Senin, 19 Mei 2008

SINAR AVEDI AGUNG AU CO

Vailixi emas terus bergerak ke timur dengan kecepatan tinggi. Tidak satupun Asvin yang mengejar. Semalaman wahana itu dipaksa untuk terbang melintasi pengunungan. Dimas dan Raji memutuskan mengambil jalan memutar ke timur. Mereka tidak mau lagi melintasi wilayah Dravida dan beresiko bertempur lagi dengan mereka. Dimas ingin jalan yang lebih aman karena ada muatan berbahaya yang mereka bawa. Dua buah senjata sakti pemusnah bintang yang dicuri dari bangsa Asvin berada dalam vailixi emas. Selain tidak tahu apa yang harus dilakukan benda berbahaya itu. Dimas memutuskan untuk meminta bantuan kepada Bangsa Sinaravedi di Hoa-Binh. Fajar baru saja menyingsing di timur. Berkas cahayanya masih terasa lemah. Hutan-hutan di bawah masih begitu gelap dan belum dapat dikenali. “Kau sudah tahu dimana letak hutan para Bangsa Sinaravedi ?” Raji agak khawatir kalau Dimas tidak tahu arah mana yang dituju. “Aku rasa aku aku tahu dimana letaknya. Gandrung pernah menceritakan tempatnya kan. Mereka tinggal di pegunungan antara sungai hitam dan sungai merah. “Aku akan melihat peta dalam layarku.” Dimas menampilkan gambar peta wilayah Viet dalam layarnya. Dua buah garis yang meliuk-liuk berakhir di laut timur. “Aku menemukannya. Kita harus bergerak ke tenggara.” Dimas terus memperhatikan layarnya. Raji mengikuti saran Dimas. Kemudinya dibelokan ke kanan. Vailixi emas itu bergerak menikung dengan cepat. “Kita sudah mendekati hulu sungai merah dan sungai hitam. Bergeraklah ke balik bukit itu.” Dimas menujuk arah pegunungan di depan mereka. Raji kemudian merendahkan ketinggian terbang dan mengarahkan vailixi emas ke puncak bukit yang paling tinggi. Semakin dekat dengan puncak bukit, Raji melambatkan kecepatannya. Dimas terlihat sibuk dengan layarnya. “Raji layarku mulai tidak bekerja, semua gambar mulai hilang.” Dimas berusaha terus mengembalikan layarnya. Tetapi semakin lama layar di depan Raji makin tidak jelas. Dimas mulai merasakan apa yang sedang terjadi pada layar pemantaunya. Vailixi emas kini hilang dari kendalinya. Semuanya mati. Wahana itu meluncur jatuh dengan cepat. “Dimas aku juga kehilangan kendali. Vailixi ini akan jatuh.” Raji melepaskan tuas kemudinya. Vailixi emas itu terus meluncur jatuh dengan cepat. Dimas dn Raji masih berusaha memperbaiki kendali. Tetapi usaha mereka sia-sia. “Kita harus melompat keluar” kata Dimas. Raji mengangguk. Tetapi sesaat kemudian wahana itu seperti melambat kemudian melayang turun perlahan persis di atas rumput hutan. Dimas dan Raji saling pandang. Semua kendali mati, tetapi wahana ini bisa melayang. Dimas berpikir ini pasti ada kaitannya dengan wilayah Bangsa Sinaravedi Hoa-Binh. Raji membongkar pintu yang tertutup es buatannya. Dengan hati-hati kakinya melangkah turun dari vailixi emas. Dimas melompat dengan cepat dari belakang dan menarik Raji jatuh ke rumput. Dua larik sinar keemasan meluncur deras di atas kepala mereka dan menghantam badan vailixi emas. Wahana itu berdebum keras dan bergeser beberapa langkah. Sesaat kemudian dua larik sinar emas datang dari arah yang sama mengarah kepada mereka berdua. Dimas menutup mereka dengan pelindung gaib. Dentuman keras saat dua sinar emas pecah buyar tepat di atas Dimas. Dimas merasakan tangannya kesemutan akibat benturan itu. Raji tak mau tinggal diam, tangannya langsung menaik air di kubangan di sekitarnya membekukannya menjadi es berbentuk belati kemudian melontarkannya ke dalam rimbunan pohon sumber serangan. Tidak terdengar suara apapun. Hutan lebat yang mengelilingi lapangan rumput dan perdu itu tiba-tiba berubah menjadi bangunan. Pohon-pohon berubah menjadi pilar-pilar, cabang-cabang dan ranting menjadi langit-langit,daun-daun menjadi atap. Cahaya keemasan menebar di seluruh pilar dan langit-langit. Sebuah rombongan muncul dari dalam berdiri diam. Seorang wanita berpakaian panjang berwarna putih menjuntai ringan di terpa angin. Tangan menggenggam tongkat putih bermata batu bening bersinar kebiruan. Rambutnya berwarna kuning keemasan bermakhota kecil terurai panjang melewati bahu. Mata yang biru langit menyorot tajam. Tidak pernah ada yang sanggup bertatapan mata dengan seorang Sinaravedi. Manusia akan langsung tidur melek selama bertahun-tahun atau bahkan mati beku. Beberapa yang lain terdiri dari pria dan wanita berdiri di sekelilingnya dengan pakaian putih keemasan. “Anak Narapati datang dengan vailixi bukan hal yang seharusnya. Apakah yang tertulis memberikan buktinya sekarang ? Apakah ada sebuah penjelasan ?” Perempuan itu berbicara. Suaranya begitu lembut mendayu membuat Raji langsung tertidur pulas. Dimas berusaha sekuat tenaga mendorong rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya. “Maafkan kami, kami datang mencari tempat tinggal Sinaravedi Au Co. Kami hendak meminta pertolongan” Dimas berusaha menutup kedua kupingnya dengan jari. Tetapi suara perempuan itu begitu lembut hingga bisa masuk dengan mudah dan terus mendorong rasa kantuk Dimas. “Seribu tahun Narapati dan Sinaravedi tak memiliki hubungan, mengapa sekarang datang meminta pertolongan?” “Kami membawa senjata sakti pemusnah bintang milik Asvin.” Tiba-tiba saja Dimas merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya. Rasa dingin menjalar pelan. Dimas segera menyadari ada yang berusaha membaca pikirannya. Dengan sekuat tenaga Dimas berusaha mendorongnya keluar dari pikirannya. Rasa hangat mulai menjalari kepalanya. Dingin yang tadi mulai pudar. Tiba-tiba matanya menatap balik kepada orang yang baru saja berusaha membaca pikirannya. Sepasang mata biru milik perempuan di hadapannya. Dimas tidak sadar kalau hubungan pikirannya yang dikira telah putus saat berhasil mendorong rasa dingin itu, ternyata masih terkait. Tanpa kesadaran sendiri Dimas balik membaca pikiran orang itu. Orang itu gelagapan mendapat serangan balik dari Dimas. Dua buah cahaya saling mendorong. Cahaya kuning keemasan yang meluncur dari dahi Dimas yang telah bersinar keemasan terus mendorong cahaya perak yang meluncur dari dahi perempuan itu. Orang-orang di sekelilingnya menjaga jarak darinya. Perlahan cahaya emas menguasai semuanya dan berhasil mengurung orang yang berada di balik hutan.Tak kuasa pikirannya dibaca bolak balik oleh Dimas yang juga tidak sadar melakukannya. Orang itu mengejang tak mampu mengendalikan gerakannya. “Maafkan kelancanganku aku tidak bermaksud buruk, aku hanya ingin memastikan pada yang mulia memang berada disini.” Suara yang begitu merdu dan lembut dari perempuan itu bergema di dalam hutan kemudian memberikan salam sembah kepada Dimas yang sudah bersinar terang keemasan. Orang-orang disekitarnya ikut berlutut menyembah Dimas. Setelah mendengar permintaan maaf sinar keemasan itu mulai meredup dan hilang sama sekali. Dimas kembali kepada kesadarannya semua. Sedangkan Raji masih tertidur pulas. “Maafkan saya, apakah yang telah terjadi ?” Dimas kebingungan. Perempuan di depannya berserta para pengikutinya bangkit. Perempuan itu bersikap kembali seperti biasa. “Selamat datang di kediaman Sinaravedi. Aku Sinaravedi Agung Au Co.” Sapa perempuan itu menghampiri “Namaku Dimas dan ini temanku Raji. Kami datang untuk meminta bantuan” Kecantikan peremuan begitu mempesona. Kulitnya putih bersinar. “Aku sudah tahu anakku, sekarang masuklah !” Dimas agak bingung, Raji belum lagi sadar. Tampaknya pengaruh suara Sinaravedi Agung Au Co. Perempuan itu tersenyum geli melihat Raji. “Temanmu sepertinya kelelahan. Dia memang sedang tidur. Biarlah kami akan membawanya.” Sinaravedi Agung Au Co memberikan perintah kepada orang-orang di sekitarnya. Beberapa mengurus vailixi emas sementara yang lain membopong Raji ke dalam. Pilar-pilar lurus berbentuk batang pohon berbaris indah di sepanjang koridor masuk. Langit-langit yang dijalin dari cabang-cabang pohon yang saling berkait membentuk kubah-kubah pada setiap pertempuan empat pilar. Lantai hutan telah berubah menjadi permadani lumut hijau yang begitu empuk dan dingin. Cahaya kuning keemasan yang datang dari benda-benda bergerak melayang seperti kunang-kunang menyebar di seluruh langit-langit. Sebuah sarang menggantung di tengah-tengah kubah menjadi tempat berkumpulnya cahaya. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah balairung yang sangat megah dengan cahaya lampu berbentuk bunga terompet berjumlah ratusan menggantung lurus dengan panjang tak berarturan dari langit-langit dahan. Beberapa orang sudah menunggu memberikan salam hormat kepada Sinaravedi Agung Au Co. Perempuan cantik itu duduk di singgasananya. “Nah Dimas, beristirahatlah disini. Kau bisa melanjutkan perjalananmu besok.” “Baiklah Sinaravedi Agung” Dimas didampingi seorang Sinaravedi laki-laki menuju tempat istirahat yang telah disediakan. Di dalam kamar berkubah putih itu Raji sudah tertidur pulas di sebuah kasur. Dimas mengambil kasur kosong di sebelahnya. Badannya yang lelah direbahkan di atas kasur empuk yang memberikan rasa dingin yang ringan dan menyegarkan tubuhnya. Matanya berusaha terus dipejamkan, tetapi pikirannya terus melayang. Ada waktu yang hilang yang tidak diketahuinya. Matanya menatap Raji, tapi dia pun tidak bisa menanyakannya kepada Raji. Seingatnya Raji telah tertidur lebih dulu sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Dimas terus berusaha mengingat saat antara apa yang terjadi setelah dia merasakan ada yang membaca pikirannya hingga dia melihat kembali rombongan Sinaravedi Agung Au Co bangkit dari posisi berlutut. Apakah mungkin dirinya akhirnya tertidur akibat pengaruh suara Sinaravedi Agung Au Co ? Tapi kenapa mereka harus berlutut ? Ingin sekali rasanya Dimas bertanya kepada Sinaravedi Agung Au Co, apa yang terjadi kepadanya. Tapi niat itu urung dilakukan. Akhirnya istirahatnya hanya bisa dilakukan dengan rebahan saja. ---- *** ---- Matahari telah mencapai teriknya. Dimas dan Raji telah dibangunkan. Sinaravedi Agung Au Co memanggil mereka ke balairung. Sinaravedi Agung Au Co telah duduk di singgasananya. Dimas dan Raji diberikan duduk di sampingnya. “Dimas, Raji, sebelum kalian kembali ke Sunda Buana, Terimalah hadiah dariku.” Sinaravedi Agung Au Co menyerahkan selembar naskah yang tergulung rapi dan terikat sebuah akar kering. Dimas menerima benda tersebut yang dikenali Dimas sebagai naskah Sinaravedi. “Terima kasih Sinaravedi Agung Au Co.” “Kalian harus menyelamatkan Narapati dari kemusnahan. Gunakanlah naskah itu sebagai petunjuk. Mudah-mudahkan kalian dilindungi Sang Isvarah. Sekarang berangkatlah !” Dimas dan Raji kemudian di kawal menuju sebuah altar bundar di tengah balairung. Mereka berdua diminta naik dan berdiri di tengah altar tersebut. Seorang Sinaravedi menekan beberapa aksara di sekeliling altar. Sesaat kemudian Dimas dan Raji seperti jatuh ke dalam lubang. Bau busuk tercium menyengat saat mereka tiba di sebuah gorong-gorong. “Ah gorong-gorong lagi” pikir Raji. Mereka mengenali dimana mereka berada. Kemudian mereka kembali menyusuri lagi gorong-gorong di bawah kota Sunda Buana.

BINTANG KEMUKUS

Di Ruang Tukang Mau Tahu Dimas dan Raji menemui Pafi dan Gandrung sedang duduk lesu. Wajah Pafi terlihat begitu bosan. Gandrung malah seperti tidak bergairah sama sekali. Kedatangan Dimas dan Raji membuat mereka lebih gembira. Gandrung tak henti-hentinya menanyakan bagaimana pengalaman mereka berdua. Raji dengan semangat bercerita mengenai pengalaman mereka selama di perjalanan. Gandrung dan Pafi iri sekali dengan perjalanan Dimas dan Raji. Tetapi mereka juga merasakan beratnya perjalanan itu. “Aku bosan sekali, tidak satupun bukti kita temukan tentang Aryadwipa.” Gandrung menyandar malas di kursi. “Sudah depekan berlalu tapi sedikit sekali yang dapat ditemukan mengenai siapa orang Narapati yang sedang melancarkan rencana mengadu domba Narapati dengan Dravida.” Pafi juga mengeluh. “Mungkin kita menyelidiki orang yang salah.” Kata Raji santai. “Oh ya, kau punya pendapat lain ?” Pafi bangkit dari duduknya. “Entahlah, mungkin justru orang yang berlawanan pendapat dengan Aryadwipa adalah yang punya niat lebih hitam daripada Aryadwipa sendiri.” Raji menjawab dengan wajah yang begitu santai tanpa lagi berpikir. “Maksudmu Wardhana ? Aku juga sudah mengikuti orang itu tetapi tetap tidak mendapatkan apapun.” Suara Pafi mulai naik. “Mungkin Gandrung benar, kita sedang dalam keadaan bosan karena sudah sepekan kita melakukan hal ini tapi belum juga kelihatan hasilnya. Bagaimana kalau kita lepas dulu semua ini, kita alihkan dulu perhatian kita ke hal lain. Jalan-jalan misalnya. Paling tidak kita merayakan keberhasilan kita mencuri senjata sakti pemusah bintang dari bangsa Asvin. Jadi untuk sementara Narapati akan aman” Dimas memberikan usul. Selama sepekan berada di ruangan tertutup telah membuat semuanya bosan dan cepat menyulut pertengkaran. Usulan Dimas disambut baik oleh semuanya. “Kita akan kemana ?” Tanya Raji. “Aku ada tempat yang pasti kalian suka. Air terjun Kamandaka.” Gandrung memberikan usul. “Air terjun, ide yang bagus.” Kata Dimas penuh semangat. Seakan tenaganya kembali penuh. Air terjun Kamandaka berada di luar kota Sunda Buana. Air terjun itu menjadi tempat paling disukai dan sering dikunjungi oleh penduduk kota Sunda Buana. Di atas air terjun Kamandaka terdapat sebuah tempat pengamatan bintang atau sering disebut Astra Graha. Tebing tinggi keputihan bersemu hijau oleh lumut dan tumbuhan paku yang tumbuh bersama akar-akar yang menjulur dari atas tebing. Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung langsung menghambur ke dalam air bermain-main dengan air yang jatuh dari dinding tebing. Dinginnya air meresap ke dalam kepala mengusir semua kesumpekan yang telah mengendap selama sepekan. Tak lagi ada pertengkaran, yang ada hanya canda tawa dan kebahagiaan. Raji yang pengendali air mulai menunjukan aksinya. Memberikan pertunjukan yang menghibur semuanya. Lama sekali mereka menghabiskan waktu bermain di bawah air terjun, tanpa terasa rasa dingin mulai menyerap masuk ke dalam tulang. Udara sore yang menyebarkan dingin menambah kebekuan yang menyadarkan Dimas tentang waktu. “Sepertinya sudah sore, udara sudah mulai semakin dingin. Ayo kita naik.” Dimas mengajak teman-temannya keluar dari air. Begitu keluar dari air, Pafi memutar angin disekitar mereka mempercepat kering baju yang basah. “Ayo kita ke atas, di sana ada Astra Graha” Gandrung menunjuk ke arah ujung tebing. “Apa itu Astra Graha ?” tanya Raji. “Tempat pengamatan bintang dan benda angkasa” jawab Gandrung. Tempat yang menarik, tak satu pun yang menolak atau keberatan dengan usulan Gandrung. Apalagi bagi Dimas, memandang bulan adalah satu-satunya benda angkasa yang sering dia lihat. Menyusuri jalan yang menanjak ke atas cukup membuat lelah. Sebuah bangunan tampak sedikit demi sedikit. “Selamat sore paman Baghawan Narasatriya” Gandrung memberikan salam kepada seorang lelaki tua yang sedang asyik duduk di depan bangunan berbentuk limas. Dengan sebuah benda panjang keluar dari atapnya. “Ah selamat sore nak Gandrung. Sudah lama sekali tidak kemari. Apa kabarmu nak ?” tanya Baghawan Narasatriya itu kepada Gandrung. “Baik paman Baghawan, bagaimana kabar paman sendiri ?” tanya Gandrung balik. “Aku baik-baik saja nak, aku ada sesuatu yang pasti menarik untuk mu nak. Oh ya, siapakah teman-temanmu ini ?” Baghawan Narasatriya menyadari kehadiran Dimas, Raji dan Pafi. “Oh ya, ini teman-temanku. Dimas, Raji dan Pafi” Gandrung memperkenalkan ketiganya. Dimas, Raji dan Pafi memberikan salam. Kemudian Baghawan Narasatriya mengajak keempatnya untuk masuk. Mereka berhenti di depan sebuah meja batu yang terhubung dengan pipa panjang yang menembus atap. Di tengahnya terdapat sebuah lubang kecil gelap. Baghawan Narasatriya menundukan kepalanya mengintip ke dalam lubang kecil di tengah meja. “Lihatlah ini” Baghawan Narasatriya menyuruh Gandrung melihat melalui lubang kecil itu. Kemudian Gandrung bergantian meminta Dimas, Raji dan Pafi ikut melihatnya. “Benda apa itu paman ?” tanya Dimas yang tampak paling tertarik diantara yang lain. “Itu adalah bintang kemukus. Bintang berekor yang selalu bergerak melintasi jagat raya mengunjungi bintang-bintang lain. Bintang itu akan melintasi bumi kita dalam waktu satu purnama lagi.” Baghawan Narasatriya menerangkan. “Apakah kita bisa melihatnya dengan mata telanjang ?” tanya Pafi “Oh ya, menurut perhitunganku lintasannya akan bagitu sangat dekat dengan bumi sehingga kau akan seperti melihat matahari kembar pada siang hari.” Jawab Baghawan Narasatriya. “Langit akan terang sekali kalau begitu” kata Raji “Sangat, sangat terang. Itu baru sisi terangnya. Sisi gelapnya yang harus kita waspadai. Setiap benda angkasa memiliki gaya tarik yang akan mempengaruhi benda angkasa lainnya. Jika gaya tarik itu saling bertemu, maka gaya tariknya paling kecil akan terjebak dan terikat oleh gaya tarik yang lebih besar. Untuk bintang kemukus yang ukurannya setengah dari bumi kita dengan lintasan yang begitu dekat, maka gaya tarik bumi akan memberikan pengaruh yang cukup besar sehingga ada kemungkinan ada bagian dari bintang itu yang terlepas dan tertarik ke dalam bumi.” Kata Baghawan Narasatriya sedikit terbatuk-batuk. “Apa yang akan terjadi kepada Bumi Baghawan ?” tanya Dimas dengan nada agak cemas. “Aku sendiri belum tahu, para Bhumiguru sedang mempelajarinya dan sore ini aku menunggu jawaban dari mereka. Seharusnya mereka sudah tiba.” Jawab Baghawan Narasatriya. Beberapa saat kemudian seorang lelaki yang sudah tua dengan pakaian seperti jubah para sufi masuk ke dalam ruangan. “Selamat sore Baghawan Narasatriya, maafkan saya datang sedikit terlambat.” Lelaki tua yang berjalan mendekat memberikan salam. “Ah, Bhumiguru Ambararukma. Selamat datang.” Baghawan Narasatriya membalas salam. Sesaat ragu-ragu Bhumiguru Ambararukma melihat Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung bergantian. Baghawan Narasatriya merasakan keraguan tamunya. “Bhumiguru Ambararukma tak perlu ragu. Mereka adalah tamuku.” Baghawan Narasatriya mengenalkan satu per satu. “Baghawan ada baiknya kita berbicara empat mata saja. Tidak bijaksana membicarakan hal sepenting ini di hadapan anak-anak.” Bhumiguru Ambararukma meminta Baghawan Narasatriya menjauh. “Baiklah kalau begitu.” Baghawan Narasatriya setuju. Kemudian mereka berdua meninggalkan tempat keluar ruang Graha Astra. Dimas dan yang lainnya menunggu di dalam. Raji dan Gandrung bergantian melihat kembali teropong astra. Sementara Dimas dan Pafi memiliki rencana lain. Kemudian Dimas memejamkan matanya melakukan konsetrasi. Sementara di luar ruangan Bhumiguru Ambararukma mulai menceritakan penelitian yang dilakukannya. “Aku telah membahasnya dengan para Bhumiguru yang lain. Kami telah mendapatkan kesimpulan atas apa yang kau tanyakan.” Bhumiguru Ambararukma berhenti sebentar seperti mencoba menyatukan dirinya sebentar. “Berita bagus kalau begitu.” Baghawan Narasatriya kelihatan gembira. “Sayangnya kesimpulan kami tidak. Bila ada sebuah benda angkasa sebesar setengah bumi pada jarak setengah dari jarak bumi dan bulan, maka akan terjadi pergerakan besar pada permukaan kulit bumi. Bumi ini seperti tengkorak manusia, terdiri dari beberapa pecahan-pecahan kulit luar yang melindungi apapun yang berada di dalamnya tetap berada di dalam. Tetapi kulit permukaan bumi selalu bergerak dinamis dengan sangat pelan sehingga kita tidak merasakannya sama sekali. Akibat pergerakan itu terjadi benturan saling dorong diantara pecahan-pecahan itu sehingga mengakibatkan permukaan bumi berlekuk-lekuk seperti gunung dan lembah. Pada suatu saat tertentu benturan itu akan menimbulkan getaran yang sering kita sebut gempa atau membuat lapisan bawah rekah hingga memberikan jalan bagi keluarnya batuan cair panas dan menjadi letusan gunung berapi dan akan menjadi bencana besar. Kejadian-kejadian yang aku sebutkan tadi kemungkinan besar akan terjadi karena permukaan bumi mungkin akan mengalami ketidakseimbangan daya tarik saat benda angkasa itu berada pada jarak sedemikian dekat.” Bhumiguru Ambararukma menjelaskan kesimpulannya. “Hmm…kesimpulan yang diluar dugaan.” Baghawan Narasatriya menunduk dalam memejamkan matanya seolah sedang meresapi semua penjelasan yang diberikan Bhumiguru Ambararukma. “Apakah ada kemungkinan terjadinya banjir besar ?” Tiba-tiba Baghawan Narasatriya. “Ah,pertanyaan bagus, hampir saja aku lupa. Selain ditutupi oleh lautan, bumi kita ditutupi oleh es. Ada 2 benua es yang berada di dua kutub bumi. Keduanya bisa terpengaruh dan mengakibatkan benua-benua es itu pecah dan membanjiri lautan dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya terjadi penambahan tinggi permukaan air laut dengan ketinggian yang tidak terbayangkan. Kemungkinan akan banyak pantai dan daratan yang akan tenggelam.” Bhumiguru Ambararukma memberikan penjelasan tambahannya. Baghawan Narasatriya tertegun diam, penjelasan tambahan dari Bhumiguru Ambararukma membuatnya terkejut. “Berarti bumi kita berada dalam bahaya !” Baghawan Narasatriya menggumam. “Sepertinya demikian Baghawan.” Jawab Bhumiguru Ambararukma. “Kalau begitu kita harus memberitahu Prabu Narayala!” kata Baghawan Narasatriya dengan suara tinggi. “Ya betul, kita harus segera memberitahunya segera.” Bhumiguru Ambararukma menyetujui usul Baghawan Narasatriya. Setelah selesai pembicaraan itu, dari dalam ruangan Dimas beserta yang lainnya muncul. “Hari sudah terlalu sore, kami pulang dulu paman” Gandrung mohon pamit. “Ah, baiklah kalau begitu. Sampaikan salamku pada ayahmu nak.” Kata Baghawan Narasatriya. Setelah semunya memberikan memberikan