. Pafi yang agak ragu-ragu duduk di atas punggung Garuda yang memekik rendah ketika dirinya duduk di atas punggungnya. Kerthapati tersenyum melihat Pafi yang tersentak mendengar pekikan sang Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang senang bertemu kembali denganmu nona” Kerthapati menjelaskan arti pekikan sang Garuda. Pafi tersenyum kecut tidak mengerti maksud dari Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya naik, Garuda kencana yang ditunggangi Raji dan Pafi segera mengepakan sayapnya mengangkasa, sedangkan para Narasimha berlari menuruni tangga kuil yang sangat panjang kemudian bergerak ke utara ke arah lereng gunung bromo dimana kemegahan Medanggana Raya berdiri tegak. Petualangan baru saja dimulai, kini Dimas, Pafi dan Raji harus menghadapi dunia baru yang sama sekali belum mereka kenal. Dunia yang memberikan mereka tempat dan kedudukan yang tinggi tetapi juga berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23791635-116671690750220435?l=narapati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narapati.blogspot.com/feeds/116671690750220435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23791635&amp;postID=116671690750220435&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671690750220435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23791635/posts/default/116671690750220435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narapati.blogspot.com/2006/12/chapter-5-pahom-narendra-7-penjaga.html' title=''/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23791635.post-114341970136912668</id><published>2006-03-26T16:30:00.000-08:00</published><updated>2008-03-12T00:34:40.585-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;NYAI JANIS&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa purnama berlalu, latihan-latihan yang diterima Dimas, Raji dan Pafi telah semakin membuat matang kemampuan mereka. Setiap waktu petualangan dan pengalaman yang menakutkan dijalani Dimas, Raji dan Pafi. Tetapi dari semua petualangan yang mereka alami bagi Dimas harus kembali berhadapan dengan Nyai Janis dengan semua pertanyaannya adalah yang paling melelahkan. Pagi-pagi setelah sarapan nasi goreng buatan mbok Sinten, Nyai Janis kembali memanggil Dimas ke ruangannya. Dengan langkah gontai dan berat seperti dibebani ribuan ton besi kakinya melangkah menuju ruangan Nyai Janis. Dalam kemalasannya menemui Nyai Janis sebenarnya ada rasa penasaran yang mencuat dipikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmengertian Dimas akan keanehanan Nyai Janis yang belum lama diperlihatkannya membuatnya berpikir penasaran. Selama ini Nyai Janis terlihat wajar dan tidak menunjukan keganjilan apapun dalam sikapnya. Tetapi semenjak mimpi-mimpinya makin sering mengunjunginya sejak sebulan terakhir, Dimas merasa ada perubahan yang sangat jelas dari sikap Nyai Janis. Bukan sikap menyebalkan yang membuatnya merasa aneh, tetapi sikap Nyai Janis yang makin ingin tahu mengenai mimpi-mimpinya. Selain itu sepertinya dia seperti bisa membaca pikiran orang-orang sebelum diungkapkan dalam kata-kata sekalipun. Sejak pemanggilan dirinya yang pertama kali sebulan yang lalu, sudah 9 kali Nyai Janis memanggil dirinya secara pribadi dan menanyakan mimpi-mimpi apa yang dilihatnya dan nyaris setengah memaksa dia meminta Dimas menceritakan semuanya dengan detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah yang ke sepuluh Dimas dipanggil oleh Nyai Janis ke kantornya. Pertanyaannya tetap sama, dan jawaban yang diberikan juga tetap sama. Sejauh ini mimpi-mimpi yang dialami Dimas masih sama, walaupun ada yang lain, Dimas merasa tidak ingin menceritakannya karena hal itu akan membuatnya makin sering menemui orang yang sekarang paling malas ditemuinya. Lega rasanya lepas dari ruangan Nyai Janis. Lepas dari semua pertanyaan nyai Janis sekarang bagi Dimas mulai menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa yang setara dengan rasa lapar yang terpuaskan oleh makanan yang sangat lezat. Rasa bebas dari segala pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk dijawabnya membuat Dimas menarik napas panjang begitu memasuki pintu bangsal. Kakinya bergegas ke ruang belajar dimana tiga sahabatnya seperti biasa telah menunggu di ujung pojok ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji dan Pafi mengerti apa yang dirasakan Dimas, karena itu tidak ada satu orang pun yang memulai pertanyaan mengenai apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis. Mereka membiarkan Dimas memulai pembicaraan dan tampaknya Dimas pun tidak tega melihat rasa penasaran kedua ahabatnya begitu memuncak di ujung kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama” Keluh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak menceritakan mimpi aneh yang lain yang baru saja kau alami” Raji bertanya dengan suara agak mendesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menggelengkan kepala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku tidak ingin menceritakannya, lagi pula tidak ada gunanya bukan”. “Selama ini Nyai Janis selalu berkilah mengenai tujuannya membantu mengurangi beban di kepalaku, tapi nyatanya perbuatannya malah justru membuat kepalaku tambah pusing”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluh Dimas terdengar nelangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Dimas jangan ditanyai lagi, lebih baik kita kembali ke tempat tidur masing-masing. Sudah terlalu banyak kelelahan hari ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pafi yang terdengar dewasa dan justru aneh di mata teman-temannya yang lain. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk bertanya-tanya tanpa peduli apakah orang yang ditanya bersedia menjawab atau tidak. Tapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sebelum fajar mengufuk di timur, hal aneh terjadi dengan tiba-tiba. Kabut yang begitu tebal menyelimuti seluruh kota Jogjakarta dengan cepat, tak jauh berbeda dengan yang terjadi di asrama. Dingin udara yang tidak biasanya terasa menusuk tulang, mengkerutkan kulit yang memaksa setiap orang untuk menambahkan kulit keduanya semakin tebal demi mendapatkan kehangatan. Untungnya hari itu hari minggu, sehingga semua penghuni asrama merasa bisa bermalas-malasan. Tapi tidak demikian yang dirasakan Dimas yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ada perasaan aneh mengalir dalam hatinya yang membawanya bangkit dari tempat tidur dan melawan rasa kantuk dan dingin yang menusuk-nusuk. Dimas bergerak ke tempat tidur Raji yang masih melingkar seperti seekor kucing yang keletihan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji….Ji… bangun…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menggoyang-goyang bahu Raji yang susah sekali membuka matanya yang seakan sudah terjahit rapat dengan kelopaknya. Raji dengan malas dan memelas mencoba membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada….apa…” Kata Raji terdengar agak berat.&lt;br /&gt;“Aku merasakan ada yang aneh, ayo kita lihat keluar” Dimas menarik selimut yang menutup kaki Raji. Kontan Raji menggigil dan berusaha menarik kembali selimutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo… kau akan kehilangan hal yang menarik kalau tidak ikut” Dimas mendesiskan suaranya agar tidak terdengar yang lain yang juga sedang meringkuk melawan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berusaha memotivasi Raji agar ikut dengannya. Raji serta merta bangkit dan mengikuti Dimas tanpa peduli lagi rasa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Rasa ingin tahu dan tak ingin kehilangan hal yang menarik mendorongnya untuk melawan semua kantuknya. Mereka berdua kemudian berjalan ke bangsal perempuan dimana Pafi sudah berdiri di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kabut ini aneh sekali seperti tidak wajar, apakah kau juga merasakan ada yang aneh ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi berbicara agak mendesis. Kepala menengok kesana kemari menyapu seluruh koridor kalau-kalau ada orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…aku kira akan terjadi sesuatu, ayo kita keluar” Dimas menganggukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas dan Raji bergerak ke arah pintu keluar dekat musholla diikuti Pafi dari belakang. Ketiga remaja itu berjalan menyusuri lorong nyaris tidak terlihat lagi karena tebalnya kabut yang rupanya sudah memasuki seluruh ruangan asrama. Jejak langkah mereka terhenti di pintu asrama yang menghadap kantor Nyai Janis seberang luar asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesunyian begitu pekat menyelimuti seluruh asrama, semua penghuninya seperti tersirap pulas. Pandangan nyaris tak sanggup menjangkau lebih dari sepuluh meter. Dimas tetap berdiri di balik pintu kaca dan terus memandang ke arah pintu masuk kantor Nyai Janis. Tangannya memberi isyarat tangan kepada Raji dan Pafi agar berhenti. Seakan sedang menunggu sesuatu yang akan datang. Hatinya berdesir kemudian berdegup kencang ketika tiba-tiba keluar dari tebalnya kabut dua orang laki-laki tinggi, satu orang masih terlihat muda dan yang lainnya sudah terlihat berumur tua. Rambutnya yang putih tertutup sorban warna gading dengan jubah seperti pakaian dari wilayah timur tengah. Dimas terus mengikuti gerak-gerak tamu misterius yang kemudian berdiri di depan pintu kantor Nyai Janis. Tak ada gerakan ketukan atau suara ucapan salam, tapi seperti sudah ditunggu kedatangannya, pintu kantor Nyai Janis terbuka lebar diikuti masuknya kedua orang misterius tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa orang itu ?” Raji menoleh kepada Dimas.