salam Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung pergi meninggalkan Astra Graha kembali ke rumah. Malam baru saja merayap saat mereka berempat tiba di rumah. Seperti biasa Ibu Gandrung tidak terlihat terlalu khawatir dengan Gandrung. Pembawaan yang lembut dan penuh kasih sangat membuat nyaman. Pada saat makan malam Gandrung menceritakan niatnya untuk mempertemukan ayahnya dengan Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambhararukma. Ayahnya setuju dengan permintaan Gandrung setelah diyakinkan oleh Dimas, Pafi dan Raji. Malam itu setelah makan selesai Dimas, Raji dan Pafi berkumpul di kamar tanpa Gandrung. Mereka bertiga terlibat pembicaraan yang serius. Pafi menanyakan hal yang ditanyakan Dimas kepada Bhumiguru Ambararukma di Astra Graha. “Baiklah, aku hanya melihat ada keterkaitan antara penglihatanku dengan apa yang dikatakan oleh Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma. Tentu saja semua begitu jelas sekarang. Dulu kita Cuma tahu kalau ada kerajaan Narapati di lembah sunda, tetapi kita juga tahu kalau wilayah itu di jaman kita adalah lautan luas. Tetapi kita tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi kan ? Dengan apa yang dikatakan oleh Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma kini kita tahu bagaimana kerajaan Narapati bisa tenggelem ke dasar laut. Artinya bahwa kerajaan Narapati sekarang berada dalam ancaman besar terjadinya pemusnahan masal seluruh penduduknya. Cuma kita bertiga yang tahu bagaimana akhir dari lembah sunda. Tapi aku merasakan masih ada hal lain yang belum jelas sama sekali, aku tidak tahu apa itu tapi rasanya mengganjal sekali. ” Dimas menjelaskan apa yang dicuri dengarnya dari penjelasan Bhumiguru Ambararukma kepada Baghawan Narasatriya. “Mereka memang akan menyampaikan hal ini besok kepada Prabu Narayala bukan ?” Pafi masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dimas. “Apakah Prabu Narayala akan langsung percaya dengan apa yang akan disampaikan oleh Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma ? Karena bisa saja perhitungan Baghawan Narasatriya salah atau tidak tepat.” Dimas menjelaskan lagi. “Benar atau tidak perkiraan Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma, kita sudah tahu bahwa pada akhirnya Kerajaan Narapati akan tenggelam.” Kata Pafi “Tepat sekali, dan aku pikir hal ini berhubungan dengan naskah Bangsa Sinar Avedi yang aku baca.” Dimas makin menegaskan lagi. “Jadi maksudmu, naskah Bangsa Sinar Avedi yang kau baca itu adalah sebuah ramalan ?” tanya Raji. “Benar sekali, memang Patih Nara Jalaseva bilang dia tidak tahu mengenai arti dari naskah itu, karena ramalan itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Dan orang itu tidak lain adalah orang tertinggi di kerajaan ini.” Jawab Dimas. “Dan kini aku tahu “saat yang tepat” yang dimaksud oleh Asvin. Saat itu adalah saat terlemah Narapati yang sedang disibukan oleh bencana alam.” Jawab Dimas. “Jadi maksudmu Asvin tahu mengenai ramalan itu ?” tanya Raji. “Aku rasa tidak, Asvin tidak tahu ramalan itu, mereka juga tidak tahu mengenai akan munculnya bintang Kemukus satu purnama depan. Mereka hanya memanfaatkan situasi yang nanti akan terjadi.” Pafi menyela jawaban. Kelihatannya Pafi mulai mengerti apa yang dimaksud oleh dimas. “Benar sekali Pafi, jadi sebenarnya perang adu domba yang sedang direncanakan oleh Asvin bukanlah ancaman terbesar. Karena ancaman terbesar adalah kemusnahan bangsa Narapati dan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia akibat meningginya air laut.” Dimas memberikan kesimpulan terakhirnya. Mereka bertiga terus terlibat dengan pembicaraan serius mengenai usaha mereka besok. Waktu terus berlalu hingga tak ada lagi yang bisa mereka bicarakan, kemudian mereka putuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. ---- *** ---- Esok paginya Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma datang bertemu di balai paseban graha ramapati tempat dimana Penasehat Agung Patih Nara Jalaseva bekerja. “Terima kasih atas kesediaan Gusti Penasehat Agung Patih Nara Jalaseva menemui kami dan mau mendengarkan apa yang ingin kami sampaikan.” Baghawan Narasatriya menghaturkan salam. “Silahkan sampaikanlah maksud paman Baghawan.” Kata Patih Nara Jalaseva. Kemudian dengan perlahan dan seksama Baghawan Narasatriya secara bergantian dengan Bhumiguru Ambararukma menjelaskan semua hal yang kemarin telah dibahas bersama. Patih Nara Jalaseva terlihat dengan cermat mendengarkan semua penjelasan. “Apakah menurut Gusti Patih hal ini bisa disampaikan kepada Prabu Narayala?” tanya Baghawan Narasatriya. “Aku menilai penemuan ini sangatlah penting untuk disampaikan kepada Prabu Narayala. Aku akan mengatur agar paman semua bisa bertemu langsung dengan Prabu Narayala.” Jawab Patih Nara Jalaseva “Terima kasih Gusti Patih.” Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma mengucapkan salam. “Apakah ada orang yang lain tahu selain yang ada di ruangan ini paman ?” tanya Patih Nara Jalaseva. “Tidak ada Gusti Patih” jawab Baghawan Narasatriya. “Baiklah, sekarang kita berangkat ke istana.” Patih Nara Jalaseva bangkit dari kursinya. Mereka pun berangkat dari graha ramapati menuju istana. Hari ini di balairung keraton ada pertemuan besar. Di Balairung keraton para menteri dan panglima perang telah lebih dulu berada di dalam. Mata mereka memperhatikan kedatangan rombongan Patih Nara Jalaseva. Satu per satu memberikan salam. Terlihat sekali kedudukan Patih Nara Jalaseva berada di atas mereka semua. Setelah Patih Nara Jalaseva duduk, tak lama kemudian Prabu Narayala bersama Patih Naraphala datang. Semua yang hadir memberikan salam. Prabu Narayala duduk di singgasananya sambil terus memandangi orang-orang yang duduk di belakang Patih Nara Jalaseva. “Jalaseva, bisakah kau jelaskan mengapa kau membawa rombongan ?” tanya Prabu Narayala. “Maafkan saya Gusti Prabu. Saya membawa rombongan karena ada berita sangat penting yang harus disampaikan sebelum rapat ini dimulai. Saya perkenalkan kepada Gusti Prabu, mereka adalah Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma” Patih Nara Jalaseva berhenti sejenak menunggu ijin. “Sampaikanlah Jalaseva” Prabu Narayala memberi ijin. Patih Nara Jalaseva meminta Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma untuk maju dan memberikan penjelasan. “Terima kasih Gusti Prabu. Hal ini berkaitan dengan kemunculan bintang kemukus yang telah saya amati sejak beberapa purnama lalu. Menurut perhitungan saya kemunculan bintang kemukus ini akan berada pada jarak paling dekat dengan bumi kita. Jarak yang demikian dekat ini akan berpengaruh besar terhadap permukaan bumi. Untuk penjelasannya saya serahkan kepada Bhumiguru Ambararukma.” Baghawan Narasatriya mempersilahkan Bhumiguru Ambararukma menjelaskan. “Terima kasih Baghawan Narasatriya. Menurut ilmu bumi yang saya pelajari jika permukaan bumi terganggu keseimbangan daya tariknya. Maka akan menimbulkan berbagai macam bencana seperti gempa bumi, gunung meletus, terlepasnya lapisan-lapisan es dari puncak-puncak gunung dan benua-benua es yang akan membanjiri sungai-sungai dan laut sehingga akan membuat ketinggian air laut naik dan menenggalamkan banyak daratan dengan luasan yang tidak mungkin dicegah oleh manusia dengan semua peralatan yang dimilikinya. Hal ini berarti kemusnahan masal manusia.” Bhumiguru Ambararukma berhenti. Kemudian Prabu Narayala berdiri. “Apakah kalian berdua yakin dengan perhitungan itu. Karena aku tidak mau mengambil keputusan berdasarkan dugaan saja.” Tanya Prabu Narayala. “Maafkan saya Gusti Prabu, saya tidak bisa memastikan apakah semuanya akan benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya membuat dugaan berdasarkan perhitungan ilmu yang saya pelajari.” Jawab Bhumiguru Ambararukma. “Bhumiguru Ambararukma, kau jangan membuang waktu kami untuk mendengarkan sesuatu yang kau sendiri tidak yakin dengannya. Kau tahu apa hukuman untuk orang yang mempermainkan kerajaan ?” Patih Naraphala menyela dengan nada yang tinggi. “Maafkan saya Gusti Patih, tidak ada yang bisa memberikan kepastian. Bahkan sebuah ramalan pun hanya akan menjadi sebuah kata-kata tanpa arti jika tidak ada tanda-tanda yang menunjukannya akan terjadi. Kami hanya melihat tanda-tanda yang ditunjukan oleh alam semesta. Berdasarkan pengalaman dan apa yang telah kami pelajari dari pendahulu kami maka kesimpulan itulah yang kami dapatkan.” Jawab Baghawan Narasatriya. “Berani sekali kau menggurui kami.” Bentak Patih Naraphala. Semua terdiam dan tidak ada yang berani lagi bicara. Dalam kehening itu sebuah suara muncul dari belakang Patih Nara Jalaseva. “Maafkan Gusti Patih Naraphala, saya berpikir apa yang disampaikan oleh Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma akan sangat penting untuk kita. Karena sekarang kita sekarang sedang menghadapi gangguan keamanan di perbatasan utara. Saya berpendapat hal ini harus menjadi perhatian utama dan jangan sampai siapapun tahu mengenai masalah ini kecuali yang berada di ruangan ini. Karena bisa digunakan oleh musuh-musuh kita.” Kata Patih Nara Jalaseva. Prabu Narayala diam sejenak. Pandangannya menyapu semua yang berada di dalam balairung. “Apa yang kau sarankan untuk mencegah terjadinya kemusnahan masal ini Baghawan Narasatriya ?” tanya Prabu Narayala tenang. “Maafkan saya Gusti Prabu, saya tidak bisa menjawabnya Gusti. Hamba hanya bisa sarankan agar rakyat dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, mungkin untuk beberapa lama” “Maksudmu banjir ini akan berlangsung sangat lama ? dan tidak akan surut ?” Prabu Narayala mengernyitkan dahinya. “Narapati akan tenggelam menjadi lautan Gusti Prabu, Naiknya permukaan air laut akan terus berlangsung sampai bumi tidak lagi mengalami goncangan. Ada kemungkinan itu bisa berlangsung lebih dari satu purnama.” Bhumiguru Ambararukma menjelaskan dengan hati-hati sekali setelah mendapat bentakan dari Patih Naraphala. “Baiklah, Aku sangat berharap kalian salah dalam hal ini. Tetapi aku tidak bisa mengabaikannya. Aku pertimbangkan apa yang telah kalian sampaikan. Semua hal ini aku harapkan tidak keluar dari ruangan ini sampai aku mendapatkan kepastian dalam diriku untuk memutuskannya.” Prabu Narayala memberikan sabdanya. Semua yang hadir memberikan salam tunduk atas keputusan yang telah diambil. Patih Nara Jalaseva meminta Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma untuk meninggalkan balairung. Prabu Narayala memutuskan membatalkan pertemuan hari itu. Di ruang pertemuan khusus Prabu Narayala sedang berunding bersama Patih Naraphala dan Patih Nara Jalaseva. “Aku akan menemui Sinar Avedi Agung Au Co untuk menanyakan hal ini. Aku harap dia memiliki pandangan mengenai semua yang disampaikan oleh Baghawan Narasatriya dan Bhumiguru Ambararukma. Adik Naraphala, gantikanlah aku selama aku pergi, mungkin perjalanan ini perlu waktu beberapa hari. Jalaseva, walaupun aku belum mengambil sikap mengenai masalah ini, buatlah rencana bagaimana membuat sebuah perahu besar. Lakukan ini dengan diam-diam.” “Baiklah Gusti Prabu, saya akan laksanakan. Saya mohon Pamit.” Patih Nara Jalaseva meninggalkan ruangan. “Baiklah Adik Naraphala, aku akan berangkat sekarang juga” “Kakang Prabu, berhati-hatilah. Sampaikan salamku kepada Sinar Avedi Agung Au Co” “Akan kusampaikan” Prabu Narayala memasuki ruangan lain di dalam diantar oleh Patih Naraphala. ---- *** ----

NASKAH SINAR AVEDI

Dimas dan Pafi masih bergantian melihat semua pertemuan yang terjadi di balairung keraton melalui teropong tukang mau tahu. Tidak ada yang menarik untuk diketahui lagi. Mereka telah mendengar apa yang dibicarakan di balairung. Belum ada usaha untuk melakukan persiapan menyelamatkan penduduk dari ancaman banjir. Bosan dengan pengamatan Dimas melepaskan teropongnya. Hanya Pafi yang masih dengan tekun mengamati. Pafi begitu terobsesi menemukan orang yang menjadi penghianat Narapati. Tiba-tiba Dimas teringat naskah Sinar Avedi yang diberikan oleh Sinar Avedi Agung Au Co kepadanya. Dimas mengambil naskahnya. Pafi akhirnya menghentikan pengamatannya. Naskah Sinar Avedi lebih menarik perhatiannya. Lagi pula matanya sudah kelihatan jenuh dan kuyu dan dia rasa perlu pengalihan perhatian sejenak. Naskah itu akan memberikan petunjuk menyelamatkan bangsa Narapati dari kemusnahan. Gulungan itu dibuka perlahan. Garis-garis berkelok-kelok, aksara-aksara, gambar pohon, gambar gunung, dan garis-garis lengkung kecil berputar-putar tak beraturan tanpa henti. Dimas merapalkan mantranya pembuka naskah Sinar Avedi. “Ingdorthium thor savantharau anglashiatvan”. Semuanya berhenti bergerak kemudian perlahan membentuk sebuah peta. Satu per satu semua bentuk terlihat dan mulai jelas. Tetapi tidak ada satu pun yang dapat dimengerti maknanya. Gandrung menyusuri satu per satu gambar demi gambar dengan jari telunjuknya. “Sepertinya ini peta petunjuk. Ada gambar-gambar dan petunjuk.” Kata Gandrung “Kalian yakin Sinar Avedi Agung Au Co memberikan peta sebagai petunjuk menghindari kemusnahan Narapati ?” Pafi agak ragu dengan permainan petak umpet ini. “Seharusnya Sinar Avedi Agung Au Co memberikan cara termudah dengan langsung memberitahukan caranya.” Ujar Pafi Dalam hati Dimas cukup masuk akal apa yang dikatakan oleh Pafi. Jika Sinar Avedi Agung Au Co sudah tahu bagaimana menyelamatkan Narapati dari kemusnahan, seharusnya tinggal memberitahu saja. Atau Mungkin sebenarnya mereka juga sama tidak tahunya. Naskah Sinar Avedi adalah naskah yang dibuat dengan sihir-sihir kebenaran. Semua hal yang terkandung didalamnya adalah sebuah kebenaran. Naskah ini hanya memunculkan kebenaran yang ada di pikiran setiap pembukanya. Lalu kenapa harus dengan peta teka-teki segala. Mungkinkah apa yang menjadi akhir dari teka-teki ini adalah sesuatu yang begitu sangat rahasia sehingga tidaklah sembarang orang boleh mengetahuinya termasuk bangsa Sinar Avedi sendiri. “Aku yakin sekali, dengan perkataan Sinar Avedi Agung Au Co. Dia mengatakan bahwa ini adalah petunjuk. Jadi bukan jawaban. Petunjuk ini akan mengarah kepada sebuah jawaban. Jawaban itu pastilah sangat rahasia sehingga harus dibuat petunjuk rahasia lagi.” Dimas mulai memperhatikan dengan seksama gambar-gambar itu. “Aku sependapat dengan Dimas, lebih baik kita sekarang mencoba memecahkan arti dari petunjuk ini.” Kata Raji. “Kita lihat apa yang menjadi petunjuk penting di peta ini sekarang. Garis berlekuk-lekuk dan gambar-gambar gunung mengikuti sepanjang garis. Gambar sebuah tali dengan anak panah terentang di belakang barisan gunung.” Gandrung menunjuk wilayah di atas peta. “Ini adalah peta Narapati” Pafi mendapatkan jawabannya. “Ya benar, ini adalah pegunungan barisan di Swarna hingga Jawa” Gandrung membenarkan jawaban Pafi. “Kalau begitu, ini adalah kota Sunda Buana, anak panah ini seolah ditarik dari kota Sunda Buana dan ujung mata panahnya persis tepat di atas kota Rajatapura. Yang aneh disini dimana gagang busurnya ?” Dimas menujuk gambar piramida di tengah gambar kemudian menarik garis hingga ke ujung mata panah dimana sebuah piramida yang melambangkan kota Rajatapura berada. “Dan gambar gunung paling besar di antara gambar gunung yang lain ini adalah….” “Batuwara - Krakatau !” Dua kata itu disebutkan secara bersamaan. Mereka semua saling pandang. Bersamaan dengan itu semua gambar-gambar dalam peta itu bergerak liar. Tulisan demi tulisan muncul mengeluarkan sinar keemasan. Dimas mengucapkan setiap tulisan yang muncul dalam bahasa Sinar Avedi. Bintang kembar menari di cakrawala Melepaskan sembilan mata dewa Gendewa Sang Narayana membara Melepaskan busurnya di ujung Batuwara “Apa maksud kalimat itu ?” Tanya Raji. “Kalimat itu mirip sekali dengan naskah Sinar Avedi yang kau baca sewaktu di graha pustaka Sinar Avedi” Gandrung teringat kalimat naskah yang dibaca Dimas. “Saat sang kembar di puncaknya, kembaran yang lain datang. Yang satu membawa kebaikan, yang lain membawa bencana. Jiwa yang jahat tercabik tujuh, hanya dengan menyatukan bintangnya sang jiwa kembali utuh. Tetapi yang telah hitam tetap menjadi hitam. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang.” “Benar, tapi kita belum tahu apakah ada keterkaitan antara naskah itu dengan naskah yang ini. Lebih baik kita berkonsentrasi memecahkan arti dari naskah ini.” Dimas merasa naskah yang dulu dibacanya membuat hatinya benar-benar tidak nyaman. Ada sesuatu yang begitu gelap setiap kali mendengarnya lagi. Yang lain setuju untuk memberikan perhatian mereka kepada naskah di depan mereka. “Kita sudah mendengar apa yang diperkirakan oleh Gurubhumi Ambararukma mengenai munculnya bintang kemukus. Kalimat pertama –Bintang kembar menari di cakrawala- pastilah maksudnya kemunculan bintang kemukus yang akan terlihat seperti kembaran matahari di angkasa.” Pafi berhasil memecahkan kalimat pertama. “Bagus Pafi, kita sudah mendapatkan arti kalimat pertama, berikutnya kalimat kedua.” Dimas memberi semangat kepada yang lain. “Melepaskan Sembilan Mata Dewa- Mata Dewa artinya batu bintang. Mungkin sebagian atau Sembilan bagian dari bintang kemukus jatuh ke bumi akibat daya tarik bumi. Ingat apa yang dikatakan Baghawan Narasatriya mengenai akibat lintasan yang terlalu dekat. Akan ada tarik menarik antara Bumi dengan bintang kemukus itu. Karena bumi lebih besar pasti bagian bintang itu yang terlepas.” Gantian Gandrung memberikan pemecahan. Semua begitu senang dengan kemajuan yang mereka alami. “Gendewa Sang Narayana Membara- Lihat gambar anak panah ini, tanpa busur. Anak panah ini terentang bukan tanpa busur. Karena busur yang sebenarnya barisan gunung di seluruh Swarna dan Jawa. Membara artinya semua gunung-gunung itu membara siap meletus.” Raji gantian memberikan pandangannya. Tinggal baris terakhir. Giliran Dimas belum memecahkan teka-tekinya. “Melepaskan busurnya diujung Batuwara- Batuwara terletak di tengah busur gunung-gunung. Disini gambarnya paling besar, mungkin akan memberikan letusan paling besar diantara yang lain.” Dimas masih agak ragu. “Apa kaitan gunung Batuwara dengan masalah ini ?” kata Dimas. “Mungkin saja letusan gunung yang bersamaan itu menyebabkan banyak kematian.” Kata Gandrung. “Bisa saja, akibat terparah hanya akan terjadi di kota Rajatapura yang berdekatan dengan gunung Batuwara. Tetapi kota-kota lain sangat berjauhan dengan gunung. Ancaman untuk mereka hanyalah banjir besar.” Pafi memberikan pandangan lain. “Mungkin lebih baik kita tanyakan kepada ahlinya.” Raji nyeletuk ringan. “Gurubhumi Ambararukma !” kata yang lain bersama. Sebelum Raji menyadari kalau dia memberikan jalan keluarnya, yang lain sudah siap berangkat. Melihat Dimas, Pafi dan Gandrung sudah berdiri di depan pintu keluar, Raji baru tersadar celetukannya menjadi rencana bersama. Kakinya melompat mengejar yang lain. Mencari Bhumiguru Ambararukma ternyata bukan perkara mudah. Tempatnya mengajar ada di sebuah kompleks bangunan yang begitu luas. Bangunan-bangunan bertingkat empat berdiri teratur diantara pohon-pohon rindang. Siswa-siswa berjubah coklat tua bertebaran di seluruh halaman sekolah. Belajar bersama di bawah pohon, berjalan dari satu gedung ke gedung lain atau hanya sekadar duduk di anak tangga di depan pintu masuk gedung. Berbagai macam pelajaran di ajarkan dan tiap keahlian memiliki gedung sendiri-sendiri. Kali ini untuk tahu dimana seorang Bhumiguru berada maka harus mencari dimana keahlian ilmu bumi diajarkan. Setelah bertanya kesana dan kemari akhirnya Graha Bhumi ditemukan juga. Sebuah gedung tinggi dengan halaman yang agak berbeda dengan gedung lain. Tidak ada rumput, tidak ada pohon, tidak ada apapun. Hanya batu, permukaan kasar tanah dan kolam tanpa air. Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung masuk ke dalam gedung itu menemukan orang yang mereka cari sedang asyik dengan bukunya. “Selamat siang Bhumiguru Ambararukma.” Dimas memberi salam. “Ah selamat siang.” Matanya mengamati dengan seksama yang datang menyapanya. Alisnya mengerut berusaha mengingat wajah yang pernah dilihatnya. “Ah, nak…” “Dimas” , “Raji” , “Pafi” , “Gandrung” secara bergantian menyebutkan nama masing-masing. Mulut Bhumiguru Ambararukma membuka, teringat kembali dimana dirinya pernah bertemu dengan keempat anak ini. “Ahhh, Graha Astra. Ya..ya..ya...aku ingat sekarang. Apa yang bisa aku bantu?” “Kami sedang mempelajari sejarah bumi. Kami diwajibkan meminta pendapat seorang Bhumiguru untuk kami bawakan di depan kelas. Kami kemudian teringat kepada Bhumiguru Ambararukma. Kami harap tidak keberatan kami bertanya sesuatu untuk kami tulis.” Dimas memberikan alasan kedatangannya. “Ah baik sekali, dari guru siapakah kalian ?” Dimas diam sejenak, untungnya Gandrung menyelamatkannya. “Guru Antasari” jawab Gandrung. “Baiklah, pertanyaan apa yang ingin kalian tanyakan ?” Dimas memandang yang lainnya terlebih dulu. Setelah mendapatkan anggukan Dimas mulai bertanya. Pafi mengeluarkan sebuah catatan seolah-olah akan mencatat semua jawaban yang akan diberikan oleh Bhumiguru Ambararukma. “Apakah yang menyebabkan sebuah gunung meletus ?” “Oh, gunung meletus karena terjadinya penumpukan tekanan dari dalam bumi yang begitu kuat sementara jalan keluarnya tertutup. Karena tekanan di bawah lebih kuat, kemudian mendesak ke permukaan dan menimbulkan ledakan hebat.” “Seberapa besar letusan bisa terjadi ?” “Letusan bisa terjadi pada tingkatan yang berbeda-beda. Dibagi menjadi 7 tingkatan. Makin tinggi tingkatannya makin besar letusannya.” “Apa yang terjadi jika letusan pada tingkat kekuatan paling tinggi terjadi ?” “Jika letusan dengan kekuatan paling tinggi terjadi maka dia akan mampu melepaskan abu letusan tinggi sekali ke udara hingga ke lapisan terluar. Dengan berputarnya bumi, maka abu itu akan menyebar ke seluruh permukaan bumi, menyebabkan berkurangnya sinar matahari menyinari permukaan bumi. Tetapi hal itu Cuma akan menyebabkan warna matahari akan terlihat seperti kuning telur. Pada tingkat letusan paling tinggi, biasanya disertai oleh menyebarnya asam belerang ke seluruh permukaan bumi dan menyebabkan penurunan suhu bumi hingga beberapa tingkat mendekati beku. Inilah yang paling berbahaya dari letusan tingkat paling tinggi.” Pafi terus menulis. Dimas masih menyimpan satu pertanyaan lagi. “Apakah yang terjadi jika beberapa gunung meletus dalam waktu yang bersamaan pada kekuatan mendekati tingkatan tertinggi ?” Bhumiguru Ambararukma terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Tidak pernah terpikir olehnya sebelum ini mengenai adanya kemungkinan seperti itu. Jarinya seperti sedang melakukan penghitungan. Matanya bergantian menatap anak-anak di depannya. Pertanyaan itu cukup membuatnya kagum kepada mereka. “Ah, kemungkinan itu akan sangat-sangat jarang terjadi. Bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Tapi…..kalaupun seandainya terjadi, maka selain uang aku sebutkan tadi, bumi akan mengalami musim dingin yang amat panjang. Yang tidak akan sanggup dilewati oleh banyak mahluk hidup termasuk manusia. Mungkin bisa disebut sebagai pemusnah masal. Letusannya tidak banyak membawa korban jiwa, tetapi akibat setelahnya akan membawa kesengsaraan hingga berpuluh tahun lamanya.” Dimas tertegun, Pafi berhenti menulis, Raji dan Gandrung hanya bengong melihatnya. “Baiklah Bhumiguru Ambararukma, pertanyaan kami hanya sampai disitu. Terima kasih atas jawaban Bhumiguru Ambararukma. Kami akan mengerjakan tugas ini segera. Kami mohon pamit.” Dimas meminta diri. Lelaki tua itu tersenyum ramah dan tersentuh dengan tata karma yang diperlihatkan Dimas. Yang lain pun ikut berpamitan setelahnya. Pada perjalanan kembali siang sudah lewat dari ubun-ubun kepala. Pafi, Raji dan Gandrung terus saja berbicara mengenai semua yang telah disampaikan oleh Bhumiguru Ambararukma. Kini tinggal memecahkan peta berikutnya. Mereka kemudian bergegas ke ruang tukang mau tahu. Kini Dimas tahu masalah utama yang sebenarnya. Banjir besar memang masalah besar, tetapi dengan pembuatan perahu besar akan cukup membantu pemindahan ke wilayah yang lebih tinggi. Narapati bisa memulai kembali membangun kota-kota baru. Tetapi setelah bisa menghindari banjir, Narapati dihadapkan pada persoalan baru. Ancaman dari letusan gunung-gunung secara bersamaan yang akan membawa bumi ke dalam musim dingin yang sangat panjang. Dimas menggelar naskahnya di atas meja. Gambar dua buah matahari di atas peta Narapati. Matahari yang satu di laut sebelah kiri, yang lain di laut sebelah kanan. Matahari di laut sebelah kanan dikelilingi oleh sembilan bintang kecil. “Lihat Sembilan mata dewa” Pafi menunjuk Sembilan bintang kecil yang mengelilingi matahari di laut sebelah kanan. “Matahari yang dikanan berarti sebelum tengah hari, karena di sebelah timur bersama Sembilan mata dewa. Matahari yang dikiri berarti setelah tengah hari karena berada di bagian barat. Mungkin Sembilan mata dewa muncul sebelum siang.” Gandrung mencoba memberikan kesimpulannya. “Tidak, aku rasa bukan seperti itu. Bintang ini akan muncul setelah matahari lepas dari tengah hari.” Raji menyanggah, tapi semua seperti setuju dengan pendapatnya. Sesaat semuanya diam memandangi peta. Dimas berpikir apa arti dari semua gambar ini. “Matahari ini dikelilingi Sembilan bintang, sama seperti kota Sunda Buana yang dikelilingi oleh sembilan kota-kota Narapati lainnya.” Kata Pafi “Ya tentu saja, bahkan jarak letaknya pun sama persis, lihat posisi setiap bintang terhadap pusat matahari ini, persis sama dengan jarak antara Sunda Buana dengan kota-kota lainnya.” Raji memperkuat pandangan Pafi “Dan besar kecilnya ukuran bintang ini juga menggambarkan urutan besarnya kota-kota itu. Lihat, kota terbesar kedua setelah Sunda Buana adalah Rajatapura digambarkan dengan bintang yang paling besar.” Kata Gandrung “Berarti gambar ini membicarakan tentang Sembilan bintang ini. Bintang dalam bahasa Sinar Avedi adalah Satuasra.” Dimas teringat lagi naskah Sinar Avedi yang dibacanya di graha pustaka Sinar Avedi. Hatinya menclos, kesamaan antara naskah itu dengan semua hal yang sekarang ditemuinya seperti menjadi kenyataan. Tapi dirinya tidak menyukai sama sekali bagian hitam yang masih menyelimutinya. Gambar di atas naskah berubah, kalimat-kalimat dalam bahasa Sinar Avedi muncul dengan sinar keemasan bergantian.”Satuasra ! kau menemukan kata kuncinya” bisik Pafi. Gandrung membacakan kalimat demi kalimat yang muncul di atas naskah itu. Hingga akhirnya berubah menjadi gambar yang baru dan berbeda. Tidak fajar juga tak senja Gerbang naga dan garuda memandang cakrawala Gadis suci membawa berita Bersemayam di dalam yang tak terjamah Semua diam, tidak ada yang memberikan komentar. Kalimat-kalimat itu terasa sulit untuk dicerna. Pikiran mereka terus berputar-putar mencoba memahami arti dari setiap kalimat. Dimas memecahkan kehening. Mata yang lain segera terfokus kepadanya. “Tidak fajar juga tidak senja- Fajar itu ditimur, senja di barat artinya tidak di kedua arah itu. Ada dua arah yang lain yaitu di utara atau selatan. Kalau diutara tidak mungkin, karena di sana sudah ada tempat tinggal para Sinar Avedi. Tidak mungkin ada lagi sesuatu di sana, karena satu-satunya yang tersembunyi di sana sekarang ada di tangan kita. Berarti yang dimaksud adalah Selatan.” “Gerbang naga dan garuda, kau tahu artinya gandrung ?” Gandrung sekarang menjadi pusat perhatian. Wajar baginya lebih tahu dari yang lain, karena kemungkinan kalimat itu mengartikan sebuah tempat. “Tidak, aku tidak mengerti sama sekali. Tidak pernah ada tempat atau sesuatu bernama gerbang naga dan garuda. Gerbang yang aku tahu hanyalah pilar garuda selamat datang di kota Rajatapura.” Gandrung menggeleng menyerah. “Lebih baik kita cari apa yang dimaksud dengan Gerbang naga dan garuda di graha pustaka Sinar Avedi saja. Mungkin disana ada naskah yang pernah membahas masalah itu.” Pafi memberikan usul. Yang lain setuju, sepertinya kepala mereka sudah buntu dan tidak tahu lagi harus berpikir apa. “Tapi kita makan dulu yah, wekerku sudah berdering terlalu lama nih.” Raji mengusap-usap perutnya yang sudah kelaparan. Akhirnya sebelum berangkat ke graha pustaka Sinar Avedi mereka makan dulu di sebuah warung dekat pasar. Makanan yang paling nikmat sekaligus paling sedikit yang pernah mereka makan. Bukan karena porsinya yang kurang banyak, tetapi karena otot lambung mereka sudah mengembang lebih besar akibat berpikir keras. Tidak terlalu lama untuk sampai di graha pustaka kerajaan. Dengan cara membuka yang biasa mereka semua masuk ke dalam graha pustaka Sinar Avedi. Setelah mengambil salah satu naskah, Dimas membuka naskah itu dan meletakannya di atas meja. Aksara-aksara yang bergerak liar berhenti perlahan setelah Dimas menyebutkan mantra pembukanya. “Gerbang naga dan garuda adalah gerbang menuju dunia tengah yang banyak dihuni oleh Garuda dan Naga. Dunia tengah berada pada tingkatan waktu kedua dengan nilai waktu yang sama dengan dunia manusia. Dunia tengah adalah dunia yang sangat keras. Untuk memasuki dunia tengah dibutuhkan dua sifat yang saling berlawanan, hitam dan putih, baik dan jahat, benar dan salah. Tanpa keduanya dunia tengah tidak akan dapat berdiri dengan sempurna. Hanya dengan pengorbanan diri yang suci dunia tengah dapat berdiri dengan sempurna. Belum pernah ada yang bisa tinggal di dunia tengah. Menurut legenda hanya satu orang yang pernah berada di dunia tengah. Seorang gadis suci dengan pengorbanan diri yang suci. Keluarnya di pintu Ngejungan lalu dia menenggelamkan diri di laut selatan dan tidak pernah terlihat lagi hingga sekarang.” “Pintu Ngejungan, aku tahu maksudnya. Itu adalah gua Ngejungan di wilayah selatan. Kita pernah kesasar ke sana sewaktu hendak ke Rajatapura melalui lubang cacing. Kau ingat Raji !” kata Dimas. Raji mengangguk-angguk. “Kalau begitu kita sudah tahu dimana letaknya. Sebaiknya kita kesana sekarang juga, kau tahu kan tempatnya Gandrung ?.” Pafi yakin jawaban sisanya akan ada di Gua Ngejungan. Gandrung tidak yakin. “Kalau tidak salah gua itu menghadap laut selatan, di wilayah selatan jawa dekat sebuah desa bernama Tanggunggunung.” “Itu Pasetran Gondo Mayit” Pafi spontan menjawab. Dimas dan Raji langsung menatapnya. Pafi menutup mulutnya terkejut karena keceplosan. “Ayo kita kesana kalau begitu!” Dimas menggulung kembali naskahnya. Yang lain langsung bersiap berangkat. Kemudian mereka menyusuri gorong-gorong hingga tembus ke dermaga. Lubang cacing menjadi tujuan. Semua merasa sudah semakin dekat dengan jawaban mereka. Pastilah cara menyelamatkan Narapati sudah dekat. Tidak membutuhkan waktu yang lama setelah lubang cacing berhasil dibuka dan tujuan ditetapkan, mereka berempat memasuki lubang itu. Kemudian keluar di sebuah gua yang persis sudah dikenal oleh Dimas dan Raji. “Tepat sekali, gua inilah kami bertemu dengan Ratu Kerajaan Selatan.” Kata Dimas. Gua Ngejungan tidak begitu luas. Dimas melangkah lebih dulu keluar gua, diikuti yang lain. Air laut berdebur menghempaskan dirinya ke pantai lalu surut kembali. Sesaat air laut menjadi tenang, perlahan air bergerak mundur hingga ke tengah. Semua dasar laut tersingkap, banyak hewan laut yang terjebak dalam kubangan-kubangan. Perlahan sebuah dinding muncul dari dasar laut membentuk benteng yang sangat panjang dan tinggi. Gerbang terbuka. Sinar terang menyeruak dari dalam. Sebuah kereta kuda keluar dari dalam menghampiri dan berhenti di depan gua. Sesaat diam lalu pintu kereta terbuka. Seorang wanita cantik dengan pakaian hijau turun dari kereta. Tersenyum ramah, kemudian melirik Gandrung agak lama. Gandrung agak canggung dengan lirikan itu. Dimas membatin dalam hati. “Gadis suci membawa berita, bersemayam di dalam yang tak terjamah -Apakah Ratu Kerajaan Selatan adalah gadis suci yang dimaksud ? Dimas agak ragu dengan hal itu. Bukankah gadis itu sudah tenggelam di laut sela….. “Kata-kata Dimas tidak jadi dilanjutkan. “Selamat datang Narapati!” “Terima kasih Gusti Ratu” “Aku harap kalian baik-baik saja. Aku tahu inilah saat yang tepat dan kalian sudah siap. Pertemuan kita yang lalu adalah kesengajaanku mengalihkan jalur lubang cacing kalian ke tempat ini. Karena aku ingin yakin kalau kalian adalah yang telah dipilih. Dengarkanlah -Saat sang kembar di puncaknya, kembaran yang lain datang. Yang satu membawa kebaikan, yang lain membawa bencana. Jiwa yang jahat tercabik tujuh, hanya dengan menyatukan bintangnya sang jiwa kembali utuh. Tetapi yang telah hitam tetap menjadi hitam. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang- Bawalah bintangnya, Sembilan satuasra di Sembilan kuil di Sembilan kota. Datanglah pada purnama besok dengan Sembilan satuasra.” Antara terkejut dan kagum, tidak ada yang berani lagi berbicara. Semuanya patuh mengikuti petunjuk. Sang Ratu Kerajaan Selatan kemudian berkata lagi sebelum masuk kembali ke keretanya. “Kepercayaan adalah jiwa persahabatan. Persahabatan tidak akan menemukan jalan tanpa kepercayaan.” Setelah itu perempuan cantik meninggalkan gua bersama keretanya. Gerbang kembali tertutup dan lenyap. Air laut perlahan mengaliri pantai yang kering dan ombak berdebur kembali. Tidak ada kata-kata yang bisa diungkapkan. Seolah kenyataan datang terlalu cepat, hingga otak terlambat mencernanya. Tetapi bukan kenyataan bahwa sang Ratu tahu segala maksud mereka, terlebih tahu isi naskah Sinar Avedi yang dibaca oleh Dimas. Tetapi kata-kata terakhirlah yang menyerang hati mereka begitu dalam. Seakan ulu hati mereka ditonjok begitu kuat hingga rasa sesaknya mendesak ke ujung leher. Merekapun kembali ke Sunda Buana dengan rencana mengumpulkan semua Sembilan satuasra di Sembilan kuil di Sembilan kota.

PERAHU KEHIDUPAN

Kerajaan Narapati mengadakan pertemuan mendadak setelah kepulangannya dari tempat para Sinar Avedi di Hoa-Binh. Prabu Narayala memanggil semua menterinya dan panglima perang untuk hadir. “Baiklah aku ingin mendapatkan laporan kalian selama aku meninggalkan keraton.” Prabu Narayala meminta laporan dari semua menteri-menterinya. “Asvin telah melakukan serangan kepada Dravida, sekarang sedang terjadi pertempuran di utara wilayah Dravida. Narapati telah siap menjaga semua perbatasan di utara baik yang berbatasan dengan Dravida maupun dengan Asvin.” Panglima perang Ambalat Raja memberikan keterangan. “Apa yang memicu perang itu, ceritakan padaku keterangan apa yang sudah kau dapat dari telik sandimu, Ambalat Raja” tanya Prabu Narayala “Baik Gusti Prabu. Asvin menuduh Dravida melakukan percobaan senjata yang membuat perubahan cuaca di lembah tarim dan menghancurkan pertanian mereka. Dravida menyangkal tuduhan itu dan menuduh balik Asvin yang berada di balik semua kerusuhan yang terjadi di wilayah mereka di Bangla.Menurut telik sandi, Asvin telah menguasai senjata sakti pemusnah bintang. Mereka sekarang sedang membawanya untuk menyerang Dravida. Tetapi Asvin telah disusupi dan penyusup itu berhasil mencuri dua senjata sakti pemusnah bintang yang tersisa. Rencananya senjata itu akan digunakan untuk menyerang Narapati.” “Siapakah penyusup itu ?” Patih Naraphala begitu tertarik. “Tidak ada yang mengenali mereka Gusti Patih. Tetapi seorang telik sandi pernah melihat sebuah pavaratha Sinar Avedi meluncur di sekitar pegunungan Himalaya sehari sebelum penyusupan itu.” Jawab Panglima Ambalat Raja. “Sinar Avedi ? apakah mungkin mereka berada dibalik penyusupan ini ? apakah mereka masih melindungi kita ?” Patih Naraphala agak heran. “Sebuah vailixi emas yang diduga membawa dua senjata sakti pemusnah bintang terlihat melintas di utara Khitai esok harinya. Kemudian jatuh di sekitar wilayah Hoa-Binh.” Panglima Ambalat Raja menambahkan. “Tidak salah lagi, pasti Sinar Avedi telah turut campur dalam perang ini” Patih Naraphala makin yakin. “Jangan mengambil kesimpulan dulu adik Naraphala, apa yang terlihat belum tentu seperti yang terjadi” Prabu Narayala mencoba menunda menarik kesimpulan. “Lanjutkan laporanmu panglima” Panglima Ambalat Raja melanjutkan laporannya. “Sampai saat ini seluruh pasukan Narapati berjaga di perbatasan darat dan laut. Empat Pavaratha Induk Ki Salakanagara, Amartapura, Tisabamokha, Mandala Sura, telah ditempatkan di sepanjang perbatasan laut barat. Dravida tahu kalau kita sedang bersiaga. Sampai sekarang belum ada permintaan bantuan kepada Narapati. Tetapi kami telah menyampaikan pesan bahwa kami siaga membantu mereka jika diperlukan.” “Sejauh mana sekarang perang berlangsung” “Dravida masih menahan mereka di perbatasan utaranya. Himalaya sekarang menjadi ajang perang. Asvin terus mendesak, bahkan kekuatan yang mereka simpan untuk menyerang kita dikerahkan untuk membantu.” “Saya usulkan agar mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada mereka segera” Menteri urusan lintas batas memberikan usul. “Kita harus menahan diri sampai ada permintaan resmi dari Dravida. Aku tidak mau niat baik kita diartikan sebuah penyerbuan oleh mereka. Siagakan satu pavaratha induk penuh dengan bahan makanan dan pengobatan.” “Pengungsi dari wilayah Bangla sudah mulai masuk ke Pagan. Semua pengungsi telah dibuatkan tenda-tenda darurat.” Pertemuan yang sedang berlangsung serius tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang prajurit yang setengah berlari tergopoh-gopoh. Semua yang hadir seketika terdiam dan menunggu apa yang akan disampaikan prajurit itu. “Mohon maaf Gusti Prabu, hamba telik sandi yang ditempatkan di perbatasan Pagan-Bangla datang dengan sangat tidak memakai tata aturan.” “Ada apa hingga kau harus berlarian seperti ini prajurit” “Semula hamba hendak mencari Gusti Panglima Ambalat Raja, tetapi beliau dikatakan sedang berada di balairung. Hamba ada berita sangat penting untuk disampaikan mengenai perang di Dravida.” “Sampaikanlah, kami disini sedang membahasnya” “Terima kasih Gusti Prabu. Andakas dan Vrishnis hancur lebur Gusti. Asvin melepaskan senjata pamungkasnya setelah berhasil menerobos masuk wilayah Dravida. Kabar yang hamba dapat dari telik sandi sempat melihat, kedua kota itu rata dengan tanah. Badai api menghantam dengan cepat ke seluruh kota.” Baru selesai sang telik sandi bercerita, seorang prajurit datang lagi dengan keadaan yang sama. Setelah menghaturkan sembah prajurit itu langsung bercerita. “Mohon maaf Gusti Prabu, hamba datang dengan berita dari perang Dravida” “Katakan Prajurit!” “Seluruh wilayah terendam air karena seluruh sungai meluap tidak terkendali. Hampir seluruh kota pelabuhan Dravida sudah tenggelam.” “Ada lagi yang hendak kau sampaikan prajurit ?” tanya Panglima Ambalat Raja. Kedua prajurit itu menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu kembalilah ke tempat tugasmu, jalankan kembali semua tugasmu dengan sebaik-baiknya” perintah Panglima Ambalat Raja. Kedua prajurit itu pamit mundur dari balai pertemuan. Tidak ada yang berani berkata-kata lagi. Semua menunggu Prabu Narayala berbicara. Setelah mendapatkan semua berita yang cukup akhirnya Prabu Narayala memberikan sabdanya. “Aku telah bertemu dengan Sinar Avedi Agung Au Co. Aku mendapatkan petunjuk agar kita segera membuat perahu kehidupan. Perahu ini harus bisa menampung manusia, hewan dan bibit tumbuh-tumbuhan. Setiap kota kecuali Sunda Buana harus membuat sebuah perahu kehidupan dan harus mengungsikan semua penduduk hingga ketinggian yang sama dengan puncak Cakravartin.” Semua yang hadir terkejut dengan perintah Prabu Narayala. Hanya kota Sunda Buana yang tidak membuat perahu kehidupan. Tetapi Prabu Narayala tidak memberikan penjelasan lagi. Prabu Narayala berdiri meninggalkan tempat. Semua yang hadir memberikan sembah tunduk kepada titah Prabu Narayala. Pertemuan diakhiri. ---- *** ---- Di ujung teropong di ruang tukang mau tahu mata Pafi dan Gandrung sedang tekun mengikuti semua hal yang terjadi di balairung keraton. “Hei balairung keraton sedang membahas perang di Dravida” Gandrung merapatkan matanya ke teropong. Pembicaraan serius terjadi di balairung. “Apa yang mereka bicarakan ?” tanya Dimas “Asvin sudah menyerang Dravida. Mereka juga membicarakan penyusup yang mencuri vailixi emas Asvin.” Hidung Raji langsung membesar. “Apa lagi ? apa mereka mengenali penyusupnya ?” “Tidak, mereka tidak mengenali penyusupnya. Mereka hanya tahu vailixi emas yang dicuri itu mendarat di wilayah Sinar Avedi di Hoa-Binh. Dugaan sekarang mengarah kepada Sinar Avedi.” Semua hal yang terjadi di balairung secara bergantian di ceritakan oleh Pafi dan Gandrung. Tidak ada yang dilewatkan. “Prabu Narayala mengatakan beliau sudah menemui Sinar Avedi Agung Au Co. Mengapa tidak ketemu kalian disana ?” “Mungkin karena kita datang lebih dulu, dari semua laporan telik sandi mengenai adanya vailixi emas yang membawa dua senjata sakti pemusnah bintang, kelihatan Prabu Narayala tidak terkejut atau mengambil tindakan serius. Sepertinya beliau sudah tahu tentang senjata itu aman berada di Hoa-Binh.” “Dimas betul, sepertinya Prabu Narayala tahu siapa penyusup itu, hanya saja Patih Naraphala kelihatannya belum tahu.” “Tapi yang aneh kenapa Sinar Avedi Agung Au Co menyarankan Prabu Narayala membuat perahu kehidupan ? Padahal sebenarnya mereka tahu bukan itu yang bisa menyelamatkan Narapati dari kemusnahan.” “Betul juga, kalau Sinar Avedi Agung Au Co memberikan naskah rahasia yang memberi kita petunjuk bagaimana menyelamatkan Narapati, pasti beliau juga tahu isinya.” “Mungkin perahu kehidupan hanya sarana untuk mencapai gerbang naga dan garuda. Karena perjalanan darat nanti pasti tidak mungkin lagi ditempuh.” “Bagaimana menempuhnya ? gerbang itu berada di laut selatan. Untuk kota-kota yang berada di laut barat dan utara harus masuk melalui sungai. Vieth, Angkorwat, Siam, Nutana harus melalui sunda besar utara hingga ke sunda besar selatan dan keluar di Rajatapura. Sedangkan Kutai dan Mandala Sura harus menempuh sunda besar selatan hingga Rajata Pura. Kalau Pagan, Andavantara dan Shinanok cukup melalui laut barat saja.” Tidak, tidak begitu. Hanya Sembilan kota yang diperintahkan untuk membuat perahu kehidupan. Kota Sunda buana tidak. Tidak mungkin. Bagaimana mungkin Prabu Narayala tidak membuatkan perahu kehidupan untuk ibukota Narapati. Mungkin saja, karena gerbang naga dan garuda bukanlah seperti yang kita kira di gua Ngejungan. Seperti yang diceritakan sejarah gua Ngejungan adalah pintu keluar, berarti pintu masuknya di tempat lain, Sunda Buana. Sunda Buana adalah gerbang naga dan garuda menuju dunia tengah. Jadi dimana gerbang itu berada ? Penemuan sekaligus pertanyaan baru yang muncul makin liar dibenar mereka semua. Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung kini makin meyadari kalau usaha yang mereka lakukan masih sangat membutuhkan usaha dari tangan-tangan orang lain. Keberhasilan bukanlah dicapai sendiri, tetapi karena ada andil dan peran serta orang lain juga. Gerbang naga dan garuda tidak akan berarti tanpa perahu kehidupan. Apapun yang kita lakukan akan sama tidak berartinya jika dilakukan sendiri-sendiri. Kini semua usaha Narapati terpusat di Sembilan perahu kehidupan untuk sembilan kota. Dan usaha itu juga akan sangat tergantung pada usaha mereka mendapatkan Sembilan satuasra di Sembilan kuil di Sembilan kota. Waktu mereka untuk menemukannya hanya tinggal dua hari lagi, tapi kita belum juga belum dapat memecahkan arti lambang-lambang di dalam naskah.