&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, tapi rasanya aku mengenal mereka dari apa yang mereka kenakan” Dimas menjawab Raji dengan tetap menatap tajam ke arah pintu kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pernah melihat mereka ?” Pafi menyelak di antara Dimas dan Raji. Raji yang terdorong ke samping karuan saja merasa tidak suka dan menunjukan wajah cemberutnya kepada Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mereka seperti orang yang pernah kita lihat sewaktu pulang sekolah dan yang menyapa kita dipinggir sungai, sewaktu kita sedang makan ikan bakar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku ingat, mereka adalah orang yang sama dengan orang yang tadi masuk ke kantor Nyai Janis” tambah Pafi sambil tetap memperhatikan semua yang terjadi di depan kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita mendekati kantor Nyai Janis, untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan” Pafi memberikan usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat pikiran Dimas setuju seketika dan mengajaknya bergeraknya untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis. Tetapi keraguan menderanya, sebentar keraguan itu ditepisnya dan rasa ingin tahunya mengemuka di seluruh kepalanya yang diikuti gerakan tangan membuka pintu dan bergerak mengendap keluar asrama diikuti yang lainnya yang kelihatannya setuju dengan gerakan yang dilakukan Dimas. Beruntung kabut masih tebal sehingga ketiga remaja itu dapat bergerak dengan leluasa. Mereka bergerak ke belakang kantor Nyai Janis yang memiliki jendela menghadap kebun jagung pak Narso. Jendela yang sering dipandang Dimas setiap kali Nyai Janis memanggilnya. Dimas mengendap-endap seperti setengah merangkak kemudian berjongkok persis di bawah jendela. Diikuti yang lainnya yang bersusah payah setengah merangkak karena Pafi tampaknya kesulitan dengan rambutnya yang panjang yang terus menerus disibakannya menghindari tanah, tetapi perbuatannya justru membuat rambutnya menumpuk di wajah Raji yang kelabakan mengibaskannya sambil merengut. Hampir saja Raji mengeluarkan makian yang terhenti oleh telapak tangan Pafi yang menutup mulutnya. Tangan Pafi yang bekas menyentuh tanah, karuan saja membuat mulut Raji penuh dengan remah-remah tanah humus. Raji menepis tangan Pafi sambil melotot dan membersihkan mulutnya. Dimas yang melihat ulah ketiga sahabatnya hanya dapat mengulum senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…jendelanya tidak terbuka” kata Dimas dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan perjalanan terpanjang selama hidupnya, akhirnya Raji menarik nafas lega sambil menutup mulutnya bersender disebelah Dimas, diikuti Pafi. Dimas terlihat mengkerutkan dahinya, kekhawatirannya sedari tadi muncul karena dilihatnya jendela yang tertutup sehingga mereka mungkin tidak bisa mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Ketiga remaja itu saling berhimpitan dibawah jendela. Untungnya masih ada ventilasi udara di atas jendela yang bisa menjadi jalan keluar suara-suara di dalam ruangan cukup terdengar. Tapi aneh, tidak ada satu suara pun di dalam yang berbunyi, walaupun keempat remaja itu sudah berusaha seksama mendengarkan dengan menempelkan telinga mereka ke tembok, tetap saja tidak ada suara yang mereka dengar. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Dimas merasa ada sesuatu dalam kepalanya sedang bercakap-cakap, tersamar oleh banyaknya hal yang dipikirkan olehnya. Sadar akan sesuatu yang terjadi dikepalanya, Dimas menghentikan upayanya untuk mendengarkan dengan telinganya, dia mencoba memejamkan matanya dan berkonsentrasi dengan suara-suara yang sedang bercakap-cakap di kepalanya. Melihat keadaan itu Raji dan Pafi memandang heran dengan apa yang dilakukan Dimas, Pafi menarik alisnya mencoba mendapatkan jawaban dari Raji, tapi kemudian mereka tersadar dan segera tahu apa yang telah terjadi. Dimas telah mendengar semuanya melalui pikirannya. Seperti yang selama ini yang diceritakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Nyai, saya rasa