DENDAM LAMA

Sunda Buana tidak diperintahkan membuat perahu kehidupan, tetapi ratusan prajurit dikerahkan membuat sebuah jalan yang cukup lebar dari pinggir gerbang benteng barat daya hingga menuju tebing air terjung kamandaka. Masyarakat kota Sunda Buana sendiri belum mendapatkan berita apapun mengenai akan adanya bencana yang akan melanda kota mereka. Pelabuhan kota diperbaiki dan diperluas untuk berlabuh sembilan perahu kehidupan dari sembilan kota. Usaha Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung mengalami kebuntuan dalam memecahkan teka-teki berikutnya. Sembilan batu satuasra harus segera mereka dapatkan sebelum purnama ini berakhir dan itu artinya tinggal dua pekan lagi. Akhirnya diputuskan untuk mengambil rehat sejenak dari semua teka-teki yang sudah membuat kepala mereka pusing. “Bagaimana kalau kita main dulu ke Rajatapura. Kita lihat tempat pembuatan perahu kehidupan disana” Raji memberikan usul. Yang lain seperti sudah kehilangan daya pikir untuk lepas dari kesumpekan sendiri. Hasilnya dengan mudahnya usulan Raji disetujui. Bahkan Pafi seperti tidak peduli lagi kemana mereka akan pergi, yang penting kepalanya lepas dari peta naskah itu dulu. Berjalan menuju gerbang selatan kota dimana lubang cacing berada tidaklah semenyenangkan biasanya. Gorong-gorong selatan kota tidak lagi terlalu menarik untuk dikunjungi. Raji benar-benar yang memimpin sekarang. Semangatnya tidak pernah pudar kalau sudah ingin melihat sebuah kapal. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tiba di kota Rajatapura. Sebuah dermaga terlihat di bawah gorong-gorong kota Rajatapura. Perahu yang hampir jadi telah bersandar di dermaga pembuatan kapal. Ukurannya begitu besar bahkan lebih besar dari pavaratha induk Ki Salakanagara yang sandar di sebelahnya. Sungguh suatu kerja yang sangat ajaib mengingat baru dua setengah purnama mereka membuatnya. Walaupun telah melihat sebelumnya kekaguman Raji tidak pernah turun setiap melihat kemegahan Ki Salakanagara. “Ayo kita lihat tempat pembuatan perahu kehidupan itu” Raji begitu ingin melihat bagaimana sebuah perahu dibuat. Obsesinya nyaris sama dengan melihat Ki Salakanagara. Banyak penduduk kota Rajatapura yang mendatangi tempat pembuatan perahu kehidupan. Perahu yang mereka tahu hanyalah pesanan dari ibukota kerajaan Sunda Buana. Dimas sendiri tidak melihat ada yang istimewa dari perahu kehidupan itu. Semuanya biasa saja. Peran dan tugasnyalah yang membuatnya istimewa. Hatinya lebih tenang. Paling tidak ada langkah penyelamatan yang dilakukan pada saat bencana datang nanti. Tetapi beban itu muncul kembali. Dan membuatnya merasa tertekan sekali. Bagaimana kalau dia tidak bisa mendapatkan Sembilan batu satuasra yang dibutuhkan untuk membuka gerbang dunia tengah. Keyakinannya mulai runtuh. Satu-satunya tempat berpegang kini hanya pada ketiga sahabatnya. Matanya memandang nanar kearah perahu setengah jadi di hadapannya. Beberapa lama setelah melihat-lihat di dermaga kapal, mereka lanjutkan dengan makan ikan panggang di tempat mang Jangkung. “Selamat siang mang jangkung.” Gandrung menyapa laki-laki tinggi yang sedang sibuk membersihkan sisik ikan di pinggir gubuk warungnya. “Nak Gandrung, masuk nak…mamang lagi membersihkan ikan dulu yah” Lelaki tua itu tersenyum ramah. Raji lebih dulu masuk ke dalam warung. Pisang goreng langsung mendarat di mulutnya dan mengunyah lahap. Suasana hati Dimas, Pafi dan Gandrung mulai membaik. Tingkah Raji cukup menghibur mereka. Sejenak terlupakan semua masalah teka-teki naskah Sinar Avedi. Ikan bakar menjadi pilihan bersama. Pafi menangkap wajah yang tidak asing baginya. Tetapi sulit sekali diingatnya. “Gandrung, kau ingat dengan orang itu ?” Pafi berbisik kepada Gandrung sambil menunjuk seorang lelaki muda yang sedang berjalan dengan seorang lelaki sebaya. “Dia kan Nusapati, orang yang kita lihat ikut rapat dengan menteri Narasoma, Wardhana dan Aryadwipa. Dia diam sekali waktu di rapat itu.” Kata Gandrung. “Betul, dan orang itu juga yang pernah berada di warung ini makan bersama kita waktu pertama kali kau ajak kami ke tempat ini, ingat!” Pafi mengingat kembali semua hal yang terjadi di Rajatapura sewaktu pertama kali mereka berkunjung. “Ya betul, aku ingat dia ada di meja sebelah kita” kata Dimas. “Mengapa dia ada disini ? bukankah seharusnya dia berada di Sunda Buana?” Pafi bergerak keluar warung mencari tahu kearah mana orang itu pergi. Mang Jangkung baru selesai membersihkan ikan-ikannya. Tangannya masih basah dengan air. “Mang Jangkung, mamang tahu orang itu tidak ?” Dimas menunjuk ke kejauhan. Mang Jangkung tidak kesulitan melihat orang yang dimaksud Dimas, karena di tengah hamparan pasir pantai Cuma ada dua orang itu saja yang lewat. “Oh itu den Nusapati. Memangnya kenapa ?” Mang Jangkung menjawab. “Memangnya dia sering ke tempat ini ya mang ?” Dimas yakin dengan jawaban pertama mang Jangkung sudah memberitahukan kalau Nusapati sering ke tempatnya. “Iya, dia sering ke tempat ini. Biasanya satu bulan sekali. Tapi belakangan ini malah makin sering.” Kata Mang Jangkung polos. “Mang Jangkung tahu dia punya urusan apa di kota ini ?” tanya Gandrung. “Wah, mamang mah tidak pernah tanya soal itu den Gandrung. Tapi mamang pernah mendengar pembicaraan mereka berdua tentang Pelabuhan Ratu di selatan sana.” Jawab mang Jangkung. “Memangnya ada apa aden tanya soal Nusapati ?” Mang Jangkung mulai penasaran. “Ah tidak mang, kami hanya pernah bertemu dengannya di Sunda Buana. Jadi kami pikir kami mau menyapanya.” Gandrung berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya. “Mungkin lebih baik kita menyusulnya saja” Dimas memberikan usul. Matanya menatap bergantian kepada Raji, Pafi dan Gandrung dengan isyarat. Raja yang masih sibuk mengunyah sedikit keberatan. “Benar, kita susul saja. Kita bawa saja makan siang ini untuk bekal di jalan.” Kata Pafi. “Lho jadi tidak makan disini aden semua ?” kata Mang Gandrung. “Tidak mang, kami akan membawanya saja untuk bekal diperjalanan.” Jawab Gandrung. Mang Gandrung segera membungkuskan beberapa nasi yang sudah terbungkus daun pisang dan menambah beberapa lauknya. Setelah dibayar mereka pun segera meninggalkan warung. Nusapati dengan seorang teman seperjalanannya sudah berada cukup jauh di depan. Mereka tidak memilih melewati jalan-jalan kota Rajatapura tetapi lebih memilih melewati pinggir hutan. Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung mengikuti mereka dari kejauhan. Dua ekor kuda sudah menunggu ditambatkan pada sebatang pohon. Dan dalam waktu singkat mereka berdua sudah mengendarai kuda. “Mereka menggunakan kuda, kita tidak mungkin mengejar mereka kalau dengan jalan kaki. Kita bisa kehilangan jejak. Kita harus mencari alat lain untuk mengejar mereka.” Kata Pafi “Kira-kira apa yang bisa kita gunakan untuk mengejar mereka ?” Dimas melihat ke sekeliling tempat. “Kita kembali saja ke pusat kota. Disana banyak pavaratha yang bisa kita sewa.” Usul Gandrung. “Jangan, terlalu mencolok. Nusapati bisa mengetahui kalau dirinya diikuti.” Pafi tidak setuju dengan usul Gandrung. “Lewat laut saja, lihat ada perahu.” Raji menunjuk sebuah perahu nelayan yang sedang tidak melaut berjejer rapi di pinggir pantai. Semua setuju dengan usulan Raji. Mereka pun bersama-sama mendorong sebuah perahu ke dalam air. Begitu di atas air, Raji membuat gelombang sedang untuk mendorong perahu. “Bagaimana kita bisa mengikuti arah mereka ?” tanya Gandrung. Dimas membuat siulan kecil, seekor burung laut terbang menghampiri dan hinggap di atas perahu. Dimas mengeluarkan suara-suara aneh mirip sekali suara burung itu. Kemudian burung itu terbang kearah yang ditunjuk oleh Dimas. “Kau, berbicara dengan hewan ?” Gandrung keheranan. Dimas hanya nyengir mengangguk. “Dimas berbicara dengan lebih dari duapuluh binatang.” Kata Pafi. Gandrung terlihat kagum dengan kemampuan Dimas. Dimas memandang ke langit dimana burung laut yang tadi bicara dengannya sedang melayang di langit selatan. “Raji ikuti burung itu ! Dia mengikuti persis berada di atas Nusapati” Dimas menunjuk titik hitam kecil di angkasa di depan mereka. Raji menghentakan gelombangnya lebih besar mendorong perahu berlayar lebih cepat. Pafi yang sedari tadi duduk tidak mau diam. Bersama gandrung berusaha mengembangkan layar. Kemudian menciptakan angin dorong. “Raji, kau bersihkan saja permukaan air laut di depan supaya lebih datar. Aku akan mendorong perahu ini dengan angin.” Raji menurut perintah Pafi. Duduknya berpindah ke depan perahu dan mengerahkan tenaganya menghalau setiap riak dan gelombang yang datang. Jalur yang dilalui menjadi rata sehingga perahu bergerak lebih cepat. “Pafi jangan terlalu cepat, perahu ini bisa patah” kata Dimas. Pafi mengurangi kecepatan angin dan perahu bergerak lebih pelan. Gandrung mengambil kemudi di belakang berusaha dengan susah payah mempertahankan kemudi tetap lurus. ---- *** ---- Kecepatan kuda dikurangi, jalan mulai berbukit-bukit. Nusapati menarik kekang kudanya. Kawannya dengan gerakan yang sama mengikutinya. Nusapati tidak menyadari seekor burung laut terus melayang di atasnya mengikuti kemanapun dia pergi. Hutan yang begitu rapat memaksa Nusapati untuk mengambil padang-padang rumput agar kudanya tidak terlalu sering menabrak barang-barang pohon. Jalur-jalur lama tampak di atas tanah menandakan daerah itu sering dilintasi oleh pejalan kaki atau penunggang kuda. “Warsada, kita istirahat dulu disini. Kita istirahat dulu, aku lapar sekali.” Nusapati turun dari kudanya. Warsada ikut turun dari atas kudanya lalu diikatkan di sebatang pohon. “Aku akan buat api unggun, kau carilah buruan untuk makan kita” Warsada mengumpulkan ranting kering dan menumpuknya dekat pohon. Nusapati mengambil busur panahnya di pelana kuda dan dengan cepat menarik anak panahnya melesat ke udara. Seekor burung laut berbulu hitam jatuh menghujam bumi dengan anak panah menembus dari dada hingga ke punggung. Nusapati memunggutnya lalu melemparkannya ke pinggir api unggun. “Kenapa kau membidik burung laut ? memangnya tidak ada ayam hutan ?” tanya Warsada. “Burung itu sejak tadi terus menguntit kita, ada yang mengirimnya untuk memata-matai kita.” Jawab Nusapati. “Mana mungkin ada yang memata-matai kita. Tidak ada orang yang bisa menyuruh seekor burung memata-matai orang lain.” Warsada tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nusapati. “Aku sangat yakin, burung laut bukanlah burung pengintai seperti elang. Dia akan terbang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia hanya akan berputar-putar di atas permukaan laut dimana banyak ikan berada dipermukaan air. Tapi burung ini terbang berputar-putar saat kita berhenti disini.” Nusapati yakin dengan kesimpulannya. “Baiklah, mungkin sebaiknya kita lebih waspada dan tidak menarik perhatian.” Warsada mengambil burung laut itu dan membakarnya di atas api yang sudah mulai menyala. Bau bulu terbakar begitu menyengat. Nusapati kembali merentangkan busurnya lagi sambil terus bergerak mencari ayam hutan. ---- *** ---- Perahu terus melaju dengan kecepatan sedang. Dimas terus mengamati burung laut yang membantunya untuk mengikuti gerak Nusapati. Tetapi tiba-tiba burung laut itu melayang jatuh ke bawah setelah mengeluarkan sedikit bunyi kesakitan. Dimas berusaha mengikuti dimana jatuhnya burung itu. “Berhenti, burung laut itu jatuh. Ada sesuatu yang telah menghantamnya dari bawah. Ayo kita menepi ke pantai.” Pafi mendorong perahu mereka menepi ke pantai. Dengan bantuan sedikit gelombang, Raji menghempaskan perahu itu ke tepian. Dimas melompat ke dalam air sesaat sebelum dasar perahu menyentuh pasir pantai. Kemudian menariknya ke daratan dengan bantuan gelombang yang diciptakan Raji. Setelah aman berada di daratan, Dimas memimpin berada di depan sementara yang lain mengikutinya. Tangan bergerak mengibas. Pohon-pohon perdu membungkuk memberikan jalan. “Menurut perkiraanku burung itu jatuh persis di tengah lapangan itu” Dimas menunjuk lapangan rumput yang tidak begitu luas tepat di tengah-tengah rapatnya hutan. Tidak ada apapun di sana, tetapi Pafi mencium bau yang sangat dikenalnya. Api unggun. “Lihat ! Disana ada orang.” Pafi menunjuk lurus di seberang lapangan. “Cuma ada seorang di sana, dimana Nusapati ?” kata Raji pelan. “Aku disini penguntit kecil” Nusapati tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Pafi melepaskan serangan angin berputar kearahnya. Dengan cekatan Nusapati belompat menjauh dan mendarat di atas sebuah cabang pohon. Warsada melompat berlari dari seberang lapangan. Kini Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung berada diantara kedua orang itu. “Ah, rupanya kecoak-kecoak kecil ini punya kemampuan juga. Pantas nyali kalian cukup besar untuk menguntitku. Sekarang katakan ! siapa yang menyuruh kalian mengikutiku ?” Dimas teringat suara yang didengarnya dekat pavaratha Ki Salakanegara beberapa waktu yang lalu. Nusapati lah orang yang berbicara di sana. “Dia orangnya, dia yang aku dengar di dekat dermaga Ki Salakanegara. Dia yang merencanakan mengadu domba Narapati dengan Dravida.” Dimas menunjuk kearah Nusapati yang masih bertengger di cabang pohon. “Ah kau rupanya sudah tahu kecoak kecil. Memang aku orang yang yang merencanakan semua ini. Kerusuhan di Pagan, Bangla, Serangan hama di Tarim, dan hancurnya kota-kota Dravida. Dan sebentar lagi Narapati. Ha..ha..ha…Aku tidak menyangka akan begitu mudah menghancurkan Narapati. Banjir besar, aku tinggal mempercepat prosesnya.” “Kau tidak akan berhasil, kami sudah mencuri senjata sakti pemusnah bintang dari Asvin. Sekarang Asvin tidak bisa menyerang Narapati.” Sergah Dimas berang. “Ha..ha..ha..anak bodoh! kecoak goblok! Aku yang memberi Asvin senjata pemusnah bintang. Yang kalian curi hanya dua dari duapuluh yang ada. Tujuhbelas yang lain telah aku kuasai sendiri. Dan aku akan menggunakannya untuk mempercepat Narapati tenggelam.” Warsada mengambil sikap menyerang. Pedang di pinggangnya dikeluarkan dari sarungnya. “Orang sinting! Kau akan membunuh banyak orang. Memangnya salah apa Narapati sampai kau mau membunuh begitu banyak orang ?” Pafi makin berang. “Ho..ho..ho..Narapati harus membayar semua dendamku. Aku akan membunuh semua Narapati. Narapati harus membayar semua perbuatannya kepadaku. Aku lah tahta Narapati sesungguhnya. Pemilik sah dari mahkota kerajaan Narapati yang telah dirampas seribu tahun lalu.” Nusapati menjelaskan siapa dirinya. Tidak ada yang mengerti kecuali Gandrung. “Keturunan Raja Ambarawasta. Seribu tahun lalu Raja Ambarawasta Digulingkan oleh rakyat Narapati. Raja dan seluruh keluarganya dibuang ke sebuah pulau di tengah samudra timur. Perang saudara itu membuat bangsa Sinar Avedi pindah dari Sunda Buana.” Gandrung berbisik menjelaskan. “Yah, akhirnya kau mengerti juga anak bodoh. Rupanya Narayala mengajarimu banyak tentang sejarah Narapati. Sekarang aku menuntut apa yang menjadi milikku. Tapi sebelumnya aku musnahkan dulu semua Narapati atas semua kesengsaraan yang dialami seluruh keluargaku.” “Kau tidak akan pernah berhasil. Kau harus melangkahi mayat kami dulu” Raji menyerang. Tangannya menarik air dalam sebuah kubangan air. Sebentuk bola air menggumpal kemudian memecah menjadi puluhan mata tombak. Sesaat kemudian membeku menjadi es. Raji melontarkan puluhan mata tombak es kearah Nusapati. Nusapati cukup terkejut dengan serangan itu. Kedua tangannya mengibas. Sebuah perisai gaib muncul melindunginya. Puluhan mata tombak membentur dinding gaib, mendesak titik-titik pada perisai gaib kemudian memantul kembali dan jatuh hanya dua langkah di depan Nusapati. “Ah, pengendali air. Aku tidak tahu kalau ada anak kecil pengendali air. Seranganmu cukup kejam kecoak kecil.” “Oh kau belum lihat yang lain.” Pafi mengibaskan kedua tangannya pada arah yang berlawanan. Dua angin puyuh berputar mengejar Warsada dan Nusapati. Warsada yang tidak menduga datangnya serangan terpental jauh hingga ke tengah lapangan. Sedangkan Nusapati berusaha melompat jauh dari dari cabang pohon yang dipijaknya, berpindah ke pohon yang lain. Nusapati menyerang balik dengan serangan api. Dimas menahannya dengan perisai gaib. Lidah api hanya menjulur menyapu permukaan kosong. “Gandrung berlindunglah di sana” Gandrung berlari berlindung di belakang batu-batuan besar. Raji menyongsong Nusapati yang telah siap menyerang lagi. Pafi menciptakan dua angin putting beliung kecil di kedua telapak tangannya. Siap menyerang Warsada yang sudah bangkit dengan pedang terhunus di tangan kanan. Warsada menyerang ke depan. Pedangnya membabat kearah pinggang. Pafi dengan ringan melayang mundur ke belakang. Dua angin putting beliung dilepaskan Pafi. Warsada sibuk menangkis kedua angin itu. Tetapi makin lama angin tersebut makin besar dan kemudian menyatu menjadi sebuah angin putting beliung yang sangat besar. Rumput-rumput tercabut dari tanah. Banyak ranting pohon patah tersedot alirannya. Warsada berusaha sekuat tenaga berlutut menancapkan pedangnya ke tanah. “Kau akan aku antarkan kembali ke tempat asalmu!” Pafi berkata dengan keras. Warsada terlepas dari pedangnya. Tubuhnya terhisap ke dalam putaran angin raksasa itu. Pafi melempar angin itu ke udara jauh-jauh. “Hmmm, mudah-mudahan kau mendarat di tanah, bukan di mulut hiu” Pafi mengusap-usap kedua tangannya seperti membersihkan debu yang melekat. “Gandrung, rupanya kau disini. Ayo kita nonton saja pertunjukan kembang api itu” Pafi duduk di atas batu di sebelah Gandrung. “Kau hebat sekali, kau buang kemana dia ?” tanya Gandrung. “Mungkin ke samudra barat. Kalau beruntung dia ditolong nelayan Dravida.” Pafi tertawa cekikikan. Gandrung ikut tertawa dengan ulah Pafi. Raji dan Dimas masih sibuk bertarung dengan Nusapati. Beberapa lidah api membakar pohon-pohon tanpa ampun. Raji dengan cepat memadamkannya. Berkali-kali Nusapati melontarkan lidah api. Dimas dan Raji belum pernah mendapat lawan pengendali api. Mereka tidak pernah melihat bagaimana seorang pengendali api menciptakan serangannya. Dimas dan Raji cukup kewalahan menahan serangan-serangannya. Nusapati terlihat sudah sangat berpengalaman dalam menggunakan kekuatannya. Serangan Raji sangat tergantung dengan jumlah air yang tersedia. Di dalam hutan itu jarang sekali air. Menarik dari laut yang cukup jauh atau dari dalam tanah memerlukan tenaga yang sangat besar. Lagi pula dirinya terlalu sibuk menangkis serangan juga memadamkan api yang mengenai pohon-pohon. Dimas juga masih sulit mengunci Nusapati dengan ikatan-ikatan ranting-ranting pohon. Semua ranting langsung hangus menjadi arang setiap kali berusaha mengikatnya. Nusapati tidak pernah turun sekalipun ke tanah. Hal ini membuat Dimas tidak bisa menggunakan bumi sebagai tempat untuk menjebaknya. Sepertinya Nusapati tahu kekuatan Dimas berasal dari bumi. Pafi mulai gerah melihat pertempuran yang hanya berputar-putar saja. Dalam sekejap tubuhnya sudah melayang masuk ke dalam arena pertempuran. Angin putting beliung yang dibuatnya membuat Nusapati kehilangan keseimbangan. Pafi terus mendorong Nusapati dengan badai. Sedangkan Raji terus menyerangnya dengan lidah-lidah air. Kecepatan Nusapati mulai berkurang. Serangan-serangannya mulai berkurang jumlahnya. Nusapati mulai merasakan dirinya terdesak. Dengan cepat sebuah serangan besar dilakukan. Api menjalar ke seluruh hutan. Angin ciptaan Pafi malah membantu api semakin besar. “Pafi hentikan, seranganmu malah membuat api ini semakin besar.” Kata Raji yang kewalahan memadamkan api dengan air yang terbatas. Asap mengepul memenuhi seluruh hutan. Pandangan menjadi sangat terbatas. Kesempatan itu digunakan Nusapati untuk meloloskan diri. “Pafi dorong asap-asap ini ke angkasa.” Pinta Dimas. Pafi memutar anginnya menjadi angin putting beliung yang sangat besar. Menghisap semua yang terbakar dan asap ke angkasa. Dalam sekejap hanya tersisa tonggak-tonggak pohon yang hangus menghitam. Kesempatan terakhir Raji mengguyurnya dengan air yang tersisa. “Nusapati kabur!” Gandrung menghampiri Dimas. “Dia kabur dengan jalan kaki. Aku telah mengusir kudanya tadi.” Kata Pafi. “Ayo kita kejar dia” Raji berlari kearah Nusapati pergi. Yang lain berlari mengikuti Raji. Pafi sesekali melayangkan dirinya ke udara melewati puncak pohon mencari arah kaburnya Nusapati. “Dia ada di sana, tidak terlalu jauh dari kita.” Pafi menunjuk ke timur. Raji terus berlari mengejar. Dimas membuka jalan dengan membuat semua pohon menyebar memberi jalan. Gandrung tampak sudah sangat kelelahan mengikuti lari Raji dan Dimas yang begitu cepat. Tak lama kemudian mereka sudah bisa melihat bayangan Nusapati berada di depan mereka. “Kita harus menangkapnya. Hanya dia yang tahu dimana sisa senjata sakti pemusnah bintang diletakan.” Dimas agak khawatir dengan keberadaan senjata pemusnah itu. Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah lapangan dimana dua buah Vailixi kelas penggempur jarak jauh. Dimas melihat Nusapati memasuki pintu wahana itu. Wahana yang sama persis dengan yang dicurinya dari Asvin beberapa waktu yang lalu. “Dia akan membawa Vailixi itu terbang. Ayo kita cegah dia. Jangan sampai Vailixi itu mengudara. Dunia akan hancur kalau kita terlambat.” Pafi berteriak mengejar. Tetapi telat. Nusapati telah menutup pintu wahana itu. Pafi melancarkan serangan bertubi-tubi kearah wahana itu. Tidak satupun kerusakan terjadi. Bahkan wahana itu tidak bergerak sama sekali. Sebuah selubung pelindung menahan setiap serangan. “Percuma, kita harus menjatuhkannya dari udara.” Kata Dimas “Dengan apa ?” tanya Pafi “Dengan itu” Raji menunjuk Vailixi yang lain. “Ayo kita ke sana” Dimas berlari memasuki pintu Vailixi itu. Yang lain ikut masuk. Vailixi Nusapati telah mengudara. “Wahana ini mirip dengan yang aku kemudikan dari Asvin dulu. Aku bisa menjalankannya.” Dimas menekan tombol-tombol di atas papan pengendali. Beberapa saat kemudian Vailixi itu menyala. “Pafi kau ambil tempat pengendali arah. Raji dan Gandrung ambil senjata penembak.” Dimas membagi tugas masing-masing. “Lihatlah layar kalian masing-masing. Beritahu aku status kalian.” “Vailixi Nusapati bergerak ke barat laut. Kalau menurutnya benar masih ada tujuhbelas senjata sakti pemusnah bintang. Maka dia membawa tujuh senjata itu. sepuluhpuluh yang lain berada di Vailixi ini.” Pafi membaca layar pengendalinya. “Penembak bintang merah siap” Raji memegang tuas pengendali senjata duduk di belakang Dimas. “Penembak bintang biru siap” Gandrung juga memegang tuas pengendali senjata duduk di belakang Pafi. Layar pengendalinya memberikan pemandangan di luar wahana. Dua Lingkaran merah dan kuning bergerak saat tuas digerakan. “Atur kedua lingkaran itu hingga menyatu dengan tepat, barulah kalian tembakan senjata kalian.” Dimas mengingatkan Raji dan Gandrung. “Senjata sakti pemusnah bintang terkunci. Ayo kejar penghianat itu” Pafi memberikan komando. Suaranya begitu lantang dan galak. Dimas mengendalikan tuasnya. Vailixi itu terbang dengan muda kemudian melayang dengan cepat mengejar Nusapati. Pengalamannya ke negeri Asvin memberinya pengalaman dalam mengendalikan wahana terbang. Kejar-mengejar terjadi. Nusapati mengarahkan Vailixinya menuju kota Rajatapura. “Kita harus menghalaunya dari Narapati. Dia tidak boleh ke kota-kota Narapati.” Gandrung terlihat cemas sekali. “Aku akan memaksanya bergerak ke barat.” Dimas menambah kecepatan mengambil jalur melambung lebih ke utara. Vailixi Nusapati bergerak lurus menuju Rajatapura. Tembakan demi tembakan sinar biru dan merah di lepaskan kearah Vailixi Nusapati. Vailixi itu mengambil gerakan menghindar ke kiri. Semua tembakan terus diarahkan ke lambung kanan wahana. Memaksa Nusapati mengarahkan kemudinya bergerak menghindar ke kiri hingga tidak sadar arahnya telah bergeser ke barat. Tiba-tiba Nusapati mengubah arah Vailixinya menuju selatan. Dengan kecepatan tinggi Vailixi Nusapati melesat lurus ke selatan. Dimas mengikutinya dengan kecepatan yang sama. “Kenapa dia bergerak ke selatan ?” Dimas bertanya pada Pafi. “Pangkalan Narapati di Rajatapura rupanya menangkap kehadiran kita. Lima pavaratha sedang meluncur kearah kita. Mungkin Nusapati tidak mau berhadapan dengan mereka.” Pafi menjelaskan isi layarnya. “Pegangan teman-teman” Dimas menarik tuasnya kuat-kuat membuat semua yang duduk terhentak ke belakang oleh peningkatan kecepatan. Langkah seribu juga harus diambilnya. Karena Narapati akan menyangkanya penyusup. Vailixi yang dikendalikannya bisa ditembak jatuh bersama sepuluh senjata pemusnah di dalamnya. “Mau kemana dia ?” tanya Raji. “Kutub bumi selatan, dia akan mencairkan es di kutub-kutub bumi” Dimas menduga dengan pikiran terburuknya. Dirinya mulai khawatir mereka tidak bisa mencegahnya. Vailixi terus melesat cepat. Menanjak makin tinggi di atas awan. Raji dan Gandrung terus menembakan senjatanya kearah Vailixi Nusapati. Jarak yang cukup jauh memberikan dampak yang kecil. Nusapati tidak lagi menanggapi serangan. Dalam pikirannya hanyalah membawa wahana itu secepat mungkin tiba di kutub bumi selatan. Pavaratha Narapati tidak lagi mengejar. Mereka sudah berada di luar wilayah udara Narapati. Beberapa waktu kemudian sebuah gugusan putih di tengah lautan membatasi warna biru. Benua es telah tampak. Nusapati menurunkan ketinggian Vailixinya. “Lihat itu! Benua es.” Pafi menunjuk hadapan mereka. Dinding putih panjang yang langsung berbatasan dengan laut. Cuaca begitu cerah. Tidak ada awan di atas daratan putih di bawah mereka. “Kalian tidak akan bisa menghalangiku ! Aku telah menjatuhkan satu senjata sakti pemusnah bintang. ” Suara Nusapati muncul dari meja pengendali Pafi. Dimas tidak menduga Nusapati bertindak secepat itu. Tidak pernah terbayangkan apapun yang bakal terjadi setelah ini. Dalam beberapa saat kemudian Sebuah sinar putih meletup di atas dataran putih. Seperti semua api dari bintang-bintang dihidupkan bersama, melontarkan asap yang bergulung-gulung ke angkasa. Dinding-dinding es runtuh sepanjang mata memandang. Memenuhi lautan memicu sebuah gelombang yang sangat besar merambat ke utara. Sesaat kemudian sebagian daratan putih itu amblas ke dalam air dan memicu lagi gelombang kedua yang jauh lebih besar. Sejenak suasana hening. Dimas, Pafi, Raji dan Gandrung hanya terpaku melihat dari ketinggian dampak yang ditimbulkan dari senjata sakti pemusnah bintang. Tidak terlintas apapun dalam benak mereka apa yang akan terjadi setelah ini. Semua hanya berharap mereka masih bisa mencegahnya lagi. Dimas tersadar. Tangannya mengarahkan kemudinya mengejar Nusapati yang telah kabur meninggalkan mereka. Pafi terus memantau layarnya. Vailixi Nusapati tampak berkedip-kedip di atas layarnya. Bergerak terus ke barat. “Kita harus menembak jatuh Nusapati.” Kata Raji. “Kita tidak bisa menembaknya sembarangan. Dia masih membawa enam senjata pemusnah itu.” Pafi tidak setuju. “Jangan menembaknya saat dia berada di atas daratan. Aku akan menggiringnya ke tengah laut. Mudah-mudahan kalaupun dia kita tembak jatuh, semua muatannya akan tenggelam bersamanya di dasar laut.” Dimas mengatakan gagasannya. Satu buah senjata pemusnah lagi telah di jatuhkan. Dampak yang sama terjadi. Gelombang raksasa menggulung di permukaan laut selatan bergerak ke utara. Ketegangan di ruang kendali makin tinggi. Dimas berusaha keras mengejar Nusapati. “Aku akan mencegatnya. Bersiaplah melepaskan tembakan.” Dimas mengambil jalur melengkung. “Kita akan persis mencegatnya dalam waktu 15 sastih.” Pafi menghitung jarak dan kecepatan kedua Vailixi. Jarak semakin dekat. Raji dan Gandrung melepaskan tembakan beruntun. Lapisan pelindung Vailixi Nusapati mulai memudar. Beberapa tembakan mengenai lambung dan sayapnya. Asap mengepul keluar dari wahana itu. Dengan cepat wahana itu meluncur turun ke bawah kehilangan daya angkatnya. “Dia akan mengarahkan jatuhnya ke daratan es di depan. Pafi, gunakan badai untuk menghambat kecepatannya. Raji bersiaplah menangkapnya dengan air dan dorong dia ke dalam laut.” Dimas mengejar wahana yang meluncur jatuh bebas ke atas permukaan es. Pafi melepaskan semua kendalinya. Tangannya menggerakan angin di bawah Vailixi yang jatuh. “Dimas bawa lebih dekat Vailixi ini. Angin yang aku kumpulkan tidak terlalu kuat. Jaraknya terlalu jauh.” Dimas menambah kecepatan meluncur turun. “Hahaha kalian tidak akan berhasil. Kalian akan hancur bersamaku !” suara Nusapati terdengar di meja kendali Pafi. Pafi berhasil memutar anginnya menjadi angin putting beliung. Mukanya menegang. Seluruh urat di wajahnya membiru. Usaha Pafi sangat menentukan. Yang lain berharap wahana itu tidak jatuh di atas daratan es. Dimas melihat usaha Pafi kali ini adalah yang paling keras yang pernah dilihatnya. Vailixi itu meluncur lebih lambat dan kemudian digiring ke tengah lautan. “Dia akan memicu sisa senjata pemusnah itu dengan tenaga apinya. Aku harus mencegahnya.” Dalam keadaan sedang mengemudikan Vailixi yang terbang menukik ke bawah Dimas melakukan konsentrasi. Dimas berusaha memasuki pikiran Nusapati. Tetapi jarak mereka terlalu jauh, usaha Dimas menguasai pikiran Nusapati putus sambung. Kedua Vailixi terus menukik tajam dan kini bergeser ke tengah laut. Menjauh dari benua es. Beberapa saat sebelum keduanya jatuh ke dalam laut, Pafi melepaskannya kemudian Raji mengangkat gelombang tinggi menangkap Vailixi Nusapati. Dimas mengambil kembali kendalinya dan mempertahankan Vailixi itu tetap mengambang di udara. Sementara Vailixi Nusapati terus tenggelam ke dasar laut. Sejenak mereka berempat mengamati Nusapati tenggelam bersama Vailixinya. Darah mengalir keluar dari hidung Pafi. Raji menghampirinya kemudian memegang kedua kening Pafi. Darah dari hidung Pafi segera berhenti. “Terima kasih Raji” kata Pafi. “Kau menahannya terlalu berat, itu bisa membahayakan nyawamu.” “Ya, kau benar Raji. Tapi ini lebih dari penting. Jutaan nyawa akan terancam kalau kita tidak menghentikannya.” Pafi mengusap sisa darah yang menetes di bawah hidungnya. “Apa yang terjadi sekarang ? begitu banyak es yang mencair dan masuk ke dalam lautan. Kita harus kembali memperingatkan penduduk.” Kata Gandrung. “Ya tapi kita juga harus mengamankan sisa dari senjata ini di tempat yang aman.” Kata Pafi. “Kita berbagi tugas. Kalian bertiga akan aku antar ke kota Rajatapura untuk memberitahu adipati Rajatapura tentang bahaya gelombang yang sedang merambat menuju kota. Aku tahu tempat paling aman untuk menyimpan Vailixi ini. Aku akan membawa Vailixi ini ke Kerajaan Selatan.” Dimas membagi tugas mereka berempat. Semua setuju. Dimas mengarahkan Vailixi ke timur laut dimana Rajatapura berada. Dengan kecepatan paling tinggi semua berharap dapat mendahului laju rambat gelombang tinggi yang sedang menuju ke sana. ---- *** ---- Kepanikan luar biasa melanda seluruh kota Rajatapura. Seluruh penduduk dipindahkan dari pesisir pantai. Seluruh wilayah pantai di selatan sudah habis tersapu gelombang. Banyak penduduk yang tidak sempat menyelamatkan diri. Rajatapura tinggal menunggu hitungan beberapa saat saja. Gelombang besar dengan kecepatan tinggi meluncur menghantam apa saja yang dilaluinya. Daratan di seluruh pantai selatan terendam air hingga jauh ke dalam daratan. Raji, Pafi dan Gandrung telah memperingatkan Adipati Rajatapura. Gerbang pelabuhan ditutup mencegah air masuk kota Sunda Buana melalui sungai sunda besar selatan. Beberapa saat kemudian sebuah gelombang besar mengempas ke dalam daratan disusul gelombang kedua yang jauh lebih besar. Mendorong semua yang berada di atasnya. Pavaratha induk Ki Salakanagara telah lebih dulu menghindar dengan menyelam ke dalam laut. Tetapi perahu kehidupan mengalami nasib yang buruk. Perahu yang hampir jadi itu terangkat dan masuk ke tengah daratan dan terus terdorong hingga masuk ke dalam kota Rajatapura. Seluruh kota terendam hingga setinggi kepala orang dewasa. Batang-batang pohon, gedek-gedek sisa rumah yang tersapu gelombang memenuhi seluruh kota. Banyak orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri harus berjuang bertahan bertahan berada di permukaan. Tapi dorongan air yang bercampur sampah terlalu kuat. Kebanyakan mereka yang tersapu ombak akhirnya pingsan dan mati terbentur benda-benda yang tergulung bersama mereka. Suasana kota begitu mengerikan. Air laut yang sudah bercampur dengan lumpur coklat pekat memenuhi seluruh sudut kota. Kuil Rajatapura dipenuhi ribuan orang yang berusaha menyelamatkan diri. Raji, Pafi dan Gandrung telah lebih dulu menyelamatkan diri setelah memberikan peringatan yang cukup untuk Adipati Rajatapura. Peringatan mereka hanya sebuah penguatan. Karena Pavaratha Ki Salakanagara telah mengetahui kedatangan gelombang dan memberikan kabar sebelumnya. Mereka bertiga sudah berada di ruang tukang mau tahu menunggu kedatangan Dimas. Cemas dan resah mewarnai seluruh ruangan. Tak lama kemudian semua bisa bernafas lega setelah Dimas tiba dengan keadaan baik. “Kau tidak apa-apa Dimas ?” tanya Pafi “Tidak, aku sudah berhasil mengantarkannya ke Kerajaan Selatan. Bagaimana dengan Rajatapura ?” tanya Dimas seperti ketinggalan berita. Tidak ada yang menjawab. Pafi langsung mengeluarkan air mata tidak kuasa menahan kesedihannya. Mata Raji nanar menahan tangis. “Hancur, seluruh kota terendam. Yang paling parah menurut berita yang kami dengar dari pertemuan di balairung keraton adalah seluruh pantai selatan. Garis pantai maju ke daratan hingga sejauh puluhan tombak.” Gandrung menjelaskan semua yang telah terjadi sejak gelombang tinggi menghantam seluruh kota di pantai selatan dan barat. Semua terdiam. Seakan sesak dada mendorong semua isinya. Rasa sakit dan tidak nyaman di perut mendorong air mata mengalir tanpa terasa. Kesedihan yang luar biasa. Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung hanya bisa mengeluarkan air mata. Rasa sesal tidak berhasil mencegah semua bencana itu terjadi. Ada tekad baru kemudian muncul. Ada hal yang jauh lebih besar lagi yang harus mereka lakukan. Semua yang baru saja terjadi hanyalah latihan kecil dari bencana terbesar. Bencana yang tidak hanya mengancam kelangsungan hidup Narapati saja, tetapi seluruh umat manusia dan mahluk yang tinggal di atas bumi. Tekad baru dikuatkan untuk segera mendapatkan batu satuasra. Mereka tidak mau gagal lagi.