cukup sekian dulu, kami mohon pamit” Suara seorang lelaki yang terdengar begitu berat dan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah tuan, selamat jalan” Dibalas suara seorang perempuan yang sudah dikenal dengan baik, Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap kemudian semua suara lenyap dan tak ada apapun yang terdengar di dalam kepala Dimas. Bersamaan dengan itu Dimas membuka matanya dan melihat ke kiri dan kanan dimana Raji dan Pafi sedang menatapnya penuh tanya dan menunggu jawabannya. Tetapi Dimas malah bergerak kembali dengan setengah merangkak dan memberi isyarat mengajak kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu sambil tetap mengendap-endap. Seperti mengerti isyarat Dimas, Raji dan Pafi mengikutinya dari belakang. Raji berusaha menjaga jarak dengan Pafi yang masih saja tetap sibuk dengan rambutnya. Sesampainya di dalam ruangan bangsal, semua sudah tampak tidak sabar ingin mendengar apa yang diketahui Dimas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau dengar tadi, ayo ceritakan pada kami” Pafi bertanya lebih dahulu dengan agak mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas agak menghela nafas, “Aku hanya mendengar bagian akhir ketika mereka mengucapkan kata perpisahan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi mereka saling kenal ?” Pafi mencoba menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kelihatannya begitu” Dimas menjawab pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tidak sempat mendengar yang lain?” Raji mencoba mengajak Dimas mengingat-ingat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, pembicaraan sebelumnya terlalu kabur dengan isi pikiranku sendiri. Jadi aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya ruangan Nyai Janis telah ditutupi oleh sesuatu sehingga mengaburkan apapun yang ada di dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menjawabnya dengan tetap berusaha mencoba mengingat kata-kata yang sempat didengarnya diantara banyak pikiran yang berseliweran di kepalanya saat itu. Lelah, Dimas menyenderkan badannya ke tembok dan duduk jongkok di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kenapa Dimas ?” Raji ikut berjongkok dan mencoba mendapatkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sakit, ayo lebih baik kita kembali ke kamar” Pafi segera membantu memapah Dimas dari sebelah kanan dan dibantu pula oleh Raji dari sebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Dimas berkonsentrasi mendengarkan suara melalui kemampuan pikirannya telah membuatnya terlalu lelah. Mereka bertiga akhirnya kembali ke kamarnya masing-masing. Kelelahan yang dialami Dimas memang berbeda dengan yang terjadi pada kedua sahabatnya. Apa yang dilakukannya untuk mendengarkan tadi menyita energinya. Mencoba kembali tidur, tetapi ragu karena sebentar lagi waktu subuh akan datang. Walaupun lelah, matanya tak bisa diajak untuk tidur, sementara Raji sudah kembali melingkar di kasurnya, akhirnya Dimas memutuskan untuk duduk dekat jendela memandang halaman depan yang berkabut dan sedikit demi sedikit lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Azan subuh terdengar berkumandang dari Musholla. Udara tidak sedingin sebelumnya, kabut pun sudah lenyap. Di bangsal anak laki-laki dimana Dimas tidur, Nyai Janis masuk dan membangunkan seluruh isi bangsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kom…kom…wekken…. Het is zonnig, goede morgen Raji…….. hoe gaat het ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis yang biasa membangunkan berkata ramah kepada Raji. Raji nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“goede morgen nyai Janis, heel goed, dank u”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji yang masih sangat mengantuk karena semalam keluar bersama Dimas dan Pafi, terlihat begitu malas untuk segera bergegas membereskan tempat tidurnya. Di sebelahnya Dimas pun membereskan tempat tidurnya dengan mata yang kelihatan masih mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tidur lagi tadi ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas diam sejenak tak menjawab pertanyaan Raji dan kemudian menjawabnya dengan gelengan kepala. Pikirannya masih agak kacau mengenai kenyataan yang dilihatnya sebelum subuh tadi. Dahinya berkerut berusaha mengingat dan menyakinkan diri tentang apa yang sudah didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…mmm aku tidak tidur lagi, karena aku pikir waktu subuh sudah dekat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terdiam dan tanpa melanjutkan kata-katanya dia segera menyambar handuk yang ada di sampingnya meninggalkan Raji yang dalam kebingungan. Raji bergegas menyambar juga handuknya dan mengejar Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eiiiii…. Tapi apa ? kok belum selesai gitu sudah ditinggal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Raji agak merengut menunjukan cemberut kesal penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti saja ceritanya, hari ini kita akan jalan-jalan kemana ?” Dimas mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini Nyai Janis akan mengajak kita semua main ke parang tritis, katanya hari ini ada larung di sana.