SEMBILAN SATUASRA

Bulan separuh menggantung di angkasa Cakravartin. Barisan awan kelabu bercampur putih bergerak lambat tersapu angin. Menuju satu purnama tinggal sepekan lagi. Waktu yang tersisa terlalu sedikit untuk mengambil Sembilan satuasra di Sembilan kuil di Sembilan kota. Kota Rajatapura menjadi pusat perhatian. Kota terbesar kedua di Kerajaan Narapati itu porak-poranda diterjang ombak besar. Tidak ada laporan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Tetapi kejadian itu membuka semua mata tentang apa yang bakal terjadi kalau banjir besar nanti datang. Dimas, Raji dan Pafi sedang berkumpul di kamar Pafi. Mereka tidak sanggup lagi mendengar berita kehancuran kota Rajatapura. Seluruh perhatian dicurahkan untuk mencegah bencana yang lebih besar. Pencarian Sembilan satuasra dilanjutkan, pesan terakhir yang dikatakan Ratu Selatan menjadi acuan mereka bertindak. “Aku merasa tidak enak sekali pada Gandrung.” Raji memulai pembicaraan. Dimas dan Pafi menyetujui apa yang dirasakan Raji. Gandrung selama ini begitu jujur kepada mereka. Menunjukan semua hal yang diketahuinya hanya untuk mendapatkan persahabatan dari mereka. “Mungkinkah ini yang dimaksud Ratu Kerajaan Selatan ? Kita tidak menemukan jalan apapun untuk mendapatkan satuasra karena kita masih bermasalah dengan kepercayaan.” Kata Dimas “Apakah sebaiknya kita memberitahunya mengenai kita ?” Gagasan Pafi sedikit membuat bingung Dimas. Ada alasan kenapa dia dulu menyarankan tidak menceritakan hal apapun tentang mereka. Tetapi kata-kata Ratu Kerajaan Selatan membuatnya menyadari bagaimana Gandrung begitu tulus bersahabat dengan mereka. “Bagaimana cara kita memberitahunya ?” kata Dimas. “Kita bawa saja dia ke asrama” usul Raji. “Gila kau, bagaimana kita bisa menjelaskan keberadaannya kepada Nyai Janis.” Pafi menolak gagasan Raji. “Mungkin kita bawa saja dia sampai ruangan pintu gaib saja. Dia kan tidak pernah tahu tempat itu ada.” Dimas memberikan usul “Ya maksudku itu” Raji cengengesan. “Kalau begitu, kita ajak dia besok. Aku juga sudah bosan harus menjaga kata-kataku agar tidak menimbulkan kecurigaan.” Pafi teringat kata-katanya yang terakhir yang membuat Gandrung mengernyitkan dahinya. Akhirnya semua setuju untuk memberitahunya besok. Tidak lagi diributkan siapa yang akan memberitahunya. Semua kembali ke kamar masing-masing dan menyerahkan sisanya kepada malam. Pagi-pagi sekali Raji sudah bangun dan rapi. “Lengkap sekali kau sekarang, bawa apa saja ?” Dimas agak heran melihat Raji yang tidak seperti biasanya. “Aku Cuma membawa bekal air dalam kantong ini saja.” Jawab Raji. “Tumben kau bawa air, memangnya kau merasakan akan memerlukannya ?” “Entahlah, hatiku saja mengatakan aku akan memerlukannya” Raji membetulkan letak kantong airnya. Gandrung agak heran, kali ini mereka tidak berjalan ke tempat dimana ruang tukang mau tahu berada. Dirinya dibawa ke tempat yang jarang dilaluinya, benteng selatan. Mereka berjalan menuruni benteng. Di bawahnya membentang sawah yang sudah menguning dan siap panen kemudian masuk ke dalam gorong-gorong di bawahnya. “Kemana sebenarnya tujuan kita ?” Gandrung merasa agak aneh dengan tujuan kali ini. “Kita akan ke tempat yang belum pernah kau datangi sebelumnya. Tempat ini tidak sengaja kami temukan.” Jawab Dimas menenangkan Gandrung. Dimas berusaha mengingat letak dindingnya. Tangannya kemudian meraba-raba dinding di depannya. Sebuah gagang pintu tersentuh lalu diputar. Dinding yang semula hanyalah batu, kini membuka menjadi sebuah pintu. Sinar terang menyeruak keluar dari dalamnya. Gandrung masih terus memperhatikan. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Dimas mengawali masuk ke dalam ruangan itu. “Selamat datang di ruang keinginan” kata Dimas. Gandrung melihat-lihat seluruh isi ruangan berbentuk bundar itu. Banyak pintu di dindingnya. Tangannya membuka sebuah pintu. Sebuah kamar yang amat dikenalnya berada di balik pintu itu. “Ini kamarku ! hebat…hebat sekali. Ini penemuan yang paling hebat yang pernah aku lihat.” Gandrung senang sekali. Tapi dia belum tahu maksud sebenarnya. Dimas mulai merasa canggung untuk mengatakannya. “Gandrung, ada yang ingin kami sampaikan kepadamu.” Gandrung berhenti, kemudian menatap Dimas. “Kau ingat pesan terakhir yang diberikan oleh Ratu Kerajaan Selatan ?” Gandrung mengangguk. “Kepercayaan adalah jiwa persahabatan. Tidak ada jalan yang bisa ditemukan tanpa kepercayaan” katanya mengulangi kata-kata itu. “Kami, eh….” Dimas ragu. “Kami bukan berasal dari tempat ini !” Pafi langsung menyela. Gandrung masih tidak mengerti. “Kami bukan berasal dari dunia ini” Dimas menjelaskan lebih gamblang. Gandrung mengernyitkan dahinya. “Maksud kalian bukan berasal dari dunia ini ?” “Kami berasal dari waktu yang jauh di depan, kami berasal dari waktu kira-kira limabelas ribu tahun dari sekarang.” Kata Pafi. Gandrung makin tidak mengerti. “Kami secara tidak sengaja menemukan gerbang untuk kembali ke masa lalu dan tiba di tempat ini. Pada masa kami seluruh Narapati sudah tenggelam dan hanya tertinggal beberapa daratan saja. Tetapi orang-orang di masa kami tidak mengetahui pernah berdirinya Narapati di lembah sunda ini. Maafkan kami baru memberitahumu sekarang, karena kami sendiri masih harus meyakinkan diri dengan apa yang sedang kami jalani. Kami khawatir keterbukaan kami akan membawa dampak yang tidak baik pada dunia ini.” Gandrung kini bengong setelah mendengar penjelasan Dimas. Baru masuk ke dalam otaknya apa yang dimaksudkan oleh Dimas. “Seperti apakah dunia kalian ?” tanya Gandrung. Tidak ada nada marah dari suaranya. Dimas merasa senang sekali. Dengan semangat bergantian bersama Raji dan Pafi mereka menceritakan semua hal mengenai tempat tinggal di asrama dan hindia belanda. Mata Gandrung senang sekali mendengarkan cerita ketiga sahabatnya. “Maafkan aku juga, aku belum pernah menceritakan bagaimana aku tahu rahasia-rahasia Sinar Avedi dan bisa menguasai bahasanya. Ibuku adalah seorang bangsa Sinar Avedi, dia jatuh cinta pada ayahku kemudian mereka menikah. Dari ibukulah aku tahu semuanya mengenai bangsa Sinar Avedi. Dan ibuku selalu tahu kemana aku pergi.” Pengakuan Gandrung cukup mengagetkan semuanya. Semua itu juga menjelaskan kenapa tidak pernah ada rasa khawatir dari kedua orang tua Gandrung kemanapun Gandrung pergi. “Tapi kan bangsa Sinar Avedi tubuhnya bersinar, mengapa ibumu tidak ?” Pafi masih tidak percaya. “Begitulah kalau seorang Sinar Avedi menikah dengan seorang manusia. Mereka adalah bangsa abadi. Setelah menikah ibuku kehilangan keabadiannya. Tapi dunia kalian hebat sekali, aku ingin sekali main ke sana” Perubahan topik pembicaraan yang ditakutkan Dimas akhirnya keluar juga dari mulut Gandrung. “Jangan Gandrung, kita masih punya tugas untuk menyelamatkan Narapati. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus menjalankan tugas ini hingga selesai.” Dimas mengingatkan Gandrung. Gandrung diam, seperti berusaha mencerna sesuatu. Tetapi jelas wajahnya amat kecewa. “Kau benar, lebih baik sekarang kita berkonsentrasi mencari sembilan satuasra” Gandrung kembali memompa semangatnya. Dimas kemudian mengeluarkan naskah Sinar Avedi. Peta terakhir yang belum dilihatnya tergambar di atasnya. Sebuah gambar segitiga besar dengan lidah api dipuncaknya di kelilingi Sembilan segitiga lebih kecil. Setiap gambar segi tiga kecil ukurannya tidak sama ukurannya. Semuanya berputar lambat mengelilingi segitiga besar. Terdapat hanya sebuah garis tetap di ujung lidah api yang menghubungkan segitiga besar dengan segitiga kecil. Setiap saat salah satu segitiga kecil menyentuh garis tetap itu, segitiga besar mengeluarkan garis-garis rumit di tengahnya dan berkilau keemasan. Setiap segitiga kecil memberikan gambar rumit yang berbeda. Setiap sebuah gambar rumit muncul di tengah segitiga besar, sebuah bintang menyala di tengah-tengah garis rumit segitiga besar. Nyala bintang selalu berpindah-pindah susunannya mulai dari dasar hingga ke puncak kuil. “Ini pasti Cakravartin Kota Sunda Buana. Lambang dari ibukota Narapati yang dikelilingi oleh Sembilan kota lainnya.” Dimas menunjuk segitiga besar. “Apakah kau pernah mendengar tentang legenda kuil ini Gandrung ?” Tanya Dimas. Gandrung menggeleng “tidak pernah, ibuku saja tidak pernah mengetahuinya. Mungkin ini adalah sesuatu yang memang benar-benar sangat rahasia. Sehingga tidak sembarang Sinar Avedi bisa mengetahuinya” kata Gandrung. “Sepertinya ini adalah jalur dari setiap kuil yang menyimpan satuasra. Lihat jalur ini begitu berbeda satu dengan yang lainnya” kata Pafi “Bagaimana caranya mengingat jalur-jalur rumit ini, dia saja tidak berhenti bergerak.” Kata Raji “Kita tinggalkan dulu mengenai jalur itu, sekarang kita harus menentukan kuil mana dulu yang akan kita datangi ?” kata Dimas “Bagaimana kalau Rajatapura dulu ?” usul Gandrung. Pafi terus mengamai gerakan segitiga kecil yang mengelilingi segitiga besar. “Tidak, gambar ini sudah memberikan kita petunjuk jelas mengenai semuanya. Kita harus mengambil satuasra dari kuil paling kecil. Lihat gambar segitiga paling kecil diantara yang Sembilan ini. Bintangnya selalu menyala paling bawah. Dan yang paling besar ini selalu paling atas dekat lidah api Cakravartin. Hal ini menandakan bahwa kuil ini memiliki tingkatan-tingkatan. Cakravartin adalah induk semua kuil dengan tingkatan paling tinggi. Karena itu dia akan selalu berada paling atas. Dan di bawahnya Rajatapura dan seterusnya. Kau masih ingat urutan gambar lokasi kuil mulai dari yang paling kecil pada gambar sebelumnya ?” Pafi mengandalkan ingatan Dimas yang kuat untuk menjawabnya. “Ada di Andavantara, Nutana, Mandala Sura, Pagan, Kutai, Siam, Angkor, Viet, dan terakhir Rajatapura” jawab Dimas. “Kalau begitu kita ke Andavantara sekarang, masalah peta urusan belakangan” celetuk Raji. “Kita tidak bisa ke sana tanpa peta yang jelas Raji.” Pafi tetap tidak setuju. “Lalu kapan kita akan berangkat ke sana. Tidak ada salahnya kita langsung kesana, siapa tahu justru jawabannya ada disana. Kecuali kau punya mantra untuk menghentikan kuil ini jalan-jalan ?” Raji tetap pada pendapatnya. Dimas paham sekali kalau keduanya sudah beradu pendapat tidak akan ada yang mengalah. Dimas harus mengambil langkah tengah untuk keduanya. “Sudahlah, mungkin baiknya kita coba ke sana saja, tapi sebelum mencari kita harus memastikan peta itu bisa tetap dan tidak bergerak lagi.” Dimas memberikan jalan tengah. “Aku setuju” sahut Gandrung. “Kita akan ke sana dengan lubang cacing kan ?” Raji kelihatan bersemangat sekali. “Buat apa kesana pakai lubang cacing, disini kan ada ruang keinginan. Kita tinggal menyebutkan keinginan kita saja kan ?” usul Gandrung. “Gagasan hebat, kalau begitu tunggu apa lagi, ayo segera kita berangkat” Dimas segera menggulung naskah Sinar Avedi. “Gandrung, kau yang membuka pintu. Karena kau yang paling tahu kota-kota ini.” Pinta Pafi. Gandrung mengangguk. Kemudian Gandrung membuka sebuah pintu. Sebuah ruangan putih mirip sekali ruang keinginan muncul dibalik pintu. Gandrung melangkah masuk ke dalam. Yang lain menyusul masuk. “Apakah kita sudah berada di Andavantara ? Seperti ruangan ini mirip sekali dengan ruang keinginan di Sunda Buana.” Kata Raji. “Bukan Cuma mirip, tapi ini memang ruang keinginan di Sunda Buana. Kita tidak pergi kemana-mana. Kita kembali lagi ke ruang keinginan.” Kata Pafi. Gandrung sedikit kebingungan. “Bagaimana kau tahu, mungkin saja di Andavantara juga ada ruang keinginan.” Kata Raji. “Tidak, menurut ibuku, hanya kota Sunda Buana yang dilengkapi oleh ruangan-ruangan gaib seperti ini. Para Sinar Avedi tidak mau pengetahuan mereka terlalu menyebar di sembarang tempat.” Kata Gandrung “Apakah kau salah menyebutkan tujuanmu Gandrung ?” tanya Pafi “Tidak, aku mengucapkannya dengan benar.” Kata Gandrung “Dengan bahasa Sinar Avedi kan ?” kata Dimas. Gandrung mengangguk. “Mungkin sebaiknya kau yang mencoba, Dimas” kata Pafi. Yang lain setuju. Dimas melangkah menuju sebuah pintu. Mengucapkan nama Andavantara dalam bahasa Sinar Avedi. Sebuah pintu sesaat kemudian terbuka. Sebuah ruangan berbentuk segi empat sangat remang dengan dua cahaya obor. Empat pintu terdapat di empat jurusan terbuka lebar. “Aku rasa kita berada di tempat yang benar kali ini” kata Dimas. “Cepat buka petanya” kata Pafi Dimas membuka gulungan naskahnya. Di dalam gambar segitiga besar bersinar terang garis-garis rumit dan sebuah bintang. Gambar segitiga paling kecil berhenti di puncak segitiga besar dengan sebuah garis menyambung ke lidah api segitiga besar. Senyum lebar mengembang di wajah Dimas. Yang lain ikut gembira. Semua gambar menjadi tetap dan tidak berubah-ubah lagi. Di bawahnya muncul sebuah segi empat dengan garis-garis rumit pula. Ditengahnya terdapat bintang yang bersinar terang. “Sepertinya gambar garis-garis rumit di segi empat ini denah jalan tikus dan garis-garis rumit di segitiga adalah denah tangga. Kedua gambar segitiga dan segi empat ini saling berkaitan. Satuasra di letakan di bawah puncak. Ada tujuh tangga menuju tempat penyimpanan satuasra. Segitiga ini memberikan jalan bagaimana kita mencapainya. Kita harus menemukan tangga-tangga itu dengan bantuan denah segi empat ini.” Pafi menunjuk garis yang menjadi jalur. “Kita berada disini, persis di tengah kuil, lihat disini ada empat titik terang.” Dimas menunjuk empat titik tepat di tengah. “Sekarang kita ke arah mana ?” tanya Raji. “Kita kesana” Gandrung menunjuk pintu di kiri mereka dengan yakin. Dimas tahu pengalaman Gandrung menyusuri gorong-gorong bawah tanah kota Sunda Buana tanpa pernah kesasar dan sangat hafal jalan. “Hati-hati, mungkin banyak jebakan atau tipuan.” Pafi memberi peringatan. “Bangsa Sinar Avedi tidak pernah membuat jebakan yang membahayakan nyawa, mereka bangsa yang cerdas dan mengagungkan kecerdasan. Paling kita akan dibuat berputar-putar tanpa ujung.” Gandrung mengerti betul sifat-sifat teka-teki yang dibuat bangsa Sinar Avedi. “Gandrung berjalanlah di belakangku, kau tunjukan saja kemana arahnya. Aku akan mengamankan jalan.” Raji mengambil kantong bekal airnya. Air dan kantong kulit itu keluar dan memecah menjadi dua bagian menjadi dua lidah air. Raji memainkan dua lidah air itu di udara. Dimas terus merentangkan naskahnya. Gandrung berjalan persis di belakang Raji. Pafi terus mengamati pergerakan empat titik di dalam peta. Pafi menarik obor dari dalam ruangan dan membuatnya melayang di depan Raji. Naskah yang dipegang Dimas sendiri tidak terlalu memerlukan cahaya, karena semua garis dan tujuan menyala terang di atasnya. Raji mulai bergerak dengan keadaan siaga bersamaan dengan obor di depannya. Pafi terus mempertahankan obor tetap berada di depan. Gandrung memandu arah mana yang harus diambil. Dimas memantau semua perubahan yang terjadi di atas peta. “Kita tetap lurus” kata Gandrung “Di depan tembok buntu, hanya ada jalan ke kiri dan ke kanan” sahut Raji. “Gandrung betul Raji, kita harus lurus” Dimas memeriksa petanya dan sesuai seperti yang dikatakan Gandrung. Raji melontarkan kedua lidah airnya. Dua lidah air itu langsung menembus dinding seolah tidak ada pembatas di depan mereka. “Dinding depan rupanya Cuma tipuan saja” Raji terus melangkah menerobos dinding di depannya diikuti oleh yang lainnya. Ruangan di balik dinding sedikit lebih terang dari pada lorong sebelumnya. Dengan hati-hati mereka berempat terus melangkah hingga menemukan sebuah tangga. Tanpa halangan tangga berhasil di lewati dan tiba di lantai atas. Tanpa kesulitan yang berarti mereka berhasil masuk hingga ke lantai teratas. Sebuah ruangan dengan cahaya terang keemasan terpancar dari sebuah batu yang diletakan di depan sebuah patung Lodaya bersayap Mahakala duduk tegak bertengger di atas altar bundar. Sebaris tulisan terpahat di dinding altar yang hanya setinggi pinggang. Dimas membaca tulisan dalam bahasa Sinar Avedi itu dengan pelan. “Pertama dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Dimanakah gelap saat terang ?” “Apa artinya ? kenapa harus selalu teka-teki ?” Raji rada mengeluh. “Karena memang begitulah cara Sinar Avedi merahasiakannya.” Pafi agak sebal melihat Raji. “Pertama dari yang Sembilan, yang ini pastinya satuasra urutan satu dari Sembilan. Kalimat kedua aku tidak mengerti maksudnya. Yang bijak yang terpilih artinya siapapun yang bisa menerka teka-teki ini berarti yang terpilih. Berasal dari yang ada sekaligus tiada. Dimana gelap saat terang ?” “Yang ada sekaligus tiada, mungkin maksudnya adalah Tuhan, yang ada tetapi tidak terlihat. Gelap saat terang ?” “Kita ambil saja batu itu, itu kan sudah di depan mata !” Raji sudah tidak sabar. “Jangan, ini terlalu mudah. Batu ini pasti tipuan.” Gandrung mencegah tangan Raji yang nyaris menyentuh batu yang bersinar keemasan di atas altar. “Gelap saat terang, jawabannya ada pada bagian gelap.” Dimas menunjuk arah bayangan Lodaya bersayap mahakala. Sebuah cahaya putih lembut memancar lemah di tengah-tengah bayangan. Dimas melangkah menaiki tangga altar yang memutar di kiri dan kanannya. Kemudian dengan perlahan melangkah di belakang Lodaya bersayap mahakala. Ternyata di dinding itu terpahat sebuah relief Lodaya bersayap dengan sebuah batu bercahaya putih di atas dahinya. Tangannya meraih batu satuasra yang menempel di dinding. Sesaat setelah diambil, sebuah tulisan muncul di dinding memancarkan sinar putih keperakan. Dimas segera membaca tulisannya. “Yang terkecil pembuka yang lebih besar…….” Raji, Pafi dan Gandrung menyusul di belakang Dimas. Pafi membuka peta naskah Sinar Avedi. Peta itu berubah. Garis yang semula hanya dihubungkan oleh lidah api di puncak segitiga besar, kini bertambah delapan di kiri dan kanan segitiga besar menghubungkan segitiga-segitiga kecil lainnya. Sembilan bintang bersinar secara bersamaan di dalam segitiga besar. “Lihat peta ini berubah. Semua kuil terhubung dengan Cakravartin.” “Kaulah yang terpilih Dimas. Mungkin kau harus menyebutkan tujuan kita berikutnya, kuil yang lebih tinggi tingkatannya” kata Gandrung. “Baiklah…… Nutana” Dimas menyerahkan naskahnya kepada Pafi. Tulisan itu kemudian lenyap dan dinding di hadapan Dimas terbuka. Sebuah ruangan di baliknya persis sama dengan ruangan sekarang mereka berada. Di depan sebuah patung Lodaya bersayap mahakala duduk tegak di atas altar dengan sebuah batu bersinar keemasan di kakinya. “Ayo kita masuk !” Dimas melangkah melewati pintu. Saat Raji hendak melewatinya sebuah dinding gaib menghalanginya masuk. Dimas berbalik kembali ke pintu itu. “Kenapa kalian tetap berada di sana ?” “Kami tidak bisa masuk.” Pafi bergantian dengan Gandrung mencoba melewati pintu. Tetapi dinding gaib tetap menghalangi mereka. “Kami tidak bisa mengikutimu lagi, hanya yang terpilih bisa melanjutkan semuanya.” Kata Gandrung. Dimas ragu-ragu, dia tidak mau melakukannya sendirian. Dia merasa butuh teman-temannya. “Pergilah Dimas, cepatlah kumpulkan semua batu satuasra. Kami akan mengambil jalan lain untuk keluar dari sini” kata Raji. Dorongan teman-temannya memberikan keyakinan kepada Dimas. Akhirnya Dimas melanjutkan sendiri semuanya. “Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” tanya Gandrung. “Kita kembali saja ke ruang keinginan. Kita menunggu disana saja.” Usul Pafi “Aku setuju, saat ini kita tidak bisa membantu Dimas. Lebih baik kita menunggu.” Raji juga setuju dengan usulan Pafi. Gandrung tidak bisa membantah lagi. “Mungkin batu cahaya ini bisa membantu kita melihat lebih jelas di jalan nanti.” Raji mengambil batu cahaya yang tergeletak di kaki patung Lodaya bersayap mahakala. Belum mereka sempat melangkah menuju tangga turun, tiba-tiba sebuah hentakan angin menerpa keras. Saat membalikan badan, patung Lodaya bersayap mahakala sudah tidak lagi berada di tempatnya. Mahluk itu sedang berjalan mengelilingi ruangan sambil mengepakan sayapnya. “Patung itu hidup, apakah dia makan daging ?” Raji sedikit gemetar. “Kau ini iseng sih, seharusnya kita sudah jalan tenang tadi. Sekarang kita harus menghadapi mahluk penjaga ini.” Pafi kesal sekali kepada Raji. Raji meletakan kembali batu cahaya pada tempatnya. Hatinya berharap Lodaya itu kembali lagi menjadi patung. Tapi harapannya tidak terjadi. Batu cahaya telah berpindah dari tempatnya. “Mahakala mahluk penjaga, dia akan menyingkirkan apapun yang bukan dijaganya. Termasuk kita.” Gandrung berbisik. “Kita harus segera keluar dari tempat ini” kata Pafi “Bagaimana caranya, kalau dia masih nongkrong di depan tangga. Itu satu-satunya jalan kita keluar. Kata Raji “Sepertinya dia sedang menunggu, dia tahu kalau itu satu-satunya jalan untuk keluar.” Kata Gandrung. “Maksudmu dia bisa berpikir ? mudah-mudahan dia bisa diajak ngobrol sekalian, biar kita dikasih jalan lewat.” Raji mulai agak ngawur “Kita terpaksa harus menghadapinya, kalau tidak kita akan menginap selamanya disini. Kata Pafi “Kita serang dia dari dua arah. Gandrung begitu ada kesempatan, kau harus lebih dulu melewati tangga itu.” Gandrung mengangguk. “Aku akan menyerangnya lebih dulu” “Tunggu, bukankah sebaiknya kita beramah tamah dulu, siapa tahu dia tidak jahat” “Terserah kau lah, tapi aku akan sudah siap dengan seranganku” Pafi menggenggam kedua tangannya. Ketiganya menuruni altar. Lodaya bersayap mahakala itu menyadari kedatangan ketiganya. Suara mengaum menggema menggetarkan seluruh dinding ruangan. Raji melangkah paling depan. Hatinya dikuatkan sedikit agar tidak terlalu gemetar. “Hai, aku Raji mau numpang lewat. Boleh kan ?” Lodaya itu mengaum keras dan mengambil gerakan menyerang. Sesaat sebelum melompat hendak menerkam Raji, Pafi mengerahkan tenaganya menghantamkan pilar angin ke arah Lodaya itu. Tidak tanggung-tanggung Lodaya itu langsung terjengkang menghantam dinding hancur berantakan seperti batu. Gandrung melompat menuruni tangga. Raji dan Pafi tersenyum senang. Tetapi dalam sekejap semua serpihan batu itu menyatu kembali dan hidup. Lodaya itu kembali menyerang. Raji melepaskan lidah airnya menghantam tubuh Lodaya bersayap itu. Lodaya itu kembali hancur berantakan tetapi sayapnya sempat menghantap Raji. Badan Raji terhuyung ke belakang. Tangannya berusaha meraih pinggiran altar mencegah dirinya jatuh terjerembab. Secara tidak sengaja tangan Raji menyentuh batu cahaya yang menerangi ruangan. Tangannya dengan gerakan reflex menggenggamnya sehingga hanya sebagian cahaya yang keluar. Lodaya bersayap mahakala yang terjengkang hancur karena hantaman lidah air Raji berubah kembali menjadi batu dan tidak kembali utuh. Raji membuka tangannya kirinya yang memegang batu cahaya. Cahayanya kembali menyebar menerangi ruangan dan menyinari serpihan batu patung Lodaya bersayap mahakala. Seketika batu-batu itu kembali menyatu dan berubah hidup kembali. “Raji kau harus terus menggenggam batu cahaya itu. Disanalah sumber kehidupannya. Jangan sampai sinarnya menyentuh tubuhnya. Dia akan menjadi batu kalau berada dalam kegelapan.” Pafi menyadari kelemahan mahluk itu. Kedua tangannya telah siap melakukan serangan kalau mahluk itu kembali menyerang. Raji segera menggenggam kembali batu itu. Lodaya itu berubah kembali menjadi patung. Kesempatan itu digunakan Raji dan Pafi menyusul Gandrung yang sudah menunggu di bawah tangga. “Ayo kita segera tinggalkan tempat ini” Raji melemparkan kembali batu cahaya itu ke ruangan di atasnya. “Kenapa kau buang ?” kata Pafi “Kau mau membangunkan setiap patung yang kita lewati ? Aku tidak mau. Kalau kau mau ambil lagi sendiri.” Raji rada jengkel. Pafi menangkap maksud Raji. Tanpa banyak bicara lagi mereka bertiga kembali menelusuri lantai demi lantai hingga kembali ke ruang keinginan. ---- *** ---- Dimas melangkah sendirian tanpa teman-temannya. Kali ini di ruangan puncak kuil Nutana. Dimas melangkah menuruni tangga hingga ke depan altar. Sebuah patung Lodaya bersayap mahakala yang sama seperti di ruang kuil andavantara duduk tegak di hadapan sebuah batu bercahaya kuning keemasan. Sebuah