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas hanya menggangguk dan berjalan terus menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak yang tinggal di asrama. Mereka begitu tidak sabar mengunjungi tempat-tempat lain selain asrama dan sekolah. Nyai Janis akan membawa semua anak-anak asrama untuk berjalan-jalan. Dimas dan Raji sudah siap dengan semua bekalnya.&lt;br /&gt;“Kau bawa uang berapa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata Raji sambil menghitung-hitung uang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepuluh goelden”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Dimas sambil membetulkan tas punggungnya yang telah penuh dengan beberapa peralatan untuk perjalanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah…. Kau masih punya banyak, aku Cuma 80 sen, itu pun setelah ditambah 50 sen pemberian Nyai Janis. Aku tidak pandai menabung seperti kau” Raji agak nyengir kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, jangan jajan melulu, Tabungkan uangmu di celengan, bukannya diperut”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mengomeli Raji yang hanya tersenyum getir mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita harus berangkat cepat, atau kalian ingin menunggu Nyai Janis teriak dulu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seru Pafi melotot dengan wajah galak sambil menggendong bekalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah angkutan sudah siap di halaman asrama, sudah banyak anak-anak menaiki kendaraan seperti sebuah truk pengangkut tentara itu. Perjalanan dimulai dengan melalui jalan-jalan di dalam kota yogyakarta yang menuju arah kota Bantul di selatan. Perlu waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke pantai yang sering digunakan masyarakat jawa untuk kegiatan ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan di atas truk, Dimas cenderung lebih diam dari biasanya. Pemandangan sawah disepanjang perjalanan mereka makin membantunya untuk menerawangkan lamunannya. Semua mimpi-mimpinya yang aneh dan tidak dia mengerti, bahasa yang tidak dia pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Raji begitu asyik duduk di samping seorang gadis kecil. Wajahnya mesam-mesem mengumbar senyum kepada gadis kecil itu. Melihat tingkah Raji, Pafi merengut keras. Pandangannya dialihkan kepada Dimas yang sedang melamun memandang persawahan yang sudah matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gophanh Nekhan Sonmoran Dhitha Nekhan Sosan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dimas berbisik pelan, Pafi yang sedang asyik memandangi hamparan permadani keemasan sawah-sawah yang siap panen sempat mendengar bisikan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalimat apa yang barusan kau ucapkan, Dimas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mengalihkan tatapannya ke arah Dimas yang matanya terlihat kosong dan menerawang, seakan Pafi tidak tampak di hadapannya. Pafi mendorong bahunya ke belakang, Dimas tampak kaget dan memandang Pafi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh…ya… ada apa” Dimas terlihat sadar dan terpecah dari lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bertanya padamu, kalimat apa yang baru saja kau ucapkan tadi” Pafi mengulang kembali pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh… apa ya….” Dimas kelihatan bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu artinya, aku mendengarnya dari mimpi yang paling sering diucapkan, jadinya aku hafal” Dimas masih menggaruk-garuk kepalanya, rasanya seperti ribuan kutu rambut telah bersarang di ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau ceritakan hal ini kepada nyai Janis?” Pafi kembali bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak…tidak, aku tidak menceritakannya, aku pikir dia juga tidak akan mengerti artinya” Jawab Dimas yang alasan sebenarnya karena dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi oleh Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah coba mencari referensi mengenai bahasa itu, tapi tidak pernah aku temukan. Kedengarannya seperti bahasa India atau sansekerta” Sambung Dimas, Pafi kelihatan makin tertarik dengan yang diceritakan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah menanyakannya kepada pak Kusumo?” Pafi memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, aku malah sudah meminta pak Kusumo untuk mendengarkan, tapi beliau bilang dia tidak mengerti maksudnya. Tapi katanya lafalnya mirip dengan sansekerta, karena banyak penggunaan konsonan H di banyak kata”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas kemudian menjelaskan panjang lebar perihal diskusinya dengan pak Kusumo membahas bahasa asing itu. Dia tidak menceritakan sumber bahasa itu kepada pak Kusumo untuk menghindari timbulnya pertanyaan lain yang akan membuatnya gerah seperti yang selalu di alaminya di kantor nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan dinikmati dengan mengobrol dan tingkah polah Raji yang lucu yang kadang-kadang disahuti garang oleh Pafi. Tak terasa akhirnya mereka sampai di parang tritis saat kerumunan besar sedang mengarak sesuatu ke arah pantai. Rupanya hari itu ada upacara larung persembahan untuk laut selatan. Semua anak-anak turun dari angkutan diiringi teriakan-teriakan Nyai Janis memberikan perintah kepada seluruh anak-anak. Dimas, Raji dan Pafi segera berlari menuju pantai yang masih lumayan jauh tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Nyai Janis. Rasa khawatir ketinggalan acara larung lebih mendorong untuk ikut-ikutan berkerumun dengan penduduk yang sedang melakukan upacara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upacara apa ini pak namanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi bertanya kepada seorang lelaki tua di sebelahnya yang sedang mengamati seluruh prosesi upacara. Dimas dan Raji menengok ke arah lelaki tua itu menunggu jawaban dari pertanyaan Pafi yang juga menyentil rasa ingin tahu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini namanya upacara larung persembahan buat Nyai Roro Kidul” Lelaki tua itu menjawab singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya manggut-manggut tetapi bagi Dimas setelah lelaki tua itu menyebut nama Nyai Roro Kidul, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dalam pandangannya yang jauh ke arah sesajen yang sedang dilarung, terlihat pemuda-pemuda berbadan tegap dengan pakaian prajurit mataram berwarna hijau seperti mengawal para pelarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang memakai pakaian hijau-hijau itu siapa pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menunjuk ke arah kerumunan pelarung. Lelaki tua itu mencoba mengikuti arah telunjuk Dimas yang menuju ke arah kerumunan pelarung. Matanya menyipit mencoba meyakinkan pandangannya dan menyamakan dengan pertanyaan yang diajukan Dimas. Tapi kemudian dahinya mengkerut bingung, karena tak ada orang yang dimaksud Dimas. Tidak ada yang berbaju hijau-hijau. Hatinya sejak awal sudah menyangkal akan ada pelarung yang berani berpakaian hijau, karena warna tersebut sangat keramat dan tidak ada yang berani memakainya. Apalagi saat larung persembahan untuk Nyai Roro Kidul yang identik dengan warna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang anak mas maksud ? tidak mungkin di saat seperti ini ada yang berani berpakaian dengan warna hijau” Lelaki tua itu kembali menatap Dimas setelah yakin dengan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji dan Pafi juga merasakan keheranan yang dirasakan oleh lelaki tua itu, tetapi mereka berdua segera mengerti dan maklum dengan apa yang sedang dilihat oleh Dimas. Mereka sangat biasa melihat kemampuan Dimas dalam melihat yang gaib. Raji segera mencoba mengalihkan perhatian lelaki tua itu agar tidak bertambah keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….kamu selalu salah menyebutkan warna, itu warna biru bukan hijau. He..he… maafkan teman saya ini pak, kadang-kadang sering salah membedakan antara biru dan hijau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji berusaha tertawa dan matanya dikedipkan ketika menatap Dimas, diikuti Pafi yang ikut-ikutan tertawa bingung. Dimas paham dengan apa yang dimaksud Raji. Daripada diperpanjang akan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, habislah liburan mereka hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak… saya salah lihat” Dimas nyengir masam yang diikuti dengan gerakan menarik