tulisan Sinar Avedi terukir di dinding altar. Dimas membaca tulisan itu. Kali ini isinya berbeda dengan yang sebelumnya. “Kedua dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga terang. Dimanakah gelap saat terang ?” Dimas bergerak menaiki altar menuju dinding yang tertutup bayangan patung. Matanya mencari-cari titik terang di atas dinding. Tidak ada setitik pun cahaya yang terlihat. Dimas terus mencari-cari. “Mungkin tidak di tempat yang sama. Pasti Sinar Avedi tidak akan membiarkannya terlalu mudah. Kira-kira dimana disimpan ? Kalimat petunjuknya selalu sama. Yang terkecil pembuka yang lebih besar, dimanakah gelap saat terang. Pasti ini berkaitan dengan bayangan atau keadaan gelap. Yang terkecil mungkin maksudnya batu satuasra ini. Dia yang terkecil dari Sembilan.” Dimas melangkah turun kembali ke hadapan tulisan di dinding altar. “Apa gunanya patung ini ? pastilah patung ini ada gunanya. Pastinya untuk menjaga batu satuasra.” Dimas menatap patung Lodaya bersayap itu. Kemudian pandangannya disapu ke seluruh dinding ruangan. Delapan relief Lodaya bersayap terukir di atas dinding. Seluruh permukaannya begitu sempurna. Diukir dari batu utuh berwarna hitam. Tapi ada satu relief yang cacat. Pada bagian dahi persis diantara kedua alisnya terdapat sebuah lubang tidak beraturan. “Relief ini sempurna sekali, tapi kenapa dahinya seperti bolong seperti ini. Mungkin terkena pahat saat membuatnya.” Dimas mengusap lubang di dahi relief itu dengan telunjuknya. “Eh, bentuknya pas sekali dengan batu satuasra ini. Mungkin ini maksudnya sebagai pembuka yang lebih besar.” Dimas menyelipkan batu satuasra ke dalam lubang di dahi relief itu. Batu itu pas sekali menyelip di dalamnya. Sinar putih memancar keluar kemudian menjalari seluruh tubuh relief itu. Sesaat kemudian sebuah kepakan sayap terdengar. Angin kencang menerpa wajah Dimas. Patung Lodaya bersayap itu hidup. Dimas sangat terkejut melompat ke belakang menghindar. Lodaya itu berdiri tegak dengan sayap terkembang mulai menggeram menatap tajam kearah Dimas. Dimas mengambil sikap menyerang. Dalam sekejap Lodaya itu menerkam kearah Dimas. Kedua cakarnya menjulur kuat ke depan. Dengan sigap Dimas berjongkok dan bagian dada Lodaya itu begitu terbuka dan dengan kesempatan yang tepat Dimas menghantamkan tanganya. Sebuah sinar putih melesat tepat ke dadanya. Lodaya itu hancur berantakan menjadi serpihan batu. Tetapi sesaat kemudian semua serpihan batu itu bergerak menyatu kembali dan menjadi Lodaya utuh. Dimas bergerak mundur menyiapkan serangan lagi. Lodaya itu kembali siap menyerang. “Gila, Lodaya ini hidup lagi. Bagaimana aku mengalahkannya kalau setiap aku hancurkan dia menyatu kembali dan hidup lagi.” Dimas melompat menghindar saat Lodaya itu mulai menerkam. Kemudian melompat ke atas altar. Dimas menghitung-hitung serangan yang akan dilakukannya. Kakinya tidak sengaja menginjak batu cahaya di bawahnya. Ruangan menjadi gelap sekejap. Sesaat Dimas melihat sebuah cahaya putih. Di punggung Lodaya itu. Saat cahaya kembali menerangi ruangan, Lodaya itu mengibaskan sayapnya. Kemudian menggeram dan kembali menerjang kearah Dimas. Tapi Dimas sudah siap dengan pukulannya. Dimas menghantamkan tenaganya tepat di kepala. Lodaya itu terjengkang hancur di bagian kepala. Tetapi sesaat kemudian semua serpihannya menyatu kembali dan bergerak menyerang kali. Kali ini Lodaya itu terbang mencoba menerkam dari atas. Dimas menghindar, tapi tangannya sempat terhantam kaki belakangnya. Dimas terjengkang ke lantai altar menimpa batu cahaya. Lodaya yang sedang terbang itu tiba-tiba jatuh ke lantai dan berubah menjadi batu. Ruang kembali gelap, kilau cahaya putih tampak di tempat jatuhnya Lodaya itu. “Patung Lodaya bersayap itu hidup dari cahaya dari batu ini. Setiap cahaya ini tertutup dia akan kembali menjadi batu. Mungkin ini yang dimaksud dengan kalimat ‘penjaga terang’. Dia hidup saat terang” Dimas perlahan bangkit mengambil batu cahaya yang tertutup tubuhnya. Sedikit cahaya masih bisa keluar memberikan sedikit penerangan untuk berjalan. Dimas berusaha menghindari berkas-berkas cahaya yang keluar tidak menyentuh patung Lodaya itu. Kemudian perlahan mendekati berkas sinar putih di punggung Lodaya itu dan mengambilnya. Satu batu satuasra kini berada di tangannya. Kemudian tangan mengambil batu satuasra pertama di dinding relief. “Dua sudah aku dapat, kini tinggal tujuh lagi. Patung itu harus aku hidupkan dulu dengan meletakan batu satuasra pertama di dinding relief. Batu yang lain ada di tubuh patung itu. Mudah-mudahan yang lain tidak sesangar ini Lodayanya.” Dimas melepaskan batu cahaya dan terang pun kembali ke seluruh ruangan. Patung Lodaya bersayap itu tetap tergeletak tidak bergerak. Dimas sudah menemukan kelemahan patung Lodaya bersayap itu. Dimas melangkah dan berdiri di depan dinding belakang altar. Mulutnya menyebutkan sesuatu dengan pelan sekali. Pintu menuju ruangan kuil terbuka. Mandala Sura kuil ketiga. Ruangan kuil Mandala Sura masih sama dengan kuil-kuil sebelumnya. Setelah melewati dua kuil sebelumnya Dimas mendapati keyakinannya lebih tinggi. Langkahnya tidak lagi ragu. Matanya mengamati relief Lodaya bersayap yang terpahat di seluruh dinding. Dimas langsung menghampiri relief Lodaya bersayap mahakala dengan cacat di dahinya dan melekatkan batu satuasra dari kuil Andavantara ke dahi relief itu. Sesaat setelahnya Dimas mengambil batu cahaya dan menggenggamnya erat. Tak satu pun cahaya batu itu menyentuh patung. Namun tiba-tiba mata patung Lodaya itu bersinar merah. Dalam ruangan yang gelap jelas sekali sinar matanya memancar. Dimas terus menggenggam erat batu cahaya di tangannya. Kakinya melangkah mundur. “Mengapa patung ini malah hidup ? bukankah dia seharusnya tetap menjadi batu ?” Dimas belum sempat lagi memikirkan apa yang terjadi, Lodaya itu telah menyerang. Dengan sekuat tenaga tangannya menghantamkan ke tubuh Lodaya itu. Suasana gelap membuat Dimas terpeleset. Batu cahaya dalam genggamannya terlepas. Seluruh ruangan kembali terang. Dimas melihat serpihan patung Lodaya yang berserakan tak bergerak. “Patung ini tidak menyatu lagi. Justru hidup saat gelap. Patung ini kebalikan dari patung di kuil Nutana. Gawat, untuk mengetahui dimana letak batu satuasra hanya dengan kegelapan. Berarti aku harus mencarinya saat patung itu hidup.” Dimas kemudian mengambil batu cahaya yang terletak tak jauh darinya. Batu itu digenggam erat setelah mengambil tempat agak jauh dari tempat patung Lodaya itu berada. Serpihan tubuh patung Lodaya itu bergerak menyatu kembali. Sesaat kemudian berdiri tegak dan hidup. Matanya merah menyorot tajam kearah Dimas yang telah siap melakukan serangan. Dimas berusaha mencari cahaya putih. Matanya menangkap berkas putih di bagian perut bawah. Tiba-tiba Lodaya itu sudah melompat. Dimas membuka tangan kirinya yang sedang menggenggam batu cahaya. Selagi masih di udara, Lodaya itu berubah kembali menjadi patung dan berdebum keras di lantai. Dua kaki dan sayapnya patah. Dimas melompat menghampiri patung Lodaya itu. Tangannya mengusap bagian perut bawah patung yang sudah pekat oleh debu. Sebuah batu menempel di lapisan bawahnya. Dimas kemudian menarik batu itu dan batu pertama di dahi kepala relief di dinding. “Tiga batu satuasra, tinggal enam lagi. Mengapa patung ini malah hidup saat gelap. Apa ada yang aku lewatkan ?” Dimas melihat tulisan di dinding altar. “Ketiga dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga gelap. Dimanakah gelap saat terang ?” Dimas mengerti, dia telah melewati kalimat itu. Tiap kuil memiliki sifat penjaga yang berbeda-beda. “Aku harusnya tadi membaca lebih dulu.” Kemudian kakinya melangkah ke depan dinding belakang altar. Lalu menyebutkan nama kuil berikutinya. “Pagan”. Kali ini Dimas tahu dimana kesalahan-kesalahannya dan berusaha lebih teliti. Ruang kuil Pagan tetap sama dengan kuil-kuil sebelumnya. Hanya terdapat sebuah patung Lodaya bersayap mahakala dengan sebuah batu cahaya di depan kakinya menerangi semua ruangan. Sebelum melakukan apapun matanya menatap semua tulisan di dinding altar. “Keempat dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga dua dunia. Dimanakah gelap saat terang ?” “Penjaga dua dunia ? Apa maksudnya ? Dunia gelap dan dunia terang? mungkin Lodaya penjaga tetap hidup di saat terang maupun gelap. Lalu bagaimana melumpuhkannya ? Kalau saja ada Raji, pasti dia senang membantuku bermain-main dengan Lodaya ini” Dimas berpikir keras, matanya terus melihat ke sekeliling ruangan. Di dinding ruangan terdapat beberapa relief patung Lodaya bersayap. Mau tidak mau Dimas harus menghadapinya. Tidak ada pilihan lain. Tangannya meraih batu cahaya di atas altar. Kemudian Dimas mengelilingi dinding di belakang altar. Delapan relief Lodaya bersayap mahakala terpahat. Dimas meneliti satu persatu relief yang memiliki lubang di bagian keningnya. Kemudian Dimas meletakan batu satuasra kuil Andavantara ke dalam lubang itu. Patung Lodaya bersayap mahakala di belakangnya mulai bergerak. Dimas mengepalkan tangan dirinya yang sedang memegang batu cahaya. Matanya berusaha mencari titik cahaya putih di setiap bagian tubuh Lodaya itu. Tapi hanya dua sinar merah yang memancar dari kedua mata Lodaya itu. Dimas mulai melakukan serangan lebih dulu sebelum Lodaya itu menyerang. Dia ingin mendapatkan waktu yang cukup untuk berpikir memecahkan teka-teki ini. Sekali melompat Dimas dengan tenaganya melempar Lodaya itu ke dinding. Lodaya itu terbentur hebat, sayapnya hancur berantakan. Dimas melompat menghampiri mengambil kesempatan mencari berkas cahaya satuasra sebelum serpihan tubuh Lodaya itu menyatu kembali. Tidak ada tanda satu pun sinar putih terlihat. Lodaya itu kembali utuh dan menyerang dengan ganas. Dimas harus berulang kali menghindar dan membuat Lodaya itu hancur berantakan. Tetapi dalam sekejab hewan itu kembali utuh. Dimas mulai kelelahan dan kehilangan tenaga. Sekali serangan Lodaya itu kali ini membuatnya terjengkang tergeletak di bawah dinding altar. Dengan auman yang keras Lodaya itu melompat persis di atas tubuh Dimas. Sesaat Dimas melihat sebuah berkas cahaya putih. Dimas berguling menghindar sehingga Lodaya itu hanya menabrak dinding altar. Dimas langsung bangkit. “Batu itu ada di belakang dagunya.” Tanganya mengerahkan tenaga sekuatnya diarahkan ke leher Lodaya yang sedang berusaha bangkit. Lodaya itu tidak berkutik. Lehernya hancur berantakan, kepalanya lepas dari tubuhnya. Dengan cepat Dimas mengambil kepala Lodaya itu. Tangannya merogoh ke bawah dagunya. Akhirnya sebuah batu satuasra berhasil dikeluarkan dari mulut Lodaya itu. Lodaya itu tidak kembali lagi. “Sudah empat, tinggal lima lagi.” Dimas melangkah ke dinding di belakang altar setelah mengambil batu satuasra kuil andavantara di dinding relief. Suaranya yang kelelahan mengucapkan kata “Kutai”. Pintu terbuka menuju kuil Kutai. Dengan gontai Dimas melangkah ke depan altar. Tulisan yang sudah empat kali dia lihat terpahat di dinding altar. “Kelima dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan sang penjaga empat penjuru. Dimanakah gelap saat terang ?” Dimas berkeliling mencari relief Lodaya bersayap di dinding yang memiliki cacat di dahinya. Kemudian memasukan batu satuasra pertama ke dahi relief Lodaya. Antara keinginan untuk menghidupkan patung Lodaya itu dan malasnya harus bertempur lagi dengannya. Tapi tidak ada pilihan lain. Untuk mendapatkan batu satuasra harus menghidupkan patung Lodaya bersayap lebih dulu sebagai penjaganya. Batu satu asra baru akan mengeluarkan sinar putih di kegelapan. Patung Lodaya bersayap mulai hidup. Dimas mulai berpikir keras dimana batu satuasra itu diletakan. Matanya menyapu seluruh bagian di tubuh Lodaya itu mencoba mencari dimana batu satuasra berada. Lodaya itu menggeram, tubuhnya membungkuk. Sebuah terkaman sedang disiapkan. Tapi Dimas sudah siap dengan sebuah pukulannya. Lodaya itu akhirnya melompat menerjang kearah Dimas. Dimas melompat ke samping, sedikit membungkukan badannya menghindari sayap yang terkembang. Ruang terbuka memberikan kesempatan sebuah pukulan dilepaskan tepat di bagian perut. Sebuah sinar putih meluncur dari tangan kanan Dimas tepat menghantam. Lodaya itu terlempar ke samping dan jatuh di lantai. Tapi kali ini tidak ada satupun dampak dari pukulan itu. Lodaya itu bangkit kembali siap menyerang. “Gila ! Lodaya ini tahan serangan, aku tidak bisa menghancurkannya seperti yang sebelumnya.” Dimas terus berpikir keras. “Mungkin ada hal lain yang terlewat, Aku membutuhkan Gandrung untuk memecahkan teka-teki ini. ’Di hadapan sang penjaga empat penjuru’ mungkin empat hal yang harus aku jalankan.” Lodaya itu kembali menyerang. Dimas hanya melakukan gerakan menghindar. Sesekali sebuah pukulan dilepaskan untuk membuatnya berada lebih jauh dari dirinya. Dimas tidak mau membuang tenaga. Semua pukulannya tidak memberikan kerusakan apapun pada tubuh Lodaya itu. Dimas memeriksa kembali relief Lodaya sambil terus menghindari serangan-serangan Lodaya itu. Kali ini beberapa Lodaya memiliki cacat yang berbeda-beda. “Lodaya ini memiliki lubang di punggung, yang ini di perut” Dimas mengelilingi ruangan. “Ah relief-relief Lodaya ini melambangkan penjaga dari batu-batu satuasra yang telah aku ambil.” Satu per satu Dimas memasukan batu-batu satuasra itu ke dalam masing-masing relief. “Empat penjuru, empat relief patung di empat jurusan.” Saat batu terakhir ditempatkan, empat buah sinar putih meluncur keluar dari tiap batuasra hingga saling menyatu persis di tengah ruangan. “Sekarang apa lagi ? Mungkin aku pukul saja sekerasnya” Dimas tidak lagi mau memikirkan apa yang harus dipecahkannya kali ini. Lodaya itu kembali menyerang dengan cepat. Suaranya mengetarkan seluruh ruangan. Dimas melompat menyambar batu cahaya yang tergeletak di atas altar. Sesekali batu itu di genggam sehingga beberapa bagian ruangan menjadi gelap. Matanya terus mencari sinar putih di tubuh Lodaya itu. Tetapi Lodaya itu tidak pernah membiarkan Dimas punya cukup waktu untuk mengamatinya di dalam gelap. Matanya yang merah bergerak cepat kearah Dimas. Dimas melompat mundur menghindari serangan. Tangan kirinya telah siap dengan sebuah perisai gaib. Tangan kanannya sudah siap melepaskan serangan. Dimas berlari turun dari altar. Lodaya itu berbalik mengejarnya. Dimas melepaskan serangannya. Sebuah sinar putih meluncur deras menghantam kaki kiri Lodaya. Kaki Lodaya itu hancur berantakan. Dimas sungguh senang melihat serangannya kali ini memberikan dampak kepada Lodaya itu. Tetapi sama dengan Lodaya lain, dalam sekejap serpihan kakinya menyatu kembali. “Paling tidak sekarang aku bisa membuatnya pecah berantakan. Dan itu cukup untuk membuatku mengambil batu satuasra dari tubuhnya.” Lodaya itu kembali menyerang. Dimas berusaha menghindar, tetapi kakinya tersandung hingga tersungkur. Saat hendak membalikan tubuhnya dan Lodaya itu sudah melompat menyerang. Tidak sempat melepaskan serangan, Dimas membuat perisai gaib di atas tubuhnya yang telentang di atas lantai. Tubuh Lodaya itu mendarat persis di atas perisai gaib Dimas. Tangannya berusaha menembus perisai. Mulutnya meraung berusaha mengigit. Sebuah sinar putih terbersit saat Lodaya itu berusaha menggigitnya. Dimas berusaha keras mempertahankan perisai gaib. Tangan kanannya melepaskan pukulan ke tubuh Lodaya itu. Saat tubuh Lodaya itu terjengkang ke belakang menghantam dinding dan hancur berantakan. Dimas mengambil kesempatan untuk bangkit dan mengambil kepala Lodaya itu sebelum menyatu kembali. “Batu itu berada di mulutnya.” Tangannya merogoh ke dalam mulut Lodaya. Sebuah batu bersinar putih keluar dari mulut Lodaya itu. Sinar yang keluar dari empat penjuru seketika lenyap. “Akhirnya lima batu satuasra. Tinggal empat lagi. Sekarang aku harus ke kuil Siam” Dimas tidak lagi mau membuang waktu, langkahnya segera diarahkan ke dinding di belakang altar. Begitu menyebutkan nama kuil selanjutnya sebuah pintupun terbuka. Ruangan yang sama terlihat di balik pintu itu. Dengan langkah pasti Dimas memasuki ruangan. Patung Lodaya bersayap mahakala duduk tegak di tengah altar. Batu cahaya tergeletak begitu saja di depan kakinya. Matanya menyapu tulisan bahasa Sinar Avedi yang terukir di dinding depan altar. “Keenam dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga lima kebajikan. Dimanakah gelap saat terang ?” “Lima kebajikan ? Apa lima kebajikan di dunia ? Dimas menyusuri dinding kuil mencari lubang-lubang di bagian-bagian tubuh relief Lodaya tempat meletakan batu satuasra. “Relief-relief ini tidak ada lubang sama sekali. Apakah teka-tekinya telah berubah ? Mudah-mudahan lebih menyenangkan. Lodaya itu berubah jadi kucing yang manja. Ah, pasti ini berkaitan dengan lima kebajikan. Aku harus menemukan apa lima kebajikan itu. Huh sayangnya tidak ada Pafi disini. Kalau saja ada dia pasti semuanya sudah terjawab.” Dimas mendekati relief Lodaya pertama dimana biasanya dia menempatkan batu satuasra kuil andavantara. Tanganya meraba-raba dahi relief Lodaya itu. Tidak ada lubang satu pun terdapat di sana. “Lima kebajikan ? Tidak membunuh ?” Dimas mencoba-coba menerka. Tidak diduga tebakannya memberikan hasil. Sebuah lubang terbuka di bagian dahi relief Lodaya itu. Dimas senang sekali. “Ah…berhasil” tanganya mengambil batu satuasra paling kecil dari kantong kulit di pinggangnya dan meletakannya ke dalam lubang itu. Dimas melangkah ke relief berikutnya. “Tidak Merokok ? Tidak Mencuri ? Ah mungkin jawabannya adalah dosa-dosa yang tidak boleh dilakukan” sebuah lubang muncul di bagian punggung relief. Segera sebuah batu satuasra diletakannya. “Tidak Menipu ? Tidak berbohong” Dua lubang lain muncil di perut bawah relief yang lain. “Sekarang apa yang terakhir. Tidak minum minuman keras ? sepertinya tidak. Tidak keluar asrama tengah malam ? tidak juga. Tidak menghamili istri orang?” Sebuah lubang di bagian mulut relief terbuka. Tetapi sesaat kemudian tertutup lagi. “Ah tadi sudah terbuka. Mengapa tertutup lagi ? Tidak menghamili istri orang ?” Dimas menyebutkan lagi. Hal yang saja terjadi. Lubang itu tertutup sesaat setelah terbuka. “Ah, aku tahu mungkin yang lebih tepat Tidak boleh berzina !” Lubang itu terbuka kembali dan kali ini tetap terbuka. Dimas meletakan batu satuasra terakhir ke dalam lubang itu. Lima sinar putih memancar dari lima relief Lodaya bertemu di tengah-tengah kuil. Patung Lodaya di tengah altar kali ini tidak menyerang. Sayapnya dilipatkan ke tubunya dan memberikan sembah kepada Dimas. Setelah batu satuasra ke lima, baru kali ini lodaya penjaga batu satuasra tidak menyerang. Ekornya yang panjang dijulurkan ke depan pada posisinya yang menyembah. Sebuah cahaya putih memancar dari ujung ekor lodaya itu. Dimas menarik batu satuasra. Lodaya itu kembali ke tempatnya semula di atas altar dan diam tidak bergerak lagi. “Enam satuasra, tinggal tiga.” Dimas segera melangkah ke depan dinding di belakang altar. Dengan pelan mulutnya menyebutkan nama kuil berikutnya. “Angkorwat” “Ketujuh dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga enam putaran bumi. Dimanakah gelap saat terang ?” “Enam putaran bumi ? artinya enam hari ? enam hari bumi ? Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, emmmmmmm… tujuh, bukan enam ? Mungkin pasaran jawa. Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage….Cuma lima. Enam hari ?” Apa maksudnya enam hari putaran bumi ? Penciptaan bumi ? Saat bintang pertama menyerahkan dirinya untuk kehidupan Keduanya hanyalah api yang membara Air mendinginkannya pada saat ketiga Setelahnya udara ditiupkan bersama badai pada yang keempat Lima hari menunggu bumi menjadi rumah Bulan menggantung indah pada yang keenam Surga kedua tercipta di hari ke tujuh Para Dewa bertanya, Apakah Tuhan telah melakukan kesalahan ? Mengapa Dia menciptakan surga yang lain ? Mengapa Dia membuatnya lebih indah dari surge kita ? Mengapa Dia memberikannya pilihan ? Ah, ternyata Tuhan juga tak sesempurna katanya Kalau tidak salah, mengapa Dia harus membahayakan dunia sempurna yang diciptakannya dengan menciptakan lagi mahluk yang tak putih tak juga hitam Manusia, apakah dia beruntung atas sebenarnya terkutuk Tapi kalaupun terkutuk aku sangat ingin menjadi seperti mereka Begitu bebas dengan pilihan Tuhannya “Bintang, Api, Air, Udara, Bumi, Bulan ya itu dia jawabannya. Sekarang tinggal mendapatkan kata yang tepat” Dimas mengelilingi dinding relief. “Bintang berarti Astra” Sebuah lubang terbuka untuk satuasra pertama. Dimas meletakannya segera. Api mungkin berarti agni.” Sebuah lubang terbuka, tetapi sesaat kemudian tertutup kembali. “Ah nyaris, aku harus cari kata yang lain, mungkin Aktu” Sebuah lubang terbuka di punggung relief Lodaya yang lain. “Yang kedua sudah, Air sama dengan banyu, tirta, samudhra” lubang lain muncul di perut relief lodaya. “Angin artinya bayu, nah lubang keempat terbuka. Bumi ya Bhumi.” Lubang ke empat dan kelima telah terbuka dan Dimas langsung meletakan batu satuasra ke dalamnya. “Yang terakhir bulan sama dengan Chandra” lubang terakhir muncul di ujung ekor relief. Enam sinar putih dari enam batu satuasra meluncur ke tengah ruangan dan menyatu. Kemudian berpendar memenuhi seluruh ruangan memberikan gambar luar biasa di seluruh ruangan. Pemandangan ruang angkasa dengan ribuan bintang bersinar. Kemudian muncul sebuah bintang berekor meluncur jatuh tepat di atas ubun-ubun patung lodaya. Dimas segera menghampiri patung lodaya bersayap itu. Sebuah sinar putih berkilau di atas ubun-ubunnya. Dimas mengambilnya dan kemudian satu per satu mengambil sisa batu satuasra yang tadi diletakan di dinding relief. “Tujuh batu satuasra, tinggal dua lagi. Aku harus bergegas.” Dimas berlari menaiki tangga altar menuju dinding di belakang altar. “Viet” sebuah pintu membuka sebuah ruangan yang sama. Dimas melangkah ke dalam. Hatinya mulai merasa bosan dengan teka-teki ini. Kakinya gontai ke depan altar. “Kedelapan dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga tujuh jiwa. Dimanakah gelap saat terang ?” “Penjaga tujuh jiwa ? mungkin tujuh titik cakra manusia seperti kata pak Narso.” “Sahasrara, Ajnya, Wisudhi, Anahata, Manipura, Swadhisthana, Muladhara” Satu per satu lubang-lubang terbuka di relief-relief lodaya. Dimas menempatkan batu-batu satuasra secara berurut. Tujuh sinar putih meluncur dari ketujuh batu satuasra itu dan menyatu di tengah seperti sebuah jaring laba-laba. Sebuah sinar putih berkilau di pusar patung itu. Dimas mengambilnya dengan mudah. Setelah semua batu satuasra di dinding relief sudah diambil kembali, kini kuil terakhir “Rajatapura” Dimas untuk terakhir kalinya melangkah ke depan altar dimana patung lodaya bersayap mahakala duduk tegak di depan batu cahaya yang bersinar menerangi seluruh ruangan. “Kesembilan dari yang Sembilan. Yang terkecil pembuka yang lebih besar. Hanya yang bijak yang terpilih. Jika berasal dari yang ada sekaligus tiada. Di hadapan penjaga delapan ruang waktu. Dimanakah gelap saat terang ?” “Delapan ruang waktu, seperti yang dikatakan oleh Ratu Kerajaan Selatan. Mudah-mudahan aku tidak salah, Bajra, Sangkha, Danda, Khadga, Nagapasa, Dwaja, Cakra, Trisula.” Dimas menyebutkan satu per satu nama-nama ruang waktu yang pernah didengarnya dari Ratu Kerajaan Selatan. Satu per satu pula sebuah lubang bermunculan di relief-relief lodaya. Dimas meletakannya secara berurutan. Sinar putih meluncur dari delapan penjuru saling bertemu di tengah ruangan. Patung lodaya bersayap mahakala hidup dan tetap duduk tegak. Sayapnya mengepak pelan. Dadanya mengeluarkan cahaya putih paling terang. Dimas mengambil batu satuasra di dada lodaya itu. Dan satu persatu semua batu satuasra diambil dari relief. Lengkaplah Sembilan batu satuasra. Sebuah pintu terbuka di dinding belakang altar. Ruangan yang berbeda tampak di baliknya. Antara kelegaan dan pertanyaan di dalam hatinya, Dimas melangkah memasuki ruangan.