tangan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih pak atas penjelasannya, kami permisi dulu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi yang menyadari keadaan segera melenggang menyusul Dimas dan Raji. Ketiga remaja itu segera saja saling berbisik-bisik membahas apa yang barusan dilihat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, aku melihat mereka berpakaian hijau-hijau dengan celana pendek selutut ditutupi kain, persis seperti seorang senopati lengkap dengan blangkonnya” Dimas menjelaskan kembali apa yang sampai sekarang masih dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti apa mereka ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi bersemangat sekali mendapatkan detil penjelasan. Belum sempat Dimas menjawab pertanyaan Pafi, tiba-tiba beberapa lelaki berbaju hijau-hijau yang dilihat Dimas menoleh dan menatapnya. Kesemuanya bergerak ke arah Dimas dan teman-temannya meninggalkan kerumunan para pelarung. Hati Dimas langsung saja menclos. Raji dan Pafi melihat ekspresi Dimas yang tiba-tiba tegang menjadi cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas kenapa, apa yang mereka lakukan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji yang sedari tadi mencoba berpikir apa yang tadi dibicarakan Dimas menggoyang-goyang pundak Dimas. Raji dan Pafi sangat cemas, mereka tahu bahwa ada yang sedang dilihat Dimas dan membuatnya ketakutan. Lelaki-lelaki yang berpakaian hijau-hijau itu serempak berhenti hanya dua meter dari hadapan Dimas. Mereka semua menghaturkan sembah dengan menyatukan telapak tangan mereka di depan dada dan menundukkan kepala dengan bahu dibungkukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saavdhan Dhasi Dharona Thikhadh Sonhonabi Phakhedha” Kata seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas yang mendapatkan haturan sembah seperti itu menjadi bingung, ketakutan yang tadi dirasakannya berubah menjadi rasa heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahasa apa yang tadi dikatakannya ?”Pengucapannya mirip dengan orang-orang dalam mimpi-mimpiku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam hati Dimas bertanya-tanya. Belum sempat menjawab haturan sembah tersebut Dimas melihat mata lelaki tersebut melihat ke arah belakangnya dan tersenyum lalu bergerak mundur. Tanpa berkata-kata lagi kesemua lelaki berpakaian hijau-hijau itu menjauh dari Dimas yang mencoba menoleh ke belakangnya mencari tahu siapa yang baru saja dilihat lelaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau menoleh ke belakang, ada apa ?” Raji ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang coba dilihat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…Dimas….apakah orang yang berbaju hijau itu masih ada ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mengguncang-guncang bahu Dimas yang seperti sedang mengumpulkan semua nyawanya yang tercerai berai di ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….eh.. tidak…tidak…. Mereka sudah pergi, entah kenapa mereka pergi. Aku tadi sempat melihat dari sudut matanya memandang ke arah belakangku. Itulah mengapa aku menoleh ke belakang, karena aku pikir pasti ada sesuatu yang dia lihat dan membuatnya pergi.” Dimas menunjuk-nujuk bagian belakang sembari menjelaskan kepada ketiga temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku lihat dari tadi, tidak ada apapun di belakang kita” Pafi menolehkan kepalanya ke belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki yang berpakai hijau-hijau tadi menyapaku, mereka mengucapkan kalimat yang terdengar sama dengan yang aku dengan dalam mimpi-mimpiku” Dimas menjelaskan sambil memegang punduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah ! Berarti orang-orang yang ada dalam mimpimu itu adalah mahluk halus” Raji menarik kesimpulan dengan wajah ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau bilang dalam mimpimu anak kecil itu bernama sama denganmu, yang berarti itu adalah kau, dan ….” Pafi menghentikan kalimatnya dengan telunjuk yang mengarah malas ke Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi anak kecil itu mengucapkan bahasa yang sama dengan lelaki yang berpakaian hijau tadi, berarti anak kecil itu juga mahluk halus. Jadi tidak mungkin anak kecil itu adalah kau Dimas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji mencoba menghilangkan rasa merindingnya dengan ikut memberikan kesimpulan untuk menutup rasa takutnya yang lain akan kenyataan bahwa mungkin Dimas sahabatnya juga seorang mahluk halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T