PILAR KEMBAR

Beban terasa semakin berat. Satuasra terakhir di Rajatapura telah berhasil diambil. Dimas meletakannya bersama satuasra lainnya di dalam sebuah kantong kulit tempat air milik Raji. Batu satuasra begitu dingin walaupun memancarkan sinar putih keperakan. Dimas tidak bisa berlama-lama memegangnya. Kini gerbang terakhir menuju Cakravartin telah dibuka. Sebuah ruangan dengan altar bundar tepat berada di tengah ruangan. Sebuah pilar api berdiri di tengah altar hingga menembus langit-langit. Mungkin ini lah sumber lidah api yang selalu menyala terang di ujung Cakravartin. Dimas melangkah berhati-hati. Cahaya terang keemasan memancar dari pilar api ke seluruh ruangan. Sebuah lubang tak beraturan berjumlah Sembilan terdapat di sekeliling pilar api. Dimas mencoba mengingat kembali. Dengan hati-hati tangannya mengeluarkan satu per satu batu bintang satuasra kemudian diletakan ke dalam lubang-lubang yang memang khusus untuk satu buah satuasra. Setiap lubang memiliki ukuran yang berbeda. Berdasarkan urutan kemudian Dimas meletakannya. Setelah semua lengkap terpasang tiba-tiba pilar api yang semula kuning keemasan berubah menjadi putih keperakan. Sinarnya menembus kuat. Dimas tidak menyadari kalau yang telah dilakukannya membuat sebuah perisai gaib terbentuk seperti setengah bola menutupi seluruh kota Sunda Buana. Hampir seluruh penduduk kota Sunda Buana tercengang melihat semua yang terjadi. Beberapa wahana terbang pavaratha, burung-burung yang melintas sempat menabrak perisai yang tidak kelihatan itu. Siapapun dan apapun tidak bisa menembusnya. Tetapi di dalam kuil, di hadapan Dimas muncul seorang wanita yang sudah dikenalnya, Ratu Kerajaan Selatan. “Selamat datang Gusti Ratu” “Kau telah mengerjakannya dengan baik Dimas. Kini saatnya mengundang teman-temanmu untuk kemari.” Ratu Kerajaan Selatan menunjuk sebuah dinding dengan lambang bulan sabit di atasnya. Sebuah pintu terbuka dan cahaya putih dari ruangan putih menyeruak ke dalam. Terlihat Pafi, Raji dan Gandrung berada di dalamnya. Agak terkejut saat sebuah pintu terbuka. Tetapi saat melihat Dimas berada di dalam ruangan di baliknya, mereka tersenyum gembira. Ketiganya melangkah masuk menghampiri Dimas. “Kau berhasil, Dimas !” kata Gandrung “Tidak kita yang berhasil. Tanpa kepercayaan tidak akan ada jalan yang terbuka” Ratu Kerajaan Selatan tersenyum. “Sekarang bukalah naskah Sinar Avedi itu lagi. Lihat apa yang dikatakannya” Pafi menyerahkan naskah itu kepada Dimas dan langsung dibukanya. Semua gambar telah berubah. Tidak ada lagi segitiga dan bintang-bintang. Semuanya kini berubah menjadi gambar dua buah patung kembar yang saling berhadapan. Masing-masing menyangga sebuah mangkuk api yang menyala-nyala dengan warna api yang berbeda. Yang kiri berwarna hitam dan yang kanan berwarna putih keperakan. Sebuah bola yang terbentuk dari dua buah lidah api berputar-putar di antaranya. Saling berkejaran mengikuti ekor yang lain. Hitam dan Putih. Diantara gambar dua patung itu muncul sebuah gerbang seperti lubang cacing yang dikelilingi oleh Sembilan bintang yang terus berputar-putar. “Kau tahu mengapa engkau yang terpilih Dimas ?” Dimas menggelengkan kepalanya. “Karena tidak ada yang sanggup menanggung beban yang dibawa oleh batu bintang satuasra. Bagimu batu itu hanya seberat batu biasa, tetapi bagi yang lain batu itu seperti terpaku dengan bumi. Karena itu aku pun tidak sanggup memindahkannya.” “Apa yang harus kita lakukan sekarang dengan batu-batu satuasra ini ?“ tanya Dimas. “Tugas kalian sekarang adalah menyampaikan ramalan naskah Sinar Avedi yang kau baca di graha pustaka kepada Prabu Narayala.” Ratu Kerajaan Selatan tersenyum dan kemudian melirik kepada Gandrung. Ada sesuatu mengenai Gandrung. Ini sudah yang kedua sejak pertemuannya dengan Ratu Kerajaan Selatan. Dimas teringat kembali kalimat pendek yang pernah dibacanya dan kemudian disebutkan kembali oleh Ratu Kerajaan Selatan waktu di gua Ngejungan. Dia kini tahu bahwa naskah yang dibacanya adalah sebuah ramalan. “Baiklah Gusti Ratu” Kemudian tangan Ratu Kerajaan Selatan menunjuk sebuah dinding dengan lambang segitiga dengan bintang di atasnya. Sebuah pintu terbuka. Dimas menoleh sebentar kepada Ratu Kerajaan Selatan. Anggukan sang Ratu mengisyaratkan Dimas, Raji, Pafi dan Gandrung memasuki ruangan itu. Sebuah pertemuan di balairung sedang berlangsung. Semua yang hadir berhenti, pintu utama terbuka. Siapapun yang berada di balairung melihat, kalau pintu yang terbuka bukanlah pintu utama. Semua mata terpaku pada ruangan di baliknya yang terang putih keperakan. Balairung menjadi senyap. Semua orang yang hadir tiba-tiba lenyap dari ruangan. Tinggal Prabu Narayala dan Patih Naraphala saja. “Maafkan atas kedatangan kami yang kurang sopan ini Gusti Prabu Narayala.” Kata Dimas. Raji, Pafi dan Gandrung berdiri sejajar di sampingnya. “Apa yang kau inginkan nak” tanya Prabu Narayala. Dimas maju lebih dekat kepada Prabu Narayala dan Patih Naraphala yang sedang duduk di singgasananya. “Apakah saya boleh mengatakan sesuatu Gusti Prabu ?” Dimas mengajukan permintaan. Semua mata menoleh memandang kepada Dimas yang sudah berdiri tegak. Prabu Narayala tersenyum lembut, tangannya mempersilahkan Dimas untuk maju ke depan. “Siapa kau nak, jelaskanlah” Tanya Prabu Narayala. “Nama saya Dimas, saya datang bersama dengan kedua sahabat saya Raji dan Pafi. Dan ini adalah Gandrung putra dari Gusti Patih Narajalaseva. Saya hendak menyampaikan isi naskah Sinar Avedi yang telah saya baca.” Dimas berhenti sejenak. Semua orang seperti menahan nafas menanti kata-kata Dimas selanjutnya. “Naskah Bangsa Sinar Avedi Hoa-Binh maksudmu?” kata Patih Naraphala “Benar Gusti Patih.” Jawab Dimas. “Benar kau bisa membacanya nak ?” Tanya Prabu Narayala kepada Dimas. “Iya Gusti Prabu, isinya adalah sebuah ramalan yang penting untuk diketahui oleh Gusti berdua.” Kata Dimas singkat. “Kalau benar begitu, kau pasti sudah tahu kalau naskah Bangsa Sinar Avedi hanya akan menunjukan apa yang ingin diketahui atau berada dalam pikiran pembacanya. Kalau begitu aku ingin kau membaca naskah ini.” Patih Naraphala menyerahkan sebuah lembaran naskah yang tergulung rapi. Dimas menerima naskah itu dan membukanya. Huruf-huruf bahasa Bangsa Sinar Avedi yang bergerak liar ke sana kemari bermunculan di atas lembaran yang terbuka. Prabu Narayala dan Patih Naraphala memperhatikan Dimas. Semua yang hadir tahu kalau naskah Bangsa Sinar Avedi tidak bisa dibaca karena tulisannya selalu bergerak dan dilindungi oleh sihir-sihir Bangsa Sinar Avedi. “Nak Dimas, apakah kau sudah tahu bahwa naskah Bangsa Sinar Avedi hanya akan menunjukan hal yang ingin kita benar-benar ketahui atau apa yang ada dalam pikiran kita saat memilihnya.” Prabu Narayala bertanya perlahan. Seperti dia tahu kalau Dimas mulai merasa cemas akan arti kalimat tersebut berpengaruh tidak baik pada dirinya. “Iya, saya sudah mengetahuinya dari Gandrung, Gusti Prabu” Jawab Dimas pelan. Dimas kelihatan tenang. Dengan pelan dia mengucapkan mantra pembuka naskah. “Ingdorthium thor savantharau anglashiatvan” kata Dimas pelan nyaris tidak terdengar oleh siapapun. Seluruh tulisan itu bergerak perlahan membentuk kalimat. “Saat sang kembar di puncaknya, kembaran yang lain datang. Yang satu membawa kebaikan, yang lain membawa bencana. Jiwa yang jahat tercabik tujuh, hanya dengan menyatukan bintangnya sang jiwa kembali utuh. Tetapi yang telah hitam tetap menjadi hitam. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang.” Dimas membacakan isi naskah yang sedang dipegangnya. “Apakah ini berarti ramalan itu benar Kakang Narayala ?” Patih Naraphala kelihatan tegang sekali. “Tenang Adik Naraphala, aku yakin Dimas mengatakan yang sebenarnya” Prabu Narayala menenangkan Patih Naraphala. “Nak Dimas, selama ini kami menunggu seseorang yang bisa membaca sebuah ramalan dalam bahasa Bangsa Sinar Avedi. Tidak seorang pun yang bahkan bisa membaca dalam bahasa Bangsa Sinar Avedi, dapat membuka tabir ramalan itu. Kecuali orang yang telah diramalkan oleh Sinar Avedi Agung Au Co sendiri. Artinya, bahwa kaulah yang selama ini kami tunggu. Dahulu seorang Sinar Avedi Agung Hoa-Binh sebelum meninggalkan kota Sunda Buana mengatakan bahwa akan datang seseorang dari masa setelah peradaban ketiga yang mampu membaca dan bicara bahasa bangsa Sinar Avedi tanpa pernah belajar. Dia akan membawa pesan yang akan menentukan nasib Narapati. Tetapi kami tidak pernah berpikir kalau seseorang yang dimaksud adalah seorang anak kecil. Dan Kalimat dalam naskah Bangsa Sinar Avedi itu adalah ramalan yang sudah kami tunggu sejak ayahku masih memerintah. Dan sekarang ramalan itu telah datang, tinggal berusaha memahami artinya.” Prabu Narayala menatap tajam. Tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar menggema. “Apa kabar Narayala, Naraphala ?” Seorang perempuan cantik berpakaian hijau yang sudah dikenal Dimas tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Prabu Narayala dan Patih Naraphala menyadari siapa yang datang segera bangkit dan memberikan salam. “Aku baik-baik saja, Selamat datang di Narapati Gusti Ratu Selatan” Jawab Prabu Narayala. Patih Naraphala tersenyum. “Aku datang hanya untuk memastikan semuanya dan sekaligus memberikan jawaban dari semua teka-teki ini. Pasti banyak hal yang terjadi di benakmu sekarang Naraphala” “Masa depan adalah misteri Naraphala, tidak mungkin ada yang bisa menerkanya. Begitu banyak jalan yang harus dipilih dari setiap nasib. Bahkan kami para pendahulu Bangsa Sinar Avedi dengan pikiran sebening intan masih samar melihatnya. Perjalanan harus dijalani dan diterka sendiri pada setiap persimpangan. Masa depan akan datang dengan sendirinya kepadamu. Tetapi dia tidak akan lebih dari sekedipan mata, karena setelah itu dia akan menjadi masa lalu.” Kata Ratu Kerajaan Selatan sambil melirik Dimas. “Seseorang dari masa setelah tiga peradaban telah hadir di hadapanmu. Sekarang tanyakanlah kepadanya apa yang akan terjadi di masa depan.” Ratu Kerajaan Selatan menoleh kepada Dimas. Prabu Narayala mengalihkan pandangannya kepada Dimas. “Apakah kau tahu apa yang akan terjadi kepada Narapati ?” tanya Prabu Narayala. “Narapati akan tenggelam ke dasar lautan.” Jawab Dimas singkat. “Ya kami sudah mengetahuinya. Apa ada yang bisa kita untuk lakukan untuk mencegahnya.” Tanya Patih Naraphala. “Tidak ada, masa depan sudah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menyelamatkan sebanyak mungkin penduduk Narapati dari bencana ini.” Jawab Dimas. Ratu Kerajaan Selatan tersenyum. “Kami sudah membuat sepuluh perahu kehidupan sesuai petunjuk Sinar Avedi Agung Au Co. Perahu itu akan membawa penduduk, hewan dan benih tanaman ke tempat yang lebih tinggi” “Tidak cukup. Kemusnahan Narapati bukan datang dari banjir besar yang menenggelamkannya. Itu Cuma sebagian kecil saja. Bencana sesungguhnya datang dari letusan gunung-gunung sepanjang swarna hingga jawa. Batuwara akan menjadi pemusnah paling besar. Narapati akan diliputi kegelapan selama bertahun-tahun. Menyebabkan semua yang hidup di permukaan bumi membeku dan akhirnya membunuh semua yang hidup.” Prabu Narayala dan Patih Naraphala terkejut bukan main. Tiba-tiba sebuah gerbang terbuka. Seorang wanita sangat cantik yang hanya mampu ditandingi oleh Ratu Kerajaan Selatan muncul dari balik gerbang itu. “Apakabar Au Co?” Ratu Kerajaan Selatan menyapa yang baru saja hadir “Kabarku baik Ratu, bagaimana denganmu sendiri ?” Sinar Avedi Agung Au Co balik bertanya. “Aku juga baik. Seperti sejarah harus kita ulang Au Co. Sama seperti dulu dengan Sinar Avedi, kini Narapati harus mengalami nasib serupa. Menyingkir dari dunia manusia.” “Benar Ratu, berkat bantuanmulah Sinar Avedi masih bisa hidup. Kini Narapati dalam posisi yang sama. Sinar Avedi tidak bisa membiarkan Narapati sendirian dalam kesulitan ini.” “Narayala, Naraphala ada yang harus kalian tahu.Apa yang dikatakan oleh Dimas benar adanya. Aku memang menyuruhmu untuk membuat sembilan perahu kehidupan. Semua itu untuk membawa penduduk dari Sembilan kota Narapati menuju Sunda Buana. Perahu kehidupan hanya merupakan sarana untuk mencapai gerbang naga dan garuda. Hanya dengan memindahkan Narapati ke dunia tengah akan menyelamatkan banyak nyawa.” Tiba-tiba saja Prabu Narayala, Patih Naraphala, Sinar Avedi Agung Au Co dan Ratu Kerajaan Selatan menghilang dari hadapan Dimas. “Kemana mereka ?” tanya Raji “Sepertinya ada hal yang sangat penting yang mereka bicarakan” Dimas mencoba menerkanya “Kenapa kita tidak boleh mendengarnya ?” Gandrung agak kesal. “Mungkin ini terlalu pribadi dan hanya mereka saja yang boleh tahu” kata Pafi. “Lebih baik kita tunggu saja.” Kata Dimas Tidak lama kemudian Sinar Avedi Agung Au Co dan Ratu Kerajaan Selatan muncul kembali bersama Prabu Narayala dan Patih Naraphala. Prabu Narayala menghampiri Dimas. “Terima kasih telah datang. Sekarang adalah bagian kami melanjutkan apa yang telah kau mulai Dimas.” Prabu Narayala berlutut memberikan sembah di hadapan Dimas diikuti oleh Patih Naraphala. Situasi itu membuat Dimas menjadi kikuk. Seorang raja besar dan patihnya memberikan sembah kepadanya adalah hal yang tidak pernah berada dalam pikirannya. Namu ditengah kekikukan itu sesaat kemudian ruangan menjadi gelap. Prabu Narayala dan Patih Naraphala menghilang dari hadapannya dan mereka sudah kembali berada di dalam ruangan pilar api kuil Cakravartin. “Saatnya kalian untuk kembali. Perjalanan kalian bertiga di dunia ini sudah harus selesai sampai disini. Masih ada tugas besar yang harus kalian jalani di masa kalian nanti. Kali ini Narapati harus mengusahakan nasibnya sendiri.” Ratu Kerajaan Selatan menunjuk sebuah dinding bergambar bulat separuh. Sebuah pintu terbuka di bawahnya. Gandrung masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ratu Kerajaan Selatan. “Kembali ? kita kembali ke rumah kan ?” tanya Gandrung “Tidak Gandrung, kami harus kembali ke tempat kami berasal. Dunia kami di masa setelah tiga peradaban.” Dimas begitu berat menyampaikannya. Hal ini juga diluar dugaan mereka. “Kalian akan meninggalkan aku ?” Mata Gandrung mulai berkaca-kaca. Hatinya tak percaya kalau semuanya harus berakhir hari ini. Dia akan kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya yang selalu memberinya ketulusan. “Kau masih ada tugas yang sangat besar Gandrung. Kau harus melanjutkan menjadi pembaca petunjuk dalam naskah itu. Kau harus menemukan tempat terbaik bagi Narapati di dunia tengah nanti.” Kata Ratu Kerajaan Selatan. Gandrung tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya mengalir dengan deras. Perpisahan akhirnya harus terjadi. Gandrung begitu sedih dengan perpisahan itu. Bergantian Gandrung memeluk ketiga sahabatnya. “Cincin kebenaran ini akan menjadi lambang persahabatan kita” Dimas mengepalkan tangannya menunjukan cincinnya ke arah Gandrung. Kemudian mereka merapatkan kepalan tangan mereka satu sama lain. Dimas, Raji dan Pafi memberikan salam kepada Ratu Kerajaan Selatan dan Sinar Avedi Agung Au Co. Setelah itu mereka bertiga memasuki pintu yang telah dibuka. Dan tak lama kemudian muncul di dalam ruang belajar. Kembali muncul di ruang belajar asrama. Hari masih sore persis seperti saat ditinggalkan. Dimas, Raji dan Pafi tersenyum sumringah. Beberapa anak tidak menyadari kedatangan mereka sedang duduk mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan mengendap-endap mereka berjalan keluar dari ruang belajar kembali ke dalam bangsal masing-masing.